
Amanda mematut diri di depan kaca. Mencoba melihat dan menilai penampilannya, sebelum memutuskan untuk pergi ke rumah orang tua Arka.
"Udah siap, Man?" tanya Arka yang baru saja masuk ke kamar.
"Iya." jawab Amanda kemudian.
Arka memperhatikan wanita itu, yang hanya mengenakan dress hamil selutut berwarna biru pastel. Dipadu sebuah blazer hitam dengan bahan yang tidak terlalu tebal. Ia juga memakai sebuah sendal yang flat.
Arka tersenyum.
"Kamu cantik." ujar Arka pada istrinya itu.
Amanda balas tersenyum, ia lalu mengambil tas tangan miliknya dan kian mendekat ke arah Arka.
"Kalau nanti aku dimarahin ibu kamu gimana?"
"Aku yang akan jadi perisai buat kamu, biar aku aja yang dimarahin. Kan aku suami kamu."
Keduanya lalu sama-sama tersenyum. Sesaat kemudian mereka pun meninggalkan penthouse. Disepanjang perjalanan, Arka seperti dirasuki sebuah ketakutan. Pasalnya ia takut jika Amanda nanti tidak nyaman berada dirumahnya yang sederhana.
Ia takut wanita itu akan menunjukkan sikap yang membuat kedua orang tuanya tersinggung. Mengingat Amanda adalah perempuan sukses kaya-raya. Ia mungkin saja risih berada di kawasan yang terbilang mirip dengan perkampungan.
Meski ia bertekad untuk menjadi perisai dan membela sang istri, jika ibunya marah-marah. Namun Arka juga tak ingin orang tuanya berakhir tersinggung ataupun sedih. Ia lebih banyak diam dalam perjalanan kali ini, lantaran hal tersebut sangat menyesakan pikirannya.
"Ka, ini bener disini?" tanya Amanda ketika mereka telah sampai tepat didepan rumah Arka.
Amanda melihat ke sekitar, ia bertanya untuk memastikan apakah alamat yang mereka tuju itu benar atau tidak. Namun Arka malah menangkapnya dengan cara berbeda. Ia mengira Amanda merasa tak suka menginjakkan kaki ditempat tersebut.
"Iya, Man. Maaf ya tempatnya begini." ujar Arka dengan nada seperti minder.
"Ya nggak apa-apa, aku bukan mempermasalahkan hal itu. Aku nanya bener apa nggak lokasinya disini. Abisnya dari tadi kamu diem aja ditanyain pak Darwis."
"Hah, emang iya?"
Arka tak menyadari jika dirinya lebih banyak bengong di perjalanan tadi.
"Tanya noh pak Darwis." ujar Amanda.
Pak Darwis pun tertawa.
"Sudah mas Arka, jangan tegang begitu. Hadapi aja dengan berani." ujarnya kemudian.
Arka pun mengangguk.
"Iya, pak." jawabnya..
Arka keluar dari mobil, ia lalu membuka pintu sebelah dan membantu Amanda. Tampak ibu, ayah tirinya, berserta Rianti sudah ada didepan teras.
"Itu kayaknya tante-tante yang memelihara si Arka." ujar bu Mawar, yang saat ini sedang mengintip bersama grup lambe nyinyirnya di suatu sudut.
"Itu si Arka ngebantuin karena denger-denger lagi bunting." ujarnya lagi.
Arka menutup pintu mobil dan menggandeng Amanda.
"Itu teh bukan tante-tante atuh bu Mawar. Cantik begitu, kalah cantik bu Mawar mah." ujar salah satu personel grupnya, yang kemudian di beri hadiah oleh bu Mawar berupa keplakan di kepala.
"Awww, sakit atuh bu Mawar."
Arka dan Amanda refleks menoleh, namun bu Mawar dan yang lainnya menunduk. Mereka bersembunyi di balik pagar yang terbuat dari tanaman.
"Ssst, jangan berisik atuh." ujar bu Mawar.
Mereka terus memperhatikan Arka yang kini berjalan perlahan ke arah keluarganya, dengan harap-harap cemas.
Keluarga Arka terlihat dingin, namun semakin keduanya mendekat. Semakin lebar pula senyum yang terkembang dibibir mereka.
