
Sudah dua hari berlalu pasca kedatangan Rachel ke rumah sakit. Amman masih saja memegang botol vial berisi racun, yang diberikan oleh istrinya itu.
Sesekali ia memandangi botol tersebut, dan memikirkan segala kejahatan yang telah ia lakukan selama hidupnya. Ia juga terpikir bagaimana jika akhirnya para korban melapor, dan dia harus menghabiskan masa tua di penjara.
Pastilah akan sangat sulit sekali baginya, mengingat hukuman yang akan ia terima pastilah sangat berat dan lama. Mendadak Amman pun menjadi takut. Bahkan mungkin ini adalah ketakutan pertama dalam hidupnya, selama ia menjadi orang jahat.
Ia bukan takut dengan jeruji besi nya, hanya takut mati sendirian disana. Ia masih ingin hidup lebih lama lagi.
Namun agaknya tak banyak pilihan yang bisa ia tentukan, karena penjara sudah menunggu didepan mata. Ia membayangkan betapa sulitnya hari-hari yang akan ia jalani didalam sana nantinya.
Masih lebih baik jika mengakhiri hidup dan mati dengan tenang saat ini. Ketimbang harus bertanggung jawab, bolak-balik sidang, melakukan pembelaan dan lain sebagainya. Lalu hasilnya, ia akan tetap di penjara-penjara juga.
"Taaak."
Tutup botol vial tersebut dibuka oleh Amman. Mungkin inilah jalan yang terbaik, agar tak ada siapapun yang bisa menjeratnya.
Amman mulai mengarahkan racun tersebut ke mulutnya, namun tiba-tiba seseorang masuk. Buru-buru Amman menutup kembali botol tersebut dan menyembunyikannya di bawah bantal.
Ternyata Vera yang datang, wanita hamil itu berjalan susah payah ke arah Amman. Sambil sesekali menekan pinggangnya yang terasa nyeri.
"Hai." ujar Vera sambil berjalan mendekat dan berusaha tersenyum di sela-sela nyeri perut yang ia alami.
Ini sudah bulan dimana ia harusnya melahirkan. Namun dokter mengatakan jika hal tersebut masih tiga minggu lagi.
Mendadak hati Amman serasa di remas-remas, rasanya begitu sakit ketika memikirkan betapa bodohnya ia tadi. Sedang di dalam kandungan Vera, ada anaknya yang belum lahir.
Amman lalu meraih Vera secara serta-merta dan memeluk wanita itu dengan erat. Vera sendiri terkejut pada sikap pria tua itu. Pasalnya Amman terdengar terisak, seperti sedang menangis.
"Hei, why?" tanya Vera kemudian.
Amman melepaskan pelukan, lalu menyeka air matanya dengan tangan. Ia masih berusaha terlihat tegar dan kuat. Hanya saja kini ada senyum tipis di bibirnya, hal yang bahkan sangat jarang ia lakukan.
"Aku bawain makanan." ujar Vera kemudian, seraya membuka tas tangan miliknya. Ia lalu mengeluarkan sebuah kotak makan dari dalam sana.
"Apa ini?" tanya Amman kemudian.
"Ini ada nasi dan lauk yang aku masak sendiri, makan ya?"
Amman mengangguk, biasanya ia tak selembut itu menanggapi kebaikan orang. Ia kini memperhatikan Vera yang tengah membuka kotak makan. Dan ketika Vera menyendok lalu mengarahkan makanan itu ke padanya, Amman pun terdiam. Seketika air matanya menetes, sambil menerima makanan tersebut.
Usai menerimanya, Amman lalu memalingkan wajah ke arah lain, namun Vera mengetahui jika ayah dari anaknya itu tengah menitikkan air mata. Vera memberikan tissue padanya, Amman pun lalu menyeka air mata dan berusaha menelan makanan.
"Saya, ingat ibunya Amanda."
Amman berujar lalu menundukkan pandangan, air matanya kembali menetes. Kali ini Vera meletakkan makanan tersebut ke atas meja. Lalu mengambil tissue lagi dan membantu menghapus air mata pria itu.
"Dulu kalau saya sakit, dia selalu merawat saya seperti ini. Tapi dengan jahatnya, saya selalu membentak dia. Mengatakan kata-kata yang kasar, menghina, bahkan memukul. Tapi dia tidak pernah membalas, bahkan membantah pun tidak."
