Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Firasat


"Hhhhh."


Arka terbangun dari tidurnya yang entah sudah berapa lama, ia melihat tubuhnya yang kini terbaring dirumah sakit. Segera saja ia meraba dan memperhatikan bagian dada serta perutnya. Namun, tak ada luka tusukan disitu. Arka bernafas lega, tak lama Rio yang baru masuk langsung menghambur ke arahnya.


"Ka, lo nggak apa-apa kan Ka?" tanya Rio panik.


"Lo baik-baik aja, kan?" tanya nya sekali lagi.


"Gue baik-baik aja, Ri."


"Hhhh." Rio bernafas lega.


"Sebenernya tadi dokter juga bilang gitu, tapi gue tetep aja khawatir. Lo nya nggak bangun-bangun." ujar Rio lagi.


"Tadi gue?"


"Lo tuh tadi hampir dibunuh orang tau nggak. Pas gue sama pakde gue sampe ke depan jalan setapak itu, mereka tuh udah ngarahin pisau ke dada lo. Gue bertiga sama pakde, sama ponakan gue langsung ngejer orang itu dan lo udah nggak sadar posisinya. Kan gue udah bilang, jangan keluar dari mobil. Disitu banyak begal."


"Itu bukan begal, Ri. Dia yang nyelakain Amanda waktu itu."


"Hah, serius lo?" tanya Rio penuh keterkejutan.


"Iya, gue ngeliat bekas tatto yang kayak abis dihapus gitu ditangannya. Sama persis dengan yang gue liat di CCTV, di lokasi dimana Amanda waktu itu dipukulin."


Rio menghela nafas.


"Lain kali jangan gegabah, Ka. Inget bini lo lagi hamil, anak lo kembar. Kalau tadi gue telat dateng, gimana coba?"


Arka diam, ia mengakui jika dirinya memanglah gegabah dalam bertindak.


"Dash cam lo rusak, gue udah cek. Coba tadi lo foto plat mobilnya, lo rekam orangnya diem-diem pake handphone. Biar bisa lo kasih ke polisi, jangan elo sendiri yang bertindak. Kalau lo mati, siapa yang jagain Amanda?.


Arka diam.


"Lo mau, dari alam sana lo ngeliatin anak-anak lo nanti lari-larian, sambil manggil papa ke Nino?"


Arka makin diam, ia bahkan tak mampu membayangkan hal tersebut.


"Awas ya sekali lagi lo ambil tindakan berbahaya, tanpa koordinasi dulu sama gue. Gue nggak mau lagi temenan sama lo dan gue bakalan marah banget sama lo, inget itu."


Arka menghela nafas lalu mengangguk.


Sementara di kampus tempatnya mengajar, entah mengapa sejak tadi hati Amanda terasa begitu khawatir. Bayi-bayi yang berada didalam perutnya pun seperti gelisah. Mereka bergerak kesana-kemari seakan mengetahui kondisi hati ibunya yang diliputi kecemasan.


"Kenapa bu.?" tanya salah seorang rekannya sesama dosen.


"Ga tau bu, perasaan saya nggak enak dari tadi. Ini anak-anak juga gerak mulu di dalam, saya nggak tau apa yang saya khawatirkan."


"Bu Amanda kan, hamil bayi kembar. Hamil bayi kembar itu merupakan salah satu faktor resiko kecemasan pada ibu hamil."


"Emang ngaruh ya, bu?" tanya Amanda.


"Ngaruh dong, apa lagi kalau bu Amanda punya riwayat gangguan kecemasan atau depresi sebelumnya."


Amanda ingat, ia memiliki gangguan itu saat ia kecil. Ketika melihat orang tuanya yang selalu bertengkar.


"Terus, riwayat gangguan pra menstruasi juga ngaruh. Apalagi ditambah konflik dalam rumah tangga."


"Saya kalau konflik sih nggak ada, bu. Cuma yang tadi ibu sebutkan, ada."


"Coba deh, ikut kelas meditasi kehamilan. Kalau nggak mau ikut langsung, kan ada yang online. Bisa meditasi dirumah."


"Oh, iya. Makasih bu, atas sarannya."


"Sama-sama, bu."


Obrolan mereka pun berlanjut, ketegangan di hati Amanda sedikit berkurang. Sebenarnya, apa yang diucapkan oleh rekan sesama dosennya itu sangat benar. Faktor-faktor yang telah ia sebutkan tadi, adalah faktor resiko terjadinya kecemasan pada ibu hamil seperti Amanda.


Amanda pun sepertinya dipengaruhi oleh hal tersebut. Namun lebih dari itu semua, ada lagi faktor lain. Yakni kondisi Arka yang saat ini habis dipukuli orang. Sejatinya itu pulalah yang menimbulkan kecemasan di hati Amanda secara tiba-tiba.


Mereka adalah suami istri, yang belakangan cukup dekat satu sama lain dan mulai saling mencintai. Pastilah apapun yang terjadi pada salah satu dari mereka, akan mempengaruhi yang lainnya. Meski baik Arka maupun Rio tidak memberi tahu Amanda perihal tersebut, namun sebagai istri pastilah ia memiliki firasat.


Waktu berlalu.


Arka diperbolehkan pulang, karena luka yang dialaminya tak begitu serius. Ia pingsan karena pukulan di kepala, namun itu tak berpengaruh banyak bagi kesehatannya. Sementara itu kini Amanda menyambangi kost-kostan Liana. Untuk mencari dan menanyakan kabar karyawannya tersebut. Karena beberapa waktu belakangan ini, Liana amat jarang membalas pesan. Meski ia tetap mengirimkan pekerjaannya via email.


