
Malam itu Arka dan Rio mengobrol hingga larut. Bahkan mereka pulang belakangan, tepat pada saat kafe tersebut tutup.
"Lo bawa motor, Ri?" tanya Arka ketika mereka sudah berada di halaman parkir.
"Kagak." jawab Rio.
"Ya udah, bareng gue aja."
"Ok."
Keduanya lalu bersiap masuk ke mobil. Namun tiba-tiba semuanya terhenti, tatkala mata Rio menatap seseorang.yang hendak masuk ke dalam sebuah mobil lain. Mobil tersebut terparkir disisi jalan tepat didepan kafe.
"Ka, Ka, Ka. Orang itu, Ka. Yang mukul bini lo." Rio menunjuk ke arah sana.
Mata Arka menangkap orang tersebut, yang telah masuk ke dalam mobil dan tancap gas.
"Buruan masuk Ri!"
Arka dan Rio bergegas masuk kedalam mobil. Tak lama setelah itu, mobil pun langsung terlihat meninggalkan pelataran parkir.
"Tuh, tuh, tuh depan tuh. Buruan, Ka!. Jangan sampe dia lolos lagi."
Arka mengemudi dengan konsentrasi penuh. Si pria dengan luka bekas tato itu sepertinya menyadari jika dirinya sedang diikuti. Segera saja ia menginjak pedal gas dalam-dalam dan melaju dengan kecepatan tinggi.
Namun Arka yang seakan tak ingin melepaskan orang itu lagi pun, turut menekan pedal gas mobilnya lebih dalam. Terjadilah kejar-kejaran dimalam itu. Untung saja jalanan sepi, karena kondisi malam itu telah larut.
Pria dengan bekas tato itu tak mau mengalah, dan sepertinya ia juga merupakan driver yang handal. Berkali-kali ia lolos dari kejaran Arka, namun Arka tak mau menyerah begitu saja. Apalagi kini ia memakai mobil sport milik Amanda dan tak seharusnya ia gentar menghadapi pria itu.
Arka menaikkan konsentrasinya dan menambah kecepatan. Hingga pada satu kesempatan ia berhasil menyalip mobil tersebut dengan posisi melintang.
Suara ban mobilnya berdecit, pria dengan bekas luka tato itu terkejut dan menjadi panik. Ia lalu membanting stir ke kiri dan mobilnya menghantam pembatas jalan.
"Braaak."
Seketika ia pun keluar, karena sudah tidak ada jalan lain lagi. Tak mungkin juga ia berbalik ke belakang, karena kini mobilnya ringsek parah. Tanpa berbasa-basi lagi Arka dan Rio segera keluar dari dalam mobil dan terjadilah sebuah perkelahian.
Pria itu sepertinya begitu terlatih dalam hal beladiri, sehingga acap kali baik Rio maupun Arka kewalahan menghadapinya. Sama seperti seperti kejadian waktu itu.
Namun tiba di suatu titik, Arka berhasil mengambil alih dan melumpuhkannya. Arka kini mengunci pergerakan laki-laki itu, sementara Rio menelpon polisi.
Tak lama polisi datang, Rio dan Arka turut dibawa serta ke kantor polisi guna dimintai keterangan. Arka menjelaskan sedetil-detilnya. Kebetulan ia dan Rio juga pernah melaporkan soal pemukulan Amanda waktu itu, lengkap dengan bukti rekaman CCTV yang mereka dapat.
Mereka pulang ketika pagi telah menjelang, Arka sendiri sampai di penthouse, ketika Amanda baru terbangun dari tidurnya yang lelap.
"Ka, kamu baru pulang?" tanya Amanda pada Arka yang kini berada disisi tempat tidur.
Arka tengah memperhatikan Amanda, seakan memang sedang menunggu istrinya itu untuk bangun.
"Aku sama Rio habis dari kantor polisi." jawab Arka.
