
Rianti makin curiga pada Arka, sebab kini ia telah mengetahui dimana Liana tinggal. Ia telah menguntit Rio pagi-pagi sekali dirumah sakit, tempat dimana Liana dirawat. Rianti juga mendengar, jika Liana meminta tolong diambilkan beberapa barang dari kosannya. Rio pun menyanggupi, ia pergi ke kost Liana dan diikuti oleh Rianti.
Setelah kepulangan Rio dari tempat itu, Rianti bertanya pada salah satu penghuni kost. Tentang siapa Liana dan apakah ia memiliki hubungan dengan Arka. Salah satu penghuni kost tersebut mengatakan, bahwa ia dan teman-temannya beberapa kali melihat Arka mengantar Liana.
Namun ia dan teman-temannya tidak tahu persis, hubungan apa yang mereka jalin. Karena Liana masih terus terhubung dengan mantan pacarnya. Terakhir terlihat saja, Liana diajak pergi oleh mantan pacarnya itu.
"Padahal nih ya, mbak. Liana itu udah dipukulin didepan Arka waktu itu. Arka yang nolongin dia, kita juga yang ikut gebukin mantan cowoknya itu." ujar salah satu penghuni kost itu pada Rianti.
"Kita sibuk mau nyelametin dia, eh dia bucin." lanjutnya lagi.
"Emang Liana sakit apa sih, mbak?" tanya nya pada Rianti.
Rianti tak mengatakan jika Liana menjadi korban pemerkosaan, karena takut jika akan berdampak pada kehidupan Liana selanjutnya.
"Kayaknya cuma demam deh mbak." ujar Rianti.
"Oh gitu."
"Terus Liana itu kerja apa kuliah?" tanya Rianti lagi.
Jika perempuan itu kuliah, mungkin saja ia berteman dengan Arka di kampus. Namun jika berteman, kenapa waktu itu Liana sampai membelikan bahan pokok banyak sekali untuk ibu Arka. Saat keluarga Arka mengadakan syukuran atas kesembuhan ayahnya.
"Liana kerja, mbak. Katanya di perusahaan punya nya bu Amanda." jawab si penghuni kost itu.
"Amanda?. Amanda itu siapa ya?" tanya Liana lagi.
"Itu loh mbak yang sering masuk di siaran TV bisnis, atau majalah-majalah wirausaha. Yang pengusaha muda itu."
"Pengusaha muda?"
"Ya gitu lah, saya bingung nyebutnya apa."
"Yang mana ya, orangnya?" tanya Rianti lagi. Penghuni kost itu lalu membuka google dan memperlihatkan sosok Amanda pada Rianti. Karena Liana sering bercerita padanya mengenai dimana ia kerja dan siapa bosnya.
Sekilas Rianti seperti pernah melihat Amanda. Ya, di mobil pada saat ia melihat Arka. Wanita yang dilihatnya di samping Arka itu, lebih condong mirip ke gambar ini ketimbang Liana.
Rianti terus memperhatikan dan,
"Hah?" Rianti menutup mulutnya. Ia ingat perempuan ini pernah mengembalikan dompet ibu Arka yang jatuh. Dan seingat Rianti, dia sedang hamil.
Jantung Rianti berdetak kencang. Apalagi ia teringat pada saat tantenya berteriak di swalayan, bahwa ia melihat Arka bersama seorang perempuan. Perempuan yang pernah mengembalikan dompetnya. Seketika keringat dingin mulai membanjiri tubuh Rianti.
Sementara dirumah sakit.
Hari ini, Amanda sudah diperbolehkan pulang. Tetapi ia harus menunggu Arka menyelesaikan syuting iklannya terlebih dahulu. Jadilah ia menunggu dan masih berada disana. Amanda merasakan bayinya sangat rusuh sekali didalam. Berkali-kali ia bergerak dan menendang-nendang perut ibunya. Meski tak begitu kasar dan justru malah menimbulkan sensasi geli yang hebat. Namun Amanda merasa sedikit terganggu.
"Dek, bisa diem nggak. Mama lagi cari artikel ini." ujar Amanda seraya mengelus-elus perutnya. Bayi itu diam, namun beberapa saat kemudian, ia kembali bergerak. Kali ini lebih ramai.
"Duh, nggak bisa diem banget." ujar Amanda.
