
"Arka."
Amanda mengirim pesan singkat pada Arka, melalui laman pesan singkat di WhatsApp.
"Apa, Man?" Arka yang masih berkutat dengan pekerjaannya itu pun menjawab.
"Lagi dimana?"
"Di lokasi syuting."
"Orang kek jawab, di hatimu gitu."
Amanda mengetik seraya menekuk bibirnya. Ia ingin sekali saja, melihat Arka bersikap romantis ala anak muda di sosial media. Meskipun ia tahu jika hal tersebut sangat alay, namun entah mengapa ia ingin merasakannya barang sesekali.
"Sekarang aku tanya, kamu sering senyum-senyum sendiri nggak kalau inget aku?"
"Iya." jawab Amanda.
"Itu artinya hati kamu tau, kalau aku lagi tersenyum mikirin kamu."
Amanda kegirangan layaknya bocil FF yang mendapat pujian.
"Apaan sih kamu, alay banget."
Amanda memasang mode munafik dalam ketikannya, padahal ia sangat gembira diberi rayuan receh seperti itu. Arka sendiri hanya tertawa diseberang sana, tak habis pikir pada seorang tante-tante yang ngebet di gombali layaknya anak remaja.
"Lah tadi aja kamu ngambek, pengen aku bilang "di hatimu." Padahal itu juga alay kan?"
"😀😀😀💩💩💩."
Amanda membalas Arka dengan emoticons.
"Mau foto kamu dong." ujar Arka.
"Yang sekarang ya." lanjutnya lagi.
Amanda pun mengambil foto selfie dan mengirimkannya pada Arka.
"Kamu lucu, kayak ikan. 🐳🐳🐳." jawab Arka.
"Emang aku udah mirip paus banget ya sekarang?. 😂." tanya Amanda.
"Iya, tapi aku gemes. Cantik banget."
"Gombal."
"Yang ini serius."
"Masih lama ya pulangnya?" tanya Amanda lagi.
"Nggak koq, kenapa emangnya?"
"Pengen kulineran deh, Ka."
"Bentar lagi aku pulang koq, mau kemana?"
"Alam Sutera.
"Hah?"
"Nggak sekalian ke pelabuhan merak?" jawab Arka.
"Nggak bisa ya?. Ya udah deh kalau nggak bisa, abisnya pengen makan hotpot dan pasta yang ada disana. Ditempat yang dulu aku sering makan."
Arka menghela nafas, jujur ia sangat lelah hari ini. Banyak adegan yang harus di ulang hingga puluhan kali, lantaran lawan mainnya sering cengengesan dan terkesan tak profesional.
Ingin rasanya ia protes, namun lawan mainnya adalah aktris jebolan nepotisme. Yang bisa terkenal lantaran memiliki affair dengan produser. Maka dari itu, Arka pun tak dapat berbuat banyak.
"Mmm, oke deh Man. Mau jam berapa?"
Arka memaksakan diri, semua demi agar Amanda tak kecewa. Lagipula ia tengah hamil, wajar kalau permintaannya kadang diluar batas.
***
"Hahaha. Masih untung, Ka. Bini lo ngidam cuma ngajak makan ke alam sutera. Tetangga gue noh yang di deket rumah nyokap, ngidam suaminya manjat pohon kelapa yang tinggi."
Rio berujar didalam telpon, ketika akhirnya Arka pulang dan menuju ke kantor Amanda.
"Anjir, ngidam apa apaan tuh?. Jangan-jangan plot twist. Biar suaminya modar, terus istrinya bisa nikah sama yang punya kebun kelapa."
"Bisa jadi."
Arka dan Rio tertawa.
"Kangen gue sama lo, bro." ujar Arka kemudian.
"Kangen sama kehangatan aku kan zeyenk." canda Rio.
"Bangsat lu emang, ya." Arka tertawa.
"Ya ntar lah, Ka. Ntar kita ngumpul deh, kapan-kapan. Ajak anak-anak manajemen juga."
"Si Doni kemana sih sekarang?" tanya Arka.
"Tau tuh, gara-gara waktu itu mungkin. Jadi dia nggak mau lagi nyamper ke kita."
"Menurut lo, gue bener nggak sih bilang jujur ke Doni. Kalau gue emang udah nggak bisa bayarin tongkrongan dia lagi."
"Kenapa, lo ngerasa nggak enak?" tanya Rio.
"Iya sih, dia kan temen kita bro. Mau baik, buruk, busuk juga, temen ya temen."
