Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Malam Panjang


Usai makan dan menikmati dessert, musik yang mengalun di restoran itu pun berganti menjadi irama musik klasik yang syahdu. Beberapa orang mulai berdansa, Arka sendiri tak melewatkan kesempatan itu.


Kini ia menatap lembut ke arah Amanda lalu mengulurkan tangannya. Amanda tersenyum menyambut uluran tangan tersebut. Pada detik berikutnya mereka pun sama-sama berdiri dan mulai berdansa. Cahaya lampu malam itu redup memuram, menambah syahdu dan hangatnya suasana.


"Man, kamu tau nggak. Disini, di atas rooftop nya banyak kunci gembok nama pasangan gitu." ujar Arka disela-sela irama dansa yang bergerak perlahan. Sudah beberapa menit berlalu dan mereka masih betah berdiri.


"Oh ya, kayak di Namsan tower gitu?" tanya Amanda.


"Iya, mau liat nggak?" Arka balik bertanya pada istrinya.


"Ayo, ayo. Mau!" ujar Amanda bersemangat.


Mereka menghentikan dansa. Arka pun menggamit lengan istrinya itu, lalu mengajaknya naik ke puncak paling tinggi dari gedung tersebut. Gedung itu terdiri dari beberapa bagian. Seperti restoran, kantor-kantor, tempat kosong untuk disewakan dan juga rooftop.


Dan benar apa yang dikatakan Arka, di atas gedung tersebut memang banyak sekali gembok bertuliskan nama-nama pasangan. Sama indahnya seperti pemandangan di area Namsan tower Korea Selatan yang terkenal itu. Hanya saja tempat ini sedikit lebih kecil.


"Sayang kita nggak bawa gembok ya, Ka." ujar Amanda seraya memperhatikan gembok-gembok yang tersusun disekitar.


Arka tersenyum.


"Orang yang namanya ada disini, belum tentu mereka bersatu." ujar Arka kemudian.


"Bener juga sih." Amanda menyetujui hal tersebut.


"Sini aku fotoin."


Arka menyuruh istrinya untuk berdiri pada tempat yang menjorok ke depan."


Amanda berdiri disana, lalu Arka mengabadikan gambarnya. Tak lama setelah itu, Arka mengambil foto wefie dirinya dan sang istri. Ada beberapa pose yang mereka ambil. Mulai dari tersenyum bersama kearah kamera, hingga saling mencium pipi satu sama lain secara bergantian.


Beberapa saat berlalu, lampu-lampu hias yang ada di atas sana mulai dihidupkan semua. Tadi hanya sebagian saja yang hidup. Arka dan Amanda kini duduk bersebelahan, menatap ke arah penjuru kota yang dipenuhi lampu-lampu. Malam terasa begitu damai, karena nyaris tak ada orang lain di atas sana kecuali mereka berdua.


Arka melepaskan blazernya dan menutupi tubuh Amanda yang hanya berbalut dress, karena malam itu cukup dingin. Ia merangkul dan memeluk istrinya itu, lalu mereka berbincang banyak hal. Hingga tanpa terasa Arka lah yang kini menyandarkan kepalanya di bahu Amanda.


"Man."


"Hmm?"


"Kalau aku udah jompo dan bau param kocok, kamu masih bakalan sayang nggak sama aku?"


Arka bertanya setelah sekian jam mereka berada di atas sana. Amanda menahan tawa, namun hampir gagal.


"Sampe kamu bau tanah pun, aku masih akan tetap sayang sama kamu, Arka."


Amanda membelai kepala suaminya yang manja itu.


"Pokoknya kamu jangan mati duluan, sebelum aku. Kalau kita tua nanti." lanjut Arka lagi.


"Kenapa emangnya?" tanya Amanda.


"Karena aku bucin dan tergantung sama kamu, aku nggak bisa kalau kamu nggak ada." ujar Arka.


"Kalau kamu mati, ya aku juga mati." ujar Amanda.


"Kenapa kayak gitu?" tanya Arka.


"Kalau kamu mati, aku mau ngapain lagi coba?. Udah tua juga kan?"


"Emang kamu nggak mau lama sama anak-anak?" tanya Arka lagi.


"Ka, anak-anak itu nantinya bakal punya kehidupan mereka sendiri. Pada akhirnya yang tersisa ya, cuma kita berdua. Kalau kamu mati, aku sendiri. Sedih dong aku?"


Kali ini Arka tersenyum. Namun kemudian tiba-tiba semua lampu mati.


"Ka, koq mati lampunya?" tanya Amanda.


Ia dan Arka pun kini beranjak lalu berjalan ke arah pintu. Arka coba membuka pintu tersebut, namun...


"Man, kita dikunciin loh." ujarnya kemudian.


"Hah, serius?. Gimana dong, Ka?" tanya Amanda panik.


"Halo, paaak."


"Dor, dor, dor."


Arka menggedor-gedor pintu tersebut.


"Pak, kami masih disini." teriak Amanda.


Namun tak ada jawaban.


"Duh gimana ini, Ka?" tanya Amanda kian panik.


"Ntar dulu." ujar Arka seraya menghela nafas dan coba menenangkan diri. Ia lalu mengambil handphone.


"Anjrit, sisa dikit lagi baterainya." ujar Arka pelan.


"Yah, Ka. Baterai aku habis, nggak bawa power bank." ujar Amanda memperlihatkan handphonenya pada Arka.


"Aku juga sama nggak bawa." ujar Arka kemudian.


"Tapi ini aku masih ada 5%, lanjutnya lagi.


Arka pun hendak menelpon.


"Ka, jangan nelpon!. Kirim pesan broadcast aja, ke beberapa kontak yang kira-kira bisa nolong kita. Takut baterainya abis."


