Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Acara 7 Bulanan


Sehari sebelum acara 7 bulanan dimulai, Arka dan Amanda sudah datang kerumah saudara ibu Arka. Tepat sesaat keduanya telah menyelesaikan urusan masing-masing. Arka selesai kuliah dan Amanda selesai bekerja.


Amanda dikenalkan pada keluarga Arka dari pihak ibunya dan juga beberapa dari pihak ayah tirinya. Semua keluarga ibu dan ayah tirinya pun tertegun. Ternyata tante-tante dalam dugaan mereka selama ini, sangat berbeda jauh dengan apa yang mereka lihat.


Ibu dan ayah tiri Arka tidak memiliki foto Amanda. Baik Amanda maupun Arka sendiri, tak pernah memposting kebahagiaan mereka di laman sosial media.


Maka ketika keluarga kedua belah pihak menerima kabar, jika Arka menikahi seseorang yang berusia 10 tahun lebih tua darinya. Pikiran mereka langsung kemana-mana. Karena mereka tidak melihat Amanda bahkan melalui foto sekalipun. Mereka pikir istri Arka mirip ibu-ibu anak 5 yang tua, dan lebih pantas menjadi ibunya.


Karena mindset orang di negara ini, jika sudah berusia 30 tahun itu berarti tua. Padahal bintang drama Korea berhamburan, yang berusia diatas 30 tetapi masih seperti ABG. Itu artinya, tua di usia 30 an itu hanyalah perihal tata cara merawat diri dan juga mindset.


Stelah melihat wujud Amanda, anggapan mereka pun seketika lenyap. Meski saat ini Amanda mengalami kenaikan berat badan akibat mengandung, namun kecantikannya tak berubah. Ia justru terlihat lebih glowing akibat hormon kehamilannya itu.


"Ini toh mantu mu?" bisik Wulan pada ibu Arka.


"Cantik." lanjutnya lagi.


"Makanya, jangan terlalu cepat berprasangka toh." Ibu Arka memberikan lirikan seraya tersenyum. Amanda mencium tangan para orang tua atau yang dituakan disana, mereka semua terkesima dengan tata krama wanita itu.


"Cantik ya, istrinya mas Arka." Keponakan Arka saling berbisik, Arka yang tak sengaja mendengar hanya tersenyum.


Mereka berdua disambut baik, dilayani, dijamu dan diberikan berbagai wejangan dalam menjalani bahtera rumah tangga. Arka dan Amanda mendengarkan secara seksama. Meskipun ada pemikiran yang agaknya tidak bisa diterima oleh mereka berdua. Mereka memilih diam dan mengiyakan saja, tak ada bantahan sedikitpun yang mereka lontarkan.


Hal itu pulalah yang membuat keluarga Arka dari pihak ibu maupun ayah tirinya, makin jatuh cinta pada sikap Amanda. Ia dianggap sebagai perempuan manut yang penuh sopan santun. Mau mendengarkan nasehat dan petuah yang diberikan.


"Man, kalau tadi ada saran dari keluarga aku yang kamu nggak suka, kamu skip aja. Nggak usah dimasukkan ke hati. Toh yang menjalani rumah tangga kan kita. Mau di praktekkan kek, mau kagak kek, saran mereka tadi. Mereka nggak akan ada yang tau."


Amanda tersenyum.


"Iya, Ka." ujar Amanda.


"Orang-orang tua itu kadang riweh." tukas Arka.


Lagi-lagi Amanda tersenyum.


"Itulah kenapa, aku nggak jadi sama orang dari aplikasi dating waktu itu.


"Yang mana?"


"Itu loh, yang maksa aku tinggal sama orang tua dan saudara-saudaranya yang udah menikah dalam satu rumah. Pemberontak kayak aku bisa bikin mertua jantungan, Ka. Aku kan bandel anaknya, masih makan yang katanya pantangan, masih melakukan hal yang katanya pamali."


Arka tertawa.


"Iya makanya, tapi ibu aku bukan tipikal yang tradisi banget sih. Keluarganya aja yang begitu, ibu mah santai."


"Iya sih, sepanjang aku ngobrol sama ibu waktu kita nginep. Ibu orangnya santai banget, hampir sama pemikirannya sama aku. Tapi ya tetep aja, aku agak sungkan kalau mesti tinggal satu atap. Nggak bisa jadi murahan depan kamu, kalau lagi begituan. Malu mau teriak-teriak."


Mereka berdua tertawa cekikikan.


"Tapi aku mau loh Ka, ngurus ibu sama papa. Jangan kamu mikir macem-macem soal omongan aku barusan. Ntar dibilang Amanda anti ngurus orang tua lagi."


"Aku tau, Man. Kamu pasti mau ngurus orang tua aku, tanpa aku minta sekalipun. Tapi masalahnya, orang tua aku itu adalah tipikal orang tua yang nggak mau nyusahin anak. Mau kita paksa ikut kita pun, mereka pasti nggak akan mau."


"Kenapa gitu?" tanya Amanda.


"Aku kasih uang aja sering nolak, bilangnya nggak mau nyusahin anak. Kadang ibu sama papa, sering juga ngomong berdua di kamar. Aku suka denger mereka bilang, kita jangan nyusahin anak apalagi menantu. Kalau Arka menikah suatu saat nanti. Terus ibu bilang, aku juga nggak mau mas serumah sama menantu, takut salah ngomong. Selalu itu yang aku denger."