Tiba-tiba ia teringat, jika hari ini ada jadwal Konsul ke dokter kandungan. Amanda melirik jam dan sudah sangat mepet waktunya. Beruntung ia memang selalu periksa di rumah sakit ini. Jadi untuk itu, ia tinggal mendatangi saja dokter yang bersangkutan.
Ketika sampai pada dokter yang dimaksud, ternyata dokter itu tidak masuk. Dikarenakan ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan. Namun, Amanda diberi alternatif untuk periksa di dokter kandungan yang menggantikan dokter tersebut. Amanda pun menurut, toh baginya sama saja. Mau siapapun dokternya.
Amanda sedikit mengantri, sambil berbalas pesan dengan Arka. Tak lama kemudian, namanya pun dipanggil, Amanda masuk. Setelah menyapa dan berbincang sedikit dengan dokter, Amanda berbaring pada sebuah tempat tidur yang digunakan untuk pemeriksaan. Dokter pun mulai melakukan pemeriksaan ultrasonografi padanya.
"Waw, bayi-bayi nya aktif sekali ya bu." ujar dokternya sumringah seraya memperhatikan layar komputer. Amanda terhenyak, Karena mendengar ada kejanggalan dalam ucapan dokter tersebut.
"Bayi-bayi, dok?" tanya Amanda bingung.
"Iya, kan ibu hamilnya kembar. Masa saya sebut satu aja, nanti satunya ngambek loh Bu."
"Hah, kembar?. Amanda terbelalak tak percaya menatap layar, kini dokternya yang gantian merasa bingung.
"Loh, ibu nggak tau kalau hamil kembar?" tanya dokter itu.
"Sejak kapan, dok?" tanya Amanda panik.
"Nggak mungkin saya hamil kembar, orang nggak ada yang ngasih tau saya." lanjutnya lagi.
"Siapa yang sering menemani ibu periksa kandungan?" tanya dokter tersebut.
"Suami saya, dok."
"Coba tanya suaminya."
Amanda terdiam. Seketika ia ingat kemarin, saat Arka keceplosan mengatakan, "Aku kangen mereka." Pada saat suaminya itu mencium perut hamilnya yang membuncit.
Seketika Amanda pun geram, ia mengambil handphone dan menelpon Arka.
"Hallo, Man.
Amanda berteriak di telpon. Beberapa saat berlalu, Arka pun tiba di rumah sakit dengan tergopoh-gopoh. Ia berlari kencang ke ruang periksa kandungan, sesuai yang Amanda katakan ditelpon. Ia takut telah terjadi sesuatu pada istrinya itu.
"Amanda."
Arka membuka pintu dan menghampiri Amanda. Namun wanita itu kini tampak merajuk dan membuang pandangan ke arah lain. Arka yang bingung pun mendekat perlahan.
"Kamu kenapa?" tanya Arka seraya memperhatikan.
"Kenapa kamu nggak bilang kalau aku hamil kembar. Pantes ini perut gede banget." gerutunya kesal.
Arka baru hendak berkilah, ketika matanya menatap dokter kandungan yang ternyata bukan dokter kandungan yang biasanya. Arka pun menelan ludah, bersiap menerima luapan kemarahan dari istrinya itu.
"Kenapa kamu rahasiakan dan kamu tutupi dari aku?" teriak Amanda.
"Kamu tenang dulu, Man." Arka mendekati Amanda.
"Tenang apaan?. Kamu kenapa rahasiakan ini semua dari aku?"
"Ya supaya kamu hamilnya tenang. Aku sengaja minta dokter merahasiakan ini, karena ini kehamilan pertama kamu. Aku takut kamu syok dan nggak siap buat mengandung dua anak sekaligus. Ini aja buktinya kamu marah-marah kan."
"Ya marah lah, ini pasti kerjaan kamu nih. Disemprot mulu, akunya. Makanya jadinya nggak cuma satu."
Kali ini Arka tertawa, dokter hanya menggeleng-gelengkan kepala saja melihat polah tingkah mereka. Tak lama Arka pun membawa Amanda kembali ke kamarnya, karena masih ada banyak pasien dokter kandungan yang menanti.
"Man, masih marah?" Arka merayu istrinya sambil sesekali tersenyum melihat tingkah wanita itu. Amanda memang berusia 31 tahun, namun kadang kelakuannya lebih mirip anak SMP.
"Awas aja, aku nggak mau lagi dimasukin sama kamu."
