
Ibu Arka terduduk diam di kursi meja makan, tubuhnya masih gemetar dan hatinya begitu sakit. Ia tak menyangka jika anaknya telah melakukan hal di luar batas.
Selama ini dalam pandangan matanya, Arka adalah anak yang baik. Tak pernah sekalipun Arka memberikan masalah bagi kedua orang tuanya.
"Seumur hidup ibu sama papa, belum pernah mas mu itu membuat masalah. Apalagi sampai mempermalukan keluarga seperti ini."
Ibu Arka melempar pandangan ke suatu sudut, tempat di mana terpajang foto Arka semasa kecil. Sementara Rianti tertunduk, ia merasa keputusannya ini terlalu terburu-buru. Harusnya ia tunda saja dulu, kalau hasilnya akan membuat ibu Arka menjadi sedih dan terluka seperti ini.
Sementara diluar, Rio tiba bersama dengan Liana. Tadi seusai membuat laporan ke kantor polisi, Rio mengajak Liana untuk sedikit menghibur diri. Ia mengajak wanita itu berbelanja keperluan dan juga makan bersama.
Rio baru mendapatkan honornya kemarin. Sejak jauh hari ia sudah berniat untuk menyenangkan hati Liana, jika honornya tersebut telah dibayar. Agar gadis itu sedikit rileks dan tidak terlalu memikirkan beban, yang sampai saat ini masih bersarang dihatinya.
"Ri, makasih ya. Udah ngajak aku jalan-jalan dan nemenin belanja juga." ujar Liana pada Rio. Pria muda itu pun tersenyum.
"Iya, kalau ada apa-apa kasih tau aku ya. Kali aja bisa bantu." ujar Rio.
Liana pun tersenyum tipis.
"Mas Rio, dipanggil ibu." ujar Rianti yang muncul secara tiba-tiba di teras rumah.
"Ibu dimana?" tanya Rio kemudian.
"Diruang makan, mas." jawab Rianti.
Liana pun bersiap masuk.
"Mbak Liana temenin Rianti, ya. Disuruh ibu ke warung di ujung jalan sana, Rianti takut sendirian." ujar Rianti.
Liana mengangguk, lalu membiarkan barang belanjaannya dibawa oleh Rio. Sejujurnya Rianti sengaja melakukan ini, karena ibu Arka menyuruhnya agar menjauhkan Liana terlebih dahulu.
Ibu Arka takut jika rahasia kebohongan Arka diketahui oleh Liana. Wanita itu masih mengira, jika Liana tak tahu-menahu perihal apa yang terjadi pada Arka dan juga Amanda.
Rianti dan Liana perlahan menjauh, sedangkan kini Rio masuk ke dalam dan mencari dimana ibu Arka tengah berada.
"Bu." panggil Rio, seraya meletakkan belanjaan Liana ke atas kursi ruang tamu.
"Ibuuu."
Rio menghentikan langkah, tepat di depan pintu sekat yang menuju ke arah ruang makan. Tampak ibu Arka duduk dengan wajah begitu dingin. Hal yang belum pernah sekalipun Rio lihat, sepanjang ia mengenal Arka dan juga orang tua itu.
"Ibu kenapa, bu?" tanya Rio heran.
"Ibu panggil, Rio?" lanjut pemuda itu lagi.
Ibu Arka menoleh dengan tatapan yang tajam menghujam.
"Ibu cuma pengen kamu jawab iya atau tidak, Rio."
Rio mengerutkan kening, tak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh ibu Arka.
"Maksud ibu?" tanya Rio lagi.
"Iya atau tidak, Arka menghamili perempuan yang berusia 10 tahun diatasnya?"
Petir seakan menyambar, Rio terkejut sekaligus syok mendengar pertanyaan itu. Ia tak menyangka jika hal ini telah sampai ke telinga ibu Arka
"Jawab, Rio..!"
Hardik ibu Arka seraya terus memberikan tatapan tajam ke mata Rio. Pemuda itu kini terpaku tanpa bisa berbuat apa-apa. Tubuhnya saja masih gemetar dan jantungnya berdegup kencang.
"Iya atau tidaaak?"
"I, iya bu."
Rio terpaksa berkata jujur, karena berbohong pun sepertinya akan percuma.
"Tapi, bu."
"Cukup..!"
Rio baru saja hendak mengatakan jika Arka dan Amanda telah menikah, namun sepertinya ibu Arka enggan mendengar lebih lanjut. Ia melihat luapan kemarahan di mata wanita itu.
"Pergi dari sini dan cari Arka. Suruh menghadap ibu, segera. Karena ibu dan Rianti tidak bisa menghubungi dia."
"Tapi, bu."
"Ibu bilang, pergi...!"
Rio diam lalu pergi meninggalkan tempat itu. Ia berjalan cepat, saat itu Liana yang baru kembali dari warung dapat melihat langkah Rio meski Rio tak melihatnya.
Malam itu Rio berusaha menghubungi Arka. Untuk memberitahukan perihal masalah ini kepada sahabatnya itu. Namun sejak tadi tak ada yang mengangkat, meski telpon tersambung.
