
"Amanda kamu gimana keadaanya?" tanya Nino ditelpon.
Amanda memperhatikan Arka yang tertidur lelap disisinya, lalu ia pun beranjak ke dekat gorden kamar.
"Kamu tau dari orang kantor ya?" tanya Amanda dengan suara pelan.
"Iya." jawab Nino.
"Aku udah baik-baik aja sekarang. Maafin aku ya, Nin." ujar wanita itu lagi.
Nino menghela nafas lalu tersenyum
"Yang penting kamu sehat dulu. Nggak masalah soal dinner itu, bisa nanti-nanti."
"Makasih banyak ya, Nin. Sorry aku nggak bisa lama-lama." ujar Amanda seraya kembali menoleh ke tempat tidur. Nino pun mengerti, pastilah di sisi wanita itu kini ada Arka.
"Ya udah, aku juga ada urusan soalnya." ujar Nino kemudian.
"Ya udah, have a good day ya." ujar Amanda.
"Kamu juga, cepet sembuh."
"Iya."
"Bye Amanda."
"Bye, Nin."
Amanda menyudahi telponnya, tanpa ia sadari jika Arka telah terbangun sejak tadi. Hanya saja posisinya membelakangi Amanda.
"Hmmh."
Arka pura-pura masih tertidur dan berbalik ke arah Amanda. Wanita itu kini dihadapkan pada wajah tampan suaminya. Seketika bayinya pun bereaksi seolah kegirangan.
Amanda lalu mengusap-usap perutnya agar si bayi sedikit tenang. Pasalnya rasa yang ditimbulkan dari pergerakan didalam cukup mengganggu.
"Man."
Arka terlihat baru bangun, padahal ia hanya berakting.
"Kamu kenapa?. Sakit lagi perutnya?"
Arka bertanya dengan kekhawatiran yang serius, ia juga turut mengelus perut istrinya itu.
"Sialan." umpat Amanda dalam hati.
Usapan demi usapan yang diberikan Arka justru membuat hasrat paginya meningkat tajam.
"Masih sakit nggak?" tanya Arka lagi. Amanda mengatur nafasnya.
"Nggak, Ka. Ini tuh nggak sakit, cuma dia geraknya aktif banget. Dia..."
Amanda menarik nafas, Arka mendengar ada semacam suara tertahan dalam nada ucapan istrinya itu. Seketika Arka pun mendarat di bibir Amanda dan Amanda dengan cepat membalasnya.
"Arka."
Tanpa sadar Amanda menyebut nama sang suami..Sementara Arka terus memperlakukan istrinya itu dengan penuh kasih sayang.
"Ka, hmmh." Gairah Amanda semakin meningkat. Namun kemudian Arka menghentikan aktivitasnya.
"Nggak dulu ya." ujar pemuda itu kemudian.
Raut wajah Amanda kini berubah menjadi kecewa. Arka paham jika Amanda sangat menginginkan hal tersebut, karena ia pun demikian. Namun ia tak ingin mengambil resiko.
"Kamu kan kemaren perutnya sakit, sebaiknya hari ini kita ke dokter lagi. Dipastikan dulu kalau kamu emang baik-baik aja. Oke?"
Arka menatap Amanda dan Amanda pun mengangguk.
"Aku janji, pulang dari dokter. Kalau emang kamu baik-baik aja dan nggak ada masalah, aku akan kasih."
Lagi-lagi Amanda mengangguk, ini bukan saatnya untuk memikirkan diri sendiri. Ada bayi yang mesti ia lindungi didalam sana.
Hari itu Arka menemani Amanda untuk kontrol ke dokter kandungan. Arka tak sedetikpun melewatkan Amanda dari pandangannya. Ia selalu mengawasi, bahkan tak pernah berada jauh dari istrinya itu.
"Gimana, dok?" tanya Arka pada dokter ketika pemeriksaan telah selesai.
"Baik, bayinya sehat. Nggak ada masalah." Dokter tersebut berujar disaat Amanda masih berbaring dan Arka ada tepat disebelahnya.
"Kemarin, dia mengalami kram dan sakit yang cukup hebat, dok." ujar Arka.
"Itu biasa terjadi, makanya jangan sampai si ibu stress atau mengalami banyak tekanan. Ibunya juga nggak boleh over thinking." ujar dokter tersebut sambil menoleh ke arah Amanda dan tersenyum.
"Dengerin." ujar Arka pada Amanda.
"Jangan over thinking." lanjutnya lagi.
"Iya." jawab Amanda kemudian.
Tak lama mereka pun sudah berada didalam perjalanan pulang. Setelah tadi sempat mampir ke supermarket, untuk membeli beberapa keperluan.
"Ka."
"Hmm, apa?"
Amanda meraih tangan kiri Arka, lalu meletakkan tangan pemuda itu diperutnya yang membuncit. Arka pun tersenyum lalu mengusapnya dengan penuh kasih, sambil ia terus fokus ke jalan. Namun tiba-tiba kepala Amanda menengadah ke atas dan mencoba menarik nafas.
Arka menoleh, betapa terkejutnya ia melihat Amanda sudah menjamah dirinya sendiri dengan tangan.
"Man?"
"Arkaaa." rengek Amanda manja.
"Man, nggak!"
