Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Lagi-lagi Nino


Nino tergopoh-gopoh, menghampiri Nadine dan yang lainnya. Ketika mereka semua tengah bersiap menjenguk Amanda, yang dikabarkan mengalami musibah. Nino sendiri diberitahu oleh Nadine, jika perempuan itu ingin menjenguk Amanda.


"Nad."


Nino menyapa Nadine dengan nafas yang terengah-engah.


"Saya ikut." ujarnya kemudian.


"Pak Zio mau ikut?" tanya Nadine sumringah.


"Iya, saya mau nemenin kamu." dustanya. Nadine pun kini berbunga-bunga. Ia merasa Nino begitu perhatian padanya. Seolah Nino cemburu jika Nadine pergi bersama dua teman lelakinya, yakni Dito dan juga Fahri.


"Ya udah, berangkat sekarang yuk." ujar Dito.


"Ayok." jawab Nadine dan yang lainnya serentak.


Mereka berangkat menuju rumah sakit, hati Nino kini diliputi kecemasan. Ia bahkan baru saja mengetahui jika Amanda mengalami hal buruk. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi, pikirnya.


Apa tugas Arka sebagai suami, sehingga ia tidak bisa melindungi istri dan juga bayinya sendiri. Nino benar-benar kesal. Sementara Nadine mengira, jika Nino ikut hanya untuk menemaninya. Ia tak tahu jika Nino telah lama mengenal Amanda dan memiliki perasaan terhadap wanita itu.


"Man, aku tadi udah suruh maid Anita kesana buat jagain kamu. Aku ke kampus dulu bentar aja, cuma dua jam an."


Arka berkata pada Amanda ditelpon. Sampai detik ini, ia belum memberitahu Arka. Perihal orang yang mencurigakan didepan kamarnya, seperti yang diutarakan oleh Intan. Ia takut Arka jadi kian khawatir dan tak bisa melakukan apa-apa, jika ia mengatakan hal tersebut. Maka Amanda memilih diam saja, toh besok atau lusa ia sudah diperbolehkan pulang.


"Ya udah nggak apa-apa." ujar Amanda kemudian.


"Anita juga udah dateng ini, sama Lastri." lanjutnya lagi.


"Ya udah, aku tinggal bentar ya." ujar Arka.


"Iya, kamu hati-hati."


"Kamu juga." jawab Arka.


Amanda lalu menyudahi telponnya.


Selang satu jam kemudian, Nadine dan teman-temannya pun tiba dirumah sakit. Setelah tadi menemani dulu Nadine pulang, untuk berganti baju. Lalu mereka semua pergi ke swalayan dan membeli buah-buahan, serta makanan lainnya untuk Amanda.


Ketika tiba, Amanda sangat senang menerima kehadiran mahasiswa dan mahasiswinya tersebut. Namun tiba-tiba Nino muncul, setelah semuanya masuk ke dalam. Amanda kaget setengah mati, ia tak menyangka jika Nino akan datang.


"Pak Zio tadi minta ikut. Nggak apa-apa ya, mbak?" tanya Nadine."


Amanda pun memaksakan sebuah senyum.


"Nggak apa-apa." ujar Amanda.


Seperti biasa, ia tak mungkin menebar kebencian pada Nino di tempat ramai.


Apalagi didepan mahasiswa dan mahasiswinya sendiri. Lagipula dibalik kesalahannya, Amanda tetaplah menyayangi laki-laki itu.


Nino adalah sahabatnya, cinta pertama dan juga masa lalunya. Tak baik pula bagi kesehatan bayinya, jika ia masih menebar kemarahan.


"Bu Amanda, apa kabar." ujar Nino berbasa-basi.


"Baik, pak." jawab Amanda seraya tersenyum tipis. Ia juga mesti berakting, seakan baru mengenal Nino.


Perlahan baik Dito, Fahri, Viona maupun Nadine sendiri mulai bertanya. Perihal kejadian yang dialami oleh Amanda. Amanda sendiri lalu menceritakan kejadiannya secara rinci, tak ada yang ditutup-tutupi. Mereka semua terdiam dan mengira-ngira soal siapa pelakunya.


***


Sementara di kamar Liana, wanita itu bertanya pada Rio. Perihal mengapa Arka tak terlihat hingga hari ini.


"Arka lagi sibuk." ujar Rio kemudian.


Pemuda itu tak mungkin mengatakan perihal Amanda yang juga tengah berada dirumah sakit ini. Karena Arka telah berpesan pada Rio, Arka tak ingin Liana mengunjungi Amanda dan mengadukan masalah yang ia alami pada wanita itu. Arka memikirkan kondisi mental Amanda yang tengah mengandung.


Ia tak ingin istrinya itu merasa syok ataupun cemas, atas kejadian yang menimpa salah satu orang kepercayaannya tersebut.


"Tapi nanti, dia kesini nggak?" tanya Liana lagi.


"Aku nggak tau, nanti aku tanya ke dia." ujar Rio.


Sesaat setelah kelas selesai, Arka buru-buru keluar dari kampus dan berlarian ke halaman parkir. Yang ada di pikirannya kini, hanyalah Amanda dan bayinya. Tiba-tiba Rio menelpon.


"Ka, lo dimana?" tanya Rio.


"Terus lo mau kemana abis ini?"


"Ya kerumah sakit lah, nemenin Amanda. Kenapa emangnya?" tanya Arka lagi.


"Nggak apa-apa, gue mau ngampus juga soalnya. Titip Liana ya, Ka. Liatin aja sekali-sekali." ujar Rio.


"Oh ok, deh." ujar Arka kemudian.


Arka pun masuk kedalam mobilnya.


