Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Tuntutan Amman


"Bagaimana mungkin, pengadilan bisa mengesahkan pernikahan Amanda dan pemuda miskin itu?"


Amman begitu geram, setelah mengetahui jika anaknya benar-benar telah menikah resmi secara hukum negara. Tadinya ia menganggap itu semua hanya desas-desus belaka. Namun belakangan diketahui jika pernikahan keduanya memanglah telah sah secara hukum, berdasarkan informasi yang ia dapat dari Rani.


"Apakah anda memberikan izin perwalian?" Seorang pengacara berbicara pada Amman, hari itu Amman meminta mereka untuk datang ke kantornya.


"Saya di manipulasi, saat itu. Amanda, anak saya. Mengirimkan sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak saya kenali sebelumnya."


"Isi pesannya apa?" tanya pengacara itu lagi.


Amman mengeluarkan handphone. Sangat beruntung sekali ia tidak menghapus pesan dari Amanda, yang dikirim lebih dari setahun yang lalu itu. Isi pesan tersebut adalah,


"Pa, ini saya Amanda. Saya mau meminta izin menikah dengan seseorang."


Amman yang saat itu mengira itu dari orang iseng, hanya mengabaikan saja pesan tersebut.


"Saya ingin meminta izin menikah. Kalau papa tidak bisa datang, bolehkah pernikahan saya di wali kan oleh seseorang?"


Amman tetap mengabaikan pesan itu, sampai akhirnya Amanda mengirimkan banyak sekali pesan kepadanya. Karena capek menghadapi orang iseng tersebut, Amman pun menjawab. Ia mengetik dengan wajah kesal saat itu.


"Baik Amanda sayang, silahkan kalau mau menikah. Papa izinkan kamu menikah dengan laki-laki pilihanmu dan papa juga mengizinkan perwalian atas kamu di wakilkan kepada yang bisa mewakilkan."


Amman mengirim pesan seperti itu, akhirnya nomor tersebut pun tak lagi mengganggunya. Amman tidak mengetahui jika itu benar-benar adalah Amanda. Sebab anak itu tak lagi terdengar kabarnya, pasca sukses membangun bisnis. Amman hanya sering melihatnya seliweran di TV atau majalah bisnis saja, bahkan Amman tak pernah memiliki atau menyimpan nomor kontak anaknya tersebut.


"Tapi itu artinya anda menyetujui." Pengacara itu kembali berujar.


"Saya di manipulasi." ujar Amman bersikukuh.


"Lagipula, saya dengar kabar dari teman anak saya. Kalau anak saya itu menikah siri. Tidak ada wali hakim disana, hanya ada seseorang yang menikahkan dan juga saksi. Entah itu orang bayaran dari mana, yang jelas pernikahan itu tidak sah. Karena saya tidak memiliki saudara, yang bisa menjadi wali bagi Amanda. Kecuali saya sendiri."


"Anda tidak memiliki saudara seayah-seibu?"


"Tidak."


"Saudara seayah?"


"Tidak juga, istri ayah saya cuma satu. Ibu saya."


"Baik."


Pengacara itu terus berbicara lebih lanjut dan mendengarkan segala detail permasalahan yang diungkapkan oleh Amman.


"Baik pak Amman, kita akan mengumpulkan bukti lain. Jika memang terbukti ini melanggar aturan yang ada, kita bisa menuntut banyak pihak. Termasuk yang menikahkan dan mengesahkan pernikahan tersebut secara hukum. Kita bisa memenangkan perkara ini dan pernikahan itu bisa saja dianggap tidak pernah terjadi."


Amman menghela nafas.


"Saya percaya pada kalian. Saya akan bayar berapapun itu, asal kalian bisa menuntut mereka. Tapi satu pesan saya, beratkan pihak laki-lakinya saja. Karena saya butuh anak saya untuk rencana dan tujuan yang lain."


"Baik pak, saya dan team akan mempelajari hal ini lebih lanjut."


"Good, thank you."


Amman mengangkat gelasnya lalu tersenyum, kedua pengacara itu pun tersenyum padanya. Mereka telah menerima uang muka dari Amman, dan selanjutnya tinggal bekerja secara maksimal.


Dari sebuah ruangan, Rachel tersenyum. Akhirnya ada juga tindakan Amman yang benar kali ini. Sudah dipastikan anak tiri dan juga menantunya akan kualahan menghadapi semua ini. Karena mereka ceroboh serta tak mempertimbangkan segalanya sampai ke akar-akar.