Liana hanyalah salah satu dari sekian banyak karyawan Amanda, yang diperbolehkan bekerja dari rumah. Perusahaannya tak hanya merekrut orang dari Jakarta saja, tapi juga banyak dari daerah lain. Mereka boleh bekerja dari manapun juga, yang penting sesuai target dan tenggat waktu yang telah ditentukan.


Amanda tak masalah, jika Liana ingin terus-terusan bekerja dari rumah. Namun karena hari-hari biasanya sering berinteraksi dan melihat Liana, bahkan meminta tolong ini itu padanya. Amanda merasa kehilangan, ketika perempuan itu tak menunjukkan batang hidungnya. Dan lagi sikap Liana yang akhir-akhir ini jarang membalas pesan, membuat Amanda menaruh curiga padanya.


Amanda meminta izin pada ibu kost untuk menunggu di depan. Ibu kost sendiri sudah mengkonfirmasi jika Liana ada di kosan dan tidak sedang pulang kampung.


Maka Amanda menunggu disana. Beberapa menit pun berlalu, tak ada tanda-tanda Liana akan hadir. Hingga ketika Amanda memutuskan untuk pulang, tiba-tiba Liana masuk dari pintu depan. Agaknya ia baru saja kembali dari suatu tempat.


"Liana?" Amanda menyapa Liana. Gadis itu terdiam dan tak dapat menghindar lagi.


"Bu, bu Amanda." ujarnya dengan nada gugup."


"Kamu kemana aja?" tanya Amanda kemudian. Liana menghela nafas, lalu membenarkan kacamatanya yang turun.


"A, anu bu. Du, duduk." ujarnya mempersilahkan Amanda. Wanita itu pun kembali duduk, setelah tadi ia sempat berdiri untuk menghalau Liana.


"Kamu baik-baik aja kan?" tanya Amanda seraya memperhatikan Liana. Perempuan itu kini lebih banyak tertunduk dan salah tingkah.


"Mmm, iya, saya baik-baik aja koq bu." ujarnya kemudian. Ia berkata masih dengan nada terbata-bata. Sesekali dibuangnya pandangan ke arah lain, guna menetralisir rasa gugup yang melandanya. Ia tak menyangka Amanda akan datang ketempat ini.


"Kalau kamu ada apa-apa, cerita sama saya. Jangan dipendam sendiri. Saya memang membebaskan kamu untuk bekerja dari rumah. Tapi paling tidak kamu kabari saya, kalau terjadi apa-apa. Karena saya sudah terbiasa ada kamu, sekarang tau-tau kamu menghilang gitu aja. Kan saya khawatir sama kamu jadinya."


"Hmm, maaf bu. Saya..."


Liana menghela nafas, mencoba mencari-cari alasan apa yang tepat dan kira-kira dipercayai oleh Amanda. Ia tak ingin Amanda mengetahui masalahnya.


"Saya, lagi sibuk kursus bahasa asing. Rencana pengen nagmbil S2 di luar negri."


"Oh, kamu pengen lanjut S2?"


"Iya, bu. Tapi baru rencana, lagi belajar bahasa dulu aja intensif."


"Iya nggak apa-apa, dong. Jadi perempuan itu emang harus mandiri ya, kan?. Makin bagus pendidikan, karier, makin besar juga kesempatan untuk menjadi lebih sukses."


"I, iya bu." ujar Liana kemudian.


"Ibu mau minum?" tanyanya berbasa-basi.


"Nggak usah, saya kesini mau memastikan aja. Kalau kamu itu nggak ada masalah."


"Hmm, sejauh ini nggak ada bu." jawab Liana.


"Ya sudah, tadi saya sudah transfer. Ada uang bonus, kali aja kamu mau belanja."


"Hmm, ma, makasih bu."


"Iya, sama-sama. Saya pulang, ya."


Amanda beranjak.


"Iya, bu. Sekali lagi terima kasih banyak."


"Iya sama-sama."


Amanda mulai melangkah.


"E, bu." Liana menghentikan langkah wanita itu.


"Iya?" jawab Amanda seraya menoleh.


"Hmm, kapan ibu mau cerai dari Arka. Hmm maksud saya, kalau nanti ibu mau minta tolong saya untuk urus surat cerai, saya akan urus." ujar Liana kemudian.


"Li, kan saya belum nikah resmi." ujar Amanda seraya tersenyum.


Liana kini makin gugup karena telah salah bicara. Sejujurnya ia ingin sekali mengetahui kapan perceraian itu akan terjadi, karena ia sangat ingin memiliki Arka. Namun ia malah melontarkan pertanyaan yang membuatnya terlihat bodoh.


"Saya lupa, bu. Maaf." ujarnya kemudian. Amanda kembali tersenyum.


"Nggak apa-apa. Lagian saya sama Arka juga, udah nggak niat cerai lagi koq."


"Liana tersentak, ditatapnya wajah bos perempuannya itu dalam-dalam."


"Ke, kenapa bu?" tanyanya kemudian, jujur kenyataan ini sangat memukul hatinya.


"Karena saya menyukai Arka dan Arka juga begitu. Lagipula anak kami kembar, kasian kalau nggak ada bapaknya."


Petir seakan menyambar di hati Liana, ia merasa telah melewatkan sesuatu yang besar. Jiwanya kini seperti dicabik-cabik.


"Saya pulang ya." ujar Amanda kemudian.


Liana memaksakan sebuah senyum, Amanda pun berjalan dan masuk ke dalam mobil. Ketika Amanda telah berlalu, Liana masuk ke kamarnya dan mulai terdiam. Mengingat semua perkataan Amanda barusan. Perkataan bahwa ia dan Arka, tidak akan bercerai.