
Satya dan Deni bergerak ke arah lokasi kejadian, tempat tadi dimana Amanda diserang oleh seseorang. Mereka menyusuri lokasi dan mendatangi setiap toko yang ada disekitar. Menanyakan apakah cctv di toko tersebut menyala atau tidak, saat peristiwa itu terjadi.
Sementara di rumah sakit, Rani melangkah masuk ke ruangan tempat dimana Amanda tengah dirawat. Ia datang dan memeluk Amanda.
"Sorry banget, Man. Gue baru tau kejadian ini." ujar Rani lalu duduk di sisi Amanda.
"Nggak apa-apa koq, Ran. Gue udah baik-baik aja sekarang."
"Iya, tadi Satya sama Deni heboh dikantor. Jadi sekantor udah pada tau. Mereka mau kesini semua, tapi gue bilang suruh gantian aja datangnya. Takut ganggu istirahat lo."
"Nggak juga sih, Ran. Gue sebenernya udah nggak apa-apa, tapi Arka maksa supaya gue disini dulu. Dia bilang takut kalau ada apa-apa sama gue."
"Bener, sih." ujar Rani.
"By the way, gimana lo sama Arka. Udah siap pisah 3 bulan lagi?"
Rani mengeluarkan pertanyaan, yang seakan hendak mengetahui betul kabar rumah tangga Amanda. Dari awal menikah, Amanda memang tidak pernah membahas lebih dalam tentang kehidupannya bersama Arka.
"Gue kayaknya nggak jadi cerai, deh." ujar Amanda kemudian.
"Loh kenapa, lo berubah pikiran?" tanya Rani.
Amanda membuang pandangan ke suatu sudut, lalu mengangguk. Ia kemudian kembali menatap Rani sambil tersenyum.
"Lo, sama Arka sepakat?" Rani seakan tak percaya.
"Iya, dia bilang dia cinta sama gue. Dan gue juga kayaknya cinta sama dia."
"Lo serius?. Sama anak muda gitu, lo percaya?"
"Ya, kenapa nggak?"
"Dia itu cuma mau manfaatin lo lebih lama, Man. Anak seumur gitu mah, mana bisa serius."
"Dia nggak seburuk yang lo kira koq, Ran. Dia juga udah nggak pernah minta uang lagu sama gue."
"Ya iyalah, tujuannya udah tercapai. Hutang orang tuanya udah lo lunasin, biaya pengobatan bapaknya aja ratusan juta. Gila aja kalau mau minta lagi, nggak tau diri banget." ujar Rani ketus.
"Ya, gue mah coba aja dulu. Kalaupun ada apa-apa gampang, tinggal gue tinggalin."
"Iya, sih." ujar Rani kemudian.
Amanda pun menyudahi topik obrolan mengenai Arka. Ia agak kurang nyaman dengan respon dan cara pandang Rani terhadap Arka. Baginya, urusan rumah tangganya adalah murni urusannya bersama Arka. Lagipula, bagaimana sikap Arka, Amanda sendiri lah yang paling bisa menilai dan merasakan.
Amanda bertemu Arka setiap hari. Segala baik-buruknya Arka, ia sudah mulai mempelajari dan paham sedikit demi sedikit.
Beberapa saat berlalu, Intan berlarian menuju tempat dimana Amanda dirawat. Dari kejauhan, ia melihat Rani yang keluar dengan wajah tegak congkak, sambil tersenyum sinis. Tak jelas apa yang tengah ia pikirkan, hingga bisa tersenyum seperti itu.
Rani kemudian tampak menelpon seseorang, tak jelas pula apa yang tengah dibicarakannya. Karena Intan sendiri berada agak jauh dan tak bisa mendengar perkataan Rani. Yang jelas gerak-gerik Rani sangat mencurigakan.
"Hallo."
Tiba-tiba Satya menelpon.
"Apaan sih, Sat?" ujar Intan gusar.
"Udah sampe lo?" tanya Satya pada Intan.
"Udah, tapi gue masih di luar gue. Ada mbak Rani, makanya belum kesana."
"Kenapa emangnya?"
"Gue lagi ngintipin mbak Rani."
"Ngapain lo ngintipin mbak Rani?"
"Dia tuh mencurigakan banget."
"Apanya?"
"Gerak-geriknya."
"Emang dia sekarang lagi ngapain?"
"Nelpon."
Satya melebarkan bibirnya sampai kuping.
"Heh, Leak Rangda. Itu mbak Rani lagi nelpon, ya wajar. Semua orang kan, punya handphone dan berhak nelpon. Napa lu jadi curigaan?"
"Duh, lo tuh nggak ngerti. Ini tuh yang gue bicarakan adalah gerak-geriknya mbak Rani, gesturnya, cara dia ngomong. Kayak lagi merencanakan sesuatu gitu deh, terhadap Bu Amanda."
Kali ini Satya tertawa.
"Lo tuh kebanyakan nonton sinetron tau nggak. Jadi pikiran lo, sama kayak sinteron. Udahlah nggak usah su'udzon sama orang, berfikir positif aja."
"Iya, iyaaa." gerutu Intan kesal.
"Udeh lo jenguk itu, bu Amanda."
"Iye, ini gue mau masuk." Intan melihat ke arah Rani, yang sudah menjauh pergi.
"Buah-buahannya udah Lo beli?"
"Makanya jangan ngelambe turah mulu, curigaan mulu sama orang. Urusan sendiri nggak keurus kan?"
"Iya, iya. Sewot banget sih, lo. Udah ah, gue mau beli buah dulu. Bye."
Intan lalu menyudahi panggilan Satya secara sepihak. Detik berikutnya si biang gosip kantor tersebut, terlihat meninggalkan rumah sakit untuk membeli buah.