Amman kian terisak dalam tangis, ia menyesali apa yang dulu telah ia lakukan pada mendiang istrinya. Vera lalu memberikan air minum, setelah pria tua itu cukup tenang dan berusaha menghentikan tangisnya.
"Kamu sebentar lagi melahirkan kan?" tanya Amman seraya mengelus perut wanita itu. Vera tersenyum lalu mengangguk.
"Iya." jawabnya kemudian.
"Tiga minggu lagi, kata dokter."
"Dia?"
"Dia perempuan." ujar Vera.
Lagi-lagi Amman menitikkan air matanya, namun kali ini ia tersenyum.
"Kalau kamu melahirkan, jangan lupa kasih tau saya. Saya bahkan tidak pernah ada, saat anak-anak yang lain lahir."
Vera mengangguk lalu tersenyum, tak lama kemudian Amman pun memeluk wanita itu.
***
"Masalah rumah tangga itu, kadang pelik kalau dipikir-pikir. Tapi akan jadi biasa saja, kalau kita bisa menyederhanakannya."
Ayah tiri Arka berujar pada pemuda itu. Hari ini mereka janjian memancing bersama, di sebuah tempat pemancingan umum. Pemancingan itu sangat luas, hingga mereka bisa mendapatkan tempat yang cukup sepi dan bisa berbicara mengenai hal-hal pribadi.
"Bagaimana cara menyederhanakannya?. Ya itu tadi, pikir lagi. Penting atau tidak pertengkaran itu dilanjutkan. Kalau tidak terlalu penting, ya sudah stop disitu."
Arka mendengarkan pernyataan ayah tirinya tersebut, sambil menatap pria itu dengan serius. Sementara tangannya memegang pancing, yang sejak tadi belum juga ada tarikan.
"Dulu, apa papa sering bertengkar dengan ibu?" tanya Arka masih memperhatikan ayahnya itu.
"Sering, kamu aja yang nggak tau. Karena kami tidak pernah bertengkar didepan anak. Diem-dieman sampai sebulan juga pernah."
"Oh ya?"
"Iya, karena ibumu cemburu sama janda yang papa tolong. Dipikir papa ada hubungan sama janda itu."
"Janda yang mana, pa?" tanya Arka.
"Kenapa?. Kamu berniat mencari janda?"
Arka tertawa, begitupun dengan ayahnya. Mereka memang suka bercanda jika sedang berdua seperti ini.
"Bukan itu, pa. Elah." Arka masih tertawa.
"Maksud Arka, jandanya tinggal dimana."
"Tuh kan nanyain jandanya tinggal dimana."
"Dengerin dulu." ujar Arka kesal, namun masih dengan tawanya yang renyah.
"Ada dulu, dibelakang rumah kita. Ngontrak di bu Yuli."
"Oh, terus emangnya papa bantu dia apa."
Papa kasih duit, gara-gara udah beberapa hari papa sering kepergok anaknya nangis. Minta jajan tapi malah di bentak sama dia. Dan papa denger dia ngomong ke anaknya kalau mereka nggak punya uang. Ya papa kasian aja, inget kamu. Kamu kan waktu kecil nggak pernah kekurangan uang jajan, papa iba aja liat anak itu."
"Sering emangnya papa kasih?"
"Lumayan lah, eh diliat ibumu. Papa jelaskan, malah salah juga. Ibumu nggak percaya."
"Terus ribut?" tanya Arka.
"Bukan lagi." ujar ayahnya. Arka terkekeh.
"Terus gimana baikannya?"
"Ya papa akhirnya minta maaf. Kalau nungguin ibumu lunak sendiri mah, lama."
"Pernah nggak, pa. Sampai pisah ranjang atau apa?"
"Oh, kalau itu sih nggak pernah. Coba inget-inget, nggak pernah kan ibu bawa kamu kemana-mana. Terus nggak pulang-pulang seminggu misalnya, pernah nggak?"
"Iya sih, nggak pernah." ujar Arka kemudian.
"Bertengkarnya dirumah, ya selesaikan dirumah. Ngapain harus pisah-pisah ranjang segala, kalau akhirnya seranjang lagi."
Kali ini Arka terbahak.