"Halah, Ka. Dia aja nggak mikirin elo. Lo ngerasa nggak enak, nggak bisa bayarin dia buat mabok lagi. Sementara dia aja nggak ngerasa nggak enak dibayarin mulu, malah kesenangan. Gue heran tuh kenapa bisa berubah begitu si Doni. Tapi gue yakin banget, kalau ini ada hubungannya dengan circle pertemanan barunya dia."
"Iya sih, ya udalah. Semoga aja Doni sadar, eh by the way Liana gimana?" tanya Arka kemudian.
"Lo emang nggak tau, dia kan tinggal dirumah nyokap lo sekarang."
"Dirumah nyokap gue?"
"Iya, nyokap lo bilang ke gue. Kasian Liana, mending sama nyokap lo dulu sampe mentalnya kembali stabil. Liana kan nggak punya keluarga disini. Kalo misalkan dia tinggal di kosan, ntar bunuh diri lagi."
"Iya sih, ya udalah nggak apa-apa dia dirumah nyokap gue. Ada Rianti ini, bisa nemenin. Udah ngelapor polisi, Ri?"
"Itulah lagi gue bujuk, sebelum kasusnya basi. Dianya masih trauma banget kayaknya, Ka."
"Ya udah deh, ntar kalau misalkan gue ada balik kerumah nyokap. Ntar gue bantu bujuk atau suruh Rianti ngomongin dia."
"Iya, Ka."
"Psikiater masih jalan?"
"Masih, gue selalu nemenin."
"Iya baguslah, mudah-mudahan cepet berakhir traumanya. Gue tau itu nggak mudah sih, tapi dia harus melawan itu semua dan menyembuhkan diri."
"Lo udah mau nyampe?" tanya Rio
"Iya, ini udah mau belok ke kantornya Amanda. Tuh, tuh ikan paus kesayangan gue. Udeh berdiri aje ibu didepan."
Rio tertawa mendengar celotehan Arka.
"Udah gede banget ya, hamilnya."
"Oh ya, anak gue kembar tau Ri."
"Anjir, serius lo?" tanya Rio tak percaya.
"Iya, tadinya gue udah tau dari awal. Cuma gue rahasiain biar dia hamilnya nggak beban pikiran. Eh, gara-gara periksa beda dokter dan lagi nggak sama gue. Akhirnya ketahuan."
"Gila lo, Ka. Tokcer parah lo, sumpah. Sekali semburan, dia tiga pulau bermunculan."
"Lo kata Krakatau." ujar Arka seraya tertawa.
"Kasih nama hilir-mudik aja, Ka."
"Gue maunya jiwa-raga."
"Anjir, hahaha."
"Eh, Ri. Gue turun dulu ya, kasian bini gue. Jalan udah rada susah sekarang."
"Anjir lo, anak gue namanya kesana-kemari."
"Iye dipanggil Sana sama Mari."
Arka tertawa.
"Ya udah, gue tutup ya bro."
"Yoi."
Arka menutup telpon dan keluar dari mobil.
"Hallo, bumil." ujarnya kemudian.
Arka lalu memeluk Amanda barang sesaat.
"Ayo." ujarnya lagi.
Amanda melangkah, tangannya digandeng oleh Arka.
"Kamu tadi kelar jam berapa, Ka?" tanya Amanda, ketika mereka sudah berada didalam mobil.
"Jam berapa ya, pokoknya beberapa menit kelar langsung jalan kesini."
Arka mereguk air putih yang ada disisi rem tangan.
"Kamu mau minum nggak?"
Amanda pun meraih air mineral tersebut dan meminumnya.
"Mereka nakal nggak hari ini?"
Arka kembali bertanya ketika mobil telah berjalan.
"Nggak sih, kayaknya rada males mereka hari ini. Gerak adalah beberapa kali, nggak seaktif biasanya."
"Capek kali, gelut mulu di dalem."
Amanda tertawa.
"Kira-kira cewek apa cowok ya, Ka. Nggak sabar aku pengen tau."
"Sama, aku juga."
"Tapi kamu lebih suka cewek apa cowok?" tanya Amanda kemudian.
"Apa ajalah, yang penting sehat."
"Iya sih."
"Emang kamu maunya apa?"
"Apa aja, mau cowok-cewek nggak masalah."
Mobil terus merayap memasuki jalan tol yang hari ini cukup ramai. Meskipun terbilang jauh dari tempat dimana mereka tinggal. Namun demi Amanda, apapun rela dilakukan Arka. Ia tengah dimabuk cinta saat ini, bahkan ingatannya tentang Maureen pun perlahan mengabur dari benaknya.
