
"Ka, mala hotpot yuk ntar sore."
Baru sehari setelah membuat konten mie pedas di warung Abang-Adek, Rio sudah hendak makan pedas lagi. Kali ini ia mengabari Arka via WhatsApp.
"Apaan anjay, lu mau lambung lu soak?" balas Arka.
"Gue kagak kenapa-kenapa tuh, bisa aja." ujar Rio.
"Nggak, ntar nggak apa-apa, nggak apa-apa. Tau-tau tumbang lo, masuk rumah sakit." balas Arka lagi.
"Ayolah Ka, gue lagi semangat-semangatnya ini bikin konten." Rio masih bersikeras.
"Nggak, Ri. Kalau lo mau buat konten, makan makanan yang nggak pedes aja. Nggak usah ngoyo, tukak lambung baru tau rasa nanti lo."
"Hahaha, doa lu jahat anjay." seloroh Rio.
"Gue bukan mendoakan, tapi supaya lo sadar aja. Ntar kalau udah sakit, baru nyesel."
"Iya, iya nggak jadi. Bawel lu kayak emak gue." ujar Rio.
"Awas lo kalau masih ngeyel." Lagi-lagi Arka berujar.
"Iya, kagak."
Rio lalu menyudahi percakapan tersebut, namun ia tak ingin begitu saja berhenti membuat konten. Mungkin ia akan membuat video mukbang makan es krim atau makanan yang tidak pedas lainnya.
Karena sehari saja tidak membuat konten, Rio merasa ada yang kurang dalam dirinya. Ia harus terus memposting sumber keuangan, agar ia tak merasa bersalah pada diri sendiri.
***
"Ka."
Amanda tiba-tiba mengirim pesan singkat pada suaminya itu. Setelah beberapa saat Arka membalas pesan dari Rio dan menyudahi obrolan tersebut.
"Apa?" jawab Arka kemudian.
"I love you." balas Amanda.
Arka seketika terdiam, namun tak lama dirinya tampak tersenyum.
"I love you too, Firman sayang." balas Arka.
"Jalan yuk ntar sore." ujar Amanda lagi.
"Mau kemana?" tanya Arka.
"Kemana kek." Lagi-lagi Amanda menjawab.
"Ya udah, ntar kita jalan ya." ujar Arka.
"Asik."
Amanda mengirim emoticon senang di belakang kata-kata tersebut.
"Ya udah, aku kerja dulu." ujar Arka.
"Sama, aku juga mau kerja." balas Amanda.
"Ya udah, have a nice day Man."
"Sama-sama, Arka."
Amanda kemudian menyudahi hal tersebut dan kembali bekerja, begitupula dengan Arka. Sore harinya sesuai janji, Arka menjemput Amanda di kantor dan kini mereka pun tengah mengitari jalan demi jalan.
Meski tak tau kemana arah dan tujuan, sebab masing-masing dari mereka sedang tak punya ide apapun.
"Kita mau kemana sayang?" Arka bertanya pada Amanda.
"Udah dua kali loh kita lewat jalan sini." ujarnya lagi.
"Hmm, bentar Ka. Aku juga lagi mikir." tukas Amanda.
"Ngopi aja yuk!" Arka memberikan ide.
"Ngopi?"
"Iya, yuk!. Cari yang sekalian jual makanan juga, biar kamu bisa makan." ujar Arka.
"Ya udah, terserah kamu aja." jawab Amanda.
Detik berikutnya mereka pun sama-sama tertawa.
"Cewek emang selalu begitu ya. Dalam hidup pasti ada sekali dua ngomong terserah." ujar Arka.
"Abis gimana, aku bingung. Pengen keluar rumah, jalan-jalan, tapi nggak punya tujuan." ujar Amanda.
Kemudian pria itu mencari tempat dimana mereka bisa duduk sambil ngopi ataupun makan. Setelah melalui perundingan, di dapatlah sebuah tempat yang dinilai cocok untuk semua itu.
Arka mengajak Amanda pergi kesana. Saat masuk ada beberapa orang yang memperhatikan. Sebab mereka sadar jika Arka adalah seorang aktor.
Saat mereview makanan kemarin juga banyak yang memperhatikan dirinya dan juga Rio. Tapi untungnya mereka hanya memperhatikan saja dan tidak berani menggangu.