"Ok."


Arka pun menulis sebuah pesan singkat yang isinya meminta tolong. Lalu ia pun mengirim pesan itu ke beberapa nomor, yang dinilai bisa memberikan bantuan. Pesan terkirim, lalu handphone tersebut pun mati.


"Duh, untung aja." ujar Arka.


"Terkirim, Ka?" tanya Amanda.


"Terkirim, tapi baterai aku abis." ujar Arka kemudian.


Mereka kini duduk didekat pintu, Amanda duduk disisi suaminya. Kemudian Arka menarik wanita itu ke dalam pelukan, hingga tubuh mereka terasa hangat. Sementara angin yang berhembus mulai kencang.


"Udah nggak ada orang lagi di atas sini." ujar Arka sambil sesekali menoleh ke kaca dan melihat ke arah dalam, keadaan di dalam pun sangat gelap. Mereka yang diluar terbantu oleh cahaya gedung sekitar dan juga bulan sabit yang tumben-tumbenan bersinar.


Satu, dua, tiga.


Tiga jam berlalu, namun belum juga ada pertolongan. Padahal mobil mereka ada dibawah, mungkin sekuriti mengira itu adalah mobil orang kantor yang masih lembur. Karena restoran pasti sudah tutup di jam segini. Amanda dan Arka pun mulai diserang kantuk berat, tak lama kemudian mereka terlelap.


"Hallo, Bambang datang."


Arka dan Amanda kaget setengah mati. Ketika mereka akhirnya terbangun dan mendapati wajah Rio serta Nino, yang hanya berjarak beberapa jengkal saja dari wajah mereka.


"Kaget, bangsat." ujar Arka mengeplak kepala Rio secara refleks, Rio pun jadi terkekeh dibuatnya.


"Ngapain sih lo berdua, bisa ke kunci disini?" tanya Rio.


Amanda dan Arka mulai berdiri.


"Untung Nino baca pesan yang lo kirim." lanjut Rio lagi.


"Gue nggak tau jam tutupnya jam berapa, mereka juga nggak meriksa lagi ke atas. Main tutup-tutup aja." Arka menjelaskan.


Nino dan Rio tertawa.


"Kalau tadi gue nggak baca WA, frozen lo berdua besok." ujar Nino.


Mereka pun kini masuk ke dalam gedung lalu menuju ke arah tangga darurat, karena lift sudah dimatikan. Setibanya di mobil Nino dan Rio duduk didepan, sedang Amanda dan Arka ditengah.


"Tadi minta bukain sama siapa?" tanya Arka."


"Ada sekuriti dibawah, dia yang pegang kunci rooftop. Kalau gedungnya mah belum tutup, orang masih ada kantor yang lampunya nyala. Masih ada yang lembur." ujar Rio.


Mobil pun berjalan, Arka memeluk istrinya yang tampak masih kedinginan.


"Ka, kita kan bawa mobil." ujar Amanda mengagetkan semuanya. Ia berkata setelah perjalanan cukup jauh.


"Oh iya, ya." ujar Arka kemudian.


"Hmmm, adeknya Ansel." ujar Nino seraya tertawa, diikuti tawa Rio.


"Lagian lu bisa lupa sama mobil sendiri, gimana coba?" ujar Rio.


"Lo pada juga kagak ngingetin, kan kalian tau kalau kemana-mana gue bawa mobil."


"Iya juga ya." ujar Rio lagi.


"Saudara Ansel lo semua." tukas Arka kemudian. Nino dan Rio kembali tertawa-tawa.


"Ya udah kita puter balik." ujar Nino kemudian.


"Nggak usahlah, Nin. Besok aja, lagian aman koq disitu." ucap Arka.


"Iya, udah jauh juga." Amanda menimpali.


"Ya nggak apa-apa kalau emang mau balik belakang." ujar Nino lagi.


"Nggak usahlah, udah males juga gue nyetirnya."


"Kan ada gue." Rio menawarkan diri.


"Udalah, bro. Besok aja, mager gue." Arka kembali berujar.


"Ya udah, pada laper nggak sih?" tanya Nino kemudian.


"Iya."


Seseorang nyeletuk dibelakang, seketika suasana mobil pun berubah horor.


"Ka, bukan lo kan tadi yang ngomong?" tanya Rio tanpa menoleh, sementara Nino masih berusaha fokus menyetir.


"Bukan, di belakang gue." ujar Arka seraya menelan ludah.


"Ayo kalau mau makan!"


"Huaaaa."


Mereka semua berteriak dan menoleh.


"Ansel?" ujar mereka semua dengan mimik yang penuh keterkejutan.


"Kalian kenapa?" tanya Ansel heran.


"Kalian kenapa, kalian kenapa. Lo ngapain disitu?" ujar mereka semua dengan nada gemas bercampur kesal.


"Bukannya tadi lo dikamar ya?" tanya Nino.


"Gue ikut koq, lo sama Rio aja yang nggak liat gue masuk mobil."


"Ya, mana keliatan orang lo dibelakang."


"Gue pikir, Arka dan Amanda bakalan duduk ditengah, ya udah gue pindah dibelakang. habis itu ketiduran deh, hehe."


"Bikin kaget aja." ujar mereka semua.


"Penakut lo pada." seloroh Ansel.


Nino dan yang lainnya pun menahan dongkol. Karena tidak ada gas tiga kilo untuk menimpuk kepala bule itu.


"Kita jadi makan kan?" tanya Ansel lagi.


"Iyaaaa." jawab mereka semua dengan wajah yang masih kesal.


"Gitu dong." ujar Ansel lalu nyengir tanpa dosa.