
"Gubrak."
Arka, Ansel dan Nino terbangun mendadak di pagi hari. Ketika mereka menyadari bahwa mereka harus pergi ke kantor pagi ini.
"Nin, jam berapa Nin?" tanya Arka pada Nino.
"Jaaam."
Nino yang masih sangat mengantuk akibat bermain game hingga menjelang pagi itu pun, melihat jam yang ada di handphone.
"Hah, jam 8?. Anjrit gue ada ngajar pagi."
"Gue ngantor, anjir." ujar Arka tak kalah panik. Sementara kini Ansel terbangun dan melihat handphone.
"Hah, jam 8." ujarnya kemudian. Detik berikutnya.
"Gubrak."
"Gubrak."
"Gubrak."
Mereka bertiga tampak rusuh lalu berebut kamar mandi.
"Gue dulu, Ka. Sumpah, gue ngajar pagi. Ini aja udah telat."
"Ya, gue juga mau ke kantor."
"Gue duluan aja." Ansel mendahului kedua saudaranya. Namun Arka dan Nino tak terima begitu saja, mereka kini menarik Ansel.
"Sel, lo kan pengangguran. Ntar aja mandinya." ujar Arka kemudian.
"Tau lo, ngerecokin aja." timpal Nino.
"Enak aja pengangguran. Gini-gini gue punya banyak proyek, tau nggak." Ansel tetap tak mau mengalah.
"Proyek apaan lo, tumbal proyek." Nino masih mencoba menghalau gerakan saudaranya itu.
"Gue dulu."
"Gue dulu."
"Gue dulu."
"Hey, kan kita punya kamar mandi tiga."
Ryan tiba-tiba muncul dan mendamaikan keributan itu. Seketika Nino pun melesat masuk kedalam kamar mandi yang ada di kamar tersebut. Arka dan Ansel lalu berlarian keluar, mencari kamar mandi lain. Ansel menemukan kamar mandi lain, duluan. Kini hanya tersisa Arka yang celingukan, sebab ia tak begitu paham ruangan yang ada di apartemen ini.
"Arka, satunya di kamar daddy."
Ryan menunjukkan dimana letak kamarnya berada. Arka pun buru-buru masuk dan menemukan kamar mandi disana. Suasana hening sejenak, namun setelah itu kerusuhan pun kembali dimulai. Kali ini lebih parah.
"Ansel, kemeja gue yang disini mana?" tanya Nino pada Ansel.
"Nggak tau." Ansel yang tengah berpakaian menjawab.
"Blazer gue mana?" tanya Arka.
"Koq kaos kaki gue, ilang." ujar Ansel.
"Nin coba minggir." Ansel menggeser tubuh Nino, yang tengah berusaha mencari kemejanya.
"Ntar dulu, kek." ujar Nino sewot.
"Ikat pinggang gue dimana?"
"Nggak tau, Arkaaa."
Nino dan Ansel berujar di waktu yang nyaris bersamaan. Arka pun kembali mencari, sebelum di telan oleh kedua kakaknya. Mereka terlihat begitu sibuk, bahkan sikut-sikutan didepan sebuah kaca. Padahal dibelakang mereka terpampang sebuah kaca yang besar.
"Sana...!"
"Elo yang sana...!"
"Minggir...!"
Beberapa saat berlalu.
"Bye, dad."
"Bye, dad."
Nino dan Ansel beranjak menuju pintu. Namun kemudian mereka berbalik, karena Ryan meletakkan empat buah toast bread yang ia buat sendiri ke atas meja makan. Nino dan Ansel pun tak bisa menolak, meski waktu sudah di ujung tanduk.
Mereka mengambil toast tersebut lalu memakannya sambil berjalan. Sejak mereka kecil, Ryan memang selalu menyediakan toast bread di pagi hari. Biasanya ia meletakkan roti panggang isi tersebut didalam kantong-kantong toast yang ia beli di swalayan. Agar kedua anaknya yang sering terlambat bangun itu pun, tetap bisa sarapan. Namun kini ia membuat lebih, karena satunya adalah untuk Arka.
"Bye, dad."
"Bye, dad."
Nino dan Ansel kembali beranjak, mereka kini berpapasan dengan Arka yang baru selesai.
"Ka, lo harus makan toast nya. Sumpah enak."
Nino berujar lalu menghilang dibalik pintu lift pribadi, begitupula dengan Ansel.
"Dad, Arka pergi." ujar Arka kemudian.
"Ok, get your breakfast first." ujar Ryan melirik ke arah toast yang masih tersisa. Arka pun mengambil sarapan paginya dan berlalu.
"Bye, dad."
"Bye, have a nice day."
"You too."
***
Pagi itu, Arka bekerja dengan penuh semangat. Meskipun ia terlambat dan harus menghadapi sindiran dari Cintara.
Ia tak peduli sama sekali pada gadis itu, karena pagi ini ia memiliki energi lebih. Ia baru saja menelpon Amanda di jalan dan bercanda sejenak dengan istrinya itu. Lalu ditambah ingatannya akan seharian bersama ayah dan juga kedua saudaranya. Arka begitu bahagia bisa berada ditengah-tengah mereka semua.
