
Laki-laki tampan berusia 60 an tahun itu keluar dari dalam lift. Ia berhenti di lantai paling atas gedung tersebut.
"Siang, pak Amman." sapa salah seorang karyawan. Dilanjutkan sapaan oleh karyawan yang lainnya. Laki-laki berwajah angkuh itu hanya mengangguk tanpa menjawab. Tak lama kemudian, Vera tiba di ruangannya.
"How?" tanya Amman pada Vera.
"Aku sudah menemukan aktor yang cocok untuk menjadi brand ambasador produk kita."
"Who?"
Vera lalu menghidupkan proyektor dan memperlihatkan profil Arka beserta pengalamannya baik dalam akting maupun iklan. Amman terkejut, karena tadi ia sempat berpapasan dengan pemuda itu.
"Ow, I like him." ujar Amman seraya menuang segelas wine ke dalam gelas lalu memberikannya pada Vera. Tak lama, ia pun menuang sendiri untuk dirinya.
"Bagaimana soal personality nya." tanya Amman kemudian.
"Dia bagus, dan dia cepat menguasai produk knowledge. Tidak seperti bintang iklan sebelumnya, yang dicari oleh istrimu Rachel."
Amman meraih gelas yang ada ditangan Vera, lalu meletakkannya dimeja, sebelum sempat Vera meminumnya. Ia mendekat, lalu membuka dua tau tiga kancing kemeja wanita itu.
"Rachel itu, asal jangan tidak terlibat saja dengan perusahaan ini. Dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi kecuali belanja dan menghabiskan uang."
Amman mulai mencium bibir Vera. Perempuan yang lebih pantas menjadi anaknya itu pun membalas dengan tatapan penuh menggoda.
"Kapan kamu akan menikahi aku dan menceraikan Rachel."
"Sampai rahimmu bisa mengandung dan memberiku pewaris baru. Karena pewaris lama ku sudah membangkang dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri."
Amman membalikkan tubuh wanita itu hingga ia bertumpu di meja kerja. Tangannya menyibak rok pendek yang ada dihadapannya. Lalu dimulailah hantaman demi hantaman itu.
***
Beberapa saat berlalu.
Rani berada di sebuah ruangan dirumahnya, didekat sebuah papan board hitam besar yang menggantung didinding. Dimana terdapat banyak rencana yang ia tempelkan disana. Wanita itu memperhatikan papan board tersebut, lalu berjalan melenggak-lenggok bak model profesional. Ia kemudian duduk pada sebuah kursi besar, yang ada di sudut kanan ruangan itu.
"Bos Maharani Pradita, CEO Maharani Pradita."
"Hahaha." Ia pun tertawa layaknya orang gila yang penuh ambisi.
"Sebentar lagi, semua akan terbalas."
"Hahaha."
"Hahaha."
***
Hari itu, Satya dan Deni bermaksud mengajak Intan dan beberapa teman mereka yang lainnya untuk makan bersama. Karena mereka berdua baru saja memenangkan turnamen game online dan menyabet juara pertama. Teman-teman mereka tentu saja mengiyakan, namun tidak dengan Intan.
"Kalian aja, deh. Gue lagi ada urusan soalnya." ujar Intan Kemudian.
Satya dan Deni pun agak sedikit bingung. Pasalnya sepanjang mengenal Intan, anak itu bahkan nyaris tak pernah memiliki urusan serius di hidupnya. Selama ini ia baik-baik saja dan selalu ceria dengan segala gosip yang ia miliki.
"Hmm, gue tau nih." Satya menebak.
"Lo jatuh cinta kan, pasti?" ledeknya kemudian.
"Nggak, serius."
"Tan, selama kita kenal elo. Lo tuh nggak pernah seserius ini hidupnya." timpal Deni.
"Bener, pasti lo lagi mau jalan sama gebetan lo kan?" tanya Satya seraya terus menatapnya.
"Hmm, iya. Hehehe."
Intan mengiyakan saja tuduhan itu, agar supaya temannya itu tak banyak bicara lagi.
"Siapa orangnya?" tanya Satya dan Deni diwaktu yang nyaris bersamaan.
"Anak sini bukan?" tanya Deni lagi.
"Bu, bukan. Hehehe."
"Ayo anak divisi mana?. Lantai bawah?" Kali ini Satya yang bertanya.
"Bukan juga, bukan anak kantor ini."
"Siapa?" tanya Deni lagi.
"Bule, bule. Kenal di dating app. Hehehe." Intan kian lanjut berbohong.
"Ati-ati longgar lo, nanti." ujar Satya diiringi tawa Deni dan yang lainnya.
"Iye, gue ati-ati koq orangnya." ujar Intan.
"Lo beneran nggak mau ikut kita?. Kalau nggak ajak aja tuh bule lo, sekalian kenalin ke kita." ujar Satya lagi.