Amanda menghela nafas.


"Kita juga nanti kalau udah tua. Jangan nyusahin anak-anak kita ya, Ka. Kewajiban mereka berbakti, tapi sebagai orang tua nggak boleh menentukan jenis bakti. Kayak misalkan harus kasih kita uang sekian, harus urus kita dimasa tua. Mereka kan titipan, mereka juga punya kehidupan masing-masing nantinya."


"Tapi kamu ikhlas kan bantu ibu sama papa selama ini?"


"Ikhlas dong, Man. Apa yang aku omongin barusan, nggak ada hubungannya sama bakti aku ke ibu dan ke papa. Ini murni aku lagi ngomongin kita berdua."


"Iya, Ka." jawab Amanda kemudian.


"Ka, itu apa?" tanya Amanda kepada Arka. ia melihat seperti nasi namun berwarna warni. Ia juga melihat ada banyak bubur dan kudapan manis didekat situ.


"Tau ibu, katanya buat ritual besok. Padahal dari EO udah ada, kan merangkap catering. Tapi ibu bilang, serasa nggak puas kalau nggak bikin sendiri."


"Boleh dimakan nggak?" tanya Amanda lagi.


"Nggak tau, kayaknya nggak boleh deh Man." Arka melirik ke arah keluarganya, yang masih duduk serta berbincang di ruang tengah.


"Takut ada pamali-pamali nya gitu." lanjutnya lagi.


"Ya udah deh, nggak apa-apa." ujar Amanda lalu tersenyum.


"Kamu pengen banget ya?" tanya Arka.


"Nggak koq." Amanda berdusta. Namun tak lama kemudian, perutnya pun berbunyi.


Arka jadi tak tega melihatnya. Meski Amanda berusaha tegar, namun ia tahu jika ibu hamil itu selalu dilanda rasa lapar. Ia pun lalu mengambil kan beberapa bubur yang ia letakkan di satu piring, lengkap dengan ketan warna-warninya. Ia lalu membawa Amanda ke kamar. Kebetulan kamar yang mereka gunakan, bisa diakses lewat lorong samping dapur. Hingga tak harus melewati keluarganya yang masih berkumpul. Amanda pun kemudian makan di kamar dengan lahapnya.


"Enak banget, Ka. Ini apa sih namanya?" ujar Amanda masih terus makan.


"Aku nggak tau namanya apa. Ada yang nyebutnya jenang, ada yang nyebutnya bubur."


Arka berkata sambil tertawa.


"Au ah, yang penting enak." ujar Amanda. Arka membelai kepala istrinya itu dengan lembut.


"Maaf ya, Ka. Aku nyusahin." ujar Amanda.


"Nggak koq, aku sayang kamu." ujar Arka kemudian.


Waktu berlalu.


Hari yang dinantikan itupun akhirnya tiba. Amanda, Arka beserta seluruh keluarga telah berkumpul dan siap menjalani prosesi serta serangkaian ritual yang telah ditetapkan.


Acara dimulai dengan sungkeman. Karena orang tua Amanda tidak hadir, maka sungkeman itu hanya dilakukan kepada kedua orang tua Arka saja. Jujur hati Amanda agak sedih pada saat itu, karena ibunya sudah tidak ada dan ayahnya kini bersama perempuan lain.


Dalam hati kecilnya, ia juga ingin didampingi oleh orang tua pada saat seperti ini. Hormon kehamilan telah merubah Amanda yang dulu tegar dan tampak keras hati, menjadi Amanda yang begitu rapuh serta gampang terenyuh. Ia menangis saat prosesi sungkeman itu. Teringat akan kedua orang tuanya yang tak bisa hadir bersamanya.


Arka yang seakan mengetahui isi hati dan kepala istrinya tersebut, mencoba menenangkan Amanda.


Lalu acara pun berlanjut ke prosesi selanjutnya yakni siraman atau mandi, yang bertujuan untuk menyucikan ibu serta calon bayi secara lahir bathin. Dalam balutan kain batik, Amanda duduk dan disiram dengan air siraman yang telah ditaburi kembang setaman. 


Tujuh orang terpilih, satu persatu mulai menyiram Amanda dengan gayung yang terbuat dari batok kelapa. Prosesi ini dimulai dari orang yang paling tua di keluarga, kemudian dilanjutkan dengan yang lainnya.


Usai siraman, acara berlanjut ke prosesi-prosesi selanjutnya, seperti ngrogoh cengkir, brojolan, membelah cengkir hingga pantes-pantesan. Dimana Amanda berganti baju hingga 7 kali.


Amanda tak pernah tau soal tradisi ini, sehingga banyak sekali hal yang membuatnya takjub sekaligus heran. Usai tadi menangis saat sungkeman, ia pun kini jadi banyak tersenyum. Karena menerima energi positif dari orang-orang yang ada didekatnya.


Seluruh rangkaian pun mereka jalani sampai selesai. Hingga ketika mereka akhirnya pulang kerumah, kenangan akan keseruan hari itu masih tersisa.