Amanda mengaktifkan mode pesawat di handphonenya, tanpa sengaja Arka melirik kearah sana.
"Kenapa di mode pesawatin." tanya Arka heran.
"Kamu takut nerima chat dari Nino terus aku tau?"
Amanda tersenyum menatap Arka.
"Cemburu ya?" godanya kemudian.
"Iya, kenapa?" ujar Arka sewot.
"Dek, papa cemburu dek." ujar Amanda, seraya berbicara pada anak yang ada didalam perutnya.
"Amanda aku nggak main-main ya, aku marah beneran loh."
Amanda makin tersenyum.
"Nggak koq, pak Arka. Aku kayak gitu karena aku nggak mau diganggu soal kerjaan. Aku mau makan, mau tenang."
"Ya udah, aku juga." ujarnya masih dengan wajah judes. Arka lalu mengaktifkan mode pesawat di handphonenya.
"Uluh, ngambek nih ceritanya?" goda Amanda lagi.
Arka diam.
"Aku buka baju nih?" ancam Amanda.
"Jangan, jangan, jangan, ntar kamu mulai lagi." ujar Arka kemudian. Ia tak ingin istrinya menjadi gila didalam mobil, seperti waktu itu.
"Kamu mau nanti diliatin polisi yang lagi patroli di jalan tol?" ujar Arka.
"Abisnya ngambek, jelek tau."
Arka tertawa.
"Ancaman kamu tuh yang jelek, dasar tante mesum."
"Tapi cinta kan?"
Arka tertawa lalu membuang pandangan ke sisi jalan dan kembali fokus kedepan.
Mereka pergi ke sebuah kawasan yang dipenuhi kuliner. Arka juga pernah ketempat ini, namun tidak sering. Mereka berdua berjalan-jalan sambil menimbang-nimbang, makanan apa yang akan menjadi makanan pertama untuk mereka.
"Man, kamu suka masakan India nggak?" tanya Arka.
"Pake tangan nggak bikinnya?" Amanda nyengir dimuka Arka. Mengingatkan Arka pada tayangan street food, dari negri jahe-jahe tersebut di YouTube.
"Disini mah kagak, Man. Pelayannya juga banyakan orang Indonesia.
"Ya udah deh, ayok." ujarnya kemudian. Mereka pun berjalan lalu mampir ke salah satu tempat makan khas India.
"Hmm, enak." ujar Amanda ketika mencoba beberapa jenis makanan ditempat itu.
"Enak kan, apa kubilang. Made by hand, di kobok-kobok." ujar Arka. Amanda lalu memukul lengan suaminya itu.
"Hati-hati kamu ngomong, Ka. Ntar kamu matiin rejeki orang loh." ujar Amanda.
"Kan pelan, bu Amanda. Tadi juga kamu nyinggung soal itu."
"Tapi kan disana, jauh. Nggak disini."
"Kan aku pelan ngomongnya."
"Ya tapi kan..."
"Jlep."
Arka memasukkan roti canai ke mulut Amanda, hingga perempuan itu berhenti mengoceh.
"Ngoceh mulu kamu kayak emak-emak."
"Emang aku emak-emak sekarang, anaknya aja yang belum keluar."
"Oh iya, ya. Siap, mak. Jangan sein kanan belok kiri ya, mak." ujar Arka mengundang pukulan dan tawa dari Amanda.
"Abis ini, kita makan apa lagi?" tanya Amanda kemudian.
"Hmm, sebaiknya kita jalan. Sambil cari-cari." jawab Arka.
"Masih banyak yang belum kita liat di arah sebelah sana." lanjutnya lagi.
"Ok." jawab Amanda dengan wajah penuh senyuman.
Beberapa saat berlalu, Amanda dan Arka kini membawa mobil mereka kemana saja. Tak lupa mereka merekam perjalanan sederhana itu di handphone, dan mengabadikannya pula dalam sederet foto-foto.
Sementara itu dikediaman ibunya, Ibu Arka tak henti mencoba menelpon puteranya itu. Meskipun handphone Arka tengah dalam mode pesawat dan tak tersambung sama sekali.
"Nomor yang anda tuju saat ini tidak dapat dihubungi atau berada di luar service area."
"Mas mu mana ya, Ti?. Koq nggak pulang-pulang, dihubungi juga nggak bisa. Sekali-sekali jenguk Liana disini." ujar ibunya kemudian.
Rianti diam saja, karena ia tau saat ini pastilah Arka tengah bersama Amanda. Tante-tante yang memeliharanya.