"Bu."
Amanda menyapa ibu Arka dan langsung mencium tangannya. Arka sendiri terkejut dengan sikap istrinya itu. Ia sudah mengira bahwa Amanda akan bersikap layaknya orang asing pada ibunya.
Namun Amanda bersikap seolah ibu Arka adalah ibunya sendiri. Hal tersebutlah yang membuat ibu Arka menangis haru, lalu memeluk sang menantu.
"Selamat datang dirumah, Arka." ujar ibu Arka seraya tersenyum menatap Amanda.
Amanda pun balas tersenyum, lalu mereka berpelukan kembali. Tak lama setelah itu, Amanda gantian mencium tangan ayah tiri Arka.
Untuk pertama kalinya, ayah tiri Arka menatap menantu yang sudah membantu biaya pengobatannya tersebut. Tak lama Rianti pun mencium tangan sang kakak ipar.
"Ayo masuk!" ajak ibunya pada Amanda dan Arka kemudian.
"Mmm..."
Amanda menoleh pada pak Darwis, pak Darwis pun membuka bagian belakang mobil.
"Bentar ya, bu." ujarnya kemudian. Amanda mendekat ke arah mobil diikuti Arka.
"Ada apaan, Man?" tanya Arka heran.
"Ini bawa, Ka. Buat ibu, bapak, sama adek kamu." ujar Amanda mengeluarkan beberapa box cake yang entah kapan ia beli.
"Kapan kamu beli semua ini?" tanya Arka semakin heran.
"Tadi pagi aku minta tolong pak Darwis sama Anita. Masa kita kesini nggak bawa apa-apa, namanya berkunjung ke orang tua."
Amanda berlalu begitu saja dari hadapan Arka dan menyusul ibu mertuanya. Sementara Arka kini tertegun seraya tersenyum, sikap Amanda sangat diluar ekspektasinya.
Ia sudah mengira jika perempuan itu akan bersikap sombong pada keluarganya. Namun ternyata tidak sama sekali, ia malah terlihat seperti wanita biasa yang tengah mengunjungi mertuanya.
"Ini apa, nak?" tanya Ibu Arka pada Amanda.
"Ini buat ibu sama bapak dan Rianti, masih ada lagi dibelakang." jawab Amanda kemudian.
"Lain kali nggak usah repot-repot, kan disini juga ibu masak buat kalian." ujar ibu Arka lagi.
"Nggak apa-apa, bu." jawab Amanda.
"Ti, bantuin mbak mu. Kasian dia." ujar Ibu Arka.
Rianti pun meraih buah tangan yang ada digenggaman Amanda, dan membawanya ke dalam.
***
"Jadi, kamu itu sudah hamil berapa bulan?" tanya ibu Arka, ketika mereka semua sudah berada di ruang keluarga dan pak Darwis sendiri sudah pulang. Amanda duduk disisi Rianti, sedang Arka berada disisi ayah tirinya.
"Enam masuk tujuh bu." jawab Amanda.
"Hah?." Ibu Arka, ayah tirinya, dan Rianti kaget.
"Ibu pikir kamu udah sembilan bulan."
"Hah, kembar?" Mereka semua kaget sekaligus gembira.
"Serius, Ka. Anakmu kembar?" tanya ayah tirinya pada Arka. Arka pun tertawa kecil lalu mengangguk.
"Iya, pa." jawabnya kemudian.
Ibunya menarik nafas, ia dan Rianti saling tersenyum satu sama lain..
"Ya sudah pada makan dulu, ayo!" ujar ibu Arka.
"Nanti kita lanjut ngobrol." lanjut wanita itu.
Mereka kemudian beranjak. Arka langsung mendekat pada Amanda dan berbisik di telinganya
"Mas Arka." ledeknya kemudian.
"Ih tadi tuh aku keceplosan." ujar Amanda sewot.
"Coba ulangi lagi, aku mau denger. Mas Arka, coba!"
"Ih, nggak mau. Apaan sih?" Amanda ngambek, Arka tertawa.
"Oppa Arka, coba. Oppaaa."
"Hhhh, Oppa Nassar Kiyowo." ujar Amanda kesal di telinga suaminya itu.
