Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Fitting


Kembali ke saat dimana Afka baru saja selesai mencolok mata kembarannya.


"Sini, biar aku." ujar Arka seraya membereskan piring bekas makan. Ia dan Amanda telah selesai sarapan.


"Kamu bersihin aja ruangan, yang tadi kata kamu mau dibersihin."


Amanda mengangguk.


"Makasih ya, Ka. Udah dibantuin."


"Iya sayang, sama-sama."


Arka meletakkan segala piring kotor ke wastafel kitchen set dan mencucinya. Sementara Amanda kini menghidupkan robot penghisap debu, lalu menjalankannya di sebuah ruangan yang ia ingin bersihkan sejak tadi.


Wanita itu kemudian mengambil lap dan membersihkan debu-debu yang menempel pada perabotan.


Setelah semuanya beres, mereka kembali bertemu di dekat meja makan. Keduanya sama-sama melihat ke arah Azka dan juga Afka, yang ternyata sudah tertidur sambil berpelukan.


Bantal guling yang menjadi penghalang diantara keduanya telah tergeser. Kini Arka dan Amanda tersenyum dan saling merangkul satu sama lain.


"Gimana ya Man, rasanya jadi mereka. Lahir langsung ada temen main." tanya Arka.


Amanda masih tersenyum. Ia menatap suaminya itu sejenak, lalu kembali menatap anak mereka.


"Ya aku berharap mereka senang, walaupun muka mereka, diri mereka, ada yang nyamain." ujar Amanda kemudian, Arka tertawa.


Tak lama handphone Amanda pun berbunyi, ternyata pesan dari Nindya.


"Man, kapan mau fitting baju?. Desainernya udah nggak sibuk tuh."


Begitulah bunyi pesan dari Nindya.


"Ka, kata Nindya desainer baju pengantinnya lagi nggak sibuk tuh. Kapan mau kesana?"


"Oh ya udah, buat janji aja. Ketemu hari ini atau besok kek." ujar Arka.


"Ya udah, aku telpon Nindya dulu ya." ujar Amanda.


"Ok."


Amanda menelpon Nindya, sedang Arka kini mendekat ke arah kedua puteranya lalu mematikan televisi yang masih menyala.


Amanda berbicara pada Nindya tentang banyak hal. Karena ia dan Arka memang tengah merencanakan pesta resepsi pernikahan mereka. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengumpulkan seluruh keluarga dan juga teman-teman, yang sebelumnya tak sempat hadir di acara akad.


Karena hampir dua tahun yang lalu, Arka dan Amanda melakukan pernikahan secara diam-diam. Kedua orang tua mereka bahkan tak menyaksikan hal tersebut. Maka dari itu, pesta kecil ini diharapkan bisa menjadi sebuah hadiah. Sekaligus permintaan maaf kepada keluarga dari kedua belah pihak.


"Ka, katanya besok." tukas Amanda pada Arka.


"Ya udah, berarti hari ini kita rebahan dulu." Arka langsung rebahan disisi anaknya.


"Abis makan, Ka. Ntar jadi uler loh." ujar Amanda.


"Hahaha." Arka terbahak.


"Masih inget aja dongeng lampau." ujarnya kemudian.


Amanda ikut tertawa.


"Padahal bener sih, abis makan nggak boleh langsung tiduran. Karena bisa meningkatkan resiko asam lambung dan lain-lain. Cuma karena orang jaman dulu nggak tau, akhirnya dibuatlah alasan. Bahwasannya akan menjadi seekor ular, apabila rebahan setelah makan."


Amanda berujar seraya masih tertawa, Arka pun demikian.


"Sini, jangan rebahan." Amanda mendekat, lalu membangunkan suaminya itu.


"Pengen rebahan, Man." rengek Arka pada istrinya.


"Sini senderan aja di sofa, sambil aku peluk." ujar Amanda. Ia pun memeluk suaminya itu dengan penuh kasih.


Arka mencium bibir Amanda.


"Udah gosok gigi belum kamu?" tanya Amanda.


"Udah dong." ujar Arka lalu kembali mencium bibir istrinya.


"Bentar lagi, kita resepsi." ujar Arka lalu tersenyum. Amanda menatap Arka, seraya membelai lembut kepala suaminya itu.


"Makasih ya, Ka. Udah ada sama aku sejauh ini." ujar Amanda kemudian.


"Sama-sama, aku juga terima kasih atas semua yang udah kamu lakukan di hidup aku. Udah bantu aku ngobatin papa, bayarin hutang, bantu kuliah aku, jadiin aku berondong bayaran, paksa aku hamilin kamu."


Amanda tertawa, begitupula dengan Arka.


"Oh, jadi menghamili aku itu terpaksa?" goda Amanda pada suaminya.