Mobil Ryan tiba di sebuah area, ia lalu keluar dan membawa beberapa peralatan. Tak lama setelah itu, ia pun melangkah ke dalam sebuah kawasan.
Ia berjalan diantara jembatan kayu panjang dan mencoba mencari posisi, diantara sederet pepohonan yang tumbuh disekitar tempat itu. Ia meletakkan tas, lalu membuka tempat yang berisi alat-alat memancing. Ya, Ryan saat ini tengah memancing.
"Hahaha."
Ryan tiba-tiba mendengar tawa dari suatu arah, ia pun menoleh dan mencari sumber tawa itu. Karena ia seperti mengenali salah satu pemilik suara tawa tersebut. Dan ternyata benar, itu adalah Arka yang tengah tertawa-tawa dengan ayah tirinya.
Baik Arka maupun ayah tirinya itu, tak melihat ke arah Ryan. Ryan pun seketika teringat, jika semalam ia sempat mengirimkan pesan singkat pada Arka.
"Arka kamu suka memancing?" tanya nya pada saat itu, melalui laman pesan di WhatsApp.
"Nggak dad, bete. Mending main game online. Kenapa emangnya, dad?" balas Arka. Ryan pun lalu ngeles.
"Nggak, daddy pikir suka. Soalnya daddy punya peralatan memancing yang sudah tidak terpakai."
"Oh, nggak dad. Hehe."
Begitulah ucapan Arka semalam. Namun hari ini, ia menyajikan sebuah pemandangan yang sedikit melukai hati Ryan.
"Ya nggak bisa gitu dong, pa. Itu sama aja artinya papa dzalim terhadap ikan."
Rio mengoceh di sebuah jembatan kayu, tepat di belakang sang ayah yang kini menuju ke suatu arah.
"Dzalim gimana?. Yang namanya mancing itu ya untuk kesenangan." ujar ayahnya membela diri.
"Kesenangan model apa, udah dapat ikannya terus dilepas lagi. Sementara bibir tuh ikan udah ke tusuk kail. Papa mau nanti kayak sinetron hidayah?. Mulutnya penuh kail."
"Koq kamu jadi nyumpahin papa?. Kesalahan kamu aja banyak."
Ayah Rio mulai menyebutkan kesalahan demi kesalahan Rio, yang sejatinya tak ada hubungan sama sekali dengan perkara yang tadi mereka perdebatkan.
"Tuh kan, kalau udah terpojok. Bisa banget senjatanya, ngomongin soal kesalahan Rio. Padahal itu nggak ada hubungannya."
"Udah ah diem kamu, ngoceh terus kayak emak-emak." gerutu ayahnya.
"Lah kan papa yang ngoceh mulu."
"Rio."
Seseorang menyapanya, Rio dan sang ayah menoleh.
"Hey, bro." ujar ayah Rio pada Ryan.
"Daddy?"
Suara Rio cukup besar, hingga menarik perhatian Arka dan juga ayahnya. Arka terkejut dengan kehadiran mereka semua.
"Woi, Ka."
Rio menyadari kehadiran Arka.
"Sini, bro...!" ujar Arka kemudian.
Mereka pun akhirnya mendekat. Arka agak sedikit merasa tak enak pada ryan, karena ingat percakapan mereka semalam. Namun Ryan sepertinya biasa saja, malah bersikap seolah tak pernah terlibat percakapan apapun juga dengan anaknya itu.
"Pa, ini daddy nya temen Arka." ujar Arka memperkenalkan ayah kandungnya pada sang ayah tiri.
"Sering ke toko saya kan?" ujar ayah tiri Arka seraya memastikan. Ryan pun tertawa.
"Iya." ujarnya kemudian.
Ayah Rio tampaknya paham jika ayah tiri Arka belum mengetahui siapa Ryan, maka ia pun diam saja soal itu. Tak lama setelahnya, mereka pun sudah terlihat memancing bersama. Ketiga orang tua itu seringkali mendapat ikan besar.
Sementara Arka dan Rio harus puas dengan ikan-ikan kecil, bahkan tak jarang mereka malah mendapatkan benda lain. Seperti kepala boneka, sepatu bekas bahkan BH yang entah milik siapa. Namun pada akhirnya mereka makan bersama-sama, pada restoran yang terdapat didalam pemancingan tersebut.