
"Kamu makan yang banyak, biar bayi kita sehat."
Fritz mengelus perut Maureen yang kini tengah duduk di kursi meja makan. Entah kerasukan setan apa, beberapa hari belakangan ini Fritz mulai memperlakukan Maureen dengan baik.
Ia juga membelikan Maureen beberapa pakaian, skincare serta alat makeup. Ada pula beberapa perhiasan. Pasca Maureen jatuh sakit tempo hari, ia mulai membuka hati untuk bersikap manis pada wanita itu.
Mungkin ia khawatir bayi yang ada di dalam kandungan Maureen akan mengalami hal buruk, bila ibunya terus-terusan di kurung. Bisa jadi Maureen akan mengalami stress berat, yang akhirnya berdampak pada kondisi si bayi.
"Jordan, kamu nggak makan?"
Fritz menegur keponakannya yang saat ini tengah melintas, menuju ke arah pintu depan. Jordan menghentikan langkah lalu menghela nafas. Jika Fritz sudah berkata demikian, maka itu artinya ia ingin Jordan duduk dihadapannya dan makan. Jika tidak, akan ada saja hal yang dibuat oleh Fritz.
Fritz tua itu tak lebih dari seorang psikopat dimata Jordan. Sejak ia kecil, jika membantah perintah Fritz. Maka itu artinya Fritz akan menghukum Jordan, dengan hal-hal yang bisa menyiksa jiwanya.
Fritz pernah menembak hewan peliharaan kesayangan Jordan, lantaran Jordan memberontak padanya. Saat itu pagi hari, usai pertengkaran hebat terjadi diantara mereka.
Jordan bertanya mengenai siapa ayah kandungnya, Fritz menolak membicarakan hal tersebut. Pagi harinya Jordan hanya melengos saja, ketika bertemu dengan Fritz yang tengah duduk di meja makan.
Fritz menegur keponakannya itu dan mengajaknya untuk makan, namun Jordan tak mengindahkan ajakan Fritz pagi itu. Bahkan berbicara sepatah katapun tidak. Pulang sekolah, Jordan melihat kondisi hewan kesayangannya yang telah mati di tangan Fritz.
Ia juga mengancam akan membunuh para pembantu yang dekat dengan Jordan, apabila Jordan masih melawan. Siapapun yang telah terikat dengan Fritz, maka mereka tak bisa lari kemana-mana lagi.
Jordan pernah berfikir untuk melaporkan Fritz ke pihak yang berwajib. Namun Fritz pun bukan orang sembarangan, yang bisa dengan mudah di jerat oleh hukum. Ia tipikal manusia jahat berduit, yang bisa menghalalkan segala cara. Untuk melawan siapapun yang menyerangnya.
Jadilah kini Jordan duduk dihadapan Fritz, sambil menonton drama menjijikkan yang di buat oleh pria itu.
"Sayang kamu mau nambah?" tanya Fritz pada Maureen.
Maureen mengangguk, padahal sejatinya ia ingin segera menjauh dari Fritz. Namun beberapa pembantu, pekerja dan juga Jordan sendiri pernah mengatakan pada Maureen. Jika ingin hidup dirumah itu, maka turuti saja segala keinginan Fritz. Sebab ia memiliki emosi yang seperti monster.
"Orang hamil itu harus makan banyak, biar bayinya cepat besar." ujarnya lalu tersenyum, Maureen menghela nafas dan memaksakan sebuah senyum, meski hatinya sangat ingin memecahkan kepala pria tua itu.
"Lihat Jordan, dia tersenyum pada saya. Itu artinya dia mencintai saya."
Fritz melihat ke arah Maureen, dan lagi-lagi Maureen memaksakan sebuah senyuman. Fritz tau jika Jordan belakangan ini mulai tertarik pada Maureen. Maka dari itu di kesempatan kali ini, ia ingin membuat keponakannya itu merasa cemburu. Jordan hanya diam, dan berusaha keras untuk menelan sarapan paginya.
Waktu berlalu, Fritz akhirnya melakukan perjalanan keluar negri. Maureen dijaga oleh orang-orang kepercayaannya, mereka juga sudah diperintahkan untuk mengawasi gerak-gerik Jordan. Tadinya Fritz percaya Jordan untuk menjaga Maureen. Namun melihat sikap aneh Jordan belakangan ini terhadap Maureen, Fritz jadi tak yakin lagi pada keponakannya tersebut.
"Kamu sebaiknya istirahat."
Salah satu orang kepercayaan Fritz yang terkenal beringas, kini menyuruh Maureen masuk ke dalam.
Maureen yang sebelumnya mengantar Fritz ke mobil itu pun, kini berbalik dan berjalan ke arah dalam. Dengan di kawal oleh orang-orang itu tentunya.
Sebuah pemandangan yang sangat berlebihan, mengingat Maureen hanya berjalan dari halaman depan menuju ke kamar. Namun para penjaga itu telah di wanti-wanti oleh Fritz, lebih baik menjaga daripada mencari. Ia tak ingin jika Maureen sampai kabur. Fritz menyukai wanita itu, meskipun Maureen tidak sama sekali.
"Sampai sini saja." ujar Maureen kepada para penjaga itu, ketika ia telah tiba di muka pintu kamar.
