Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Puncak


Arka masih terduduk lesu di muka ruang ICU, tempat dimana Rio terbaring. Tak lama kemudian, Amanda pun mendekat kearahnya. Arka menoleh pada istrinya itu, dengan tatapan yang seolah ingin segera disambut. Ia sudah tidak tahan pada semua ketakutan yang bersarang di dalam hatinya.


Maka Amanda pun merengkuh suaminya itu dengan pelukan. Arka memeluk Amanda, degup jantungnya masih tak teratur hingga detik ini. Tubuhnya seakan tak memiliki tenaga lagi. Amanda berusaha menenangkan suaminya itu, diusapnya punggung Arka dan diberikannya pemuda itu kecupan hangat di kening. Perasaan cemas di hati Arka pun sedikit berkurang.


"Sabar ya, Ka. Rio pasti akan baik-baik aja." ujar Amanda sambil masih mengusap punggung Arka.


"Dia satu-satunya sahabat yang aku percaya, Man. Dia orang baik." Suara Arka setengah terisak.


"Iya aku tau, kita berdoa aja ya. Supaya Rio bisa segera melewati masa kritisnya."


Arka mengangguk dan mempererat pelukannya, ia tak ingin bicara apa-apa lagi. Yang ia butuhkan saat ini adalah sandaran, dan Amanda adalah sandaran terbaiknya.


"Man, aku balik kerumah sakit ya." ujar Arka seusai mengantar Amanda ke depan penthouse.


"Iya, tapi jangan lupa makan dan istirahat ya. Rio juga pasti nggak mau kalau kamu kenapa-kenapa?"


Arka mengangguk.


"Tadi keluarga Intan sudah kamu temui?" tanya Arka.


"Udah, Ka. Dan biaya perawatannya udah aku urus. Ditambah orang yang nabrak dia, juga mau ikut bertanggung jawab."


"Ya udah, nanti aku akan update terus kabarnya Intan. Aku akan kasih tau ke kamu, maafin aku ya malem ini nggak bisa nemenin kamu lagi."


"Iya, Ka. Nggak apa-apa koq, yang penting tetap jaga kesehatan ya."


Arka mengangguk, Amanda keluar dari mobil. Tak lama kemudian, Arka pun meninggalkan tempat itu.


Arka menjaga Rio semalaman, ia pun selalu memantau keadaan Intan. Rio sendiri terbilang stabil, tak ada laporan buruk ataupun kondisinya menurun malam itu. Sementara Intan, tak banyak kemajuan. Keadaannya masih tetap mengkhawatirkan.


Dua hari kemudian, Arka baru saja hendak kembali kerumah. Ketika sebuah telpon dari manajemen peace production mengabarkan, bahwa telah terjadi sebuah masalah yang menyangkut kelangsungan karir Arka.


Arka yang seharusnya kini menemui istrinya itu, terpaksa harus mendatangi kantor dan mendengar penjelasan dari pihak manajemen.


"Ka, ini ada foto lo lagi gendong cewek ke rumah sakit. Disini tertera bahwa cewek ini bernama Liana Amelia, korban pemerkosaan beramai-ramai yang didalangi oleh elo."


Arka terkejut mendengar pernyataan tersebut, tubuhnya seperti dihantam sebuah batu besar.


"Mbak, kalau emang gue terlibat. Ngapain gue masih disini, santai-santai aja, nggak kabur?"


"Menurut thread yang beredar di Twitter ini, lo suka sama Liana. Tapi Liana nolak lo, dan akhirnya lo mendalangi perkosaan ini. Lo tampil sebagai pahlawan supaya Liana mau menerima lo."


"Gila kali ya, gue bener-bener murni nolong dia. Rio saksinya, gue jalan sama Rio malem itu. Gue dan Rio menemukan Liana sudah terbaring di jalanan yang sepi."


"Lo kenal sama Liana?"


"Dia yang kerja sama istri gue."


"Ka, gue juga sulit percaya sama hal ini. Pak Jeremy dan pak Philip juga percaya sama lo. Cuma masalahnya klien kita, nggak bisa kita paksa untuk percaya. Netizen sudah terlanjur memiliki persepsi dan sekarang nama lo sedang heboh di jagat maya. Banyak klien yang meminta dibatalkan kerjasamanya sama lo."


Arka terduduk lesu, keringat dingin mengucur deras dari tubuhnya. Siapa pelakunya, siapa yang sudah melakukan ini padanya.


Dengan emosi yang memuncak, Arka pun meninggalkan ruangan itu. Meski mbak Arni belum ingin dirinya pergi. Karena masih harus menunggu kedatangan Philip dan juga Jeremy.


Arka mengemudikan mobilnya ke kampus dan mencari dimana Robert, tak butuh waktu lama, Arka pun mendapatkannya. Tanpa basa-basi segera saja Arka mendekat lalu menghajar pemuda itu.


"Buuuk."


Dalam sekejap Robert pun terjatuh, ia terkejut mendapat perlakuan seperti itu dari Arka. Belum sempat ia melawan, tiba-tiba Arka sudah melakukannya lagi.