"Ntar deh, lain kali ya. Ini gue mau jalan berdua dulu." ujar Intan masih dengan senyumnya yang nyengir dipaksa.
"Mau ngamar kan lo?" tanya Deni sok tau.
"Hehehe." ujar Intan kemudian.
Satya, Deni dan yang lainnya akhirnya pergi, sementara kini Intan buru-buru memesan ojek online.
Didalam ruang kerjanya, Amman menarik kembali resleting celananya yang semula terbuka. Ia merapikan kemeja dan juga memakai kembali jas yang sempat ia copot.
Sementara diatas meja, Vera masih terbaring dan merengkuh sisa-sisa kenikmatan. Kedua kakinya masih terbuka lebar. Kini ia hendak bangun, namun Amman menahannya.
"Jangan sampai pembuahan kali ini gagal lagi." ujar Amman pada wanita itu. Vera pun tersenyum, Amman lalu mencium wanita itu.
Tak lama kemudian, Vera diizinkan berdiri. Wanita itu merapikan baju dan juga rambutnya. Seperti telah mengetahui suatu hal, Amman memberikan kembali file yang semula dipegang Vera sebelum kejadian. Tak lama kemudian, seorang perempuan masuk ke dalam secara tiba-tiba.
"Hai Rachel." ujar Vera sambil tersenyum. Vera lalu keluar meninggalkan ruangan itu.
"Kamu baru datang?" ujar Amman pada istrinya seraya mereguk segelas wine.
"Ya, aku mau tukar credit card."
"Kamu mau beli apa lagi?"
"Cincin berlian."
Amman membuka dompet dan memberikan kartu kredit baru pada istrinya itu.
"Apa kamu sudah ketemu dengan si pembangkang?" tanya Rachel lagi.
Amman menggeleng.
"Tapi sudah berurusan dengan orang kepercayaannya."
"Ya, seorang wanita bodoh yang mau mengkhianati persahabatannya sendiri. Dan itu baik untuk kita."
Amman mengembangkan sebuah senyum, yang kemudian disambut pelukan oleh Rachel.
Sementara di ruangannya, Vera kini duduk sambil mengelus perutnya. Ia sangat berharap ada nyawa yang akan tumbuh disana. Agar semua hal yang ada disekitarnya kini, benar-benar akan menjadi miliknya.
***
Intan menyambangi kompleks perumahan Rani yang sepi, bahkan keadaannya lebih mirip rumah-rumah hantu di film Thailand. Tempatnya bukanlah perumahan elite, melainkan cluster biasa yang semua orang pun mungkin terjangkau untuk membeli.
Intan belum puas dengan pengintaiannya kemarin, ia berharap mendapatkan bukti baru lagi kali ini. Ia tak bisa membiarkan Rani begitu saja, ia harus mengetahui apa sesungguhnya rencana jahat dari wanita itu.
Intan sengaja tak memberitahukan hal ini kepada siapapun. Karena terakhir kali, Satya dan Deni yang telah lama berteman dengannya pun tidak percaya. Pada apa yang ia ungkapkan tentang Rani.
Intan juga rasanya tak mungkin memberitahukan hal ini pada Arka, sebab ia tak mengenal Arka dengan baik. Ia khawatir Arka malah akan berbicara pada Amanda soal ini semua, dan Amanda bisa-bisa marah kepada Intan.
Karena Amanda sendiri sangat akrab dengan Rani, mustahil wanita itu akan percaya jika tak ada bukti yang mengarah kesana. Untuk itulah Intan getol untuk mengumpulkan bukti-bukti, tentang kecurigaannya terhadap Rani. Baru kemudian melaporkannya pada Amanda.
Gadis itu mulai mengintai, dan mencari-cari disebelah mana kediaman Rani. Karena kemarin, ia tak sempat mencari tau dimana persisnya rumah wanita itu. Pada blok berapa dan nomor berapa ia tinggal. Kini Intan berjalan kesana kemari sambil menunduk dan melirik kanan-kiri. Kalau-kalau saja ia bertemu dengan Rani.
Sore itu Amanda meminta dijemput oleh Arka. Karena sudah kelaparan, wanita itu makan dulu di kantin kantornya sembari menunggu Arka datang. Tak lama berselang, suami sirinya itu pun tiba.
"Man, tadi ibu nelpon. Dia nyuruh kita mampir kerumah." ujar Arka setelah Amanda selesai makan dan kini mereka sudah masuk kedalam mobil.
"Oh ya udah, yuk kesana." ujar Amanda kemudian.
"Soalnya kan kita janji weekend kemarin, tapi kita nggak dateng." ujar Arka lagi.
"Ya udah sekarang aja. Tapi kita belanja dulu buat ibu sama orang di rumah." ujar Amanda.
"Ok, kemana dulu nih kita?" tanya Arka.
"Ke supermarket yang deket-deket situ aja."
"Ok."
Mobil pun lalu merayap.
