
Amanda tak lagi mengenakan sehelai benang pun, lalu Arka yang sama polosnya itu menekan tubuh sang istri ke dinding. Salah satu tangannya bergerak kesana-kemari, sementara ciuman mereka semakin panas.
"Hmmh."
Amanda menarik nafas dan mengeluarkan suara, seakan menanti Arka untuk berbuat lebih lanjut. Arka pun kian menggunakan tangannya untuk meraih segala sesuatu yang ia mau.
Sesuatu yang sudah tidak ia lakukan sejak bayi-bayi mereka dilahirkan. Ini sudah hari ke 53 pasca keluarnya bayi-bayi itu dari dalam perut istrinya. Arka telah menahannya selama itu.
"Arka, I Miss you." bisik Amanda ditelinga suaminya.
"Oh I Miss you too, Amanda. Hhhh."
Arka makin merapatkan tubuhnya, Amanda melepaskan ciuman itu lalu beralih ke bawah. Ketempat dimana titik kesenangan suaminya berada. Kepala Arka menengadah keatas, sementara tangannya membelai rambut serta kepala istrinya yang tengah beraktivitas itu.
"Amandaaa."
"Hmmmh."
Arka menarik Amanda dan membawanya ketempat yang nyaman, lalu terjadilah semua itu. Amanda kembali terlonjak-lonjak keatas, dengan kedua tangannya meremas sprei tempat tidur.
Tak terhitung lagi berapa kali ia menyebut nama Arka. Sementara suara penyatuan beradu dengan suara ranjang yang berdecit. Arka menumpahkan segala hasratnya yang ia tahan selama ini, hingga kemudian keduanya terhempas dengan satu teriakan panjang.
"Huuh."
Arka menghela nafas lalu tersenyum, setelah semuanya terselesaikan dengan baik. Amanda ikut tersenyum lalu mencium pipi suaminya itu.
"Untung para bocil nggak bangun." ujar Amanda kemudian.
"Kalau bangun, aku nangis beneran." ujar Arka seraya tertawa.
"Aku juga bakalan bete." ujar Amanda lagi.
"Untungnya mereka pengertian." lanjutnya kemudian.
Tak lama setelah itu, keduanya mandi dan membersihkan diri. Lalu disusul dengan makan malam bersama. Wajah keduanya kini sumringah, seperti habis mendapatkan hadiah besar yang mereka idamkan.
***
Intan tengah berjalan di sebuah tempat malam itu, ia baru saja berbelanja beberapa keperluan pada sebuah supermarket. Gadis itu merasa lapar dan ingin mengisi perut. Kebetulan ditempat yang tak jauh dari sana, banyak pedagang kaki lima yang menjajakan makanan.
Maka Intan pun mampir kesana. Jam sudah menunjukkan pukul 11:00 malam, suasana sekitar tampak sudah tak begitu ramai. Intan duduk pada sebuah warung pecel ayam dan memesan makanan disitu. Sambil menunggu pesanan tiba, ia pun berbalas pesan dengan Ansel.
Seseorang tiba dan memesan, lalu duduk disisi Intan. Intan tak begitu menggubrisnya karena sibuk memperhatikan layar handphone. Tak lama setelah itu, makanan Intan pun selesai dibuat. Ia mencuci tangan dan menggulung lengan cardigan yang ia kenakan.
"Hello girl."
Pria yang ada disampingnya kini berujar, Intan terkejut lalu menoleh. Tampak seorang bule tampan agak tua, tengah berbicara kepadanya.
"Ya." ujar Intan kemudian.
"Ini bule pasti mau ngerayu-ngerayu nih." pikir gadis itu.
"Nggak liat apa gue lagi mau makan, gue suapin kepala lele baru tau rasa lo." gerutunya dalam hati.
"Where is my son?" ujar si bule membuat Intan terhenyak kaget.
"Yo, your son?"
"Ya, Ansel."
Si bule menunjuk ke layar handphone Intan yang lampunya menyala dan memperlihatkan wallpaper foto Ansel.
"Ansel?"
"Iya, saya daddy nya Ansel."
Untuk sejenak Intan terpaku, hingga kemudian.
"O, hai." ujar Intan lalu sumringah. Ayah Ansel tersenyum seadanya.
"Ryan." ujarnya kemudian.
"Intan." ujar Intan seraya masih melihat pria itu. Tak lama pesanan Ryan pun datang.
"Memangnya anda belum bertemu dengan Ansel?" tanya Intan pada pria itu. Ryan mencuci tangan sambil menggelengkan kepalanya.
"I don't know where he is, anak bandel itu."
"Ta, tapi Ansel nggak kasih tau saya. Kalau anda disini."
Intan mulai makan, begitupun dengan Ryan.
"Dia tidak mau bertemu saya."
"Why?"'
"Karena saya banyak aturan dan larangan, sedangkan dia mau bebas. Hidup semau dia, tidak mau bekerja, menghabiskan uang orang tua."
"A, Ansel nggak bekerja?" Intan baru mengetahui hal tersebut.
"Ya, bekerjanya seperti itu saja. Maunya jadi freelancer, jalan-jalan ke berbagai negara. Tidak mau mengurus perusahaan. Hanya Nino yang bisa membanggakan saya, itupun dia memiliki usaha sendiri. Jadi perusahaan saya tidak ada penerusnya."
Intan menghela nafas, ia sudah mengira jika Ansel adalah pengangguran total. Ternyata tidak, Ansel hanya memilih jalan hidupnya sendiri dan tidak mau diatur dalam hal pekerjaan.