"Awalnya iya, dikit." ujar Arka.


"Terus?"


"Pas dicoba, enak. Eh keterusan."


"Hahaha."


Waktu terus berlalu, hingga mereka pun sama-sama tertidur didepan televisi. Tepatnya disisi Azka dan juga Afka.


***


Esok harinya sesuai janji, Arka dan Amanda pergi ke rumah mode desainer yang akan mereka pakai jasanya. Untuk pembuatan baju pengantin mereka nanti.


Mereka juga mengajak si kecil Azka dan Afka, karena kedua bayi itu pun akan dibuatkan baju. Guna melengkapi tampilan ibu dan ayah mereka di acara resepsi nanti.


Kali ini Arka dan Amanda menggunakan jasa pak Darwis sebagai supir. Mereka berdua duduk di belakang, sambil memangku para bayi.


"Hoayaaa."


Azka tiba-tiba menarik salah satu gaun pengantin yang berderet disisi kanan sang ibu. Ketika akhirnya mereka sampai dan masuk ke dalam butik.


"Heh, nggak boleh." ujar Amanda refleks menepis tangan Azka. Ia bergerak agak menjauh dari deretan gaun-gaun tersebut.


"Hoayaaa."


Azka melihat ke mata ibunya seraya mengerutkan kening. Seperti marah dan tidak terima jika perbuatannya dihalangi.


"Nggak boleh ya, itu mahal. Nanti kalau rusak, mama harus ganti. Daripada mama ganti itu, mending uangnya buat beli popok dan keperluan kamu."


"Hoayaaa."


Azka kembali bereaksi. Menarik badannya yang masih dalam gendongan Amanda, menuju ke arah deretan gaun.


"Nggak boleh." ujar Amanda. Ia bertahan meski anaknya memberontak.


"Hoayaaa." Azka bersuara dengan nada berteriak.


"Kenapa, Man?" tanya Arka kemudian. Ia baru saja tiba dari ruangan lain, di butik tersebut.


"Nih ngegas, mau mainin baju yang ada disitu. Nggak aku suruh."


"Ini juga tadi didepan hampir jatuhin pajangan." ujar Arka menunjukkan Afka yang ada dalam gendongannya.


"Semua ditarik-tarik." lanjutnya kemudian.


"Itu kenapa tangan kamu basah semua?" tanya Amanda seraya menyerahkan tissue pada Arka.


"Apalagi kalau bukan di gigit, di ludahin. Karena keinginannya nggak dipenuhi." ujar Arka lalu mengelap sisa-sisa gigitan Afka.


Amanda tertawa.


"Sabar ya pak Arka, jadi orang tua itu emang penuh hoayaaa." ujar nya kemudian.


"Hoayaaa." ujar Arka sewot sambil tertawa.


Tak lama kemudian si empunya butik yang cucok melambai muncul, lalu mendekati Arka dan juga Amanda.


"Amanda, hallo sayang." Si empunya butik cipika-cipiki dengan Amanda.


"Mak, ini laki eke." ujar Amanda.


"Oalah, nyesel ya nek waktu bikin baju yei pertama kali. Eke nggak bisa datang ke acara yei. Tau gitu eke datang, biar bisa jadi pelakor. Hmm."


Pemilik butik itu lalu cipika-cipiki dengan Arka.


"Cucok deh laki yei, eke sering liat di TV doang. Aslinya bikin hareudang ya nek."


Amanda dan si pemilik butik tertawa, begitupula dengan Arka. Arka sendiri tak begitu phobia pada makhluk seperti itu. Karena di lokasi syuting sendiri, para makeup artisnya pun sama amfibi dengan si pemilik butik tersebut.


"Hallo kamu." Si pemilik butik menyapa Azka dan juga Afka.


"Hoayaaa." ujar kedua bayi padanya.


"Produk yang dihasilkan cakep-cakep ya nek, duh lucu deh kalian."


"Hoayaaa."


Arka dan Amanda tersenyum.


"Ya udah, siapa nih yang duluan mau di ukur."


"Anak-anak dulu aja, Mak." ujar Amanda.


"Ya Udin, Yanti, Yanti."


Si pemilik butik memanggil karyawannya.


"Iya Mak Inces." ujar Yanti kemudian.


"Ini kamu ukur anak-anak ya." ujar mak Inces.


Tak lama Azka dan Afka pun di ukur badannya, lalu setelah itu gantian Arka dan juga Amanda. Cukup lama mereka berada disana, membicarakan seputar bahan, model dan juga harga. Ada beberapa contoh jadi yang langsung di coba oleh Arka dan juga Amanda.


Beruntung hari itu, para bayi tak begitu rewel. Sehingga ayah dan ibu mereka, tak begitu repot untuk mendiamkan.