***


"Amman bakalan menuntut pernikahan mereka?" tanya Maureen antusias. Ia kini memiliki agenda tetap, yakni menghabiskan waktu senggangnya bersama Rani.


Setelah ia tak lagi berteman dengan Chanti dan juga Widya, yang terbukti membela Arka maupun Amanda ketimbang dirinya.


"Serius lo?" Maureen melonjak kegirangan.


"Lah iya dong, pernikahan mereka juga nggak sah. Siapa itu kemaren yang menikahkan, yang mukanya rada kayak bule itu. Mana ada penghulu mukanya rada bule, itu pasti dibayar sama Amanda."


"Emang penghulunya rada bule?"


"Bukan bule sih, tapi kayak apa ya. Kayak bukan orang kita asli gitu loh, gue yakin banget itu kenalannya Amanda. Dibayar sama Amanda buat pura-pura jadi wali, yang menikahkan dia sama Arka. Biar dia bisa memanipulasi Arka, seolah mereka terikat. Padahal itu nggak sah, sama aja kumpul kebo. Munafik." ujar Rani kemudian.


"Lah itu kenapa bisa pengadilan agama mengesahkan?"


"Ya mana gue tau, dibayar kali sama Amanda. Yaelah hukum mana yang nggak bisa dibeli sama uang. Selama hukum itu dibuat oleh manusia, kecuali hukum rimba noh. Dimakan lo sama harimau."


Maureen tertawa.


"Anjir, kena lo kali ini Arka, Arka. Ya ampun, pengen ngakak gue. Mampus lo berdua, mampus. Syukurin, gue pengen liat mukanya mereka pas lagi dituntut. Udah nggak ada lagi mesra-mesraan, uwu-uwu an tai kucing."


"Bakalan batal dan dianggap nggak ada tuh pernikahan mereka. Iya Arka nggak butuh wali, Amanda mah cewek. Kalau bukan walinya yang menikahkan, nggak sah pernikahan itu."


"Mesti si Amman kan ya?" tanya Maureen.


"Lah iya, orang Amman nggak ada saudara lain. Anak tunggal begitu."


"Kan bukannya bisa wali hakim ya?" tanya Maureen lagi.


"Reen, wali hakim itu bisa dipakai jasanya, kalau lo nikah resmi. Semisal wali lo berhalangan atau apa, lo bisa mengajukan perkara ke pengadilan agama. Perkara lo akan dipelajari, untuk selanjutnya dinilai bisa atau nggak pake wali hakim. Lah kalau nikah siri modelan kayak Amanda, wali hakim mana yang mau menikahkan?. Mau mengajukan perkara juga ke pengadilan agama mana?. Pengadilan sihir kali bisa, ke Harry Potter noh. Minta dinikahkan sama Gandalf."


"Hahaha." lagi-lagi Maureen terbahak.


"Mampus lo, Arka. Dan nenek tua yang sok cantik itu."


"Eh, Amanda itu seumur gue ya. Lo ngatain gue nenek-nenek?" Rani mulai emosi, Maureen pun kini menjadi ketakutan.


"Hmm, maksud gue bukan karena umurnya. Emang si Amanda itu nenek-nenek di mata gue."


Kali ini Rani tersenyum.


"Dia dari dulu emang sok cantik, tau. Padahal kata gue mah, biasa aja."


"Iya, cantik dari mana coba?" timpal Maureen.


Nada bicara kedua perempuan itu terkesan sangat dipenuhi iri dengki. Dan lagi-lagi percakapan ini harus didengar oleh kedua anak Rani, yakni Rasya dan juga Rania.


"Kak, kakak ngapain?" tanya Rania pada kakaknya.


"Ssstt."


Rasya menarik adiknya ke arah lain.


"Kakak tadi rekam omongan tante Maureen. Mulai hari ini kita akan rekam omongan mereka, supaya kita bisa kasih tau tante Amanda."


"Biar tante Amanda nggak di jahatin tante Maureen ya, kak?" tanya Rania.


"Iya, tante Maureen itu jahat. Jadi mama ikut jahat, mama kita kan dulu orang baik."


"Iya sih, Kak."


"Ya udah, sekarang Rania jangan berisik. Kakak mau merekam suara mereka lagi."


"Iya kak." ujar Rania kemudian.