"Buuuk."


"Buuuk."


Suasana sedang sepi, tak ada yang melihat peristiwa itu. Karena terjadi disebuah sudut, saat Robert tengah mengerjakan sesuatu di laptopnya. Diketahui jika Robert adalah tipikal manusia yang tak terlalu suka keramaian, kecuali untuk keperluan syuting dan pekerjaan.


"Apa-apaan ini?" teriak Robert, seraya menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya.


"Lo kan yang nyebar foto gue dan bikin gue jadi bahan gunjingan."


"Maksud lo apa, Ka?" tanya Robert tak mengerti.


"Nggak usah pura-pura bego, lo bangsat. Hadapin gue sini."


Arka menarik kerah baju Robert dan menghajarnya lagi.


"Ka, gue bener-bener nggak ngerti." teriak Robert lagi.


"Nggak ngerti lo bilang?" Arka menghempaskan Robert hingga ia terjatuh, lalu menunjukkan berita di handphonenya pada pemuda itu. Robert pun membaca dengan ekspresi wajah yang terkejut.


"Ka, gue bener-bener nggak tau soal ini. Bukan gue pelakunya."


"Lo selama ini selalu nggak suka kan sama gue. Karena gue adalah mantannya Maureen dan lo suka sama Maureen."


"Gue nggak pernah pacaran sama Maureen."


"Maureen yang ngejer-ngejer gue dan menganggap kalau gue itu adalah pacarnya dia."


"Kenapa lo keliatan mesra didepan umum kalau emang lo nggak cinta sama dia?"


"Maureen pegang sebuah rahasia tentang gue. Gue pernah operasi plastik di beberapa bagian wajah dan tubuh gue, dan itu dirahasiakan. Maureen ngancem kalau gue nggak mau jadi pacarnya, dia bakal bikin ancur karir gue, dia bakal sebar itu semua. Gue terpaksa, Ka. Karena gue masih punya 3 adik yang masih dalam tanggungan gue. Bokap gue nggak tau dimana, nyokap gue nggak kerja. Gue mana ada waktu buat jahatin orang lain, sedangkan masalah hidup gue aja udah numpuk. Maureen macarin gue buat pansos." ujar Robert kemudian.


Arka berfikir apa mungkin ini semua adalah ulah Maureen.


"Gue nggak pernah iri sama siapa pun dan nggak pernah mencoba merusak karir siapapun, Ka. Asal lo tau aja, ada banyak tawaran yang gue tolak. Cuma supaya bisa dilempar ke elo, gue nggak pernah serakah dalam kerjaan. Coba lo liat dulu disekitar lo, mungkin ada orang lain yang selalu pengen ngeliat lo kehilangan segalanya."


Arka menatap Robert, tak ada satu kebohongan pun di mata dan nada suara pemuda itu. Seketika Arka pun dihantui rasa bersalah.


Sementara di kantor, bak gayung bersambut. Masalah demi masalah yang muncul pada diri Arka pun, turut muncul ke dalam diri Amanda.


Entah dosa apa yang sudah ia perbuat, tiba-tiba kepemimpinannya dialihkan pada Rani. Amanda benar-benar tidak mengerti, para petinggi dan pemegang saham mengadakan rapat dadakan. Lalu kemudian menyetujui semua itu. Sebuah surat pernyataan bertanda tangan Amanda, yang menegaskan bahwa ia meminta Rani untuk menggantikannya pun terlihat didepan matanya.


Tanpa diberi kesempatan bicara, dihadapan para petinggi dan pemegang saham. Amanda di cecar dan dituduh telah menjual rahasia perusahaan kepada perusahaan saingan.


"Saya tidak pernah melakukan semua itu."


Amanda membela diri dihadapan beberapa pasang mata, yang tengah mengintimidasi dirinya.


"Tapi semua bukti mengarah pada kamu Amanda." Salah satu pemegang saham, membeberkan bukti-bukti dihadapan Amanda.


Bahwa ada beberapa transaksi penjualan tidak wajar, berikut sebuah email yang berisi rahasia perusahaan. Hal tersebut harusnya hanya diketahui oleh Amanda dan juga jajaran petinggi. Email tersebut terkirim ke alamat email kompetitor mereka, dikirim melalui email pribadi Amanda sendiri.


"Walaupun kamu yang berperan penting dalam berdirinya perusahaan ini, Amanda. Tetapi perusahaan ini dikendalikan bersama. Para pemegang saham juga berhak bersuara, jika kepemimpinan kamu disini tidak sesuai dengan apa yang seharusnya kamu jalankan."


Amanda diam, ia sulit untuk berfikir kali ini. Ia tahu telah terjadi konspirasi penjebakan yang dilakukan oleh orang-orang terdekatnya.


"Kami dengan terpaksa memberhentikan kamu sementara, sampai kasus ini benar-benar selesai diselidiki. Dan untuk kepemimpinan, sesuai dengan mandat yang kamu berikan, kami akan menerima Rani sebagai pemimpin sementara disini. Walaupun itu menyalahi aturan. Karena kamu memberikan mandat kepada Rani pada saat kamu masih menjabat sebagai pemimpin disini."