Arka seolah menolak, karena Amanda bermaksud agar Arka membantunya dengan sentuhan.
"Please!" ujar wanita itu lagi.
Arka melihat wajah istrinya yang penuh harap, sambil menahan gejolak yang kini berkecamuk dalam dirinya sendiri.
"Arkaaa."
Arka luluh pada permintaan Amanda. Tak ada yang lebih penting dari wanita itu, kecuali keinginannya. Arka pun mulai memberi tugas pada tangannya sendiri, untuk memberi apa yang diinginkan oleh sang istri.
Mata Amanda mulai terbuka dan tertutup dengan sendirinya, seiring dengan racauan yang keluar dari bibir indah yang ia miliki.
Arka terus melakukan hal tersebut, sambil berusaha fokus ke depan. Karena saat ini mereka tengah berada didalam mobil.
"Man, kita lagi di jalan loh. Tunggu sampe rumah dulu." ujar Arka.
"Please!"
Arka melakukan apapun yang Amanda minta.
Ia bahkan menelan ludah berkali-kali karena ini sangat menyiksa. Sampai kemudian ia merasakan tangan Amanda melakukan hal yang sama pada dirinya.
"Man, please Man. Kita lagi dijalan, bentar lagi sampe."
Amanda tak peduli, wanita itu benar-benar seperti tuli. Sampai Arka pun harus mengatur nafas dan konsentrasinya dalam mengemudi. Untung saja jalanan tidak macet sehingga mereka dapat segera sampai.
Setibanya di penthouse. Mereka berdua langsung melempar segala kunci, handphone dan lain-lain ke atas tempat tidur dan lantai. Semua sudah tidak bisa dibendung lagi.
Arka menarik tiap helai benang yang membalut kecantikan Amanda. Lalu melepaskan apapun yang melekat di dirinya sendiri. Ia merengkuh tiap jengkal keindahan itu dengan sangat, dan begitupula sebaliknya.
Arka sudah dikuasai kehendak. Maka ia membalikkan keindahan itu, hingga bersandar pada kaca yang mengarah ke gedung menjulang.
"Amanda."
Arka membenamkan cintanya di relung asmara. Sambil kedua tangannya berpegang pada keindahan lain yang ada didepan. Perlahan irama-irama penyatuan pun terdengar. Arka memberikan tempo perlahan agar Amanda semakin larut dalam buai.
"Dert."
Sebuah notifikasi panggilan masuk di handphone Amanda. Namun hanya bergetar dan tidak berdering. Karena posisi handphone tersebut berada dipinggir tempat tidur, tanpa sengaja getaran itu membuat handphone tersebut terjatuh.
"Buuuk."
"Braaak."
Handphone tersebut tombolnya mengenai fave atau rokok elektrik milik Arka, yang tadi ia lempar ke lantai. Panggilan video call itu pun diterima secara tidak sengaja. Dengan posisi handphone kini terbalik dan sebagain tersandar ke dinding.
Daya dan gaya ketika jatuh tadi telah membuat handphone tersebut kameranya mengarah, tepat kepada Amanda dan Arka yang tengah disatukan oleh rasa.
Arka merebahkan istrinya itu di peraduan, lalu memberikan cintanya kembali. Kali ini dengan tempo lebih cepat, hingga yang terdengar hanyalah erangan dan racauan.
Keduanya berteriak, ketika puncak itu telah digapai bersama-sama. Sementara diseberang sana, seorang kaki-laki terdiam dengan tubuh yang gemetar.
Ia telah menyaksikan semua itu dengan mata kepalanya sendiri. Disini dihadapannya, dilayar handphone ini.
Wanita yang ia cintai dan mengaku mencintainya, menyerah dan bertekuk lutut pada laki-laki lain.
"Braaak."
Ia pun membanting handphonenya ke dinding. Sementara di penthouse, Amanda dan Arka masih merengkuh sisa-sisa penyatuan yang ada. Arka kini membawa Amanda ke dalam pelukannya.
"Man, jangan lagi yang kaya tadi ya." ujar Arka pada wanita itu.
"Yang mana?"
"Yang di mobil."
"Tapi seru kan?" tanya Amanda sambil tersenyum.
"Iya, tapi gimana coba kalau tadi aku nggak bisa konsentrasi nyetir. Terus kita nabrak, kita kenapa-napa, anak kita kenapa-napa."
"Makanya kalau istri mau, jangan ditolak. Kan udah dari pagi aku ngomong."
"Tadi pagi kan aku bilang, kita pastiin ke dokter dulu soal sakit kamu kemarin. Aku tuh mikirin kamu sama anak kita, Man. Kalo nggak mikirin kamu dan anak kita, udah tiap hari aku lakukan."
Amanda tersenyum nakal.
"Karena aku cantik, jadi kamu demen. Iya kan?" ujarnya penuh percaya diri.
Arka pun lalu tertawa kecil. Amanda cantik, bahkan sangat cantik. Dan semenjak mengandung, ada banyak perubahan di tubuhnya. Terutama beberapa bagian menjadi lebih berisi.
"Udah ah, aku mau mandi." ujar Arka seraya melangkah ke kamar mandi.
"Ya udah sana duluan, aku mau bales WA dulu. ujar Amanda.
Arka pun meninggalkan Amanda menuju kamar mandi.