Para penjaga itu pun berbalik arah, namun bukan berarti Maureen bisa bebas. Ia diawasi dari jarak yang cukup dekat, Maureen masuk kedalam kamar dan menguncinya. Namun ia terkejut, karena menemukan Jordan sudah berdiri didalam sana.
"Jordan, kamu...?"
"Sssttt."
Jordan menempelkan jari telunjuknya di bibir.
"I miss you and our baby." ujarnya kemudian.
"Jordan, please. Kamu harus pergi dari sini. Kalau mereka tau kamu disini, mereka pasti akan ngadu sama Fritz. Pasti akan ada orang yang terluka, kalau dia marah. Aku nggak mau kamu jadi sasaran."
"Sssttt, sayang hey."
Jordan memegang bahu Maureen dan menatap wanita itu dalam-dalam.
"Kamu sudah kasih isi dalam botol itu ke dia kan?" tanya Jordan.
"Iya, sesuai yang kamu suruh." jawab Maureen.
Botol yang dimaksud adalah, botol yang pernah diberikan salah satu pembantu padanya. Botol tersebut berisi cairan yang entah berjenis apa.
"Itu racun yang akan menggerogoti tubuh Fritz secara perlahan." ujar Jordan.
"Sampai diluar negri nanti, mungkin dia akan jatuh sakit dan lama untuk bisa kembali ke sini. Sebab Fritz tipikal orang yang kalau sakit, lebih percaya berobat diluar ketimbang di negri sendiri." lanjutnya lagi.
"Itu yang di kasih ke dia, semacam racun?" tanya Maureen.
"Ya, aku nggak tau persis. Tapi para pembantu sudah merencanakan ini sejak lama, mereka muak kerja sama Fritz. Karena mereka mengetahui semua rahasia Fritz dan dilarang berhenti dari sini. Fritz bahkan melarang mereka pulang, untuk menemui keluarga mereka selama bertahun-tahun."
"Kenapa mereka nggak ngelapor aja ke pihak yang berwajib?. Kan beberapa ada yang bisa keluar rumah, untuk belanja."
Jordan menghela nafas.
"Mereka belanja diawasi dan ditunggui oleh orang kepercayaan Fritz, dan lagi sulit menjerat orang seperti dia. Fritz itu licik dan ada aja cara dia untuk lolos dari jerat hukum. Dia mengetahui dimana rumah dan siapa keluarga orang-orang terdekatnya. Jadi dia menggunakan ancaman untuk mencelakakan mereka, kalau orang terdekatnya itu memberontak. Fritz itu gila, Maureen. Dia nggak waras."
"Terus, kenapa kamu masih lanjutkan semua ini kalau kamu takut sama Fritz?"
"Aku nggak takut sama dia, yang aku takutkan itu kamu dan anak ini."
Mata Jordan seperti berkaca-kaca menahan tangis.
"Aku sayang kalian, walau aku tau pada awalnya. Kamu menggoda aku cuma supaya bisa manfaatin aku, untuk mengeluarkan kamu dari sini."
Maureen ingat pada perbuatannya, saat pertama kali Jordan kembali dari luar negri. Beberapa waktu setelah penculikan dan penyekapan terhadap dirinya terjadi, Jordan mulai menampakkan batang hidungnya di hadapan Maureen. Ia baru saja kembali dari menyelesaikan pendidikannya.
Maureen sengaja memperhatikan Jordan kala itu, bermaksud untuk menghancurkan Fritz dari dalam. Ia berniat untuk menggoda beberapa bodyguard Fritz, hingga mereka semua saling berebut dan bertengkar untuk mendapatkan Maureen.
Semua Maureen maksudkan agar banyak yang bersimpati padanya, dan ia bisa dengan mudah mendapatkan akses untuk keluar atau kabur dari tempat itu.
Namun ternyata, ia malah terjebak cinta Jordan yang sangat tulus padanya. Bahkan tak lama setelah berhubungan dengan Jordan disebuah kesempatan, Maureen pun hamil.
"Kamu yakin ini anak kita?" tanya Maureen, ia masih berada dalam pelukan Jordan.
"Fritz itu nggak pernah berhasil punya anak, dia bermasalah. Aku tau semua rahasia tentang dia, dia nggak pernah terima segala kekurangan yang dia miliki. Bahkan saking marahnya dinyatakan bermasalah oleh dokter, sepanjang hidupnya dia banyak meniduri perempuan-perempuan. Tapi nggak ada yang hamil satupun. Bahkan dulu ada yang tinggal berbulan-bulan disini, tapi nggak hamil juga. Fritz itu selalu halu, untuk mendapatkan anak."
"Bisa aja kan perempuan-perempuan itu juga bermasalah." ujar Maureen.
"Yang aku ketahui, rata-rata dari mereka. Setelah lepas dari Fritz, bisa hamil dengan laki-laki lain."
Maureen kembali memeluk Jordan dengan erat, ia begitu lega mendengar hal tersebut. Ia tidak ingin mengasuh dan membesarkan keturunan dan pria menjijikkan macam Fritz.
Meski Maureen juga pada dasarnya pernah jahat dan bukan orang suci, namun ia berhak untuk berharap akan hal-hal baik di hidupnya. Ia berhak untuk dapat kesempatan kedua, dan menjalani kehidupan yang ia inginkan.