"Saya tidak pernah memberikan mandat apapun."


"Tapi didalam surat ini terdapat tanda tangan dan stempel yang biasa kamu gunakan."


"Saya tidak pernah melakukan itu semua."


"Biarkan tim investigasi yang mencari bukti, sebaiknya kamu istirahat saja dulu dirumah."


Rapat pun dibubarkan. Amanda terpaku ditempatnya, keringat dingin kini membanjiri sekujur tubuh wanita itu.


Ia segera keluar dan mencari Rani, namun perempuan itu tidak ada. Ia sudah sangat ingin mengamuk pada wanita itu, karena tak menyangka jika Rani akan setega itu padanya.


Ia meneriakkan nama Rani, berharap wanita ****** itu muncul ke hadapannya. Namun ia malah dihalangi oleh security.


"Saya pemimpin disini, kenapa saya dihalangi?" teriak Amanda pada pihak keamanan.


"Maaf, bu. Kami hanya menjalankan perintah para petinggi lain dan juga pemegang saham." ujar salah satu dari pihak keamanan tersebut.


Amanda ditarik lalu diarahkan ke jalan pulang oleh Satya dan juga Deni. Para karyawan lain tak bisa berbuat apa-apa, sampai detik ini mereka masih tidak percaya pada apa yang diperbuat oleh Amanda. Semua ini sangat terdengar seperti sebuah rekayasa.


Namun para karyawan itupun tak bisa berbuat banyak. Mereka hanyalah karyawan yang bekerja di bawah kepemimpinan kepala divisi masing-masing. Masalah Amanda dan jajaran petinggi serta pemegang saham adalah bukan urusan mereka, meski sangat ingin mereka membantu. Amanda akhirnya pulang dengan kekesalan yang benar-benar memuncak.


Masalah pun kian bertambah rumit, ketika orang tua Arka didatangi banyak wartawan serta admin akun lambe-lambean. Untuk menanyakan perihal gosip yang menyebar tentang sang anak. Ayah dan ibu Arka syok mendengar pernyataan tersebut. Untung saja ada geng bu Mawar yang mengusir para wartawan itu, agar mereka segera pergi.


Meskipun bu Mawar and the gang adalah tukang gosip, tetapi melihat lingkungan mereka yang ricuh oleh orang datangan, apalagi sampai mengganggu ketertiban umum. Maka itu sudah menjadi tugas mereka untuk mendamaikan situasi.


"Bu, Arka nggak seperti itu bu. Ibu percaya sama Arka, Arka anak ibu."


"Diam kamu, ibu sudah tidak percaya lagi setelah banyak rentetan kebohongan yang kamu lakukan selama ini."


Ibunya berujar ketika Arka sengaja datang, untuk menjelaskan duduk permasalahannya. Namun sang ibu tampaknya tidak terima, ia lebih percaya pada apa yang kini beredar di sosial media.


"Ibu sengaja menutupi hubunganmu dengan Liana didepan Amanda. Semata untuk menyelamatkan kamu dimata istri kamu. Sekarang kamu hancurkan diri kamu sendiri dengan semua kejahatan kamu."


"Bu, Arka sama Liana itu nggak ada hubungan apa-apa. Ibu aja yang salah mengira selama ini."


"Sudah, cukup. Sekarang mendingan kamu pergi dari rumah ibu, sebelum wartawan itu datang lagi. Ibu sudah cukup malu, Arka. Jangan tambahi beban ibu lagi."


"Tapi, bu."


"Cukup Arka, pergi sana...!"


Arka melangkah gontai dari rumah ibunya. Ia berpapasan dengan sang ayah tiri. Ayah tirinya itu pun hanya diam dan tampak kecewa. Sedang Rianti sendiri memilih untuk tidak bertemu muka dengan sepupunya tersebut. Arka benar-benar hancur saat ini. Belum lagi orang-orang manajemen yang tak henti-henti menelpon ke nomornya, semua menambah runyam suasana.


Amanda kembali ke penthouse, ia menerima sebuah link berita dari salah seorang karyawannya. Ketika di klik, berita tersebut menyajikan gosip terbaru tentang suaminya. Yang dituding menjadi dalang perkosaan terhadap Liana. Hampir saja Amanda jatuh pingsan, ia kini terduduk lesu di lantai kamarnya. Arka pulang ke penthouse dan mengetuk pintu kamar.


"Aku nggak mau liat muka kamu, Ka." ujar Amanda dari dalam.


"Kamu menjijikkan, aku benci sama kamu."


Air mata Amanda mulai mengalir, Arka tahu pastilah berita ini telah sampai ke telinga istrinya. Ia mendengar Isak tangis dari dalam sana, sementara kamar dikunci oleh Amanda. Kini dua-duanya terdiam lesu, Arka duduk sambil bersandar di pintu kamar istrinya. Pikiran mereka seakan berada disebuah labirin yang tak berujung, seolah tak ada jalan keluar sama sekali.