Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Mulai Mereda


Satu jam Arka dan Amanda terdiam, merenungi semua kejadian yang menimpa mereka. Sampai kemudian Arka merasa jika ia harus bangkit dan menyelesaikan perkara ini satu persatu.


"Tok, tok, tok."


Arka mengetuk pintu kamar, namun tak ada jawaban dari Amanda.


"Man, buka pintunya."


Amanda masih tak menjawab.


"Man, aku masih suami kamu ya. Aku bilang buka pintunya...!"


Amanda pun membuka pintu tersebut, kini ia dan Arka saling berhadapan satu sama lain. Namun Amanda lalu membuang pandangannya.


"Liat mata aku." ujar Arka dengan nada tegas dan sedikit mengandung emosi. Amanda tak melakukannya, ia masih membuang pandangan ke arah lain.


"Liat mata aku Amanda...!"


Suara Arka terdengar meninggi, membuat Amanda pun akhirnya menatap mata suaminya itu.


"Apa kamu ngeliat kebohongan dimata aku?" tanya Arka kemudian.


Amanda diam.


"Jawab aku Amanda...!"


Amanda menggeleng lalu menundukkan pandangan, air matanya kini mengalir.


"Terus kenapa kamu nggak bisa percaya?. Kenapa kamu nggak bisa percaya sama aku?"


Arka berusaha mengambil nafas ditengah emosi dan kesedihannya yang memuncak.


"Man semua orang diluar sedang menghujat aku, bahkan ibu aku pun nggak percaya sama aku. Aku nggak punya siapa-siapa lagi, Man. Cuma kamu orang yang harapkan bisa percaya sama aku. Aku...."


Amanda secara serta merta memeluk Arka, sebelum suaminya itu bahkan sempat melanjutkan kata-kata. Amanda menangis, begitupula dengan Arka. Keduanya kini terisak, masalah yang datang seakan menyerang secara bertubi-tubi ke hidup mereka.


"Jadi, sekarang kamu di nonaktifkan?" tanya Arka yang baru saja mengetahui perihal yang menimpa istrinya. Mereka kini duduk diatas tempat tidur.


Amanda mengangguk perlahan.


"Aku juga baru dapat berita dari manajemen, kalau beberapa kontrak kerjaku dibatalkan."


ujar Arka seraya menunduk.


"Apa yang terjadi sama Liana, Ka?" tanya Amanda kemudian.


"Kenapa disembunyikan dari aku." lanjutnya lagi.


Arka pun menceritakan kronologi kejadiannya, bagaimana malam itu ia dan Rio bertemu dengan Liana. Yang saat itu baru saja menjadi korban pemerkosaan.


"Aku sengaja merahasiakan hal tersebut, karena takut kamu jadi kepikiran, Man. Kamu lagi hamil, aku nggak mau kamu khawatir berlebihan. Karena itu bisa mempengaruhi perkembangan bayi-bayi kita."


"Jadi Liana waktu itu masuk rumah sakit barengan aku?"


Arka mengangguk.


"Aku dan Rio mengurusnya dengan baik, bahkan kami membantu polisi menemukan pelakunya. Sekarang semua pelaku sudah tertangkap. Itu yang aku denger dari Rio, sebelum dia kecelakaan."


"Sekarang kuncinya ada pada Liana dan Rio, Ka. Cuma mereka berdua yang bisa membersihkan nama kamu. Kamu udah coba bicara sama Liana?"


Arka menggeleng.


"Aku udah nggak kepikiran apa-apa lagi, Man. Karir aku udah nggak bisa diselamatkan lagi. Rio sekarang koma, mana bisa dia bersuara."


"Masih ada Liana, Ka." kita akan cari dia.


Arka mengangguk lalu kembali memeluk istrinya itu.


***


"Plaaak."


Sebuah tamparan mendarat di pipi Rani.


"Plaaak."


"Plaaak."


"Dasar perempuan ****** lo, Ran. Nggak tau diri."


Rani hendak membalas, namun Amanda keburu menampar wanita itu kembali. Hingga Rani terjerembab jatuh ke kursi.


"Plaaak."


"Nggak tau terima kasih lo, bangsat."


"Plaaak."


"Gue udah nolongin lo dari kita umur belasan tahun, Ran. Kenapa lo lakuin ini semua ke gue?"


Kali ini Rani berdiri dan tertawa menyeringai. Meski wajahnya sudah lebam dan sudut bibirnya mengeluarkan darah.


"Lo tanya kenapa?. Kenapa gue ngelakuin ini semua?. Lo beneran nggak tau, hah?" Rani berteriak di muka Amanda.


"Perhatikan muka gue baik-baik, Amanda. Perhatikan baik-baik."


Rani kini berada sangat dekat dari wajah Amanda.


