Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Masih Baby Shower


"Man, foto sama gue."


Rio mendekati Amanda dan mengambil foto selfie.


"Cekrek."


Tak lama Viona dan Keisha mendekat, mereka diambil fotonya oleh Dito. Selang beberapa saat mereka bergantian dengan Fahri dan juga Dito.


"Cekrek."


Foto Fahri dan Dito diambil oleh Keisha.


"Nadine kemana?" tanya Amanda pada mereka.


"Biasa mbak, sama pak Zio." ujar Viona.


Amanda terdiam, ada rasa tak enak yang menjalar dihatinya tatkala mendengar hal tersebut. Namun ah, sudahlah. Nino juga berhak bahagia pikirnya. Lagipula Nadine adalah perempuan yang baik, Amanda akan bahagia jika Nino akhirnya bersama dengan gadis sebaik Nadine.


"Bu Amanda, foto dong."


Salah seorang karyawan meminta. Amanda pun mendekat, lalu mereka mengambil foto.


"Cekrek."


Tak lama setelahnya, ada lagi karyawan yang mengajak Amanda sekalian Arka untuk melakukan hal yang sama. Suasana hari itu begitu ceria. Seusai berfoto diberbagai spot, Amanda pun berjalan ke arah Arka. Yang kini tampak tengah berbincang dengan beberapa orang.


"Ka."


"Ya."


Arka merangkul pinggang istrinya yang membesar, ketika wanita itu sudah mendekat. Amanda pun lalu ikut berbincang sambil makan dan minum.


"Rani nggak dateng, Man?" tanya Arka ketika kini mereka hanya berdua saja. Sedangkan para undangan tengah sibuk makan dan berfoto.


"Katanya semalem nggak bisa, Ka. Anaknya sakit."


"Oh." jawab Arka singkat.


Sementara disudut lain, Intan tampak bergosip bersama Nur dan juga Sari. Rekan kerjanya namun berbeda divisi. Sedang Deni dan Satya tengah merokok disudut lainnya.


"Masa iya, mbak Rani. Katanya temen, tapi nggak dateng." ujar Intan sambil memakan puding.


"Iya, lama-lama mbak Rani emang makin mencurigakan." timpal Nur.


"Gue nggak pernah suka tuh, dari awal dia masuk." ujar Sari.


"Kayak ada something wrong gitu loh, sama dia." lanjutnya kemudian.


"Anak-anak divisi dia juga banyak tuh yang nggak suka." Nur menambahi.


"Ya iyalah, orang masuknya karena temenan sama bos. Bukan beneran ngelamar kayak kita." ujar Intan.


"Berhubung selama ini bu Amanda baik aja sama kita semua, jadi mau protes pun nggak enak. Soalnya kan hak kita semua dipenuhi sama bu Amanda. Jamsostek, bonus, THR, gaji, jaminan kesehatan dan lain lain, semua nggak pernah meleset. Makanya pada nggak berani nyenggol hal ini." lanjut Intan lagi.


"Mbak Rani kalau mau masuk kerja di kita jalur ngelamar, gue rasa kagak bakalan dapet dia. Ngerjain kerjaan dia aja lama banget, kata anak divisinya dia." ujar Sari.


"Intan, kalian udah makan?" tiba-tiba Amanda berteriak ke arah mereka. Membuat mereka bertiga tersentak dan mengakhiri gosip.


"Hmm, udah bu." ujar ketiganya serentak.


"Makan lagi sana...!" lanjut Amanda.


"Iya bu." jawab mereka.


Ketika akhirnya acara selesai, dan para undangan telah bubar. Amanda yang bersiap pulang ke penthouse tersebut, dihampiri oleh salah satu maid yang berkerja dirumah itu.


"Bu, ada paket."


"Asiyap." jawab Amanda.


Ia dan maid tersebut saling tatap, detik berikutnya mereka sama-sama tertawa.


"Ibu ada-ada aja." ujar maid itu pada Amanda.


"Paket dari siapa?" tanya Amanda kemudian.


"Nggak tau bu, nggak ada namanya."


Amanda menerima paket tersebut, disitu hanya tertera untuk Amanda. Tanpa tahu siapa pengirimnya.


"Makasih ya." ujar Amanda kemudian.


