Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Akhirnya


"Yes, akhirnya."


Arka merampungkan lembar terakhir bab skripsinya, di suatu malam yang telah cukup larut.


"Cieee papa. Udah kelar, Ka?" tanya Amanda pada suaminya itu.


"Udah." ujar Arka seraya tersenyum penuh kelegaan. Amanda membawa Azka mendekat ke arah Arka.


"Cieee papa, selamat papa. Udah menyelesaikan skripsinya walaupun dibantu mama."


"Hahaha." Arka tertawa geli.


"Jangan diceritain sama mereka, kalau mereka udah gede." ujar Arka kemudian.


"Tengsin bapaknya, nanti."


Ia pun lalu mengambil Azka dari gendongan Amanda.


"Ya udah, mama Amanda bikinin kopi dulu deh ya buat papa." Amanda mencium bayinya.


"Aku mau susu aja, Man."


"Ok."


"Sama mie instan."


"Ok." ujar Amanda lagi.


"Afka mana?"


"Molor." ujar Amanda seraya menuang air kedalam panci dan menghidupkan kompor gas.


"Tau sendiri anak kamu yang itu, *****."


"Kalau yang ini, kang ronda ya." ujar Arka seraya mencium Azka.


"Hoaaaa." Azka menjawab lalu mengenyot jari, hingga tangannya penuh dengan ludah.


"Mau yang apa, Ka."


"Yang goreng aja."


"Satu atau 2?"


"Yang jumbo." ujar Arka.


"Karena kalau ukuran biasa, dua kebanyakan."


"Satu kurang ya, Ka."


"Iya, tapi kalau dua juga enek. Kalau yang jumbo pas tuh porsinya."


"Pake telor?"


"Pake."


Amanda lalu memasak mie instan untuk suaminya itu. Tak lama kemudian sepiring mie instan dan segelas susu hangat terhidang di meja makan.


"Kamu nggak enek, Ka. Makan mie instan pake telor, terus minum susu."


"Nggak." ujar Arka seraya menggeserkan kursi meja makan dan duduk disana.


"Kamu mah cowok sih ya, nggak gampang mual sama sesuatu. Kalau aku salah kombinasi dikit aja, beh mual."


"Kalau aku mah, apa aja masuk. Perut aku kayak jablay, siapa aja boleh kakak."


Amanda tertawa.


"Yang penting, jangan kebanyakan aja. Ini juga nanti aku berjeda, nggak mungkin abis makan langsung minum susu. Aku kalau kebanyakan makan, baru enek."


Arka mulai melahap mie instannya.


"Sini Azka nya." ujar Amanda menyambut Azka.


"Nggak apa-apa, bisa koq." ujar Arka.


"Jangan, kamu mau mie kamu dipindahin dari piring ke meja. Kayak Anita tempo hari." ujar Amanda kemudian.


"Emang pernah?"


"Hmm bukan lagi, ini nih biangnya nih." Amanda memonyongkan bibir ke arah Azka.


"Untung mienya, mie goreng juga, bukan Mie kuah. Kalau mie kuah, gosong dah tuh kamu dek." ujar Amanda seraya menyambut dan menggendong Azka.


"Udah gercep ya dek, tangannya." timpal Arka.


"Eheeee." Azka tertawa.


"Ehe, ehe. Kamu."


"Ehe, ehe." Amanda menciumi anaknya dengan gemas, hingga Azka pun tertawa-tawa.


"Nanti papanya bentar lagi mau sarjana ya."


"Eheeee."


"Nanti kamu juga mau jadi sarjana, ya."


"Eheeee."


"S2 ya dek." ujar Arka.


"S2 apa mau jadi pilot aja?" tanya Amanda lagi.


Bayi Azka terus tertawa, hingga tak lama kemudian Arka pun selesai makan. Pemuda itu lalu membawa piring bekas makannya ke wastafel kitchen set dan mencucinya hingga bersih. Tak lama setelah itu ia pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi.


"Ayo bobok." ujar Arka pada Azka ketika ia telah keluar dari kamar mandi.


"Hoayaaa."


"Hoayaaa, hoayaaa. Bobok pokoknya, nggak boleh begadang." ujar Arka lagi.


Ia pun membawa Azka ke kamar dan meletakkan bayi itu ke dalam box. Tak lama kemudian Amanda datang dan memberikan ASI pada Azka. Setelah bayinya itu kenyang, Amanda dan Arka keluar dari dalam kamar tersebut. Karena biasanya Azka akan tidur dengan sendirinya.


"Doain ya, semoga nggak ada revisi." ujar Arka pada Amanda.


"Yakin aja semuanya lancar, Ka. Kalau kamu yakin, semua pasti beres."


Arka tersenyum lalu membelai kepala serta rambut istrinya. Malam ini gantian Amanda yang manja kepadanya, wanita itu kini berbaring di pangkuan Arka.


"Kamu dulu, waktu sebelum ketemu aku. Cita-cita nya kalau udah lulus kuliah, mau ngapain?" tanya Amanda pada Arka.


