Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Beku Bisu


Usai mengantar Amanda kembali ke penthouse dan memastikan istrinya itu beristirahat dengan baik, Arka segera mandi dan berpakaian.


Hari ini ia akan pergi bersama Ryan, Ansel, dan juga Nino ke sebuah acara pelelangan. Sebenarnya hal ini telah dijanjikan oleh anak-anak Ryan jauh-jauh hari. Bahkan sekitar dua atau tiga minggu yang lalu.


Persisnya ketika Ryan mengungkapkan jika ia ingin mengadakan acara pelelangan barang, yang mana hasilnya nanti akan disumbangkan untuk amal. Ia meminta ketiga puteranya itu untuk datang dan memamerkan beberapa koleksi barang yang hendak dilelang.


"Anita, saya pergi dulu. Nanti kalau ibu bangun, jangan lupa kasih makanan dan obat ya."


Arka berujar pada maid Anita, yang hari itu kembali diperbantukan di penthouse bersama Lastri. Mereka bertugas menjaga Amanda dan juga si kembar.


"Iya, pak." ujar Anita.


Arka pun lalu mengambil kunci mobil dan pergi meninggalkan tempat itu. Sesampainya di lokasi, tepatnya disebuah aula. Masih dalam gedung perkantoran yang dimiliki sang ayah, Arka langsung saja masuk ke dalam.


Kebetulan kedua saudaranya sudah datang, dan tengah minum sambil berbincang dengan tamu undangan yang lain. Nino melambaikan tangannya kepada Arka, Arka pun mendekat. Lalu mereka terlibat perbincangan yang cukup hangat.


"Hai Ryan, how are you?"


Seseorang mendekat dan bertanya pada Ryan. Ryan yang sejatinya belum sembuh total itupun tersenyum.


"Baik, cuma kesehatan agak sedikit terganggu saja beberapa hari ini." jawab Ryan sambil melirik sekilas ke arah anak-anaknya. Berharap ketiga anak itu mendengar.


Namun mereka malah tertawa-tawa bersama undangan yang lain, karena ada salah satu diantara mereka yang bercanda. Baik Ansel, Nino, maupun Arka tak begitu jelas mendengar ucapan Ryan. Ryan pun menjadi dongkol setengah mati.


Acara pelelangan tersebut dimulai setelah beberapa saat. Banyak barang berharga yang ditampilkan disana. Mulai dari pakaian, perhiasan, jam tangan mewah, potongan rambut idol K-Pop.


Hingga centong nasi yang pernah di pakai artis Hollywood, ketika ia berkunjung ke salah satu destinasi wisata di negri ini. Ansel, Arka, dan Nino sendiri diminta memamerkan jas serta jam tangan mahal dan beberapa barang lainnya.


"Emang ada yang mau beli centong nasi sama potongan rambut penyanyi Korea dengan harga mahal?" tanya Arka pada Nino dan juga Ansel.


"Orang kaya mah ada aja yang gabut, yang udah bingung harus gimana lagi ngabisin duitnya." ujar Nino


"Lo sendiri kalau banyak duit, mau nggak Ka?. Beli centong nasi bekas pake Christ Hemsworth?" tanya Ansel.


"Ngapain coba?" Arka balik bertanya.


"Centong nasi ya tetep aja centong nasi. Kalau tuh centong nasi bisa bikin nasi berubah jadi burger, baru gue beli." ujar Arka lagi.


Hal itu membuat Nino dan Ansel jadi terkekeh.


"Tapi pandangan lo sendiri gimana?" tanya Nino kemudian.


"Soal mereka yang ikut pelelangan ini?" lanjutnya lagi.


"Ya menurut gue biarin aja, duit-duit mereka ini. Mereka yang kerja keras buat dapetin duit, terserah mereka ngabisin duitnya buat apa." jawab Arka.


"Oh, berarti dia bukan kaum mendang-mending, Nin." seloroh Ansel.


Arka terkekeh, ia cukup kaget Ansel mengetahui istilah tersebut. Namun bisa dipastikan Nino lah yang mengajarinya.


"Enak aja kaum mendang-mending. Gue mah walau lahir nggak kaya-raya, tapi nggak tergolong ke dalam circle mereka ya." ujar Arka kemudian.


Nino dan Ansel kembali terkekeh


"Kaum mendang-mending yang selalu muncul di tiap postingan kebahagian orang." ujar Nino.


"Iya, bener banget. Kalau ada orang posting beli barang mewah, mereka langsung komen." imbuh Arka.


"Kalau gue punya uang segitu, mending duitnya gue sumbangin semua buat amal. Biar masuk surga, karena harta nggak dibawa mati."


Nino mempraktekkan salah satu komentar netizen yang disinyalir merupakan kaum mendang-mending.


