Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Surprise


Arka benar-benar tak menghubungi Amanda dihari ke empat ini. Chat yang dikirim oleh Amanda semalam pun, tak dibaca maupun di balas oleh suaminya itu. Amanda kini mencoba menghubungi Rio, namun nomor Rio pun tidak aktif.


"Nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif atau berada di luar service area."


"Duh pada kemana sih?" Amanda mulai resah, ia kini tampak sedikit mondar-mandir di dapur.


"Nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif atau berada di luar service area."


Lagi-lagi terdengar suara yang sama di seberang sana.


"Kemana sih Arka sama Rio?" gerutunya lagi.


Amanda diam sejenak, namun ia tidak kehabisan akal. Wanita itu lalu menghubungi ayah Rio, kebetulan ia menyimpan nomor orang tua itu.


"Hallo, om Rico."


"Iya, kenapa Amanda?" tanya ayah Rio padanya.


"Rio ada ngabarin nggak, om. Koq nomornya sama nomor Arka sama-sama nggak aktif ya?" ujar Amanda dengan nada penuh keingintahuan.


"Rio, belum ada ngabarin tuh. Udah tiga hari dia nggak nelpon, nggak apa. Pas pertama pergi itu aja ngabarin. Kenapa emangnya, Amanda?"


"Mmm, nggak om. Cuma pengen tau aja kabar mereka, mau pulang jam berapa."


"Oh, ya sudah. Nanti kalau misalkan Rio ada menghubungi om, om kasih tau."


"Iya, om. Makasih banyak ya, om."


"Iya, sama-sama."


Amanda menyudahi telponnya. Ia kini bersandar pada kitchen set sambil terus memperhatikan handphone.


Sementara di kediaman orang tua Arka, entah mengapa hari ini Azka dan Afka begitu rewel. Keduanya menyemburkan ASI yang diberikan pada mereka.


"Apa ASI nya basi ya, bu?" tanya Rianti pada ibu Arka.


"Nggak, baru kemaren dikasih sama Amanda. Masa iya basi, ini kan disimpan didalam freezer bukan di barisan botol minum."


"Tapi koq mereka gini ya."


"Hoaaaa."


Azka ngegas sambil memperhatikan tantenya itu. Sementara Afka kini berceloteh, sambil terus menolak ASI yang coba diberikan sang nenek padanya.


"Brusrrrrrrrr." Azka dan Afka kembali menyemburkan ASI dari mulut.


"Ya udah, biarin aja pada laper ya." ujar sang nenek kemudian. Ibu Arka meletakkan ASI tersebut ke meja dan tak lagi memberi mereka. Azka dan Afka mulai resah, tak lama kemudian.


"Oeeeeeeek."


"Oeeeeeeek."


"Oeeeeeeek."


Mereka menangis dengan nada yang penuh teriakan, ibu Arka dan Rianti pun menggendong mereka berdua.


"Kangen kali bu, sama orang tuanya." ujar Rianti kemudian.


"Iya kan hari ini mereka mau diambil, nggak tau Amanda datangnya jam berapa."


"Oeeeeeeek."


"Oeeeeeeek."


Mereka terus menangis, ibu Arka dan Rianti akhirnya membawa mereka keluar rumah. Sesampainya diluar mereka masih juga mengamuk. Hingga akhirnya mereka diam karena melihat bu Mawar dan teman-temannya yang joget-joget seperti orang gila, karena ingin membuat mereka diam.


Hal tersebut tak terlihat oleh Rianti maupun ibu Arka yang berdiri menghadap rumah. Sedang Azka dan Afka berada dalam gendongan yang menghadap ke arah jalan.


Sore harinya, Amanda menjemput kedua anaknya itu untuk pulang. Ia berterima kasih dan meminta maaf pada mertua dan juga iparnya karena telah menyusahkan mereka.


"Maafin Amanda ya, bu, Ti."


"Nggak apa-apa, kan ibu sama papamu yang minta mereka supaya disini."


"Iya, tapi tetep aja Amanda nggak enak. Udah ngerepotin kalian." ujar Amanda lagi.


"Nggak apa-apa, pokoknya kami puas dan senang mereka ini disini." ujar Ibu Arka.


Amanda tersenyum, setelah berbincang cukup lama dan makan bersama. Amanda pamit pulang, si kembar pun akhirnya meninggalkan kediaman neneknya tersebut.


"Brusrrrrrrrr."


Azka dan Afka menyemburkan ASI yang diberikan Amanda, sesaat setelah mereka tiba di penthouse.


"Heh, bener ya kata nenek tadi. Kenapa dibuang ASI nya?" Amanda memarahi kedua anaknya. Bukannya menangis, kedua anak itu malah tertawa.


"Ahaaa."


"Heee, ehe."


"Aha, aha, ehe, ehe." ujar Amanda pada kedua anaknya dengan nada menggerutu.


"Awas ya, kalau di semburin lagi."


"Ehee." Keduanya kembali tertawa.


Mereka meminum ASI dan tak lagi menyemburkannya, namun tak lama kemudian mereka melihat ke arah pintu. Seakan menantikan seseorang lagi selain ibu mereka.


"Kangen papa, ya?" tanya Amanda seraya ikut menatap ke arah pintu. Seketika keresahan Amanda pun kembali muncul, ia belum menerima kabar dari Arka sampai detik ini.


Ia tidak takut ataupun curiga Arka selingkuh, yang ia takutkan adalah Arka dan Rio mengalami hal yang buruk di perjalanan. Apalagi mereka masih muda, masih suka memacu adrenalin dengan kecepatan tinggi apabila sedang mengemudi. Apalagi belum lama ini mereka mengalami kecelakaan, trauma itu belum lagi hilang dalam diri Amanda.


