Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Ansel Si Kambing (Bonus Chapter)


"Aduh, sakit banget perut gue."


Ansel bolak-balik ke kamar mandi, ditengah malam yang suntuk. Ini sudah keempat kalinya ia menyambangi ruang sanitasi tersebut. Tentu saja hal itu mengundang perhatian Nino yang kebetulan terbangun karena haus.


"Kenapa lo, Sel?" tanya nya kemudian.


"Sakit perut gue, gara-gara seblak tadi deh kayaknya." jawab Ansel.


Nino memperhatikan saudaranya itu lalu menghela nafas panjang. Ia kini mengambil sebuah gelas lalu mengisinya dengan air hangat.


"Lo, sih. Udah tau nggak biasa pedes, masih maksain juga. Nih minum dulu!"


Nino menyerahkan gelas berisi air hangat tersebut kepada Ansel. Kemudian Ansel pun meminumnya. Beberapa detik berlalu Ansel kembali merasakan sakit menyerang perutnya.


"Aduh, nggak tahan gue."


Ia buru-buru meletakkan gelas ke atas meja makan lalu berlarian ke arah toilet. Nino beralih ke ruang tengah dan mencari kotak obat. Ternyata tak ada satupun obat untuk sakit perut ataupun diare yang tersimpan disana. Kebanyakan paracetamol atau obat sakit kepala seperti aspirin.


Selang beberapa saat Ansel keluar dari kamar mandi. Wajah bulenya menjadi semakin pucat, akibat banyaknya cairan tubuh yang terbuang.


"Masih sakit?" tanya Nino pada Ansel dan Ansel pun mengangguk. Ia kini kembali duduk di kursi meja makan.


"Gue orderin obat dulu."


Nino mengambil handphone. Ia mencari dimana ada apotek yang buka 24 jam.


"Yah, jauh lagi apoteknya. Lo sabar ya." ujar Nino.


Ansel tak ada pilihan selain mengangguk pasrah, sambil terus menahan sakit.


"Aduh."


Ansel kembali mengeluh beberapa saat kemudian. Lalu ia pun kembali ke dalam toilet dan keluar dengan wajah yang lebih pucat dari sebelumnya. Nino membuatkannya larutan air yang dicampur garam, untuk menggantikan cairan tubuh.


Ansel meminum racikan tersebut, sementara Nino terus memantau ojek online yang membeli obat di apotek.


"Masih jauh lagi abangnya." ujar Nino kemudian.


Ansel masih meringis. Nino berpikir keras bagaimana caranya memberi pertolongan.


"Oh iya." ujarnya seperti mendapatkan ide.


Ansel sempat melihat ke arah saudaranya itu sebelum ia pergi keluar. Entah apa yang dilakukan Nino disana. Tak lama kemudian,


"Krak, kruk, krak, kruk.


Ansel mengunyah daun jambu biji dengan menggunakan garam dapur kasar, yang didapat dari dalam lemari kitchen set.


"Kenapa gue harus jadi kambing gini sih?" tanya nya kesal namun tak bisa melawan.


"Mau sembuh nggak lo?" Nino balik melontarkan pertanyaan.


"Mau, tapi kenapa harus makan daun kayak gini?. Daun apaan lagi ini?"


"Itu daun guava. Orang jaman dulu kalau sakit perut dan diare, obatnya itu." jawab Nino.


"Tapi nggak enak." Ansel menggerutu.


"Obat kimia juga nggak enak kalau lo kunyah. Coba aja kalau nggak percaya, jangan diminum pake air. Kalau nggak lo kelojotan abis itu." ujar Nino.


"Tapi beneran kayak gimana gitu rasanya."


"Iya, gue tau. Untuk sementara lo makan ini dulu, biar nggak ke kamar mandi terus. Gue ngambil ini di rumah tetangga loh, karena daddy nggak menanam guava di halaman. Kalau gue sampai ketahuan, gue bakalan viral sebagai tersangka pencurian daun jambu. Makanya lo hargai usaha gue." ujar Nino lagi.


Ansel pasrah dan terus mengunyah. Tak lama kemudian Ryan bangun dan mendapati sang anak sulung yang masih cosplay menjadi Shawn The Sheep.


"Loh, kenapa kamu?" tanya Ryan ada Ansel heran.


"Sakit perut, dad. Ansel ke kamar mandi terus dari tadi." jawab Ansel.