"Perhatikan, gue mirip siapa?. Gue mirip siapaaaaaa?"


Amanda mundur beberapa langkah, ia masih menatap Rani dengan tatapan yang tak percaya.


"Elo...?"


"Iya, lo pikir kenapa setiap kali kita ngumpul dimanapun. Saat masih sekolah dulu, ada banyak orang yang bilang kalau kita mirip."


Amanda mengingat sebuah kejadian, saat itu ia dan teman-temannya tengah berjalan-jalan di pusat perbelanjaan. Ada seorang SPG yang melihat dirinya dan juga Rani.


"Kalian berdua sekilas mirip ya, tapi cantikan yang ini." ujar SPG tersebut menyebut Amanda.


Kali lain anak-anak di sekolah mereka mulai berceloteh, ketika Amanda dan Rani beserta teman-temannya yang lain melintas.


"Eh, nyadar nggak sih lo kalau Rani sama Amanda itu agak mirip?"


"Tapi cantikan Amanda."


"Iya jauh cantikan Amanda, tapi mereka sekilas mirip."


Amanda mengingat kejadian itu dengan jantung yang berdegup kencang.


"Gimana?. Udah tau?"


"Ran." Amanda masih tak percaya, tubuhnya kini gemetar.


"32 tahun yang lalu, dimalam sebelum bokap lo yang bejat itu menikahi nyokap lo. Dia memperkosa nyokap gue, yang saat itu baru pertama kerja. Sebagai cleaning service di perusahaan bapak lo yang bajingan ituuuu."


"Hah." Amanda mundur beberapa langkah, sementara Arka yang mendengar hal tersebut pun tak kalah syok nya.


"Nyokap gue saat itu berusia 18 tahun, masih perawan dan dia punya pacar. Setelah bokap lo yang bejat itu memperkosanya, nyokap gue hamil. Dia diusir keluarganya, ditinggal sama pacarnya, bahkan jadi bahan omongan satu kampung. Lo tau kan dinegara kita, setiap ada kasus pemerkosaan dan korbannya berusaha speak up. Yang dihujat malah korbannya, dibilang nggak bisa jaga diri, pake baju terbuka dan lain-lain. Nggak ada satupun yang nyalahin pelaku, pelaku brengsek malah dibela. Nyokap gue berusaha keras menghidupi gue sendirian, sampe akhirnya dia ketemu sama bokap tiri gue yang mau nerima keadaan dia. Tapi ketika gue SD, bokap tiri gue meninggal."


"Ya tapi kenapa lo bales sama gue, itu bukan salah gue."


"Salahnya adalah, lo hidup enak, bergelimang harta. Sementara gue dan nyokap gue, nggak."


"Nyokap gue juga menderita, Ran."


"Tapi dia menderita dalam rumah mewah, dalam mobil mentereng, dengan dompet yang selalu terisi tebal. Sementara nyokap gue menderita kena debu jalanan. Sampe nyokap gue ngamen buat biaya periksa kandungan dan persalinan, karena bokap lo yang bajingan itu menolak bertanggung jawab. Dia malah nyuruh orang buat bunuh nyokap gue. Dan orang yang dibayar untuk membunuh nyokap gue itu, akhirnya menikahi nyokap gue."


Air mata Amanda kini mengalir, begitu pula dengan Rani. Namun Rani penuh dengan kebencian menatap saudaranya itu.


"Lo hidup bahagia, apapun yang lo minta dipenuhi oleh bokap lo. Dia bajingan ke orang lain tapi nggak sama lo, dia jelas sayang sama lo. Gue selalu liat gimana cara bokap lo yang bajingan itu, memperlakukan lo. Walau Lo benci sama dia."


"Ran, gue sayang sama lo."


"Gue juga sayang sama lo, Man. Tapi kebencian gue terhadap lo juga sudah mengakar bertahun-tahun. Gue selalu iri, lo bisa dapetin apa yang lo mau. Sementara gue selalu dikasih sisa, kalau ada barang lo yang mau lo buang, gue yang minta. Saking gue sama nyokap gue dulu susah. Semua orang mengelu-elukan lo karena lo pintar, cantik, berprestasi. Sedangkan gue harus hidup dibawah bayang-bayang lo. Lo juga beruntung dapat laki-laki yang sayang sama lo. Sedangkan gue dicampakkan begitu aja, setelah dia bunuh anak dalam kandungan gue. Dan dia bebas berkeliaran karena uang istri barunya yang jadi jaminan. Sekarang walaupun perusahaan lo, gue pimpin sementara. Dalam waktu yang sementara ini, gue akan cari cara. Supaya apa yang pernah lo miliki, jadi milik gue. Udah terlalu lama lo bahagia, diatas penderitaan gue."


Rani berlalu meninggalkan Amanda begitu saja, sementara kini Amanda menangis di pelukan Arka.