
Doni pamit pulang setelah beberapa saat berlalu. Karena ia ada janji bertemu dengan sutradara dari sebuah production house.
Kini hanya tinggal Arka dan Rio, yang baru saja selesai menyantap makan siang. Arka tengah mengerjakan tugas di laptopnya, sementara Rio duduk dihadapan pemuda itu.
"Sorry, Ka. Tadi gue nggak ngomong apa-apa, waktu lo di ocehin sama Doni."
Rio berkata pada Arka, sementara Arka diam lalu mereguk air putih yang ada disisinya.
"Gue cuma nggak mau debat sama Doni." lanjut Rio lagi.
Arka mengangguk, lalu menghisap sebatang rokok yang terselip diantara kedua jari tangannya.
"Menurut gue, nggak ada yang salah diantara lo berdua."
Rio menarik nafas dan menatap Arka.
"Doni bener ngomong kayak gitu, karena nggak ada satupun yang bisa menjamin nasib seseorang. Bisa aja lo dibuang sama Amanda abis ini."
Arka masih menghisap rokok dan menghembuskan asapnya hingga memenuhi ruangan.
"Tapi lo juga nggak salah, karena lo berhak punya perasaan terhadap seseorang." ujar Rio lagi.
"Gue nggak berhak menghakimi soal perasaan lo terhadap Amanda, Ka. Mungkin sekarang secara tanpa sadar, lo mulai merasa nyaman sama dia. Gue tau Amanda orang baik, mungkin karena itulah lo jadi sayang sama dia. Tapi istilahnya, mending lo mikir jahatnya dulu aja. Amanda itu perempuan sukses. Saking dia nggak mau ada urusan sama laki-laki, dia sampe rela buat membayar orang cuma untuk ngasih dia anak. Itu artinya kalaupun dia mau sama seorang laki-laki, udah pasti dia bakal cari yang lebih dari dia. Nggak mungkin dia milih lo, bro."
Arka menghela nafas, ia menghisap kembali rokoknya dan menjatuhkan pandangan kebawah. Tak sepatah katapun yang keluar dari bibir pemuda itu.
"Gue bukan mendiskreditkan elo, gue juga sama koq kayak lo. Sama-sama masih berjuang buat hidup. Kita lumayan terkenal, uang kita ada. Tapi itu nggak sebanding dengan apa yang udah Amanda hasilkan di hidupnya. Perempuan yang biasa-biasa aja bisa pindah kalau kita miskin. Lo liat Maureen, berapa kali dia selingkuh cuma karena selingkuhannya lebih tajir dari lo. Apalagi sekelas Amanda, honor kita nggak ada apa-apanya sama penghasilan dia. Gue nggak berhak ngatur perasaan lo ke dia, Ka. Gue cuma nggak mau lo kecewa dan sedih. Lo temen gue, dan lo orang baik. Tapi ya, kalau lo emang pengen memperjuangkan dia. Gue bakal dukung lo seratus persen. Yang pasti lo harus siap, kalau Amanda nolak lo dan bikin lo kecewa. Paham kan maksud gue?"
Arka mengangguk, setidaknya ia punya pandangan dua arah. Dan ia bisa menentukan, kemana dirinya harus melangkah.
***
"Amanda."
Kepala divisi penyediaan barang masuk ke ruangan Amanda dengan wajah yang begitu ruwet.
"Iya pak Robby, ada apa?" tanya Amanda kemudian.
"Coba liat ini!"
Pak Robby memberitahu sebuah masalah pada Amanda. Dan bagian itu adalah pekerjaan yang ia serahkan pada Rani. Amanda lalu memanggil Rani. Pak Robby meminta pertanggungjawaban atas kesalahan itu, dan Amanda terpaksa memberi teguran keras pada Rani. Karena perbuatannya membuat perusahaan mengalami kerugian di beberapa sektor.
Suasana siang itu sangat tegang. Karena terlalu emosi, Amanda sampai merasakan sakit di bagian perutnya. Hingga memaksa ia harus merebahkan diri di sofa untuk beberapa saat.
Beruntung masalah hari itu dapat terselesaikan dengan baik, sehingga Amanda bisa bernafas lega. Amanda lalu keluar dari kantor karena ada jadwal mengajar mahasiswa hari itu.
Berhubung lobi depan kantor sangat padat hari itu, Amanda agak berjalan sedikit ke depan untuk menuju mobilnya yang tengah terparkir. Tanpa Amanda sadari jika ia tengah di perhatikan oleh sepasang mata.
"Mbak, mbak."
Intan menegur pemilik sepasang mata yang tengah memperhatikan Amanda. Si pemilik mata itu pun terkejut. Ia tak menyangka pengintaiannya ketahuan.
"Mantan pacarnya mas Arka, toh?" tanya Intan lagi.
"Ngapain lo disini?" tanya Maureen ketus.
"Dih kebalik, mbaknya yang ngapain disini?"
Intan memperhatikan Maureen dari atas ke bawah.
"Mau niat jahat ya, sama bu Amanda?"
Intan seperti tau isi kepala Maureen. Maureen pun menjadi salah tingkah dan tidak nyaman.
"Saya laporin polisi, mau mbak?" ancam Intan.
"Apaan sih?"
Maureen lalu berlalu meninggalkan tempat itu. Tak lama kemudian, beberapa orang karyawan menghampiri Intan.