"Iya, bu." Maid tersebut berlalu.


Amanda kemudian membuka kotak yang cukup besar tersebut. Isinya berupa baju-baju dan perlengkapan bayi yang harganya cukup mahal. Ada sebuah kartu ucapan disitu, tak tertulis apa-apa. Kecuali sebuah nama,


"From : Nino."


"Man."


Arka mendekat secara tiba-tiba, Amanda pun langsung gelagapan.


"Dari siapa, Man?" tanya Arka seraya menatap kotak tersebut. Laki-laki itu, juga tampak tengah membawa kotak lainnya.


"Ini."


Amanda menarik nafas.


"Ini dari Nino, Ka."


Amanda menatap Arka, ia tidak ingin menutupi apapun dihadapan suaminya itu. Amanda sudah begitu gugup, takut-takut kalau Arka akan menjadi marah. Namun diluar dugaan, Arka justru malah tersenyum.


"Oh ya udah, ini juga dari Nindya. Sama dari ibu dan tetangga ibu, kata Rianti tadi."


Arka meletakkan kotak hadiah itu di dekat kotak yang tadi diberikan Nino.


"Kamu nggak marah, Ka?" tanya Amanda kemudian. Ia mencoba memperhatikan betul raut wajah suaminya itu.


Arka menghela nafas lalu menatap Amanda.


"Sekarang aku tanya, kamu ada hubungan nggak sama Nino?"


"Nggak ada." jawab Amanda seraya menggelengkan kepala.


"Nino ngirim ini buat anak kita kan?"


Amanda mengangguk.


"Ya udah, nggak ada masalah. Apa yang mesti diributin?" tanya Arka kemudian. Amanda pun tersenyum tipis.


"Kita pulang sekarang, ya." ujar Arka.


Amanda kembali mengangguk.


"Para maid memasukkan hadiah-hadiah baby shower ke dalam mobil satunya, yang di bawa oleh pak Darwis. Sedangkan Arka dan juga Amanda naik mobil yang satunya lagi.


Sesampainya di penthouse, mereka bertiga dengan pak Darwis menaikkan hadiah-hadiah tersebut ke atas. Tak lama pak Darwis pun pamit pulang.


"Hey." Arka memeluknya dari belakang.


"Udah boleh dikasih nama belum sih." tanya nya kemudian.


"Udah boleh kali, Ka." jawab Amanda.


"Hai Korea Utara, Hai Korea Selatan." Arka memberi usapan pada perut istrinya.


"Ih kamu mah, Ka." Amanda sewot. Sementara Arka tertawa-tawa.


"Yang bener itu satunya Kim Bum, satunya Lee Min Ho."


"Itu mah kamu yang halu, Amanda."


"Cemburu kamu ya?" tanya Amanda.


"Nggak, orang kamunya udah aku bikin bengkak begini."


Amanda tertawa.


"Iya bengkak banget aku ya, Ka."


"Nggak apa-apa, aku suka." jawab Arka.


"Gemes." ujarnya seraya memberi usapan pada salah satu dari gunung kembar milik wanita itu.


"Hmmh."


Amanda mulai mengatur nafas. Ia sudah menahan ini semua sejak sebelum acara berlangsung tadi.


Ia menolehkan kepalanya menatap Arka, seakan minta disambut oleh bibir suaminya itu. Arka pun tak tinggal diam, ia memberikan apa yang Amanda inginkan. Karena kini dihadapannya, Amanda tampak sangat menggairahkan.


"Hmmh."


Mereka mulai berciuman, dengan tangan Arka yang sudah bebas menjelajah.


"Ka, haah." Amanda mengatur nafasnya yang mulai tersengal.


"Iya, sayang." Bisik Arka ditelinga Amanda.


"Mana bagian yang kamu suka?"


"Ini." jawab Arka sambil memberi usapan pada bagian yang ia sebutkan. Amanda kini jadi semakin belingsatan.


"Mana lagi?"


"Ini."


"Hmmh." Amanda mengerang nikmat.


"Mana lagi, Ka?"


"Ini."


"Hmmh."