Berhubung makin resah, Amanda pun lalu meraih handphonenya dan kembali mencoba menghubungi suaminya itu.


"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar service area."


"Hoaaaa."


Azka bersuara, Amanda pun kembali fokus pada kedua anaknya itu. Ia kini mengambil buku lalu berdongeng untuk mereka.


Malam beranjak naik, Azka dan Afka telah tertidur. Amanda berfikir apakah ia minta tolong saja pada pak Darwis, untuk mencari Arka besok ke Bandung. Toh Amanda diberitahu Arka, dia menginap di hotel mana. Jika sampai besok Arka tak juga ada kabar, tak ada salahnya untuk mencari suaminya itu.


Bahkan sebenarnya malam ini juga bisa ia perintahkan pak Darwis untuk kesana, namun mungkin pak Darwis sendiri sudah tidur dirumahnya. Amanda tak enak jika harus merepotkan orang di bukan jam kerja.


"Kletek."


Terdengar seperi suara benda terjatuh diluar sana, Amanda yang baru saja hendak berbaring itu pun terkejut. Perasaan ia sudah mengunci pintu, namun karena penasaran ia akhirnya keluar perlahan.


Amanda menghidupkan lampu, tampak remote AC terjatuh dilantai. Amanda berfikir, mana mungkin ada tikus di kediamannya. Belum ada sejarahnya ia menemukan hewan itu disini. Lalu kenapa remote ini bisa terjatuh?.


"Apa mungkin?"


"Haaah."


Amanda tiba-tiba terpikir akan Amman. Ia pun melihat lampu kamar anaknya menyala, padahal tadi ia sudah mematikannya. Buru-buru Amanda berlari ke kamar anak-anaknya itu, dan betapa terkejutnya ia ketika mendapati Arka sudah ada disana.


"Arka?"


"Ssssst."


Arka menempelkan jari telunjuk di bibirnya sambil tersenyum, Amanda pun bernafas lega karena suaminya itu ternyata baik-baik saja.


Usai melihat si kembar, Arka segera mendekat ke arah istrinya. Mereka pun kini saling berpelukan.


"Kamu kemana aja sih?"


"Ssssst."


Arka mencium bibir Amanda, membuat wanita itu seketika terkejut lalu diam. Ia juga sangat merindukan suaminya itu.


"Sini."


Arka menarik istrinya ke luar dan menuju dapur yang gelap.


"Mau ngapain sih, Ka?"


"Sssst."


Lagi-lagi Arka menyuruh istrinya menurunkan volume suara, karena takut Azka dan Afka terbangun. Arka menyalakan korek dan mendekatkannya pada sebuah lilin yang tertancap di sebuah kue ulang tahun.


"Happy birthday, sayang." ujar Arka lalu tersenyum menatap istrinya.


"Arkaaaa." Amanda menangis haru, Arka pun memeluk istrinya itu.


"Aku sengaja nggak ngehubungin kamu, buat ini."


"Ah, kamu maaah. Aku tuh khawatir tau nggak."


Arka tersenyum, ia mengangkat kue tersebut dan membawanya ke hadapan Amanda. Amanda mengucapkan doa, lalu meniup lilin sampai padam. Arka dan Amanda kembali berpelukan, Arka meletakkan kembali kue tersebut dan mencium istrinya. Empat hari berlalu serasa seperti empat minggu lamanya.


"I Miss you, Ka."


"I Miss you too, sayang."


Ciuman mereka kian memanas, dalam sekejap segala pakaian yang menutupi tubuh mereka telah terlucuti dan berhamburan dilantai. Arka membawa istrinya ke kamar, karena mereka sudah terlalu sering bermain di luar ruangan itu.


"I miss you, sayang." ujar Arka seraya menggunakan tangannya untuk menyentuh dan mengusap semua bagian. Ia menindih tubuh indah itu, seraya terus memberikan ciuman.


Semuanya pun lalu terjadi, dan seperti biasa berakhir dengan sebuah teriakan yang panjang. Sebelum akhirnya mereka ambruk dalam puncak kenikmatan.


"Zreeet." tiba-tiba handphone Arka berbunyi ketika ia baru saja mencabut dan berbaring disisi Amanda. Ternyata Rio yang menelpon.


"Ri?"


"Udeh belom, Junaedi. Gue udah sampe dari tadi nih di bawah."


Arka tertawa.


"Sorry, sorry, bro. Hahaha."


"Sorry, sorry. Super Junior, lu?" Rio sewot, Arka makin tertawa.


"Iye, tunggu Bambang. Mandi dulu ini."


"Buruan...!"


"Iya."


"Man, beresin baju kita tadi. Aku mandi dulu."


"Itu tadi Rio?"


"Iya dia dibawah, dia aku suruh dateng buat ngerayain ulang tahun kamu. Dia beli makanan juga buat kita."


"Mau-mauan si Rio kamu suruh nunggu, aku mah ogah nungguin temen lagi begituan."


Amanda berujar setengah tertawa, sementara Arka sudah terkekeh sejak tadi.


"Aku sama Rio mah, berak juga saling tungguin."


"Dasar temen nggak ada akhlak kamu, ka." ujar Amanda lalu beranjak.


"Udah, aku mau mandi dulu." ujar Arka.


"Ok."


Amanda kemudian beranjak dan keluar untuk membereskan baju-baju yang tadi berserakan.