Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Arka VS Doni


"Gue yakin lo bisa lebih baik dari Arka, dalam mengeruk harta Amanda."


Kata-kata yang keluar dari bibir Maureen itu, kini selalu terngiang-ngiang ditelinga Doni. Dari sudut set sebuah lokasi syuting, ia memperhatikan Arka yang baru saja datang. Hari ini mereka menjalani syuting sebuah produk minuman ringan.


Doni memperhatikan mobil dan juga sneakers yang dipakai oleh Arka. Yang tampak tak begitu mahal dan biasa saja bagi Doni. Benar kata Maureen, ia bisa melakukan hal yang lebih baik dari Arka. Jika ia berada di posisi Arka, ia akan berusaha sebaik mungkin dalam mengeruk pundi-pundi yang dimiliki Amanda.


"Arka semenjak jadi piaraan tante-tante. Jadi makin keren, ya." ujar salah satu kru yang di lokasi.


Sudah barang tentu, Doni lah yang membocorkan rahasia tersebut bahkan sejak pertama Arka menikah dengan Amanda.


"Heh, keren apanya?. Arka mah bego. Jadi simpanan beberapa bulan, cuma dapet segitu doang. Mobilnya juga masih mobil tuh cewek, bukan atas nama dia. Gue nih kalau jadi dia, gimana caranya mobil-mobilnya tuh cewek bisa pindah atas nama gue. Nggak bakal gue berlama-lama menyia-nyiakan kesempatan." Doni berujar panjang lebar.


"Jadi, itu mobil bukan atas nama Arka?" tanya kru yang lainnya.


"Mana ada, dia mah masih pake perasaan. Antara lugu sama bego beda tipis."jawab Doni.


"Tantenya enak kali, makanya si Arka rela. Nggak dibayar pun mau." celetuk salah satu kru yang lainnya.


Orang yang kini tau jika Arka bersama Amanda berjumlah lebih dari satu. Di dunia entertaintment, gosip memang sulit dielakkan. Segala tindak-tanduk talent akan menjadi sorotan dan dibahas dibelakang set lokasi.


"Enak sih enak, logika pake lah. Itung-itungan tetep jalan, kalau gue mah." ujar Doni seraya menghisap rokoknya.


Mereka kemudian lanjut bergunjing layaknya lambe turah.


***


"Amanda."


Nino menelpon Amanda saat jam makan siang.


"Hai, Nin." ujar Amanda dengan suara renyah. Ia selalu bersemangat jika mendengar suara cinta pertamanya itu.


"Maaf ya, aku belum bisa kesana." ujar Nino.


"Lagi ngurus kerjaan." lanjutnya kemudian.


"Kamu kerja disini?" tanya Amanda.


"Nggak, Man. Kan aku punya startup yang udah jalan selama enam tahun belakangan ini. Aku ngurusnya dari mana aja juga bisa. Karyawan aku juga banyak, tapi hari ini aku harus mengurus beberapa part sendiri. Karena ini memang bagian aku."


"Oh, gitu."


Mereka lalu bercerita panjang lebar mengenai bisnis yang dikelola oleh Nino. Mereka juga banyak bertukar pendapat dan pikiran. Sementara di set lokasi, Arka tengah berusaha menghubungi Amanda. Namun tak berhasil karena Amanda tengah berada di panggilan yang lain.


"Positif thinking, bro. Mungkin bini lo lagi sibuk ngurus kerjaan. Nggak melulu telpon yang masuk ke hp bini lo itu dari Nino kan." Rio berusaha menenangkan hati Arka.


"Iya sih." ujar Arka kemudian.


"Eh, Arka, Rio, bikin insta story yuk." Ajak salah seorang talent yang cukup terkenal bernama Bianca.


Arka dan Rio pun mengiyakan. Gadis itu lalu membuka menu insta story di laman sosial media miliknya dan mulai merekam. Ia tampak mendekatkan wajahnya ke wajah Arka. Sementara Rio ada di belakang Arka.


"Ka, nanti repost ya." ujar Bianca.


"Oke."


"Talent, back to set." teriak asisten sutradara.


Maka mereka semua pun bersiap dan mengikuti instruksi tersebut.


***


"Eh, bu. Si Arka, anaknya bu Ningsih yang artis itu. Tadi saya ketemu, keluar dari mobil mewah."


Seseorang berujar disebuah warung asinan, ketika ibu Arka tengah berjalan melintasi kawasan tersebut. Ia baru saja hendak kembali lagi ke pasar, usai istirahat makan siang dan memastikan suaminya minum obat.


Para tetangga yang tengah membicarakan Arka, tak menyadari jika ibu Arka ada didekat mereka.


"Emang kenapa atuh, kalau keluar dari mobil mewah?" ujar tetangga yang lainnya lagi.


"Heran aja gitu, rumah orang tuanya aja biasa. Tapi punya mobil mewah harga milyaran. Orang kek benerin dulu rumah orang tuanya. Jadi artis koq malah mikirin kesenangan pribadi."


"Mobil properti dari syuting kali, bu. Bukan mobil dia beneran. Bisa aja kan orang di lokasi syuting minjemin mobil ke artisnya, kalau artisnya emang lagi butuh." ujar yang lainnya lagi.


"Masa iya lokasi syuting minjemin mobil yang mewah begitu, dia jadi gigolo kali."


"Astaga bu Mawar." ujar beberapa diantaranya.


"Jangan su'udzon sama orang. Nggak baik."


Salah satu dari mereka mengingatkan. Ibu Arka yang panas mendengar hal tersebut hanya menghela nafas dan melanjutkan perjalanan.


