
Sudah dua hari Amanda pulang kerumah. Ia dinyatakan sangat sehat, namun belum diizinkan Arka untuk pergi kekantor. Kebetulan, permasalahan dikantor sudah mulai menemui titik terang.
Team investigasi perusahaan telah bekerja dengan baik, hingga Amanda sedikit bisa bernafas lega. Meskipun belum selesai secara keseluruhan.
Amanda kini berdiri didepan kaca, sambil memandangi perutnya yang kian membuncit. Ia masih tidak menyangka, jika ada dua bayi yang tumbuh didalam rahimnya itu. Pantas saja pertumbuhan perutnya seperti tidak wajar.
Tak lama setelah itu, Arka datang dan tiba-tiba memeluknya dari belakang. Kedua tangan suaminya itu tampak memegangi perut Amanda.
"Belum dikasih tau ya, jenis kelaminnya apa?" tanya Arka pada Amanda.
"Kata dokter belum keliatan, Ka. Karena mereka masih menutup rapat bagian itu, masih malu kali. Tapi aku udah siapin nama buat mereka." ujar wanita itu seraya tersenyum, menatap Arka di pantulan kaca.
"Oh, ya?. Siapa namanya?"
"Kalau cowok-cowok, namanya Azka dan Afka."
"Hmm, terus?" tanya Arka seraya mengelus perut istrinya.
"Kalau cewek semua, Amala dan Ammanya."
"Kalau cewek-cowok?"
"Kalau cewek-cowok ya, ambil aja salah satunya."
"Artinya apa?" tanya Arka lagi.
"Kalau Azka artinya baik, jernih. Aku berharap dia baik dan hatinya jernih kayak kamu."
Arka tersenyum lalu mengecup kening wanita itu.
"Afka, artinya apa?"
"Afka itu pejuang keras, biar dia jadi pejuang keras kayak aku."
"Kalau Amala?"
"Amala artinya suci murni, kayak cinta kita ke mereka. Kalau Ammanya artinya harapan. Supaya mereka menjadi harapan yang baik untuk kedua orang tuanya. Bagus nggak?"
Arka makin mempererat pelukannya, ia mengangguk lalu mencium pipi Amanda.
"Aku suka nama-nama itu." ujarnya kemudian.
"Kalau kamu, udah kepikiran namanya siapa?" tanya Amanda.
"Aku sih tadinya pengen yang praktis aja. Kayak siang-malam, pagi-petang."
Amanda tertawa kecil.
"Itu mah bukan nama, kayak rumah makan Padang." ujarnya disambut gelak tawa oleh Arka.
"Eh bagus loh, coba aja nama anak kita Pagi-Senja. Atau Sun-Rise, Sun-Shine. Keren kan?"
"Iya sih, tapi ntar jadi aneh nggak?" tanya Amanda lagi.
"Ya nggak apa-apa, jadi unik." ujar Arka.
"Iya sih."
"Ada lagi, planga-plongo, petantang-petenteng."
"Ih, itu mah makin ngaco lagi." Kali ini Amanda memukul tangan Arka, suaminya itu hanya tertawa-tawa. Kemudian, ia kembali mencium Amanda.
"I love you." bisiknya ditelinga wanita itu.
"Hmmh."
Amanda memejamkan mata dan menggerakkan lehernya. Agaknya nafas Arka yang terhembus disekitaran telinga dan lehernya tadi, membuat wanita itu merasakan sebuah sensasi kegelian. Melihat semua itu, Arka tak diam begitu saja, ia kembali berbisik ditelinga istrinya itu.
"Aku tambahin lagi ya, biar jadi kembar tiga."
Amanda menolehkan kepalanya dan mendapatkan bibir Arka. Arka pun membalas istrinya itu, sambil tangannya mulai berselancar.
Ia merengkuh setiap inchi keindahan yang ada pada istrinya, sambil tak lupa memberikan usapan-usapan pada perut Amanda yang membesar. Sementara ada sesuatu yang mencuat dibawah sana.
Amanda menarik sendiri setiap helai yang menutupi kecantikannya. Arka merasa begitu senang dan menang. Ternyata semakin bertambahnya usia kandungan, semakin membuat keinginan wanita itu menggebu-gebu pula. Bila ada wanita diluar sana yang justru malah menjadi malas akibat kehamilan, namun itu tidak berlaku bagi Amanda.
Arka termasuk beruntung, karena kehamilan istrinya tak terlalu membawa masalah. Malah gairahnya meningkat tajam.
"Hmmh, Arka."
Arka tak membiarkan permainan berlangsung terburu-buru. Ia masih terus menggunakan tangannya, untuk merengkuh setiap inchi keindahan yang telah menjadi miliknya itu.
"Arkaaa."
Mata Amanda sudah sangat mengharap, sementara Arka masih betah dengan permainannya. Ia membuat wanita itu benar-benar seperti melayang. Karena sudah sangat dikuasai kehendak, namun Arka tak kunjung memberikannya. Amanda pun kini membalas.
Ia juga menggunakan tangannya untuk memberi Arka kesenangan. Awalnya Arka bertahan, namun lama kelamaan sentuhan nakal Amanda membuatnya menyerah.
Ia membaringkan Amanda, dengan sebuah bantal yang menyanggah di perutnya. Ia tak ingin segala aktivitas tersebut, membuat bayinya berada dalam bahaya.