Arka lalu membawa Amanda ke dekat lemari minimalis rendah, yang berada di bawah televisi. Ia mendorong Amanda untuk duduk di atas tempat itu, lalu mengambil sebuah dasi dari dalam laci. Posisinya berada di depan Amanda yang tengah duduk, menghalangi wanita itu untuk pergi ataupun berdiri.


Ia masih mencium bibir wanita itu, ketika tangannya dengan cepat mengikat salah satu tangan Amanda ke besi ranjang. Seakan Amanda adalah tawanannya.


Amanda mulai memberontak, seolah dirinya memanglah seorang tawanan yang hendak melarikan diri. Namun Arka menahan laju wanita itu, dengan terus memberikan sentuhan-sentuhan yang membuatnya mengerang.


"Mau lari kemana, sayang. Hmm?"


Arka berujar ketika cintanya terbenam dalam dibawah sana. Mata Amanda mulai terbuka dan tertutup menatap Arka. Ia masih sesekali memberontak, namun Arka makin membenamkannya.


"Mau lari kemana, Amanda?. Hmmh?"


Arka memulai aktivitas favoritnya dengan tempo sedang. Amanda pun perlahan terlonjak-lonjak. Di sibaknya belahan gaun wanita itu, hingga memperlihatkan kaki jenjangnya yang begitu mulus.


Cukup lama bermain disana, Arka membawa istrinya berdiri menghadap kaca. Dengan posisi Arka berada dibelakang tentunya. Irama-irama penyatuan itu terdengar sangat jelas, hanya erangan yang keluar dari mulut mereka.


Malam beranjak naik, mereka terus saling membuai. Sampai kemudian, keduanya sama-sama terhempas dengan teriakan yang panjang.


"Man, kenapa sih kamu tuh cantik banget?" tanya Arka ketika ia dan Amanda telah selesai mandi. Kini mereka berada ditempat tidur, sambil masih mengingat kejadian tadi.


"Mana aku tau, Ka. Tapi kan cantik itu relatif loh, pandangan masing-masing orang bisa aja beda. Kamu menganggap aku cantik, mungkin orang lain menganggap aku biasa aja."


Arka tertawa


"Kayak aku, kalau di manajemen. Aku kalah tampan dari Robert."


"Robert Aidan?" tanya Amanda.


"Iya siapa lagi."


"Menurut aku cakepan kamu. Robert itu ngebosenin mukanya." ujar Amanda.


"Kayak aktor-aktor blasteran pada umumnya, nggak ada uniknya sama sekali." lanjutnya lagi.


"Tapi kan pandangan orang beda, man. Di dunia entertaint di negara kita ini, kalo nggak putih dianggap kurang menarik."


"Tapi sekarang banyak koq aktor-aktris yang berkulit kuning, coklat, bahkan gelap yang wara-wiri di TV."


"Iya sekarang, sejak kemaren ada perfilman yang mengangkat tema tentang perbedaan. Heboh kan tuh film sama seriesnya, barulah tuh pada kebuka mata. Udah pada nerima dengan gampang, orang-orang berkulit kayak aku untuk casting. Dulu mah susah, Man. Aku aja casting bolak-balik, tetap aja kesalip sama yang putih."


"Ih padahal kan kamu ganteng banget, Ka. Sexy lagi."


"Oh ya?" Arka tersenyum seraya menatap Amanda, yang berada dalam pelukannya.


"Kalau Amanda yang bilang, itu valid no debat."


ujar Amanda.


Arka pun tertawa.


"Kenapa bisa gitu?" tanya Arka.


"Ya karena aku ini anti cowok, dulu. Kalau aku udah berani mengatakan cowok itu ganteng, berarti emang bener. Aku susah loh buat mengatakan seseorang itu ganteng."


"Iya deh, percaya koq sama kamu."


"Udah ganteng, hot lagi." lagi-lagi Amanda memuji suaminya seraya tersenyum. Mereka kini saling tatap.


"Kalau aku nggak hot, nggak mungkin kamu teriak-teriak terus lah." Arka berujar dengan penuh percaya diri.


"Gimana nggak teriak, gede panjang gitu." ucap Amanda.


"Apanya?" tanya Arka mencubit sang istri.


"Bantal guling, hahaha."


Malam kian larut, Arka mulai membacakan dongeng rutin untuk bayi-bayinya.