"Masa sih, kamu nggak punya cita-cita satupun."


"Ya apa, paling aku dulu mikirnya pengen punya bisnis sendiri kayak kamu. Sepemikiran lah sama Rio. Tapi kita berdua juga bingung, mau bisnis di bidang apa. Tapi ada satu sih, aku pengen lanjutin S2. Kalau nggak di UK, ya di US."


"Nanti, jangan nggak di lanjutin." ujar amanda.


"Kalau kayak gini udah males, Man."


"Loh kenapa?"


"Nanti kamu gimana, kalau aku pergi?"


"Ya nggak gimana-gimana, nunggu lah pasti. Aku nggak bakal kenapa-kenapa koq, nggak selingkuh juga."


"Bukan masalah itu, takut aku nya yang nggak kuat pisah lama. Sehari aja jauh dari kalian, aku kangen banget. Gimana satu tahun atau lebih?. Bisa sakit mulu aku tiap hari."


"Kan bisa video call." ujar Amanda.


"Tetap aja beda rasanya."


"Kalau kami ikut?"


"Ya nggak apa-apa, ngga apa-apa banget malah. Seneng aku kalau kalian ikut, tapi kan kamu ngurus perusahaan."


"Ya udah deh, nanti kita atur aja." ujar Amanda.


"Pokoknya selesain ini dulu, Man. S1 aja belum kelar, udah mikirin S2."


"Ya sama kayak kamu, Azka sama Afka belum gede. Udah mikirin mau ngehamilin aku lagi."


Arka mengerutkan kening.


"Apa hubungannya?" tanya nya kemudian.


"Nggak ada sih." ujar Amanda, Arka pun tertawa.


"Analogi kamu kejauhan, Firman. Orang lagi ngebahas apa, kamu ngebahas apa."


"Ya biarin aja, biar kamu sadar."


Lagi-lagi Arka tertawa.


"Kalau deket kamu mah, nggak bakal ada sadarnya. Fantasi mulu bawaanya." ujar Arka.


"Dasar bocil mesum kamu." ujar Amanda.


"Kamu juga sama, tante-tante gatel."


"Orang enak." seloroh Amanda.


"Tuh, kan. Nggak mau hamil lagi, tapi kelakuannya begini." ujar Arka masih tertawa.


"Aku sayang kamu, Ka." Amanda memeluk Arka dan Arka pun membalasnya.


***


"Ka, skripsi gue beres."


Rio berteriak pada Arka ketika keduanya bertemu di kampus.


"Jangan jumawa dulu, Solihin. Iya kalau diterima, kalau kagak?"


"Ya ngulang dong. Yang penting gue udah seneng dulu, sisa nya bodo amat." ujar Rio seraya menghisap vape miliknya.


"Iya juga sih."


"Iya dong, lo harus apresiasi kerja keras lo sendiri. Berterima kasih sama diri sendiri. Biar diri kita merasa dihargai, terutama oleh diri kita sendiri."


"Iye." ujar Arka dengan nada sewot. Rio memang kadang mirip dengan bapak-bapak, jika sudah mengeluarkan kata-kata bijak.


"Jadi gue harus gimana nih?. Jingkrak-jingkrak?" tanya Arka.


"Harus nyanyi dong kayak gue. Aiyaiya hati ku tergoda, aiyaiya sungguh mempesona."


"Oppa Nassar kiyowo." Rio dan Arka lalu tertawa-tawa.


"Ka."


Tiba-tiba Chanti dan Widya menghampiri Arka dan juga Rio.


"Kenapa, Chan, Wid?" tanya Arka pada kedua gadis itu.


"Lo tau nggak, Maureen ilang?"


"Maureen?. Ilang?" tanya nya dengan nada heran.


"Iya, udah beberapa hari ini dia nggak ngampus. Dia juga nggak bisa ditelpon dan sosial media nya pun nggak pernah aktif."


Seketika Arka teringat, saat ia bertemu Maureen dirumah Amman.


"Ada mungkin, cuma lagi nggak online aja. Atau dia lagi liburan kali." ujar arka kemudian.


"Mmm, iya juga sih. Kalau tau infonya, kabarin ke orang tuanya, Ka. Soalnya orang tuanya nyariin."


"Oh ya?"


"Iya, tolong ya Ka."


"Ok, ntar gue kabarin. Kalau gue denger sesuatu tentang dia."


"Ya udah, makasih ya Ka."


"Sip."


Chanti dan Widya pun berlalu.


"Emangnya si Maureen kemana, bro?" tanya Rio pada Arka.


"Mana gue tau, oh ya belum tau ya." ujar Arka.


"Soal apa?" tanya Rio.


"Soal Maureen yang ngaku-ngaku jadi saudaranya Amanda."


"Hah, gimana bisa?" tanya Rio.


Arka pun lalu menceritakan pada sahabatnya itu, perihal Maureen yang mengaku-ngaku sebagai anak dari Amman. Rio pun hanya bisa mengelus dada sambil menggeleng-gelengkan kepala.