
"Mau yang mana, Ka. Kira-kira?" tanya Amanda pada Arka.
Mereka kini tengah memangku si kembar, sambil memilah-milah contoh undangan pernikahan yang ditampilkan di laman sebuah website. Website tersebut adalah jasa pembuatan undangan pernikahan.
"Ini kayaknya bagus deh." ujar Arka.
"Kenapa nggak yang ini aja?" ujar Amanda.
"Yang kamu pilih itu terlalu rame, Ka." lanjutnya lagi.
"Yang kamu pilih tuh terlalu simpel, Man."
"Ya bagusan gini dari pada rame gitu." ujar Amanda lagi.
"Tapi itu terlalu polos Amanda, bagusan yang ini."
"Bagusan yang ini menurut aku."
"Hoayaaa."
Tiba-tiba Azka dan Afka sama-sama bersuara, dengan nada yang super ngegas. Membuat kedua orang tua mereka mendadak terdiam dan saling menatap satu sama lain.
"Emak bapaknya nggak boleh ribut, Ka." ujar Amanda.
"Kamu sih."
"Ye, orang kamu duluan."
"Hoayaaa."
Azka dan Afka makin gusar, Arka dan Amanda kini nyengir satu sama lain.
***
Jauh sebelum hari itu.
Ningsih tampak mengendap-endap mengikuti langkah suaminya, hal yang tak pernah ia lakukan di sepanjang pernikahan mereka.
Sejak menemukan foto Fiona tempo lalu, Ningsih jadi selalu curiga pada setiap gerak-gerik ayah tiri Arka tersebut.
Hari itu ia sengaja pura-pura ke pasar untuk berjualan, ia bersembunyi di suatu tempat dan mengikuti langkah ayah tiri Arka. Ayah tiri Arka tak menunjukkan tanda-tanda mencurigakan. Ia pergi ke toko seperti biasanya, ia juga tiba di toko dan berdagang seperti biasanya pula.
Ningsih mengintip kegiatan suaminya dari kejauhan. Sampai saat jam makan siang, tiba-tiba ayah tiri Arka pamit pada karyawannya. Ia mulai bergerak meninggalkan toko, dan ibu Arka senantiasa menguntit dari belakang.
Pria itu kemudian menyambangi sebuah toko bunga yang tak jauh dari tempat dimana ia berniaga. Ayah tiri Arka membeli sebuket bunga mawar merah. Bahkan seumur-umur pernikahan, Ningsih belum pernah dibelikan bunga oleh suaminya itu.
Ningsih berfikir, apa jangan-jangan ayah tiri Arka ingin memberikan kejutan padanya. Ia pun sumringah, membayangkan jika bunga itu akan dikirim kerumah.
Maka setelah suaminya itu selesai membeli bunga, Ningsih menunggu notifikasi di handphonenya. Menunggu ayah tiri Arka mengatakan,
"Aku kirim sesuatu untuk kamu."
Ia juga melihat dari kejauhan, apakah ayah tiri Arka meraih handphone untuk menghubungi dirinya atau tidak. Ternyata tidak.
"Ah, mungkin ia ingin memberi kejutan itu nanti." pikir Ningsih.
Lalu ayah tiri Arka mengambil handphone dan ia tampak cukup lama berkutat. Ningsih melihat ke arah handphonenya kalau-kalau ayah tiri Arka mengajak dirinya bertemu di suatu tempat.
Tapi ternyata tidak, malah sebuah mobil kini menghampiri laki-laki itu. Tampaknya itu taxi online. Ya, tadi ayah tiri Arka memesan sebuah taxi online. Bukan untuk menghubungi Ningsih.
"Jangan-jangan dia mau langsung kerumah atau ke pasar." pikir Ningsih. Sedangkan dirinya ada disini.
"Aduh, gawat ini." ujar Ningsih ketika ayah tiri Arka masuk ke dalam taxi dan taxi tersebut melaju.
"Kamu dimana?"
Ibu Arka pura-pura bertanya pada ayah tiri Arka di WhatsApp. Jika ia menjawab on the way kerumah, maka Ningsih akan bergerak kerumah. Namun jika menjawab on the way ke pasar, maka Ningsih akan buru-buru ke pasar. Supaya mereka bertemu di tempat yang tepat.
"Di toko."
Ayah tiri Arka mengirimkan balasan pesan, yang membuat Ningsih seketika terdiam.
"Oh, sibuk kah?" Ningsih masih lanjut dalam kepura-puraan.
"Iya, toko lagi rame." balas ayah tiri Arka.
