
"Azka mana?"
Amanda bertanya pada suaminya dalam sebuah pesan singkat di WhatsApp.
"Ada, baru tidur." balas Arka.
"Afka?" tanya Arka pada istrinya itu.
"Ada, lagi minum susu." jawab Amanda.
"Oh, nggak tidur dia?" tanya Arka lagi.
"Baru bangun, emangnya Azka tidur?" tanya Amanda.
"Iya, tidur barusan."
"Tumben." lagi-lagi Amanda membalas.
"Capek dia, main sana-sini. Di cubit sana-sini saking gemesnya orang." ujar Arka.
"Hahaha, kasihan 😛. Baguslah tidur, biar nggak rewel. Dia kalau kurang tidur, rewel banget. Tapi begadang nggak pernah tinggal."
"Wkwkwkwk.😋😋 Btw mama nya udah makan belum?"
"Hmm, udah. Papanya udah belum?"
"Udah juga dong, duluan. 😁"
"Nanti jadi kan, jenguk Nino?"
"Jadi dong sayang, nanti aku jemput."
"Ok deh, aku lanjut kerja dulu ya Ka."
"Iya, sayang. 😘💕"
"💩💩😋😘"
Arka tersenyum melihat balasan terakhir dari istrinya itu. Lalu, ia pun menyudahi obrolan tersebut.
***
Sementara di kantor polisi, Amman telah menyelesaikan semua proses interogasi yang ditujukan kepadanya. Meski sebelum di bawa, ia sempat mengelak. Namun Amman kini mengakui kesalahannya.
Ia tidak ditahan, karena para korban yang melapor hanya ingin meminta ganti rugi. Sebagai orang yang memiliki banyak uang, tentu saja Amman dengan sangat mudah menyetujui hal tersebut.
Ini lah yang dulu mendasarinya dalam berambisi mencari kekayaan. Bahwa jika ada masalah, maka uang akan menjadi solusinya.
Amman pun diperbolehkan pulang, dengan sebuah perjanjian. Jika ia tak menyelesaikan segera perkara ini dengan cara kekeluargaan, maka para korban berhak untuk melaporkan kembali dan Amman akan dipenjarakan.
"Buuuk."
Sebuah pukulan mendarat di wajah Amman. Tepat ketika ia baru saja tiba di muka rumahnya, dan mencoba membuka pintu pagar. Setelah mengklakson beberapa kali, namun tak satupun pembantunya yang mendengar.
"Aston?"
Amman berujar dengan nada penuh keterkejutan, seraya menatap pria yang kini ada di hadapannya.
"Buuuk."
"Buuuk."
"Buuuk."
Tanpa berbasa-basi, Aston menghajar Amman dengan membabi buta.
"Brengsek." teriak Aston penuh kemarahan, ia terus menghajar Amman tanpa ampun.
Amman pun membalas, ia juga memiliki dendam lama terhadap Aston. Karena temannya itu telah merebut Citra darinya.
"Lo emang bangsat. Bahkan hewan pun lebih mulia ketimbang lo, brengsek."
"Buuuk."
Aston memukul kepala Amman, Amman balas menendang temannya itu.
"Buuuk."
"Kenapa, lo ngerasa di khianati Citra?. Hah?" Amman tertawa menyeringai di sela-sela perkelahian.
"Citra mend*sah saat gue tidurin, dia lebih suka punya gue ketimbang punya lo. Dia udah berkhianat dari lo."
"Lo memperkosa dia, bangsat."
"Buuuk."
Sebuah teriakan dan pukulan mendarat dari seseorang yang lainnya. Amman tak mengenali orang tersebut.
"Aaron?"
Aston sendiri terkejut dengan kehadiran anak sulungnya itu. Aaron sejatinya sudah membuntuti ayahnya sejak tadi, karena ia ingin mengetahui siapa pelaku yang sudah membuat hidup ibunya hancur.
"Buuuk."
"Buuuk."
"Buuuk."
Perkelahian menjadi dua lawan satu. Amman mungkin dulu adalah pria tangguh semasa mudanya, namun usia telah merenggut semua itu darinya. Ia kini hanyalah pria tua dengan kekuatan yang terbatas.
