
"Hoayaaa."
"Hoayaaa."
Azka dan Afka sibuk merayap kesana kemari, di kediaman Ryan. Sedang semua orang kini tengah berkutat dengan urusan masing-masing.
Ryan tampak sibuk dengan laptopnya, sebab ia tengah mengurus sebuah pekerjaan penting. Begitupula dengan Arka, Amanda, Nino dan juga Ansel yang tengah tumplek ditempat itu.
"Hoayaaa."
Azka memperhatikan semua orang, ia menuntut perhatian dari mereka semua.
"Hoayaaa."
Tak jauh berbeda dengan saudaranya, Afka pun sama saja. Dua gembul itu kini duduk sambil melihat ke arah kelurga mereka yang tengah sibuk di meja makan.
Semua tengah fokus, tak ada satupun yang menggubris mereka. Karena mereka berfikir jika kedua anak itu tidak menangis, maka tidaklah mengapa.
"Hoayaaa."
Tak ada respon.
"Hoayaaa."
Tetap tak ada respon.
"Hekheeeee." Azka menangis mendadak dan diikuti tangisan Afka.
Sontak semua pun kaget, Amanda dan Arka langsung mengambil kedua anak itu. Namun mereka menangis kian keras.
"Kenapa sayang?" tanya Amanda pada Afka yang kini ada dalam gendongannya. Anak itu mengamuk, begitupula dengan Azka.
Amanda beralih ke kamar dan mencoba menyusui mereka, namun mereka tetap mengamuk. Ia dan Arka akhirnya kembali keluar.
"Ya udah kita lihat ayam ya sama burung." ujar Arka.
Azka makin mengamuk, Nino lalu mendekat dan meraih ank itu. Azka langsung mau digendong Nino meski masih menangis. Tak lama Afka menunjukkan gerakan seolah ingin juga disambut oleh Nino. Sedang ia melengos dari Ansel yang mencoba menggendongnya.
Untung saja Nino tinggi berotot, hingga ia pun tak masalah menggendong kedua keponakannya itu sekaligus.
"Sini sama uncle, jangan nangis lagi ya. Kita beli mainan."
Azka dan Afka masih menangis.
"Ya udah beli Lamborghini, ya."
Mendadak kedua bayi itu diam, Nino tak kuasa menahan tawa. Begitupula dengan Amanda, Arka, Ansel dan juga Ryan.
"Eheee." Akhirnya kedua bayi itupun tertawa.
"Gitu Ka, kalau mau nyuruh anak diem, beliin mobil baru." ujar Nino.
"Mahal anjay." ujar Arka kemudian.
Mereka semua pun lalu tertawa-tawa.
***
Waktu berlalu.
"Selamat sore hoaya."
Arka menyapa Afka yang barusan masuk ke dalam mobil bersama Amanda. Sedang Azka ada di kursi tambahan bayi, di belakang.
Sejak naik jabatan, Arka mendapat ruangan tersendiri di kantor. Untuk itulah setiap satu hari menjelang weekend, jika tidak sedang sibuk. Ia selalu membawa salah satu anaknya ke kantor.
Jika satu sudah dibawa Arka, maka Amanda pun akan membawa satunya lagi ke kantor. Dan mereka biasanya bertemu lagi di sore hari begini.
"Arka, capek nggak kamu?" tanya Amanda pada suaminya itu.
"Ke supermarket dulu yuk, pengen belanja yang udah abis." jawab Amanda.
"Ya udah ayok, ntar hoaya tarok aja di troly." tukas Arka.
"Ok." ujar Amanda lalu tersenyum.
Mereka pun kemudian menyambangi supermarket dan berbelanja bersama. Sedang si kembar Azka dan Afka duduk di dalam troly.
Sore itu menjadi sore yang penuh bahagia serta tawa, sama seperti hari-hari sebelumnya. Amanda dan Arka benar-benar merasa diberkati dengan keluarga kecil mereka.
"Ka." Amanda berujar ketika mereka telah selesai belanja dan masuk ke dalam mobil.
"Ya, kenapa?" tanya Arka seraya menghidupkan mesin mobil.
"Makasih ya, sama kamu hidup aku lebih indah." ujar wanita itu.
Amanda Kemudian tampak tersenyum, lalu Arka menatap istrinya itu seraya tersenyum pula. Tak lama keduanya berciuman sejenak, kebetulan para hoaya sudah tertidur.
***
Hari berikutnya.
Amanda menghadiri sebuah pertemuan besar, antar pemilik perusahaan. Acara tersebut diselenggarakan salah satu perusahaan yang beraliansi dengan perusahaannya.
Di sana diadakan sebuah seminar dan pengenalan beberapa aplikasi terbaru oleh perusahaan pengembang aplikasi. Diharapkan aplikasi tersebut nantinya mampu mempermudah perusahaan dalam menjangkau konsumen.
Amanda mengikuti acara itu bersama beberapa petinggi lain di perusahaannya. Ia juga melihat pameran teknologi dan perangkat yang di perlihatkan di tempat tersebut.
"Amanda."
Seseorang menyapa wanita itu, Amanda menoleh.
"Gareth?"
Amanda hampir tak percaya pada apa yang ia lihat. Gareth adalah pria tampan blasteran Amerika dan merupakan teman Amanda semasa kuliah disana.
"Kamu disini?" tanya Amanda masih tak percaya.
"Ya, seperti yang kamu lihat. Apa kabar?" tanya Gareth menjabat tangan wanita itu.
"Baik, kamu sendiri baik?" Amanda balik bertanya.
"I'm good." jawab Gareth lalu tersenyum.
"Gareth."
Seseorang memanggil Gareth, pria itu pun permisi pada Amanda. Padahal mereka belum sempat cerita banyak.
"Nanti kita ngobrol lagi, Amanda." ujar Gareth, terburu-buru.
"Ok." jawab wanita itu.
Gareth pun berlalu, dan ternyata ia berasal dari perusahaan pengembang aplikasi. Karena pada detik berikutnya, Amanda dan semua berkumpul di sebuah aula.
Dimana Gareth berbicara di depan banyak orang, sambil memperkenalkan aplikasi terbaik yang dikembangkan oleh perusahaannya.
Amanda tidak tahu, jika Gareth telah tumbuh sejauh itu dalam hal pekerjaan. Jujur ia bangga pada temannya itu, karena telah berhasil mewujudkan impiannya semasa kuliah dahulu.
Ia memperhatikan Gareth secara seksama, ketika pria itu menjelaskan mengenai aplikasi yang tengah ia presentasikan.
Namun Gareth menatap Amanda dengan perasaan lain. Tak hanya sekedar tatapan teman, atau antar sesama bos perusahaan. Tapi tatapan yang mendadak ingin lebih dekat.
"Bagaimana selanjutnya?. Apakah Gareth akan menjadi kerikil dalam rumah tangga Arka dan Amanda kelak?"
"Apakah Arka dan Amanda akan bertumbuh semakin erat dalam rumah tangga?"