"Koq bisa?" Ryan lagi-lagi bertanya.


"Habis lomba makan seblak pedes di rumah Arka." Nino menimpali.


"Udah tau nggak bisa makan pedes, tapi maksain." lanjutnya lagi.


Ryan menghela nafas panjang.


"Makanya kalau belum terbiasa, jangan memaksa diri." ujar pria itu kemudian.


"Iya, ini juga udah kapok." jawab Ansel.


"Kata Nino ini obat."


Ryan menilik ke arah Nino dan Nino pun menjelaskan. Selang beberapa saat ojek online tiba dan membawa obat yang telah di pesan. Ansel minum obat tersebut lalu pergi tidur.


***


Sama halnya dengan Ansel, Arka mengalami hal serupa, namun tidak terlalu parah. Masih bisa di tolerir dan kebetulan di dalam kulkas masih ada minuman air kelapa dalam kemasan. Meski tak sebagus khasiat air kelapa murni, namun itu cukup membantu.


Amanda juga mempersiapkan banyak obat-obatan di rumah. Sehingga tak perlu khawatir ketika terjadi serangan penyakit ringan. Usai minum obat, Arka pergi tidur. Hanya Rio dan Nino saja yang tak mengalami apa-apa.


Rio bahkan saat ini tengah tidur di depan televisi di ruang tengah kediaman sang ayah. Dengan posisi terlentang dan bibir sedikit menganga.


"Astaga ini anak."


Ayah Rio yang terbangun, mendapati puteranya tersebut nyaris jatuh dari sofa. Kemudian ia mendekat dan mencoba membangunkannya.


"Rio, bangun!"


"Hmmm."


Rio tampak gusar, namun dengan mata yang masih tertutup. Ia memang tak suka bila tidurnya terganggu.


"Bangun, pindah ke kamar!" ujar sang ayah lagi. Rio tak bergeming, sang ayah kembali mengguncang-guncang tubuhnya.


"Ah, elah. Kenapa sih pa?" Rio benar-benar bangun dengan wajah yang super sewot.


"Pindah ke kamar." ujar sang ayah.


"Ya kalau nggak mau ngeliat anak tidur disini, angkat kek ke dalam. Nggak usah bangunin segala, lagi enak-enak tidur juga." Ia menggerutu.


"Sadar umur dan sadar badan aja ya, Bambang."


Ayahnya gantian menggerutu. Masih dengan mata yang sayu, Rio berjalan dengan kesal menuju ke kamar. Sementara sang ayah hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa. Rio memang anak ajaib yang kadang membuatnya sering tak habis pikir.


***


Esok hari.


"Hoaya."


"Hoaya."


"Eheee."


Terdengar celotehan si kembar. Amanda lalu mencium aroma vanila yang semerbak. Tak lama ia pun terbangun dan mendapati Arka sudah tidak ada disisinya. Pintu kamarnya pun kini terbuka.


Amanda melirik jam weker yang ada di samping tempat tidur, ternyata hari sudah siang. Ia pun bergegas bangun lalu keluar. Ia mendapati Arka yang tengah sibuk di dapur bersama kedua anak mereka. Terlihat si kembar kini duduk di kursi makan khusus bayi.


"Koq kamu nggak bangunin aku, Ka?" tanya Amanda pada sang suami.


"Kamu lagi nyenyak gitu, mana tega aku bangunin." jawab Arka.


"Mamam."


Azka dan Afka memperlihatkan botol susu yang mereka pegang. Amanda juga melihat ada bubur pumpkin di depan mereka.


"Papa bikinin kalian sarapan ya?" tanya Amanda pada keduanya.


"Eheee."


Mereka sama-sama tertawa. Amanda lalu bantu menyuapi mereka.


"Makasih ya, Ka." ujarnya kemudian.


"Iya, sama-sama." jawab Arka.


"Itu kamu bikin apa lagi?" tanya Amanda.


"Mie instan, mau?" Arka balik bertanya.


"Mau tapi yang rasa kari ayam." jawab Amanda.


"Oke."


Tak lama Arka pun membuatkan mie instan untuk mereka berdua. Si kembar lalu meraih sendok masing-masing dan mulai makan sendiri.


"Susunya di tarok dulu, dek." ujar Amanda.


Keduanya mengerti lalu meletakkan susu tersebut ke pinggir dan mereka mulai makan.