Aston dan puteranya Aaron mengeroyok Amman hingga babak belur. Bahkan di sesi terakhir sebelum para pembantu di rumah Amman keluar, lantaran mendengar keributan. Aaron mengeluarkan sebilah pisau dan menancapkan benda tersebut di paha lelaki tua itu.
"Aaaaakh."
Jerit Amman tertahan, darah segar pun mengalir dengan deras.
"Aaaaakh."
Ia kembali berteriak, ketika Aaron memutar pisau tersebut dengan penuh dendam. Orang-orang mulai berdatangan, Amman jatuh dengan pandangan yang mulai kabur. Sementara kini Aston dan puteranya bergegas pergi.
***
Arka menjemput istri dan anaknya yang satu lagi, tepat ketika ia telah kembali dari kantor.
"Hallo, sayang."
Arka dan Amanda menyapa masing-masing bayi, yang tadi dibawa oleh pasangan mereka. Kedua bayi itu tampak antusias.
"Hoayaaa."
"Eheeee."
"Hoayaaa, hoayaaa mulu."
Amanda mencubit gemas pipi Azka. Mereka di letakkan pada kursi tambahan untuk bayi, di bagian tengah.
"Nakal nggak tadi, adek?" tanya Arka pada Afka. Bayi itu malah tertawa.
"Azka juga nggak nakal kan?" ujar Amanda lagi.
"Nggak dong, kan anak baik." jawab Arka. Mobil mereka kini telah berjalan.
"Kita ke supermarket dulu ya, Ka." lagi-lagi Amanda berujar.
"Iya, siapa yang mau ikut ke supermarket?" Arka kembali bertanya pada kedua bayinya.
"Eheeee." lagi-lagi kedua bayi itu tertawa.
"Gemes banget, Ka. Sekarang tuh mereka lagi doyan ketawa. Pengen aku cubit kuat-kuat terus aku gigit rasanya." ujar Amanda. Arka pun tertawa.
"Yang lucu itu kalau mereka lagi ngoceh sendirian, itu rasanya pengen aku makan mukanya."
Kali ini Amanda yang tertawa mendengar pernyataan suaminya tersebut.
"Ngomong-ngomong soal makan, kita makan dulu yuk. Sebelum ke Nino."
"Kita bawa aja, gimana?" tanya Arka.
"Ntar si Nino kita beliin semua makanan sehat, buah dan lain-lain. Tapi kita bawa nasi Padang buat makan depan dia. Aku pengen liat mukanya Nino." ujar Arka seraya tertawa.
"Nih saudara jahat, nih." ujar Amanda seraya ikut tertawa.
Sementara itu di rumah sakit, Nino memaksa diri untuk menghabiskan bubur dan makanan lain yang disediakan rumah sakit untuknya. Ia kini di suapi oleh Nadine.
"Ayo abisin!" ujar Nadine seraya menyodorkan sendok berisi bubur ke mulut Nino.
"Udah." ujar Nino sambil menahan muntah dan menjauhkan sendok tersebut.
"Ayolah pak, kalau gini gimana bisa sembuh coba?"
Nino tersenyum seraya mengatur nafasnya.
"Aku itu nggak suka bubur, apapun topingnya." ujarnya kemudian.
"Iya deh, nih minum dulu."
Nadine memberikan segelas air putih, Nino pun lalu menghabiskan air tersebut.
Arka dan Amanda tiba, tepat setelah Nadine berpamitan pulang. Nino telah menyuruh perempuannya itu untuk kembali ke rumah. Alasannya tentu saja, karena Nadine harus beristirahat. Dikarenakan telah beberapa belas jam ini, ia menjaga Nino.
Arka dan Amanda menanyakan kabar Nino, mereka juga membawakan makanan dan buah-buahan kepada saudara mereka itu. Sementara si kembar telah dibawa pulang oleh pak Darwis dan juga Anita. Mereka tadi janji bertemu di depan rumah sakit. Kini Arka dan Amanda, mulai memakan nasi Padang yang mereka bawa.
"Bagi woi, nggak ada akhlak nih ya." ujar Nino setengah tertawa, ia kesal pada sikap saudara-saudaranya itu.
"Hmm, enak Nin. Lo liat nih rendang sama perkedelnya." ujar Arka.
