Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Kejutan Dari Arka


Sementara di sebuah perairan. Yacht atau kapal pesiar kecil yang ditumpangi Amanda dan Arka kini berhenti didekat sebuah pulau kecil.


Pulau tersebut memiliki resort yang menjorok ke laut, persis dengan apa yang pernah Amanda kunjungi di Maldives beberapa tahun lalu.


Yacht tersebut bersandar pada sebuah dermaga kecil, dimana yacht yang tadi ditumpangi oleh Rio dan yang lainnya telah bersandar terlebih dahulu.


Rio dan yang lainnya sudah berada di resort utama, yang terletak agak jauh didalam sana. Sementara kini Amanda baru saja turun ke dermaga dengan dibantu oleh Arka.


"Awas, hati-hati Man." ujar Arka seraya menggandeng tangan wanita itu.


"Huh, udah lama banget nggak menghirup udara kayak gini." ujar Amanda seraya memperhatikan sekitar.


"Biasanya kena asap kendaraan mulu." lanjutnya kemudian.


Arka tersenyum, lalu memberikan kecupan kecil di bibir istrinya itu. Langit tampak begitu cerah, mereka kemudian melangkah dan bergabung dengan Rio dan yang lainnya.


Pada sore hari mereka mengadakan pesta barbeque, dengan hidangan hasil laut yang disediakan oleh resort. Ada banyak makanan disana seperti ikan, kepiting, cumi, udang, gurita, kerang, dan lain-lain.


Amanda sendiri sangat lahap memakan cumi-cumi. Karena dari kecil, ia memang sangat menyukainya hewan bertentakel tersebut.


"Amanda, makan sambelnya diperhatiin. Jangan terlalu banyak." ujar Arka yang kini tengah berdiri di pinggiran balkon resort, sambil meminum segelas wine bersama Rio.


"Iya, pak RT." ujar Amanda melengos.


"Anjrit, pak RT." Rio hampir tersedak.


"Gitu tuh dia, nyebelin kadang."


Arka memperhatikan Amanda, yang kini mendekat ke arah Dito serta Fahri di tungku pembakaran.


"Mau nambah lagi mbak?" tanya Dito.


"Mau, mau ikan ya." ujar Amanda.


Kebetulan ikan tersebut sudah selesai dibakar.


"Ini mbak."


Fahri memberikan ikan tersebut di piring Amanda, Amanda lalu pergi ke dekat para gadis yang tengah duduk di meja. Mereka makan dan mulai berbincang.


"Udah mau jadi bapak aja lu, Ka." ujar Rio.


"Iya, tiga bulan lagi bro."


"Terus kapan lo mau nikahin Amanda secara resmi?"


Arka menghela nafas.


"Secepatnya, Ri. Gue itu udah bilang sama Amanda, udah berapa kali malah."


"Terus, bini lo ngomong apa?"


"Tunggu semua urusannya selesai dulu, katanya. Biar tenang."


"Oh ya udah, jangan lama-lama. Ntar malah pada berubah pikiran. Ntar anak lahir, malah pada bubar jalan."


"Ya, mudah-mudahan nggak sih. Jangan sampe lah." ujar Arka .


"Lo sayang kan sama dia?" tanya Rio lagi.


"Kalau gue nggak sayang, nggak mungkin melendung Ri." canda Arka.


"Hahaha, anjrit lo." ujar Rio seraya tertawa.


Detik berikutnya mereka pun larut dalam obrolan yang panjang.


***


Malam itu, beberapa jam setelah pesta barbeque berakhir. Amanda mengenakan sebuah dress merah, yang pernah ia pakai dulu dimalam pertama pernikahannya dengan Arka.


Arka mengatakan, jika ia ingin sekali melihat Amanda memakai gaun itu lagi. Amanda pun menyanggupi. Kebetulan bagian bawah gaun itu bermodel jatuh, sehingga tidak masalah bagi perut Amanda yang membuncit. Cuma memang kini agak sedikit sesak.


Amanda mengenakan dress tersebut, karena Arka akan mengajaknya ke sebuah private dinner. Pada resort yang menjorok ke pantai.


"Hai."


Arka muncul dengan mengenakan setelan jas. Ia mendekati Amanda yang kini baru selesai berdandan di depan kaca.


"Kamu cantik banget, sayang."


Amanda tersenyum. Arka lalu mengeluarkan sebuah sabuk hitam dan mengikatkannya di kedua mata Amanda. Amanda pun hanya diam saja, karena tampaknya Arka akan memberikan sebuah surprise malam itu.


"Ayo." ujar Arka berbisik ditelinga Amanda.


Wanita itu kemudian berdiri dan mengikuti langkah suaminya. Arka melangkah seraya menggamit lengan Amanda.


Lalu pada sebuah tempat yang telah disediakan, Arka membuka pengikat mata Amanda. Perempuan itu pun terkejut sekaligus takjub. Ketika menemukan sebuah meja, lengkap dengan dua buah kursi.