"Arkaaa."
"Aku cinta kamu."
Arka berbisik ditelinga Amanda, seraya menghujamkan cintanya secara perlahan.
"Aaakh."
"I love you, sayang." bisiknya lagi.
"Iyaaah, hmmh."
"Aku sayang kamu."
"Hmmh."
Malam mulai beranjak, erangan demi erangan khas Amanda kembali mewarnai ruangan itu. Entar sudah berapa erangan dan racauan yang didengar oleh dinding kamar itu. Terhitung sejak mereka tinggal disana, percintaan mereka terbilang intens.
Arka selalu bisa membuat Amanda terngiang-ngiang akan permainannya. Dan membuat wanita itu selalu memintanya lagi dan lagi. Sementara Arka sendiri merasakan kenikmatan lebih, ketimbang dulu saat ia bersama Maureen.
Maureen telah berjalan kesana-sini, jatuh di pelukan banyak lelaki. Tetapi Amanda, ia mendapatkan wanita itu dalam keadaan belum pernah tersentuh pria manapun. Itulah yang membuat Amanda lebih dicintai oleh Arka. Meskipun rasa untuk Maureen dihatinya, tak pernah hilang begitu saja.
"Aaaakkh, Maaaan."
"Aaaakkh, Arkaaaa."
Lahar panasnya menyembur didalam sana. Membuat otot-otot yang berinteraksi, saling menegang dan mengendur secara bersaman. Senyum terkembang dibibir keduanya, kini mereka saling menatap dengan cinta yang begitu dalam.
"Ka, kamu mau kan nikahin aku secara resmi?" tanya Amanda pada Arka yang kini masih berada diatasnya. Arka bertumpu pada kedua tangan agar tak begitu menekan bayinya. Pemuda itu mengangguk pasti.
"Kita akan meresmikan pernikahan kita, secepatnya. Aku nggak mau, anak kita lahir tanpa ada nama aku di kartu keluarga. Kan aku bapaknya."
Amanda tersenyum.
"Janji jangan tinggalin atau selingkuhin aku ya, Ka. Aku udah melakukan hal yang sangat besar, dengan mau menikah resmi sama kamu. Kamu kan tau, dulu aku selalu berprinsip untuk tidak mau menikah. Aku nggak percaya pernikahan, dan tolong jangan kecewakan aku. Karena aku akan sangat menyesal, kalau langkahku ini salah."
"Aku jamin, kamu nggak akan salah langkah. Aku janji akan berusaha menjadi suami yang baik untuk kamu, dan ayah yang baik buat mereka."
Arka bergeser sedikit, lalu ia memberi sentuhan -sentuhan kecil di perut Amanda. Tampak bayi-bayi mereka memberi respon, dengan membuat gerakan-gerakan. Arka dan Amanda sama-sama tertawa.
"Dek, lagi ngapain di dalam sana?" tanya Arka seakan bayi-bayinya tersebut dapat menjawab.
Mereka kembali memberi respon, kali ini lebih aktif ketimbang tadi.
"Man."
"Hmm?"
"Kamu tuh cantik banget, tau nggak."
Amanda tersenyum, sementara Arka mencium perut Amanda seraya menatap istrinya itu.
"Aku mau kamu kayak gini terus, aku seneng liat kamu hamil."
"Seneng gimana?" tanya Amanda.
"Ya, rasanya bangga aja."
"Bangga kenapa?" tanya Amanda lagi
"Karena itu hasil perbuatan aku."
Amanda memukul tangan Arka seraya tertawa.
"Iya, ini gara-gara kamu nih. Jadi melendung begini. Tadinya aku punya rencana apa, malah sekarang jadinya apa."
"Rencana apa, hayo?"
"Rencana mau minta cerai lah, kalau dia udah lahir. Eh nggak taunya perut aku bukan berisi dia, tapi mereka. Jadi mikir panjang kalau cerai."
"Takut dibilang hasil kumpul kebo kan?"
tanya Arka seraya tertawa.
"Bukan itu, takut nggak ada yang bantuin ngurus. Keblinger aku Ka, ngurus dua bayi. Ngeliat anak Rani yang udah nggak bayi aja, aku pusing. Apalagi ngurus bayi."
"Oh, jadi nikah sama aku cuma supaya ada yang bantu ngurusin mereka."
"Ya iya, enak aja kalau kamu nggak mau ngurus. Udah kamunya paling enak, nyemprot doang. Aku yang hamil, aku yang begah."
Arka dan Amanda sama-sama tertawa kecil.
"Tapi enak kan?" goda Arka.
"Ya, enak. Tapi lama-lama berat juga. Ntar awas aja kalau kamu nggak ikut ngurus. Aku ngamuk, liat aja."
"Hahaha." Arka makin tertawa.
"Apalagi kalau aku repot ngurus anak, terus kamu sibuk main game online."
"Terus kamu mau apa?. Ngebanting hp aku?" tanya Arka.
"Aku daftarin diberbagai lomba dan kamu harus menang, biar dapet duit buat bayar baby sitter."
Lagi dan lagi Arka pun tertawa.
"Nggak koq, sayang. Aku akan bantu urus mereka."
"Janji, ya."
"Iya, janji."