Jelas saja, karena handphone Arka tertinggal di penthouse. Sedang ia kini masih terbaring dirumah sakit.
"Duh, Ka. Lo dimana, sih?"
Sementara dirumah sakit, Amanda kini tengah menyuapi suaminya. Hal yang belum pernah ia lakukan selama menjadi istri Arka. Ada sesekali ia pernah menyuapkan makanan pada pemuda itu. Tapi itu adalah makanannya, bukan sengaja disiapkan untuk Arka.
"Kalau ngeliat kamu kayak gini, rasanya aku pengen sakit terus." ujar Arka seraya menatap Amanda. Wanita itu tersenyum sambil terus menyuapi Arka.
"Jangan dong. Akunya sedih, nggak ada yang nemenin tidur. Anak-anak kamu juga bakalan sedih, nggak di dongengin papanya."
Arka tersenyum lalu mengelus perut Amanda.
"Udah mau 7 bulan kamu ya, dek."
"Udah makin aktif, Ka. Kadang aku lagi sibuk meeting dia gerak mulu, nggak berhenti-berhenti."
Lagi-lagi Arka tersenyum.
"Berarti mereka sehat, Man."
"Iya, sih. Tapi akunya jadi makin takut." ujar Amanda.
"Takut kenapa?" tanya Arka heran.
"Ya, udah deket-deket bulan mau lahiran gini. Aku banyak khawatir, takut gimana nanti proses lahirannya."
"Udah nggak usah dipikirin. Nanti malah fokus kesitu, kamu nya jadi stress, bisa sakit kamu. Kasian kamu, kasian mereka juga. Lagian ada aku koq. Aku akan ada di samping kamu, saat kamu melahirkan."
Amanda mengangguk lalu tersenyum.
"Nih, lagi."
"Udah, aku kenyang." ujar Arka.
Amanda lalu memberinya minum.
"Makasih ya, Man."
"Iya." jawab Amanda lalu tersenyum.
Ia lalu beranjak, dan meletakkan piring bekas makan suaminya ke atas nampan yang ada dimeja. Tak lama kemudian handphone wanita itu pun berbunyi.
"Makanan aku udah sampe. Aku ke depan dulu ya, Ka." ujar Amanda.
"Hati-hati kamu." ujar Arka kemudian.
"Iya."
Amanda lalu pergi meninggalkan tempat itu, untuk menuju ojek online yang membawakan pesanannya.
Amanda berjalan ke depan, mengambil pesanan berupa makanan. Ia tak pulang ke rumah karena ingin menemani Arka. Ia lalu kembali ke dalam dan melangkah dengan perlahan.
Namun kemudian ia teringat harus membeli vitamin untuk dirinya sendiri. Karena vitamin yang diberikan dokter untuknya telah habis. Maka Amanda pun membeli vitamin tersebut, pada apotek yang berada di lingkungan rumah sakit.
Usai mendapatkan apa yang ia inginkan, Amanda kembali melangkah. Bermaksud segera kembali keruangan Arka. Namun tiba-tiba ia teringat bahwa lorong yang kini ia lewati, adalah lorong dimana kamar Nino dirawat berada.
Seketika Amanda pun menoleh, saat langkahnya mulai menapaki lantai lorong di muka kamar Nino. Nino yang saat itu tengah disuapi oleh Nadine, tanpa sengaja menoleh ke arah kaca dan bertemu mata dengan Amanda.
"Degh."
Batin keduanya bergemuruh, Amanda disini lagi. Apa mungkin Amanda mengkhawatirkan dirinya, pikir Nino. Ia benar-benar tak tahu, jika Amanda ada disini karena Arka. Ia telah mengira perempuan itu mengkhawatirkan dirinya, namun tak berani mendekat.
Nino tak salah soal kekhawatiran itu, Amanda memang mengkhawatirkan dirinya. Namun tidak mendekatnya Amanda, bukan karena wanita itu tidak berani. Ia hanya tak ingin membunuh perasan Nadine dan juga mengkhianati Arka. Akhirnya Amanda hanya berlalu saja dengan perasaan yang campur aduk.
***
Rio tiba di penthouse, namun pak Darwis tak terlihat sekitaran tempat itu. Biasanya saat belum pulang, pak Darwis akan ngopi disekitaran pos security.
"Pak, liat pak Darwis nggak?" tanya Arka kepada pihak keamanan.
"Pak Darwis, supirnya bu Amanda?"
"Iya, pak. Saya ada perlu."
"Kayaknya nggak datang deh mas, anaknya sakit dengar-dengar." ujar pihak keamanan itu kemudian.
"Eee, bapak ada ngeliat bu Amanda atau laki-laki yang sering sama dia nggak?" tanya Rio lagi.
"Mas Arka?"
"Iya."
"Hmm, kayaknya belum liat Mas. Soalnya saya juga baru ganti shift."
"Oh gitu, ya udah makasih ya pak." ujar Rio kemudian. Ia terus mencoba menghubungi nomor Arka dan berharap ada jawaban.