Arka pun jadi kian tertawa-tawa.


"Pas mereka punya duit, nyumbang lima ribu perak buat kotak amal pun nggak." tukas pemuda itu.


"Related" jawab Nino.


"Bilang aja kalau mereka tuh iri, karena nggak bisa beli. Orang yang kerja keras, suka-suka orang lah mau beli apa. Pas orang itu lagi susah juga, mereka kagak ada yang nolong kan. Kenal juga nggak. Pas itu orang ada duit mau beli apa, eh malah mereka yang protes. Kan nggak ada jundrungannya." lanjutnya lagi


"Kebiasaan mereka tuh suka menjudge orang lain nggak sedekah. Aturan ngaca diri aja dulu, siapa tau justru kita sendiri lah yang malas berbagi. Iya nggak sih?"


"Iya, lagian juga sedekah itu kan udah ditetapkan berapa persen dari harta yang didapat. Boleh lebih kalau mau, tapi ya nggak semuanya mesti lo sumbangin juga. Lo makan emangnya nggak pake duit?. Anak sekolah, beli listrik, beli gas, pulsa, bayar air, nggak ada yang gratis. Seenaknya aja si kaum mendang-mending ngomong kayak gitu." ujar Arka.


"Kalau gue sih mending gue sumbangin semua. Tapi keluar duit seribu dua ribu buat parkir minimarket aja, langsung asem mukanya. Lagi mau nyumbangin semua uang yang dia punya, preeet."


"Hahaha."


Arka dan Nino tertawa.


"Ansel?"


Ryan tiba-tiba datang dan menegur Ansel yang tengah duduk melantai sambil minum.


"Ngapain kamu disitu?" tanya Ryan lagi.


"Nih ngedengerin dua admin lambe turah lagi gosip." ujar Ansel.


Seketika Nino dan Arka pun saling menatap sambil menahan senyum.


"Julid amat ngomongnya, padahal kan gue mancing dikit." lanjut Ansel lagi.


"Buruan berdiri, itu barang yang kalian bawa akan di lelang sebentar lagi." ujar Ryan.


Ketiga anak Ryan itu pun bersiap, tak lama kemudian, mereka disuruh ke depan. Arka memamerkan sebuah jam tangan, yang langsung laku terjual hanya dalam hitungan menit.


Begitupula dengan Nino yang memamerkan sebuah jas dari desainer terkenal, barang itu juga langsung laku terjual. Kini giliran Ansel yang membawa potongan rambut salah satu idol K-Pop Korea, yang saat ini tengah mengguncang dunia.


"Potongan rambut idol Korea ini dibanderol dengan harga awal 138juta." Si pembawa acara berkata kepada semua hadirin.


"Saya yang ambil."


Seseorang berdiri dan mengangkat nomor.


"Baik, Fanta Halilintar sudah memberikan penawaran, ada yang lain?" tanya si pembawa acara itu lagi.


"150juta." Seseorang lain berujar, dari sebuah kursi.


"Waw Karin sudah menawar 150juta, masih ada yang lain?"


"170juta."


"250juta."


"280juta."


Seluruh hadirin terdiam, sepertinya tak ada lagi yang menawar.


"Baik, ada lagi?"


Arka, Nino dan Ansel melirik ke semua hadirin. Mereka masih menonton acara tersebut.


"Baik penawaran ditutup dengan 280juta oleh Fanya Geraldine."


Tepuk tangan meriah pun mewarnai tempat itu, Arka berusaha keras menahan tawa namun gagal.


"Apa gue bilang, Ka. Ada aja orang kaya gabut, iya kan?" ujar Nino.


"Ya udalah, Nin. Duit, duit dia ini." ujar Arka.


"Siapa tau mau dia jual lagi dengan harga 2 kali lipat." lanjutnya lagi.


"Yoi, di belahan dunia lain banyak orang kaya yang lebih gabut lagi." ujar Nino.


***


Setelah acara pelelangan tersebut selesai, mereka pun makan. Ansel tentu saja berada di garda paling depan kalau untuk urusan tersebut.


Terlihatlah para CEO perempuan serta sekretaris-sekretaris yang sexy dan cantik, di sekitaran mereka.


"Jangan larak-lirik, gue kasih tau Amanda lo."


Ancam Nino pada Arka. Karena pemuda itu sempat melihat, pada seorang sekretaris seksi yang melintas ke arah meja prasmanan.


"Orang gue ngeliat doang. Lo juga gue kasih tau Nadine ntar, cipika-cipiki sama itu cewek tadi."


"Orang itu temen gue." Nino membela diri.


Beberapa saat yang lalu ia memang bertemu salah satu rekannya, dan mereka terlihat sangat akrab.