Arka dan Amanda masuk ke sebuah resto dan kafe. Disana mereka duduk di tempat yang paling pojok dan terbilang nyaman.
Arka memesan kopi karena ia sudah sangat ingin merokok sejak tadi. Sedang Amanda memesan waffle dan juga es krim.
"An, anak-anak nggak nakal kan?"
Amanda mengirim pesan singkat pada Anita, yang saat ini tengah menjaga si kembar dengan asisten rumah tangga yang satu lagi.
"Nggak koq, bu. Mereka nggak nakal."
Anita menjawab kemudian mengirim video si kembar yang habis mandi dan tengah tidur-tiduran sambil memegang botol susu berisi ASI. Mereka tampak tertawa-tawa menonton tayangan kartun.
"Kenapa, Man?"
Arka bertanya pada sang istri yang kedapatan senyum-senyum sendiri melihat handphone.
"Ini anak-anak."
Amanda menunjukkan video tersebut pada Arka dan Arka pun lalu memperhatikan seraya tersenyum pula.
"Udah mandi mereka." ujarnya kemudian.
"Iya, udah. Bentar lagi juga pasti tidur." tukas Amanda.
"Kalau udah kayak gitu, pasti. Nggak mungkin nggak." Arka menimpali.
"Permisi, ini pesanannya."
Seorang pelayan mendekat, dan memberikan pesanan Amanda. Usai berterima kasih, pelayan tersebut pergi dan Amanda kini mulai makan.
Mereka berbincang banyak hal, dan keduanya tampak sangat menikmati kebersamaan tersebut. Sampai hari ini Amanda masih berada diantara rasa percaya dan tidak percaya jika ia telah bersuami.
Dulu ia sangat menolak dan anti pada pernikahan, tapi justru kini ia menikmatinya dengan hati yang gembira.
"Sejauh ini kamu gimana, Ka?" tanya Amanda pada Arka.
"Sejauh ini gimana?" Arka balik bertanya.
Sebab ia heran mendengar pertanyaan tersebut.
"Ya, kamu nyaman nggak sama pernikahan kita?" tanya Amanda lagi.
"Koq nanya nya gitu?" ujar Arka seraya mengerutkan dahi.
"Ya, nggak apa-apa nanya aja. Emang nggak boleh?"
Arka tertawa kecil lalu menghabiskan sisa batang rokoknya.
"Ya, sejauh ini sih aku senang-senang aja. Nggak ada masalah." jawab Arka.
"Kamu sendiri gimana?" tanya nya pada Amanda. Dan Amanda hanya tersenyum.
"Koq cuma senyum doang?" tanya Arka lagi.
Kali ini Amanda tertawa kecil.
"Aku bahagia sama kamu, Ka. Sejauh ini ya." ujar Amanda.
"Makasih udah bisa mengimbangi aku dan sayang sama anak-anak. Itu udah lebih dari cukup." lanjutnya lagi.
Arka lalu menggenggam tangan istrinya itu. Ditatapnya kedua mata Amanda dengan lembut.
"Aku akan berusaha untuk terus membahagiakan kalian." ujar Arka.
"Aku juga akan melakukan hal yang sama untuk kamu, Ka."
Arka mengangguk lalu tersenyum. Perbincangan itu pun akhirnya menjadi semakin panjang. Banyak topik yang mereka bicarakan, terutama soal anak-anak. Tentang bagaimana masa depan mereka nanti dan lain sebagainya.
***
Sementara itu disebuah jalan.
Ansel yang tengah mengemudikan mobil tanpa sengaja melihat Nadine di depan kawasan pertokoan.
Ansel ingin menghentikan mobilnya dan menyapa, namun tiba-tiba ada seorang pemuda yang menghampiri gadis itu. Ansel pikir itu adalah temannya Nadine. Maka ia pun mengurungkan niat dan kembali menginjak pedal gas dalam-dalam.
Sehingga mobil yang ia kemudikan kini melaju dengan cukup kencang. Ia saat ini tengah janjian dengan Intan untuk pergi makan malam bersama. Intan menunggu di suatu tempat yang telah mereka tentukan sebelumnya.