"Loh kenapa?. Kalian bikin kasus?" tanya Amanda panik.
Ia kini bangun dan duduk ditempat tidur sambil menanti jawaban dari Arka.
"Nggak, orang yang mukul kamu itu udah dapat."
"Maksudnya, semalem kamu sama Rio menangkap pelakunya?" tanya Amanda kian khawatir. Ia kini memperhatikan lengan Arka yang memerah seperti bekas perkelahian.
Arka mengangguk.
"Kita ke kantor polisi ya. Polisi juga butuh keterangan kamu." tukas pemuda itu.
"Sekarang?" tanya Amanda.
"Iya, kamu cuci muka dan gosok gigi dulu. Kita pergi sekarang." ujar Arka.
Amanda kemudian beranjak. Tak lama setelah itu ia dan suaminya menyambangi kantor polisi yang dimaksud. Ia sempat melihat sejenak wajah pelaku dan masih mengenalinya meski samar.
Amanda memberikan keterangan dengan sebenar-benarnya dihadapan polisi. Ada banyak pertanyaan yang dilontarkan padanya. Hampir satu jam ia berada di ruang pemeriksaan. Hingga akhirnya ia dinyatakan selesai dan boleh pulang.
"Ka."
Seorang polisi memanggil Arka dan menghampirinya. Ketika Arka dan Amanda tengah menuju ke halaman parkir.
"Ilham?"
Arka mengenali teman, sekaligus kakak kelas semasa SMA-nya itu dengan baik.
"Hey, bro. Apa kabar lo?" tanya Arka dengan rasa percaya tak percaya sekaligus senang. Sebab sudah lama sekali mereka tidak bertemu.
"Baek, bro." jawab Ilham dengan nada ramah.
"Lo dinas disini ternyata?" ujar Arka lagi.
"Iya, dan ini...?" Ilham melihat ke arah Amanda.
"Ini Amanda, bini gue."
Arka memperkenalkan Ilham pada Amanda. keduanya lalu saling bersalaman dan tersenyum satu sama lain.
"Gue dikasih tau Rio, kalau di dalam tuh ada tersangka yang kasusnya menimpa lo berdua. Gue nggak nyangka juga kalau lo udah nikah." ujar Ilham kemudian.
Arka pun tertawa kecil.
"Iya, gue nikah juga baru akad koq. Nanti pas resepsi lo dateng ya." tukasnya.
"Asal jangan lupa ngundang aja." ujar Ilham seraya tertawa.
"Pokoknya lo berdua sabar aja, polisi pasti bisa bikin dia bicara selengkap-lengkapnya."
"Thank you, bro. Gue pasti akan menyusahkan lo dan teman-teman lo dalam kasus ini."
"Nggak apa-apa, itu udah jadi tugas dan kewajiban kami sebagai anggota kepolisian."
Obrolan mereka berlangsung beberapa saat, sampai kemudian Arka dan Amanda berpamitan.
***
"Ka, kira-kira orang itu suruhan siapa ya?" tanya Amanda, ketika mereka sama-sama sudah berada didalam mobil.
Arka menghela nafas.
"Aku belum tau, Man. Tapi aku harap polisi bisa segera mengungkap siapa dalang dibalik semua peristiwa ini. Biar kita bisa hidup tenang." ujarnya kemudian.
Amanda mengangguk, tak lama setelah itu mobil pun sudah terlihat berjalan meninggalkan kantor polisi.
Disepanjang perjalanan Amanda terus gelendotan di bahu Arka. Pasalnya ia masih sangat mengantuk sekali, karena terbangun lebih awal.
"Man, kamu jangan mikir macem-macem ya. Jangan banyak beban."
Amanda mengangguk.
"Pokoknya kamu harus happy, nggak boleh stress. Kalau stress nanti dampaknya bisa kemana-mana."
"Iya, Ka. Cuma masih nggak abis pikir aja. Ada gitu orang yang mau celakain aku, tanpa aku tau salah aku apa."