"Aku samperin ya." ujar Amanda ketika sore hari mulai menyapa. Arka mengatakan di telpon jika ia pulang agak terlambat, dan menyuruh Amanda pulang duluan bersama pak Darwis.
Namun Amanda mengatakan jika ia ingin menyusul Arka.
"Aku masih agak lama, Man. Masih banyak kerjaan."
"Ya udah nggak apa-apa, aku tunggu kamu di kafe dekat situ." ujar Amanda kemudian.
"Ya udah, nanti kabarin aku kalau udah sampe."
"Ok."
Amanda menutup telponnya lalu masuk kedalam mobil.
"Ke kantor Arka ya, pak." ujar Amanda pada pak Darwis.
"Baik, bu." jawab pak Darwis.
Amanda menyambangi kantor tempat dimana Arka bekerja, ia menyuruh pak Darwis untuk pulang duluan. Ia lalu menunggu arka pada sebuah kafe yang terletak tak jauh dari sana.
Cukup lama Amanda berada di tempat itu, sampai kemudian Arka pun menelepon.
"Man, aku udah selesai nih. Udah di lift." ujar Arka pada istrinya itu.
"Oh ya udah, aku kesana sekarang." ujar Amanda.
Wanita itu pun buru-buru membayar, lalu keluar dari kafe tersebut. Arka kemudian mengambil mobil dan mengemudikannya hingga ke jalan depan, disana ia menunggu kehadiran Amanda.
Amanda tiba, lalu masuk kedalam mobil dan mobil mereka pun kini merayap. Tanpa mereka sadari jika Cintara telah melihat semua itu. Kini Cintara tengah mengikuti mereka dengan hati yang diliputi kemarahan.
"Arka."
Cintara keluar dari dalam mobil dan menghampiri Arka, yang juga baru saja keluar dari mobil. Mereka telah sampai di halaman parkir penthouse tepat setelah beberapa saat berlalu.
Amanda yang masih didalam mobil pun keluar. Disaat itulah Cintara melihat Amanda untuk pertama kalinya.
"Siapa perempuan ini?" tanya Cintara penuh berapi-api.
"Siapa Arka, jawaaab...!"
"Cintara apa-apaan sih kamu. Yang harusnya nanya begitu itu, dia." Arka menunjuk istrinya.
"Dia yang seharusnya nanya, kamu itu siapa. Dateng-dateng, marah-marah." ujar Arka kemudian.
Amanda memperhatikan keduanya.
"Kamu ngapain kesini?" Cintara memberanikan diri bertanya pada Amanda dengan nada ketus.
"Ini rumah saya, kamu yang ngapain disini?" Amanda membuat Cintara seketika syok.
"Ru, rumah kamu?" tanya nya tak percaya.
"Iya, ini tempat tinggal saya." ujarnya lagi.
"Kamu ngapain disini, Ka." tanya Cintara masih dengan emosi yang tertahan.
"Ya, ini juga tempat tinggal aku." jawab Arka.
"Ka, kamu tinggal sama dia?" Cintara seakan ingin meledak.
"Iya." ujar Arka kemudian.
"Tega kamu, Ka." ujar Cintara dengan air mata yang mulai menetes.
"Maksudnya?" tanya Arka kemudian.
"Kamu tega menghancurkan hati aku."
"Menghancurkan bagaimana, Cintara?"
Arka memperhatikan gadis itu seraya melirik istrinya sesekali. Amanda diam saja ditempatnya berdiri.
"Aku punya perasaan yang tulus ke kamu, tapi ini balasan kamu ke aku."
"Aku nggak minta loh, kamu punya perasaan terhadap aku."
"Tapi perasaan ini juga bukan salah aku."
"That's why aku membiarkan kamu bebas dengan perasaan yang kamu miliki. Apa pernah aku melarang kamu untuk menghentikan perasaan kamu terhadap siapapun, termasuk aku. Tapi aku juga punya hak mau membalas atau nggak."
"Jadi kamu lebih memilih perempuan ini daripada aku?"
"Yes, dan kamu juga bukan siapa-siapa aku kan?." ujar Arka kemudian.
Air mata Cintara pun kian deras mengalir, ia lalu berbalik menuju mobilnya dan meninggalkan tempat itu.
"Ka, apa kamu nggak terlalu keras bersikap kayak tadi?" Amanda bertanya pada suaminya ketika Cintara telah berlalu.
"Ya terus gimana, Man?. Harus aku kejer, peluk gitu?"
"Oh jadi pengennya gitu?" ujar Amanda dengan mimik yang tiba-tiba berubah sewot.
"Tuh kan, gitu aja kamu cemburu." Apalagi kalau Cintara beneran aku kejer dan aku peluk.
"Bodo ah." Amanda ngambek dan masuk ke dalam lobi penthouse. Sementara Arka hanya tertawa ditempatnya, detik kemudian ia pun menyusul Amanda.