"Kalau gue mah, laporin aja ke Intan. Nggak bakal percaya dia sama lo berdua." Ansel nyeletuk tiba-tiba.


"Ya iyalah, intan hafal kalau mata lo digunain buat melirik makanan doang." ujar Nino.


Arka tertawa mendengar semua itu, acara pun berlanjut sampai malam.


Sekitar pukul 23:06 Ryan keluar dari tempat sana dan menuju ke area parkiran yang mulai sepi. Karena sejak tadi sudah banyak tamu undangan yang pamit pulang. Beberapa lampu yang ada di basemen tersebut pun telah dimatikan. Hanya ada beberapa saja yang masih hidup.


"Blaaas."


Ryan terkejut dan menoleh, pasalnya seperti ada seseorang yang tengah mengintainya.


"Blaaas."


Seseorang berlari dan bersembunyi di arah lain, Ryan yang malam itu tak bersama sang supir pun buru-buru menuju mobil. Namun kemudian,


"Buuuk."


Seseorang memukul kepala dan bahunya dari belakang. Ryan yang terkejut itupun mendadak menoleh. Namun pandanganya sedikit kunang-kunang, akibat kerasnya pukulan yang ia terima. Ada tiga orang yang kini mendekat dan entah siapa mereka.


"Wuush."


Salah seorang kembali mengayunkan balok kayu yang tadi sempat menghantam kepala dan bahu Ryan. Namun pria tua itu menghindar dan coba melawan.


Perkelahian tiga lawan satu pun tak dapat terhindarkan. Awalnya biasa saja, namun pada akhirnya Ryan kewalahan. Ia terus mendapat serangan dan pukulan sampai kemudian,


"Daaad."


Nino berteriak dari kejauhan sambil berlari kencang. Ia didampingi oleh Ansel dan Arka yang juga berlari membabi buta.


"Woi." teriak Arka penuh amarah.


Mereka pun akhirnya saling menyerang dan berkelahi dengan posisi 2 lawan 3. Karena sejatinya Ansel tak bisa berkelahi. Ia hanya terus menghindar, ketika salah satu dari mereka mencoba menyerang.


"Ansel bawa daddy ke mobil." ujar Nino seraya menyerang orang yang kini berada di muka Ansel.


Ansel mengangguk dan bergerak ke arah Ryan. Sementara Arka masih membabi buta. Menyerang seseorang yang kini ada dihadapannya.


Nino menghadapi dua orang sekaligus. Ia masih bisa mengimbangi dan melawan mereka, meski kekuatan mereka lebih besar. Hingga tiba di suatu titik,


"Buuuk."


Orang tersebut berhasil menjatuhkan Nino. Nino berakhir di lantai basemen parkir, kedua orang itu kini berlari mengejar Ansel dan Ryan yang sudah tertatih-tatih. Tampaknya kaki Ryan mengalami cidera serius, entah akibat pukulan atau apapun itu.


Kedua orang tersebut menyerang ansel dan Ryan. Ayah dan anak itu pun melawan sebisanya. Sementara Nino berusaha keras untuk bangun.


Ketika berhasil, ia lalu menuju ketempat dimana ayah dan saudaranya diserang. Pergumulan sengit kembali terjadi, sementara Arka hampir memenangkan perkelahiannya.


Nino memukul mereka satu persatu tanpa ampun. Namun tak lama kemudian salah satu dari mereka mengeluarkan sebilah pisau tajam, ia mengarahkannya kepada Ryan. Melihat semua itu, tanpa berfikir panjang Nino pun berlari ke arah Ryan secara serta merta. Ia mencoba menghalangi dan,


"Aaaakh." teriaknya tertahan.


Pisau itu tertusuk tepat di bagian kiri perutnya, dan seketika waktu pun seakan melambat.


"Ninooo."


Teriakan Arka dan Ansel memecah keheningan, sementara Ryan kini terpaku di tempatnya. Diam membisu dengan pandangan yang tak terlepas dari anaknya itu.


"Nino."


Ia berujar dengan suara yang gemetaran. Sementara ketiga pelaku itu kini telah kabur.


"Ninooo."


Tubuh Ryan terasa gamang, seumur hidup ia tak pernah menyangka akan ada peristiwa semacam ini. Ia bukanlah tokoh orang kaya yang digambarkan para penulis halu di dunia novel online. Yang saban hari selalu di kawal bodyguard kesana-kemari.


Ia hanyalah orang sukses yang menjalani kehidupan dengan biasa. Sama seperti kebanyakan orang kaya lain, yang rata-rata masih melakukan apa-apa sendiri.


Namun kini ia paham, jika ia membutuhkan proteksi lebih. Bukan untuk dirinya, tapi untuk anak-anaknya.