Usai membeli buah dan beberapa makanan lainnya untuk Amanda, Intan kembali kedalam rumah sakit. Namun, Ia mendapati hal yang lebih mencurigakan di muka kamar Amanda.
Pasalnya didepan ruang rawat tersebut tampak seorang laki-laki bertampang menyeramkan tengah mondar-mandir, sambil sesekali celingukan. Khawatir terjadi sesuatu dengan Amanda, Intan pun segera menghampiri pria itu.
"Mohon maaf, pak. Ada apa ya?. Kenapa mondar-mandir disini?. tanya Intan penuh kecurigaan.
Pria tersebut tidak menjawab. Ia menatap tajam ke arah Intan, lalu pergi meninggalkan tempat itu begitu saja. Buru-buru Intan pun masuk kedalam dan memastikan keadaan Amanda. Ternyata Amanda tengah mengurus pekerjaan di laptop.
"Intan."
Amanda terkejut dengan kehadiran Intan. Sementara Intan pun terkejut melihat Amanda sendirian, tak ada yang menjaga.
"Bu Amanda sendirian?" tanya Intan, seraya meletakkan bawaannya ke sisi tempat tidur Amanda.
"Iya sendiri, kamu repot-repot banget bawain makanan segala."
Intan tersenyum.
"Nggak apa-apa, bu. Lagian itu ada uangnya anak-anak kantor juga. Sebagian dari mereka belum sempet jenguk ibu, makanya pada nitip."
"Bilangin ke semua yang ada dikantor, saya udah nggak apa-apa. Paling dua atau tiga hari lagi, saya pulang."
"Suami ibu kemana?" tanya Intan kemudian.
"Ada sesuatu yang harus dia urus, katanya. Makanya dia pergi. Kenapa, emangnya?"
"Tadi..."
Intan mengingat kelakuan mencurigakan dari Rani. Tak lama setelah itu, ada pria yang juga mencurigakan tampak mondar-mandir di depan kamar Amanda.
"Tadi kenapa?" tanya Amanda menanti kelanjutan ucapan Intan. Namun Intan tak mungkin sembarangan mengatakan tuduhannya terhadap Rani. Sebab Rani adalah sahabat Amanda. Bisa-bisa Amanda malah marah, jika Intan menuduh wanita itu macam-macam.
"Tadi ada orang mencurigakan, bu. Mondar-mandir didepan kamar ibu."
"Oh, ya?. Laki-laki atau perempuan?" tanya Amanda kemudian.
"Laki-laki, bu. Mukanya serem."
Amanda tampak berfikir, lelaki yang menyerangnya juga berwajah seram. Apakah laki-laki itu mengetahui jika Amanda dirawat ditempat ini?. Jika iya, apakah ia hendak mencelakai Amanda lagi?. Siapa yang menyuruhnya?. Apa maksud dan tujuannya?"
"Intan."
"Iya, bu."
"Kamu masih banyak kerjaan nggak?" tanya Amanda.
"Hmm, nggak koq bu. Kenapa emangnya?" tanya Intan pada Amanda.
"Kamu mau nggak, nemenin ibu disini. Sampe suami ibu datang?"
"Oh, ya udah nggak apa-apa. Mau sampe jam berapapun, ayok."
Amanda tersenyum.
"Makasih banyak ya, Intan."
"Iya, bu."
Di tempat kejadian perkara, Deni dan Satya akhirnya bisa menemukan satu toko yang memiliki rekaman CCTV jelas, terhadap peristiwa yang menimpa bos mereka, Amanda.
Meski masih dongkol lantaran Amanda menikah dengan Arka beberapa bulan yang lalu. Dan meski menganggap jika Arka adalah saingan mereka, namun Satya dan Deni memberitahu Arka soal ini. Mereka meminta Arka untuk datang dan melihat langsung kejadian, sekaligus untuk mengenali ciri-ciri pelaku.
Arka sendiri tidak memberitahu Amanda jika ia tengah melacak pelaku tersebut. Sebab terakhir kali mengutarakannya, Amanda tampak tidak setuju.
"Udalah, Ka. Jangan...!" ujar Amanda saat itu.
"Aku takut nanti kamu di celakai oleh orang itu, terus kamu kenapa-kenapa. Nanti aku lapor aja ke polisi, jangan kamu yang bertindak sendiri. Aku lagi hamil, Ka. Kalau terjadi apa-apa sama kamu gimana?" lanjut Amanda lagi.
Karena perkataan itulah, Arka merahasiakan hal ini. Ia sudah sangat geram dan ingin segera menghajar, orang yang telah membahayakan jiwa istri dan anaknya tersebut.
Arka meminta rekaman CCTV itu dan membawanya ke kantor polisi. Satya dan Deni sendiri turut melaporkan kejadian tersebut.
"Gimana sekarang?" ujar Satya pada Arka ketika laporan telah selesai dibuat.
"Gue akan cari orang itu. Gue juga udah berkoordinasi sama temen-temen gue yang lain, mereka mau bantu cari. Ada beberapa orang yang kami curigai." ujar Arka.
Dalam hatinya ia menaruh curiga pada Nino, bisa saja laki-laki itulah pelakunya. Karena saat ini, ia tengah sakit hati pada Amanda. Namun tak menutup kemungkinan jika ini dilakukan oleh orang lain, yang menaruh dendam pada pada istrinya itu.
"Ya udah, gue sama Deni juga akan bantu cari mulai hari ini." ujar Satya.
Mereka pun keluar dari kantor polisi, Arka melangkah menuju mobilnya.Tanpa ia sadari jika Rianti yang berada tak jauh dari tempat itu, kini tengah memperhatikan dirinya.
"Mas Arka ngapain ke kantor polisi?" gumam nya kemudian.