"Amanda?" gumam Rianti dari tempat persembunyiannya.


Ia telah mengintai Arka sejak tadi. Karena setelah menemukan Arka dan Liana dirumah sakit kemarin, ia masih menaruh curiga pada sepupunya itu. Pasalnya ketika ia mengingat kembali, saat berpapasan dengan Arka tempo lalu. Gadis yang ada di mobil bersama Arka itu, bukanlah Liana. Ya, ia yakin betul bahwa itu bukan Liana.


"Amanda, Amanda."


Rianti seolah berfikir. Seketika ia teringat pula bahwa waktu itu beberapa kali ia pernah mendengar Arka, menelpon seorang perempuan bernama Amanda.


"Kenapa mas Arka bilangnya Amanda ya, bukan mbak Liana?" gumamnya lagi.


Disepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Arka terus teringat bagaimana tayangan CCTV ketika istrinya dipukul. Ia terus terbayang wajah pelaku yang begitu tega menyakiti orang terkasihnya itu. Arka sungguh tidak bisa tenang, sebelum berhasil menemukan dan menghajar orang itu dengan tangannya sendiri. Ia benar-benar tak akan memberi ampunan pada orang itu.


Memasuki sebuah pintu tol, Arka harus sedikit mengantri. Karena pengguna jalan tol saat ini tengah padat. Sambil menunggu mobil yang ada didepan, Arka pun mengirim pesan singkat pada Amanda.


"Aku udah dijalan, kamu mau aku beliin apa?"


Send.


Namun Amanda tak menjawab, tibalah giliran mobil yang ada didepannya. Mobil tersebut berhenti, lalu sang pengemudi menempelkan e-toll card miliknya. Seketika Arka pun terhenyak. Ketika melihat bekas tatto besar yang sengaja dihapus, ditangan orang tersebut.


Arka hendak keluar, namun mobil itu keburu berjalan. Akhirnya ia pun maju, lalu menempelkan e-toll card miliknya dan segera saja ia menyusul mobil tersebut. Arka menginjak pedal gasnya dalam-dalam. Sayangnya saat ini ia tengah memakai mobil MPV biasa dan bukan mobil sport, sehingga performa pengejaran pun tak terlalu baik. Namun ia tetap berusaha melakukan pengejaran.


Ia menyusuri jalan demi jalan dengan kemarahan yang memuncak. Mobil tersebut hampir ia dapatkan, ia langsung mengarahkan stir ke arah kanan dan bermaksud menyalip mobil tersebut. Namun sayang, mobil itu malah berbelok ke sisi kiri tol, yang menghubungkan ke jalan lain. Sementara Arka sudah keburu ada didepan.


"Brengsek."


"Aarrgghh."


Arka benar-benar sangat marah, tak ada jalan lain kecuali kembali ke tujuan semula. Arka mengumpat disepanjang jalan, dengan kekesalan yang tinggi. Ia hampir saja mendapatkan orang tersebut, kini, ia kembali menuju ke rumah sakit.


Sesampainya dirumah sakit, Arka membeli air mineral dan meminumnya didekat halaman parkir. Ia mencoba menetralkan emosinya yang masih tersisa, ia tak ingin terlihat tegang maupun marah didepan Amanda. Karena itu hanya akan mengundang Amanda untuk bertanya padanya, perihal apa yang terjadi.


Usai menetralisir kemarahannya, Arka pun berjalan menuju ke ruangan. Tempat dimana Amanda dirawat.


"Kreeek." Arka membuka pintu. Baru saja ia hendak menyapa Amanda dengan senyum dan tawanya, ketika ia melihat ada banyak orang didalam sana. Ada Dito, Fahri, Viona dan juga Nadine.


"Kita pulang sekarang."


Seseorang muncul dari dalam toilet. Waktu seakan membeku, tatkala Arka bertemu pandang dengan Nino dan begitupun sebaliknya. Seketika emosinya kembali naik, namun ia berusaha mengontrol emosi tersebut dengan sebaik mungkin. Karena ini adalah rumah sakit, dan saat ini keadaan Amanda sedang tidak begitu baik. Lagipula ada mahasiswa dan mahasiswi Amanda ditempat itu.


"Ayo kita pulang." ujar Nino kemudian.


Para mahasiswa dan mahasiswi Amanda pun berpamitan pada Amanda. Arka mengantar mereka hingga ke depan.


Ketika semuanya telah berjalan cukup jauh, tiba-tiba saja Nino berbalik arah. Ia kembali menghampiri Arka yang masih terpaku, didepan pintu ruang rawat Amanda.


"Kalau kamu nggak bisa menjaga dan melindungi Amanda. Kamu bisa serahkan Amanda dan anaknya pada saya, saya bisa melakukan yang lebih baik."


Nino kemudian berlalu, meninggal Arka dalam kemarahan yang tertahan. Arka pun masuk ke dalam. Amanda sudah menyiapkan jawaban, jika Arka mengajaknya berdebat kali ini. Namun ternyata Arka tidak melakukannya. Ia malah memeluk dan mencium Amanda, lalu menanyakan kabarnya dan juga bayi mereka.


"Kamu baik-baik aja kan?" tanya Arka pada Amanda.


"Iya, aku baik-baik aja koq." Amanda mengusap kepala pemuda itu dengan penuh kasih. Ia sudah mengira Arka akan marah padanya, perihal kedatangan Nino.


"Aku kangen sama mereka." ujar Arka seraya mencium perut Amanda.


"Koq mereka?" tanya Amanda.


"Eh, kalian." ujar Arka lalu tertawa.


Arka lalu mengajak anaknya berbicara, sambil memberikan sentuhan-sentuhan yang direspon oleh bayi tersebut dengan gerakan.