Hati Ningsih pun mulai resah, bagaimana bisa suaminya itu berbohong padanya.
***
"Kita undangan udah, baju udah. Catering, Ka belum." ujar Amanda.
"Udah." jawab Arka.
"Serius?" Amanda menatap suaminya itu.
"Terpercaya kan?" tanya Amanda.
"Iya, nggak bakal kabur koq. Kalau kabur ya udah, kita pesen makanan via online aja. Orang undangannya juga nggak banyak koq." ujar Arka.
"Iya sih." Amanda tertawa.
"Eheeee."
"Apa kamu ehe, ikut diskusi?" tanya Amanda pada Azka yang berada di dalam pangkuannya.
"Eheeee."
"Afka kenapa diem aja, nak?" tanya Amanda.
Bayi itu mengusap-usap matanya dengan tangan.
"Ngantuk." ujar Arka kemudian.
"Ngantuk mulu, kamu. Main dong, jangan bobok terus." ujar Amanda.
"Hoayaaa." Afka gusar, lalu menguap.
"Hoalah gede banget mangapnya, nak." ujar Arka seraya tertawa.
Tiba-tiba Ibu Arka menelpon, Arka menghidupkan load speaker di handphonenya dan mulai berbicara.
"Iya bu, kenapa?" tanya Arka.
"Ka, masa papamu beli bunga. Seumur-umur nggak pernah beli bunga untuk ibu."
Arka tertawa, Amanda ikut mendengarkan.
"Ya bagus dong, bu. Itu artinya papa mau menunjukkan rasa cintanya sama ibu."
"Tapi bukan buat ibu, Ka."
Arka terdiam.
"Maksud ibu?"
"Ya papa kamu itu tiba-tiba beli bunga, tadi ibu liat. Ibu pikir dia mau kasih kejutan buat ibu, tau-tau dia pergi entah kemana. Pas ibu tanya dia lagi dimana, dia bilang di toko. Padahal dia nggak di toko."
"Ibu tau dari mana papa nggak di toko?"
"Ibu ngikutin papamu dari tadi pagi."
"Ibu nguntit, ceritanya?" tanya Arka.
"Iya, ibu tuh curiga Ka. Sama si Fiona-Fiona itu."
Arka menghela nafas.
"Maksud ibu, ibu curiga papa selingkuh?" tanya Arka lagi. Ia sempat menatap Amanda sebelum mengatakan hal tersebut.
"Iya, Ka. Perasaan ibu nggak enak. Ibu tau, ibu datang ke papamu bukan dalam keadaan suci. Tapi kami ini menikah, suami istri. Gimana lah coba rasanya kalau pasangan kita selingkuh, sedih tau nggak."
"Bu, Arka nggak percaya kalau papa kayak gitu. Papa itu orang baik. Buktinya aja dia mau nanggung jawabin kita selama ini, tanpa dia minta balasan apa-apa."
"Ibu juga tadinya nggak mau percaya, Ka. Tapi melihat tingkah papa mu hari ini. Ibu takut, takut kalau memang papamu punya wanita lain selain ibu. Sebab dia beli bunga, pergi ke suatu tempat. Tapi bilang ke ibu di chat, kalau dia masih di toko."
Arka menghela nafas, lagi-lagi ia dan Amanda saling bersitatap satu sama lain.
"Positif thinking dulu aja, bu. Siapa tau papa lagi mau jenguk temannya yang sakit, makanya beli bunga."
"Orang sakit koq, bawa bunga. Orang sakit itu ya bawa buah." ujar ibu Arka.
"Jangan salah, bu. Ada loh yang sakit dibawain bunga, biar ruangannya seger dan dia cepet sembuh. Emang ibu nggak pernah liat di sinetron-sinetron?"
"Ya kenapa papamu harus bohong, soal dia dimana sekarang. Kalau memang mau jenguk temannya yang sakit, kenapa nggak jujur aja sama ibu."
Lagi-lagi Arka menghela nafas, ucapan ibunya tersebut benar adanya.
"Gini deh, bu. Daripada ibu mengira-ngira, mending ibu tanya langsung aja ke papa. Nanti pas dia pulang, tanya baik-baik dari mana."
"Iya kalau papamu ngaku, Ka. Namanya maling kalau ngaku ya, penjara penuh."
Arka dan Amanda kembali terlibat adu tatap.
"Ya semoga nggak gitu, bu. Arka masih percaya papa koq. Kalau Arka kasih solusi ya itu tadi, ibu tanya langsung aja sama papa. Biar clear masalahnya."
Ningsih terdiam, ia kini tengah menimbang-nimbang.