"Namanya manusia, kita nggak bisa membuat semua orang untuk suka sama kita. Tinggal kitanya aja yang waspada."
Amanda menghela nafas, ia makin menempelkan kepalanya di bahu pemuda itu.
"Istri aku laper nggak?" tanya Arka Kemudian.
Ia ingin mengurangi ketegangan yang ada di pikiran Amanda, sebab ia tau Amanda masih memikirkan hal ini dengan serius. Hal itu terlihat dari raut wajahnya dan cara ia memegang tangan Arka.
"Iya, aku mulai laper." ujar Amanda.
"Mau sarapan choco lava?" tanya Arka.
"Choco lava cake?" Amanda balik bertanya.
"Iya, aku tau tempat yang enak."
"Mau."
"Ya udah, ayo!"
Arka tersenyum pada istrinya, secara serta merta Amanda minta dipeluk. Arka pun memeluk istrinya itu, meski harus bersusah payah mengendalikan kemudi seraya memberi pelukan.
Ia mengajak Amanda untuk pergi ke sebuah kafe yang buka 24 jam. Disana mereka mendapatkan cake dan juga minuman hangat. Amanda memakan 3 cake, 2 roti, serta dua gelas susu.
Ia juga masih meminta Arka untuk dibawakan pulang beberapa. Arka memenuhi seluruh permintaan istrinya. Semua demi agar wanita itu bahagia dan sedikit melupakan kasus yang tengah menyita perhatian mereka.
***
Pukul setengah sembilan pagi, Intan tiba di depan gedung kantor. Ia melangkah gontai karena masih mengantuk. Namun tiba-tiba ia melihat Rani yang berada di sisi kanan gerbang. Wanita itu tampak menelpon dengan wajah panik.
Perlahan Intan pun mendekat dan menguping pembicara Rani dari balik pohon besar yang ada disitu.
"Lagian kenapa bodoh banget, sih. Ngadepin bocah kayak Arka aja nggak bisa."
Intan terkejut mendengar kata-kata itu. Mengapa Rani menyebut nama Arka, pikirnya. Apa sesungguhnya yang telah diperbuat oleh wanita itu.
"Terserah deh, pokoknya awas kalau sampe buka mulut. Gue stop semua biaya pengobatan anak lo."
Rani lalu menutup telponnya dengan wajah yang begitu kesal. Tak lama ia berjalan dan masuk ke dalam kantor.
***
Disebuah jalan, Rachel tampak melangkah dengan angkuhnya sambil menenteng sebuah tas mewah mentereng. Ia sepertinya tengah mencari keberadaan seseorang.
Ia mengeluarkan sebuah handphone dan menghubungi satu nomor. Lama panggilan tersebut terhubung tanpa ada yang mengangkat. Ia terus melangkah kesana kemari sampai kemudian,
"Braaak."
Bahunya menabrak seseorang yang tengah berjalan dengan seseorang lainnya. Rachel kaget, begitu juga dengan orang itu. Rachel menatap orang itu seraya membersihkan bahunya, seolah ia telah bertabrakan dengan orang yang menjijikkan.
"Dih, sombong banget sih tuh orang." Salah satu dari mereka menggerutu kesal.
"Nggak apa-apa, Ti. Orang kaya emang gitu." jawab yang satunya lagi.
"Mbak Amanda nggak gitu, bu."
"Itu kan mbak mu, orang kaya lain belum tentu sama."
"Pasti ibu-ibu yang nabrak ibu tadi itu OKB. Kalau nggak istri muda."
"Koq kamu bisa berfikiran gitu?"
"Biasanya istri muda yang dulunya miskin, pas dapat suami kaya jadi belagu. Setidaknya itu yang sering Rianti tonton di TV, bu."
"Ti, Ti, Kamu itu ada-ada aja."
Mereka lalu melanjutkan langkah.