"Loh kenapa, kan enak." canda Arka.
"Enak di kamu, akunya nanti hamil 10."
Kali ini Arka benar-benar tertawa.
"Man, bayi itu terbentuknya diawal. Mereka barengan, dari awal kamu udah hamil kembar. Bukan karena aku tambahin."
Amanda menekuk bibirnya.
"Aku sayang sama kamu." Arka mencium bibir Amanda, seraya mengelus perutnya yang sudah sangat membesar itu.
"Nggak usah ngerayu, ntar aku nya pengen." gerutu Amanda.
Arka tertawa.
"Pantes aja pertama kali USG tingkah kamu aneh banget. Batuk-batuk lah, ngedipin mata ke dokter, padahal dokternya laki. Udah gitu tiap USG aku nanya koq kantongnya ada dua. Kamu ngalihin pembicaraan, foto USG nya kamu yang pegang, abis itu bilangnya lupa narok." ujar Amanda dengan nada makin merajuk.
Arka mencium kembali bibir istrinya itu.
"Ih Arka, ntar aku nya pengen."
"Belum pernah kan, in hospital?" bisik Arka di telinga istrinya.
"Kamu mah, mesum. Nggak mau, ntar malah nambah lagi bayinya."
Arka tertawa untuk yang kesekian kalinya, kali ini Amanda menunduk.
"Aku tuh takut, Ka."
"Takut kenapa?" tanya Arka seraya memperhatikan Amanda. kini mereka terlibat obrolan yang serius.
"Gimana lahirannya nanti. Masa aku harus keluarin dua-duanya, apa aku sanggup?"
"Kalau emang nggak memungkinkan untuk lahir normal. Kan bisa caecar, Man."
"Kata orang-orang di sosial media. Melahirkan itu mesti dengan jalan normal, supaya kita menjadi ibu seutuhnya."
"Siapa yang bilang begitu?. Perempuan-perempuan minim pengetahuan yang kerjanya cuma nyinyir kan?" Arka mengangkat wajah Amanda dan menatapnya dalam-dalam.
"Man, ibu ya ibu. Mana ada istilah ibu utuh, ibu nggak utuh, ibu separo, seperempat. Nggak ada. Ibu ya ibu, apapun cara dia melahirkan. Karena nggak semua orang bisa melahirkan secara normal. Bukan karena malas, tapi karena faktor-faktor tertentu yang mungkin bisa membahayakan jiwa si ibu dan anak yang sedang dikandung. Ikuti aja apa kata dokter. Kalau emang bisa lahir normal ya normal, nggak bisa juga nggak apa-apa. Yang penting kamu dan anak kita selamat."
Amanda diam menatap Arka. Matanya kini berkaca-kaca menahan tangis.
"Perempuan-perempuan yang mengkotak-kotakkan ibu kedalam cara-cara melahirkan itu, adalah perempuan yang sejatinya tidak memiliki hati. Di pikiran mereka itu cuma satu, "Kalau orang lahiran caesar itu adalah orang-orang yang males sakit, males ngeden." Padahal orang caecar karena emang nggak bisa lahiran normal, kalau dipaksa normal bisa bahaya. Lagian, mau kamu nggak punya anak kandung sekalipun. Mau memungut anak dari pinggir jalan, kalau kamu tulus merawat, mencintai dan mengasihi dia, kamu bisa jadi ibu. Nggak harus melahirkan anak kandung, untuk jadi seorang ibu. Dan nggak harus melahirkan normal, untuk bisa disebut ibu sejati atau ibu seutuhnya. Karena ibu itu berasal dari sini."
Arka menunjuk dadanya sendiri.
"Ibu itu berasal dari hati. Bisa melahirkan normal tapi nggak becus ngurus anak. Atau merampas hak anak, membandingkan anak sama anak orang lain. Menyiksa fisik dan bathin anak bertahun-tahun. Itu juga nggak pantes disebut ibu, walaupun dia lahiran normal. Percuma bisa melahirkan normal, kalau hati nggak bisa menyayangi anak secara utuh. Yang membuat seorang ibu utuh itu hatinya, bukan cara melahirkannya."
Amanda serta merta memeluk Arka dan begitupun sebaliknya. Mereka berdua kini mengharu biru dalam pelukan tersebut. Namun keduanya juga sama-sama tersenyum, meski sambil berurai air mata.