"Emang brengsek lo, ya." ujar Nino lagi.
Arka tertawa dan terus makan.
"Amanda." Nino merengek pada saudara perempuan yang belum ia ketahui tersebut.
"Nggak boleh." celetuk Arka, namun dengan jahatnya ia melahap nasi Padang tersebut sambil menghadap ke arah Nino.
"Lo juga baru bisa minum air doang kan?. Belum boleh makan."
"Ini udah berapa belas jam, Bambang. Gue udah boleh makan." Nino membela diri.
"Lo itu ketusuk di bagian perut, makanan Lo juga pasti di sesuaikan untuk itu."
"Tapi kan bukan di area lambung. Orang dipinggir." Nino bersikeras.
"Pokoknya nggak." ujar Arka.
"Amanda, dikit aja. Please!"
Amanda tertawa lalu mendekat, ia tak tega mendengar rengekan Nino. Sementara Arka tak menyuruh, namun juga tidak melarang. Ia hanya tertawa ketika istrinya itu mendekat ke arah Nino, lalu menyuapinya dengan tangan.
"Hmm, coba dari tadi." ujar Nino sambil mengunyah.
"Tapi dikit ini aja." ujar Amanda.
"Iya."
Tiba-tiba Rio datang, ia memang telah diberitahu Arka perihal apa yang menimpa Nino.
"Hai, Nin." ujar Rio seraya meletakkan bawaannya ke atas meja.
Nino yang mulutnya masih mengunyah itu hanya mengangkat tangan, pertanda ia menerima kehadiran Rio. Rio pun lalu duduk di dekat Arka.
"Enak nih." ujar Rio seraya menaikkan alis.
"Celamitan lo, bangsat." ujar Arka sambil menyuapi Rio.
Karena Rio berkata tak sekedar menyindir semata, ia benar-benar ingin minta. Rio pun tertawa lalu menerima makanan tersebut.
"Eh, itu si tante Firman, nyuapin Nino. Kagak cemburu lo?" bisik Rio memancing keributan. Ia bertanya seraya masih tertawa.
"Dia kakaknya Firman." bisik Arka.
"Ya iya kakak ipar."
"Beneran kakaknya, Ri." ujar Arka lagi.
"Hah?. Gimana bisa?"
Suara Rio terdengar cukup besar hingga Arka terpaksa menginjak kakinya. Mereka kemudian nyengir dihadapan Nino dan juga Amanda.
"Maksud lo dia, anaknya kakek Sugiono?" bisik Rio pelan.
Arka mengangguk.
"Gimana ceritanya?" tanya Rio masih tak percaya.
"Ntar deh gue ceritain." ujar Arka kemudian.
Mereka pun lanjut makan, setelah itu mereka merokok di sebuah warkop yang ada di seberang rumah sakit. Arka pun mulai menceritakan semua.
"Anjrit si Sugiono ya. Bener-bener crat-**** sana sini, anjir. Tapi gue kasian juga sih, sama kisah masa lalunya dia. Walaupun ujungnya dia jahat, ngenes gitu loh."
"Ya gitu deh." ujar Arka.
"Untung gue orangnya ikhlas menerima, walaupun dulu gue sering ditolak cewek." ujar Rio lagi.
Mereka kini lanjut menghisap batang rokok, dan menghembuskan asapnya ke udara. Tak lama kemudian sebuah ambulans melintas di jalanan depan warkop, ambulans tersebut menuju ke instalasi gawat darurat rumah sakit. Arka dan Rio tidak mengetahui, jika orang yang berada didalam ambulans tersebut adalah Amman.
Ya, laki-laki tua itu berada dalam keadaan kritis. Banyak luka serius ditubuhnya, pasca pengeroyokan yang dilakukan Aston dan juga anaknya tadi.
Amman mungkin tak langsung mendapat hukuman penjara atas semua kelakuannya, ia masih bisa bebas karena memiliki power dan juga uang. Namun sepertinya semesta pun tak tinggal diam begitu saja.
Perlahan tapi pasti, satu demi satu kesakitan mulai ia terima. Seolah karma ingin menggerogoti dan memakan dirinya sedikit demi sedikit, agar ia merasakan betapa perihnya hati orang-orang yang ia sakiti selama ini.