Kursi dan meja tersebut tersusun rapi, pada balkon yang menjorok ke pantai. Di pinggir pembatas balkon tersebut dipenuhi berbagai macam bunga warna putih. Serta di lantai kayunya, terdapat begitu banyak lilin-lilin cantik. Amanda pun tersenyum bahagia.


"Ka, ini...?"


Tak lama berselang, seorang pramusaji membawakan makan malam mereka yang mewah.


Amanda yang sudah tau akan dinner malam ini, sengaja makan banyak sebelum acara dimulai. Semata agar dinner romantis ini, tak harus dikacaukan oleh selera makannya yang menggila.


Mereka mulai melahap makanan seraya berbincang. Semilir angin dan suara ombak yang menerpa bibir pantai, seakan menjadi saksi betapa syahdunya malam itu.


"Aku suka dessertnya, enak banget." ujar Amanda mengomentari makanan penutup yang mereka makan.


"Aku juga, rasanya nggak terlalu manis."


"Kamu nggak suka makanan manis?" tanya Amanda.


Arka mengangguk.


"Sebenernya kalau manis biasa sih nggak apa-apa. Tapi kalau udah over, nggak enak rasanya di mulut. Tapi ini pas banget, enak." ujar Arka.


"Iya, aku suka banget." Amanda menimpali.


"Oh ya, nanti ada satu dessert lagi. Aku ke toilet dulu nggak apa-apa ya." ujar Arka kemudian.


"Iya udah, sana." Amanda mengizinkan.


Arka lalu mencium kening istrinya itu, dan pergi menuju toilet yang ada didalam resort. Tak lama kemudian pramusaji datang.


Ia membawakan sebuah piring dengan penutup stainless, yang berbentuk setengah lingkaran. Amanda sudah sangat antusias menerima hal tersebut. Pasti lava cake, pikirnya.


Namun ketika penutup itu dibuka, isinya bukanlah apa yang ia pikir. Melainkan sebuah amplop berisi secarik kertas.


Amanda heran, namun ia kemudian mengeluarkan kertas itu. Terdapat tulisan disana dan Amanda pun membacanya.


Amanda.


Saat kamu membaca surat ini, aku sudah pergi. Aku pergi meninggalkan semua perjanjian yang telah kita buat. Aku sudah tidak peduli lagi pada kesepakatan itu. Maafkan aku Amanda, aku tidak dapat lagi memenuhi janjiku. Sebagai laki-laki bayaran untukmu.


Amanda tersentak membaca tulisan itu, tubuhnya kini gemetar. Namun ia tetap berusaha melanjutkan.


Aku pergi dengan membawa semua kenangan yang pernah kita lalui bersama. Pergi sebagai Arka yang diminta sebagai suami sewaan. Tetapi, aku kembali sebagai laki-laki yang ingin melamarmu sebagai istri ku yang sah.


Look at your back...!


Amanda yang hampir menangis itu menoleh dan berdiri. Ia mendapati Arka tengah berdiri, sambil membawa sebuah kotak yang didalamnya terdapat cincin.Tak lama kemudian sebuah kembang api pun meluncur ke atas.


"Boooom."


Amanda mendongak, sebuah tulisan muncul disana.


"Will you marry me?"


Seketika tangis Amanda pun pecah, ia menghambur ke arah Arka dan memeluk pemuda itu.


"I do." bisiknya di telinga Arka. Membuat Arka seketika tersenyum penuh haru. Hingga ia pun ikut meneteskan air mata.


Arka melepaskan pelukannya dan bersimpuh dihadapan Amanda. Lalu ia memasangkan cincin tersebut di jari manis istrinya itu, keduanya kini kembali berpelukan.


"Ka, aku tadi udah takut banget. Aku pikir kamu bakalan beneran ninggalin aku, mana aku lagi hamil begini."


"Man, kalau aku ninggalin kamu. Berarti aku gila, udah itu aja." jawab Arka.


Amanda kemudian kembali memeluk Arka dan begitupun sebaliknya.


"Cieeeee."


Tiba-tiba sekelompok tim hore muncul dari suatu arah. Mereka adalah Rio, dan yang lainnya. Mereka membawa kamera serta lighting, ternyata sejak tadi hal tersebut sudah direkam oleh mereka. Amanda tidak tahu, Arka lah yang merencanakan semua ini.


"Udeh sini, foto lagi." ujar Rio mengarahkan Amanda serta Arka. Lalu mereka pun mengabadikan momen tersebut dari segala sisi.


"Udah, udah gantian. Kita foto bareng." ujar Fahri.


Tak lama mereka pun berfoto bersama Arka dan juga Amanda. Lalu Arka dan Amanda digeser secara paksa, dan tempat diambil alih oleh mereka.


"Sana, sana!"


"Ih, gue duluan."


"Bikin insta story yuk."


"Rio, fotoin."


Suasana menjadi riuh. Sementara Arka dan Amanda tertawa-tawa memperhatikan tingkah mereka.


"Ka."


"Hmm?"


"I love you."


"I love you too."


Arka mencium bibir Amanda, seraya memberikan usapan diperut istrinya itu.