"Kamu sudah lama berhubungan dengan Ansel?" tanya Ryan pada Intan.
"Kamu tau di negara kami sana, dia suka gonta-ganti pasangan. Dia bukan laki-laki yang baik."
Intan terdiam.
"Mmm, sejauh ini saya percaya sama Ansel." ujarnya kemudian.
Ia mulai tak nyaman dengan percakapan ini. Acara makan yang seharusnya nikmat, menjadi seolah kehilangan rasa.
"Saya hanya mengingatkan, gadis polos dan baik seperti kamu. Jangan sampai tertipu oleh Ansel." ujar Ryan.
Intan pun hanya diam, lalu melanjutkan makan. Untuk seterusnya ia hanya menanggapi Ryan seadanya.
"Sumpah, itu bapaknya Ansel adalah bule yang paling nggak bule, yang pernah gue temui."
Intan berbicara pada Nadine ditelpon ketika ia telah kembali kerumahnya.
"Hah, maksudnya gimana?" tanya Nadine bingung.
"Iya kayak bukan bule gitu loh."
"Apanya?. Mukanya, posturnya?" tanya Nadine lagi.
"Bukan, sifatnya." ujar Intan.
"Sifatnya kenapa?" Lagi-lagi Nadine bertanya.
"Ya nggak kayak bule pada umumnya. Bule kan cuek ya, anaknya mau berhubungan sama cewek mana aja. Mau menganut agama apa aja, mau ikut sekte sekalipun, bule jarang ngurusin anaknya kalau udah 17 tahun ke atas. Lah ini Ansel 33 tahun, masih aja diurusin sama bapaknya."
"Emang bapaknya ngomong apa sih ke elo?"
"Ya dia ngingetin gue buat hati-hati sama Ansel, katanya Ansel itu penjahat wanita. Sinetron banget nggak sih bapaknya?"
"Lah iya yak, apa urusannya hidup pribadi Ansel sama dia."
"Kebanyakan gaul sama orang tua +62 deh kayaknya, dimana anak masih diurusin sampe tua. Kadang udah punya bini, anak 3, masih aja di recokin emak bapaknya."
Nadine tertawa.
"Tapi kalau Nino, dia nyinggung nggak?"
"Dia muji-muji Nino mulu, malah. Katanya anak yang paling membanggakan dia tuh, ya Nino. Ansel mah ngeselin doang."
Intan berujar seraya tertawa, membuat Nadine jadi ikut terbahak. Obrolan mereka pun lalu berlanjut.
***
Esok harinya, Arka mengatakan pada Amanda jika ia ada meeting dengan orang manajemen sepulang dari kantor. Kemungkinan besar ia akan pulang tepat tengah malam atau lebih. Amanda mengiyakan saja ucapan suaminya itu
Ketika menjelang tengah malam, rapat dan perbincangan di kantor manajemen pun dibubarkan, Arka pulang ke penthouse seperti biasa. Namun ketika sampai, ada sebuah pemandangan yang tak biasa disana.
Pasalnya hampir semua lampu di matikan, hanya lampu kamar anaknya saja yang tampak hidup. Tak biasanya Amanda seperti itu. Kalaupun harus mematikan lampu, dapur dan ruang makan pasti menyala. Tapi malam ini semua mati kecuali yang satu itu.
"Amanda?" Arka mencoba memanggil istrinya.
Tak ada jawaban. Arka bergegas menuju ke kamar anaknya, namun anak-anaknya tak ada di dalam box.
"Oh God."
"Apa tadi Amman kesini dan membawa mereka?"
Pikiran Arka mulai runyam, dengan penuh rasa panik ia pun keluar dari dalam kamar anaknya itu.
Namun,
"Happy birthday papa, happy birthday papa. Amanda menghidupkan lampu dan muncul dengan sebuah kue, lengkap dengan lilin angka 22 tahun. Arka yang terkejut itu pun tak kuasa menahan air matanya.
"Happy birthday our papa, happy birthday papa."
Arka meniup lilin tersebut lalu memeluk istrinya cukup lama. Sementara bayi-bayinya ada didalam stroller, mereka tidak tidur dan tampak memperhatikan semua itu.
"Happy birthday ya, Ka." ujar Amanda.
"Makasih, sayang." Arka masih enggan melepaskan pelukan istrinya.
"Makasih." ujarnya sekali lagi lalu mengusap air matanya.
Arka menghampiri bayi-bayinya, lalu mencium mereka satu persatu.
"Bro."
terdengar sebuah suara. Arka menoleh, ternyata Rio.
"Elo?"
"Iya, aku menyembunyikan laki-laki lain dirumah selain kamu." ujar Amanda setengah tertawa. Tak lama kemudian Rianti muncul, Arka pun kemudian ikut tertawa.
Rio memberi selamat padanya, begitupula dengan Rianti. Ibu dan ayahnya video call untuk mengucapkan selamat pada Arka. Mereka meminta maaf tidak bisa hadir, karena sedang ada acara keluarga di rumah keluarga ayah tiri Arka.
Tak lama pihak manajemen pun video call dengan Arka dan mengucapkan hal yang sama. Arka kian bahagia sekaligus haru, usianya kini telah menginjak angka 22.
Acara pun dilanjutkan dengan makan bersama, Rio dan Rianti menginap malam itu. Rianti menemani Amanda, sedang Rio dan Arka menghabiskan waktu dengan main play station.