Ia lalu berjalan ke ruang makan, meninggalkan Arka yang tertawa melihat tingkahnya.
"Amanda suka nggak sama bebek goreng?"
Ibu Arka bertanya, ketika mereka semua telah berada di meja makan.
"Amanda, mmm..." Amanda melirik ke arah suaminya.
"Amanda belum pernah makan, bu." jawabnya jujur.
"Berarti kamu harus cobain ini, ini salah satu kesukaannya Arka. Selain sambal goreng teri pedas manis, bebek goreng serundeng."
"Itu enak loh, Amanda." ujar ayah Arka kemudian.
Amanda pun mengambil potongan bebek tersebut. Ia cuek saja makan menggunakan tangannya, tanpa sendok ataupun garpu.
"Hmm, iya bu. Enak banget." ujar Amanda seraya melahap bebek goreng tersebut, dengan nasi dan sambal.
"Mbak Amanda nggak apa-apa gitu, makan pake tangan?" tanya Rianti seraya memperhatikan.
"Ya kan emang makan harus pake tangan, masa pake kaki." seloroh Amanda seraya tertawa kecil pada Rianti. Rianti pun ikut tertawa.
"Kirain orang kaya, nggak mau tangannya kotor." ujar Rianti lagi.
"Ti." Arka melotot pada Rianti, Amanda makin tertawa.
"Kan cuma nanya, mas. Penasaran gitu, gimana orang kaya makan."
Amanda hampir tersedak karena terus tertawa.
"Ya sama aja, Ti. Mau kaya, miskin, makan tetep aja harus pake tangan. Sendok juga dipegangnya ditangan kan?"
"Iya juga sih." ujar Rianti.
Amanda terus makan dengan lahap, sampai kemudian ia menyadari jika nasi dan lauk di piringnya sudah habis duluan. Amanda menatap yang lainnya bahkan baru setengah.
Jujur ia masih merasa lapar, namun tak enak untuk mengambil lagi. Ini kali pertamanya ia datang kesini.
"Nambah lagi, Amanda." ujar sang ibu mertua.
Amanda melihat ke arah Arka.
"Udah nambah aja, nggak apa-apa." tukas Arka kemudian. Suaminya itu juga tau jika ia masih lapar.
"Hmm, udah koq bu." Amanda merasa tak enak.
"Udah nggak apa-apa, ibu masak banyak sengaja buat kalian."
Sang ibu mertua menambahkan nasi dan lauk yang banyak di piring Amanda.
"Bu, udah cukup." Amanda makin tak enak hati.
"Udah nggak apa-apa, ibu juga pernah hamil koq. Waktu hamil Arka aja, ibu makan kayak kesetanan. Apalagi kamu yang isinya dua, udah nggak usah malu-malu."
Detik berikutnya, Amanda pun membuang rasa malunya dan makan sebanyak yang ia mau.
"Maafin Amanda ya pa, bu, Ti, kalau malu-maluin." ujarnya kemudian.
Mereka semua pun tersenyum memperhatikan wanita itu.
"Udah, pokoknya apapun yang kamu mau. Makan, jangan ditahan."
Amanda mengangguk dan melanjutkan makan.
Usai makan ia ikut membantu membereskan meja dan membawa piring kotor ke belakang.
"Sudah Amanda, kamu istirahat aja sana." ujar Ibu Arka. Ia merasa tak enak menantunya itu ikut bergerak..
"Jangan, bu. Nggak apa-apa biar Amanda aja yang cuci piring."
"Jangan nak, sudah. Ada Rianti yang bisa ngerjain semuanya."
"Iya mbak, udah nggak usah."
Rianti turut menghentikan Amanda, karena sama merasa tak enaknya dengan sang ibu.
"Mbak kan lagi hamil, istirahat aja di kamar." lanjut gadis itu lagi.
"Tapi Amanda nggak enak, bu." Amanda kembali berujar.
"Sudah, nggak apa-apa. Ka, Arkaaa."
Sang ibu memanggil Arka.
"Iya, bu." Arka ke belakang.
"Bawa istri mu ke kamar, suruh istirahat." ujar ibunya kemudian.
"Iya bu."
Amanda pun hanya menurut saja, meski masih ada perasaan yang tak enak di hatinya.