Arka dan Amanda berbelanja beberapa kebutuhan, untuk orang tua mereka dan juga Rianti. Usai berbelanja, mereka pun langsung menyambangi kediaman ibu dan ayah tiri Arka. Dimana kedua orang tua itu sedang berada dirumah, begitu juga dengan Rianti.
Disana, mereka disambut baik karena sudah berhari-hari tak bertemu. Mereka saling bertanya kabar, berbincang dan juga minum teh bersama. Amanda juga membawakan beberapa kudapan manis untuk mereka.
"Amanda, sini...!"
Ibu Arka mengajak Amanda kedalam. Amanda ikut saja, ia berjalan dibelakang ibu mertuanya itu. Ia dibawa menuju ruang makan, dimana banyak sekali terdapat buah-buahan serta rujak disana.
Amanda menelan ludah.
"Bu, Amanda boleh minta?" tanyanya kemudian.
"Emang ini buat mbak." celetuk Rianti yang tengah menyiapkan makanan lain.
"Wah, aku seneng." ujar Amanda antusias.
"Ayo duduk."
Ibu Arka mempersilahkan menantunya untuk duduk, dan membiarkannya menikmati buah-buahan tersebut.
"Aduh bu, enak banget." ujar Amanda di sela-sela makannya yang begitu lahap. Ia bertiga dengan Rianti makan rujak itu bersama-sama. Tak lama Rianti ke dapur dan kembali dengan membawa sepiring besar kangkung rebus.
"Itu apaan, Ti?" tanya Amanda heran.
"Kangkung rebus, mbak."
"Itu enak dijadikan rujak." ujar ibunya kemudian.
"Emang iya, bu?" tanya Amanda tak percaya.
"Iya mbak, namanya rujak kangkung." timpal rianti.
Amanda pun penasaran, ia mengambil kangkung tersebut lalu mencampurnya dengan bumbu rujak. Tak lama ia pun memakannya.
"Gimana?" tanya ibu Arka.
"Enak, bu. Tapi kayaknya, pake nasi lebih enak." ujarnya kemudian seraya tertawa.
"Ti, ambilin nasi." ujar ibu Arka pada Rianti. Rianti pun membawa rice cooker ke meja makan. Amanda lalu makan rujak kangkung tersebut dengan nasi.
Waktu berlalu, Arka pun telah selesai mengobrol dengan ayah tirinya. Karena sang ayah kini kedatangan tamu didepan. Arka lalu bergerak kedalam, mencari keberadaan Amanda dan yang lainnya.
"Amanda mana, bu?" tanya Arka pada ibunya dan juga Rianti yang masih dimeja makan.
"Noh ketiduran, abis makan rujak kangkung." Ibunya berujar seraya menahan tawa. Arka beralih ke kamar dan mendapati Amanda tengah ngorok, sepertinya ia mengantuk sekali.
"Astaga Amanda." ujarnya kemudian. Ia menggeleng-gelengkan kepala seraya tersenyum.
"Mbak Amanda makan rujak kangkung sama nasi, Mas." ujar Rianti membuat Arka kian tertawa.
"Pantes aja ilang, nasi sama kangkung." ujarnya kemudian.
Mereka semua pun akhirnya tertawa.
"Kamu makan gih, nak." ujar ibunya lagi.
"Iya, bu. Nanti aja bareng papa."
"Uang untuk lahiran istrimu, sudah cukup?" tanya ibunya seraya menatap Arka.
"Udah ada beberapa, bu. Tapi rencana mau Arka tambahin lagi, takut ada keperluan mendadak."
Ibunya menghela nafas.
"Ibu selalu doain kamu supaya dapat rejeki lebih. Kalau nanti pekerjaan kamu makin bagus, cobalah untuk nabung atau investasi. Biar bisa beli rumah sendiri."
"Arka menatap ibunya."
"Ibu tau, Amanda itu punya rumah banyak. Rumahnya juga mewah dan besar pastinya. Tapi kamu laki-laki, sudah menjadi tanggung jawab kamu untuk menafkahi dan memberi tempat tinggal pada istri dan anak-anakmu."
Arka terdiam, ia memang sedikit terbersit ke arah sana beberapa waktu belakangan ini.
"Ya walaupun Amanda mungkin nggak mau tinggal permanen dirumah kamu. Paling nggak, sekali-kali kalian bisa kesana. Biar kesannya kamu nggak melulu numpang di rumah istrimu. Walau ibu tau, dia perempuan baik dan pasti ikhlas kamu tinggal dirumahnya. Tapi sebagai laki-laki juga kamu nggak boleh nebeng terus."
Arka tersenyum lalu mengangguk.
"Iya, bu." ujarnya kemudian.
"Harga diri laki-laki itu ya, cari uang. Dan nafkah itu sebaik-baiknya laki-laki yang penuhi."
Ibu Arka tersenyum pada puteranya, dan begitupun sebaliknya. Arka meresapi betul apa yang diucapkan ibunya hari itu.