Sesampainya di pasar, ia masih kepikiran dengan omongan ibu-ibu tadi. Hingga membuatnya lebih banyak diam dan mengundang kecurigaan Rianti.


"Ibu kenapa bu?" tanya Rianti heran.


"Ibu tadi lewat depan warung mang Asmin, Ti."


"Terus?" tanya Rianti lagi.


"Gosipin apa emangnya, bu?" tanya Rianti sambil mengatur tata letak makanan ringan yang berjejer di sebuah rak.


"Bu Mawar bilang, dia melihat mas mu turun dari mobil mewah."


"Lah terus masalahnya apa?" Lagi-lagi Rianti bertanya.


"Dia bilang mas mu mampu beli mobil, tapi nggak mampu benerin rumah kita. Terus dia bilang juga jangan-jangan mas mu itu gigolo."


Rianti tertawa kali ini, membuat ibu Arka menjadi heran.


"Koq kamu ketawa, Ti." tanya ibu Arka kemudian.


"Bu, bu. Kayak nggak tau bu Mawar aja. Otak dan lidahnya bu Mawar itu kan emang kotor. Buka cuma mas Arka yang suka dia gosipin. Mirna anaknya bu Sulis, beli mobil dibilang jadi perempuan nggak bener. Padahal ya, Rianti juga tau kalau Mirna itu YouTuber. Dia dapat gaji dari YouTube. Yudha, anaknya pak RT, digosipin sama bu Mawar nuyul. Padahal Yudha itu gamer, orang yang main game dan dapat duit."


"Iya sih, tapi mas mu dapat mobil dari mana coba?"


"Ya, bisa aja itu properti syuting bu. Ibu tuh terlalu gampang terpengaruh sama omongan orang, terus ibu nggak enak hati sendiri. Ngapain sih repot-repot mikirin omongan orang yang modelnya kayak bu Mawar."


"Ibu cuma kepikiran mas mu, Ti."


"Lebih baik ibu berfikir positif terhadap mas Arka. Inget bu, perasaan, pikiran baik dan buruk itu adalah doa. Ini bukan Rianti sok tua dan bermaksud menggurui ibu, ya. Tapi pikiran dan perasaan kita itu adalah doa, yang bisa aja terwujud. Makanya jagalah perasaan dan pikiran kita terhadap hal apapun. Kalau muncul pikiran dan prasangka buruk atau perasaan buruk, berusahalah untuk mengganti pikiran buruk itu dengan yang baik. Biar hasilnya juga baik."


Ibu Arka pun terdiam, ucapan Rianti kali ini mungkin ada benarnya. Ia harusnya tak begitu peduli dengan gunjingan orang.


***


"Ka, lo nggak mau ikut?" tanya Doni di sore hari, ketika proses syuting telah berakhir.


"Nggak deh, Don." jawab Arka kemudian.


"Yah, kan gue butuh elo buat bayar." tukas Doni lagi membuat Arka sedikit kaget.


"Sorry banget, Don. Gue mulai hari ini.udah nggak mau lagi nerima duitnya Amanda."


"Kenapa emangnya?" tanya Doni heran.


"Ya, gue nggak mau aja. Gue masih bisa cari duit sendiri."


"Lah kan perjanjiannya lo dibayar, selain dari utang nyokap lo dan biaya berobat bokap lo."


"Ya biarin aja sih kalo arka-nya nggak mau. Lagian juga lo kalau mau mabok, ya bayar aja sediri. Kenapa harus Arka mulu yang bayar." Rio sewot pada Doni.


"Mana temen-temen baru lo itu pada ga tau diri lagi, semua apa-apa Arka yang bayar. Lo kira Arka ATM buat lo dan temen-temen lo itu." ujarnya lagi.


"Santai dong Ri, namanya juga temen. Si Arka lagi banyak duit, ya bayarin lah."


"Sejak kapan lo jadi kang ngatur duit orang." Rio menjadi emosi.


"Santai aja kali." Doni lalu meninggalkan tempat itu.


"Kenapa sih si Doni, sebel gue lama-lama. Ngapain juga dia ngatur keuangan lo segala." ujar Rio ketika ia dan Arka sudah berada didalam mobil, dan bersiap untuk pulang.


"Udalah, Ri. Gitu-gitu juga temen kita."


"Ya, tapi nggak gitu juga Ka. Doni tuh berubah sekarang, semenjak gaul sama temen-temen barunya itu. Dulu dia nggak kayak gitu."


"Iya, udah."


"Tapi by the way, lo emang bener nggak nerima duit dari Amanda lagi?" tanya Rio.


Arka menghela nafas.


"Dia sih masih maksa mau ngasih. Tapi gue emang beneran udah nggak mau lagi."


"Kenapa emangnya?" Lagi-lagi Rio bertanya.


"Gue berasa kayak ngejual anak, tau nggak."


Rio menatap Arka.


"Sekalian aja gue buka bank sp*rma kalau mau mengeruk keuntungan dari sana."


Rio kini tersenyum.


"Udah beneran kena cinta lo, Ka. Fix ini mah."


Arka tertawa kecil lalu menghidupkan mesin mobil.


"Tapi nggak apa-apa sih, gue suka lo berfikiran gini. Lo masih mikir dan punya harga diri. Lo sadar kalau cowok itu ya harus nyari duit dari kerja keras, bukan karena nganu yang keras." lanjutnya lagi.


"Anjir." ujar Arka kemudian menginjak pedal gas.


"Hahahaha."


Keduanya lalu sama-sama tertawa.