"Kenapa, Tan." tanya salah satu dari mereka.
Karena bermulut ember, Intan pun tak kuasa untuk tidak menceritakannya. Ia mulai menceritakan dari awal tentang siapa Maureen, hingga kecurigaannya jika Maureen ingin mencelakai Amanda.
***
Para mahasiswa dan mahasiswi Amanda melongo, saat melihat betapa banyaknya wanita itu makan. Mereka kini tengah berada di kantin kampus, karena kelas telah selesai.
"Serius mbak Amanda, makan sebanyak ini?" tanya Nadine sambil menelan ludah beberapa kali. Ia tak menyangka Amanda yang dulunya sangat menjaga makan, kini seperti orang kesetanan.
"Nggak tau, Nad. Laper." jawab Amanda santai.
Fahri, Dito, Viona dan dua lainnya masih menganga memperhatikan Amanda, yang sudah habis dua piring nasi dan semangkuk soto ayam campur. Ia kini makan gorengan lagi serta minum jus buah.
"Dit, lo jangan buntingin cewek dulu. Kalau ekonomi lo masih pas-pas an." ujar Fahri pada Dito.
"Iye, Ri. Takut nggak bisa kasih makan, gue." timpal Dito sambil tertawa.
"Eh, emak lo pada juga waktu hamil lo pada nih, pasti begini." ujar Amanda masih mengunyah gorengan. Ini adalah gorengan yang ke enam.
"Emang laper banget ya, mbak?" tanya viona masih memperhatikan.
"Banget, Vi. Lo kan tau waktu belum hamil gue susahnya kayak apa kalau makan. Sampe lo pada sering marahin gue."
"Iya sih, tapi sumpah mbak. Mbak amanda lucu semenjak hamil." ujar Fahri.
"lucu kenapa?" tanya Amanda kemudian.
"Lucu aja, makannya jadi banyak gitu." ujar Fahri lagi.
"Sehari bisa makan berapa kali mbak?" tanya Dito.
"Nggak kehitung, Dito. Kalau terasa laper, ya makan. lo liat nggak berat badan gue naik begini "'
"Iya sih, lebih berisi sekarang. " ujar Dito.
Mereka pun lanjut berbincang seputar kehamilan Amanda dan juga mengenai pelajaran.
Sore itu Arka menyelesaikan kuliahnya dengan tidak begitu baik. Pasalnya bayangan tentang Nino, maupun soal ucapan Doni dan Rio tadi seakan terus terlintas di benak pemuda itu.
Arka jadi tak bisa berkonsentrasi. Saat ini saja ketika ia sudah berada didalam mobil, pikirannya masih tertuju pada masalah yang sama. Hingga ia terpaksa menghentikan mobilnya disebuah jalan. Arka diam, mencoba mengatur nafas dan menetralisir rasa gundah yang melandanya.
"Sayaaang."
Seorang wanita berlarian, lalu memeluk sesosok laki-laki yang berada di hadapannya. Laki-laki itu memberinya bunga dan si wanita tampak begitu bahagia.
Sejenak Arka pun tersenyum, teringat saat ia pernah membelikan Amanda bunga. Entah mengapa ia ingin melakukannya lagi, ia rindu ekspresi terkejut dan senang dari wajah istrinya itu. Arka pun menoleh, ada sederet penjual bunga disekitar tempat itu. Ia lalu turun dan membeli satu buket mawar merah.
Arka menelpon supir dan menanyakan perihal dimana Amanda. Sang supir menjawab dan mengatakan jika saat ini Amanda ada di kampus, tempat dimana ia mengajar.
Arka sengaja tak memberitahu Amanda, karena ia ingin memberikan surprise pada wanita itu. Ia langsung saja menuju ke kampus, tempat dimana kini Amanda sedang berada. Beberapa saat berselang, Amanda bersiap untuk pulang.
"Mbak dijemput kan?" tanya Dito pada Amanda.
"Iya, ada supir koq didepan."
"Hati-hati ya mbak." ujar Fahri menimpali.
Sementara Nadine dan Viona sudah masuk ke kelas beberapa menit yang lalu, karena mereka masih ada mata kuliah lain.
"Iya, makasih ya." ujar Amanda kemudian.
Tak lama setelah berpamitan, Amanda pun mulai melangkah. Ia berjalan ke arah depan. Tanpa disadarinya jika Arka sudah datang dan siap memberinya kejutan.
Amanda melangkah dengan tenang, Arka tersenyum dari kejauhan. Ia memperhatikan Amanda meskipun Amanda belum melihatnya.
"Braaak."
Seorang laki-laki tanpa sengaja menabrak bahu Arka. Laki-laki itu menoleh dan memberi gerakan seperti meminta maaf. Arka teringat jika ia pernah bertabrakan dengan laki-laki itu di kota tua.
Arka mengangguk tanda memberikan maaf. Namun kemudian, ia melihat sebuah foto yang berada tepat disisi kakinya. Agaknya laki-laki itu tadi telah menjatuhkan foto itu tanpa sengaja.
Perlahan Arka pun menunduk lalu mengambil foto tersebut. Dan betapa terkejutnya ia, ketika menyadari jika foto tersebut sama dengan foto yang ia temukan di laci kamar Amanda.
Arka mengangkat tubuhnya dan melihat ke arah si laki-laki yang kini sudah berada tepat di depan Amanda. Dengan mata mereka yang saling bertemu satu sama lain.