Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Istri Galak


Arka pulang kerumah, dengan keadaan masih biru lebam di beberapa bagian tubuh. Ia telah menyiapkan alasan pamungkas, apabila Amanda nanti bertanya padanya.


Ia pulang dengan ditemani oleh Rio. Yang tentu saja telah bekerjasama dengan dirinya, untuk tidak menceritakan apapun dihadapan Amanda. Kecuali dengan alasan yang sudah mereka sepakati bersama.


"Arkaaa?"


Amanda setengah berlarian ke arah Arka dan juga Rio.


"Man, Man, Man. Lagi hamil."


Arka dan Rio mengingatkan Amanda, yang kini tampak begitu khawatir melihat keadaan suaminya. Meski tadi sudah diobati dirumah sakit, tetap saja penampilan Arka membuat wanita itu menjadi cemas.


"Kamu kenapa?" Amanda langsung menghambur dan memeriksa kondisi suaminya itu.


"Kamu berantem sama siapa, Ka?" tanya nya lagi.


"Tadi di lokasi syuting, ada miss komunikasi. Pada saat adegan berantem, aku salah. Jadinya kepukul." ujar Arka berdusta.


"Bohong, man." Tiba-tiba Rio nyeletuk, Arka terkejut melihat sikap temannya itu.


"Apaan sih, Ri?" Arka melotot pada Rio.


Amanda kini melihat kearah suaminya dan juga Rio secara bergantian


"Kalian nyembunyiin apa?" tanya nya kemudian.


"Dia."


"Ri." Arka masih coba menghentikan Rio.


"Kenapa?" tanya Amanda lagi. Kali ini suaranya agak meninggi.


"Tadi tuh Arka berantem, sama orang yang pernah pukul kepala lo waktu itu."


Arka benar-benar ingin menghajar Rio saat ini. Ia kesal mengapa temannya begitu bodoh mengatakan itu semua.


"Apa?. Ka, kamu ketemu orang itu?" tanya Amanda tak percaya, nada bicaranya bercampur panik yang amat sangat.


Arka berpaling, ia kesal pada sikap Rio. Padahal tadi mereka sudah sepakat untuk menutupi hal ini didepan Amanda.


"Jujur aja, Ka. Lo jangan bohong mulu sama bini lo." Kali ini Rio bersuara lagi.


"Ka, jawab." Nada bicara Amanda menjadi berubah, seakan ia marah pada apa yang telah dilakukan Arka.


"Iya aku ketemu dia, udah dua kali malah. Cuma kali ini aku bisa bener-bener deket dan menghajar dia. Saat ketemu pertama kali itu, aku kehilangan jejak dia."


"Buat apa, Ka?"


"Buat apa kamu bilang?. Aku harus tau motif dia apa?. Apa ada orang lain dibelakang dia, yang mau mencelakakan kamu. Selama dia masih berkeliaran, orang yang mau mencelakakan kamu itu juga masih akan berkeliaran. Kamu pikir aku nggak cemas apa, sama kamu dan anak kita?"


"Ya tapi nggak dengan cara gegabah kayak gitu juga."


"Dia berantem pas lagi sendiri dan hampir ketusuk sama orang itu." ujar Rio lagi


"Tuh kan." Suara Amanda mulai meninggi. Arka sendiri kian bertambah kesal karena merasa di keroyok dan dipojokkan oleh dua orang. Istrinya dan juga teman baiknya.


"Ka, aku lagi hamil Ka. Mikir panjang kek, kamu. Kalau ada apa-apa sama kamu gimana, gimana anak-anak kita."


"Tuh dengerin, Ka." timpal Rio.


"Kalau gue doang yang nasehatin, lo pasti tambeng. Dengerin nih langsung, bini lo yang ngomong. Jangan lagi lo lakuin hal bodoh. Minimal lo ajak gue, jangan sendirian. Kecuali lo, Jackie Chan." lanjutnya lagi.


"Awas ya, Ka. Aku bakalan marah, ngamuk, mogok makan. Biarin aja nih anak kamu kelaparan, kalau kamu nggak mau dengerin omongan aku. Pantes aku seharian ini nggak enak hati terus." gerutu Amanda.


Sementara Arka masih diam dan enggan menatap kedua orang itu.


"Denger nggak, Ka?"


"Aku denger, Man. Kuping aku masih disini ya, nggak usah ngegas sama suami."


"Kamu aja ngegas." Amanda berbicara didepan wajah suaminya, membuat Arka terkejut dan Rio menahan tawa.


"Ok, aku minta maaf. Aku nggak mau berantem lagi. Ok bu Amanda?"


"Pokoknya awas kalau besok kamu kemana-mana. Diem dirumah dulu selama beberapa hari. Kalo berani keluar, aku muntahin anak kamu, biar dia keluar besok."


Amanda berlalu meninggalkan tempat itu, sementara kini Rio terkekeh.


"Lo emang bangsat ya, Ri." Arka melemparkan bantal sofa ke arah Rio.


"Emang, hahaha. Kalau nggak gitu, ntar lo lakuin lagi sendirian bro. Gue tau elo, lo mah jarang mikir panjang. Kayak tadi, lo pikir gue nggak cemas. Sampe teriak-teriakan kayak orang gila gue, ngeliat lo begitu."


"Iye, sorry."


"Mau kemana, kamu?" tanya Amanda pada Arka. Wanita itu kini muncul dengan kotak P3K.


"Mau nganter Rio bentar kebawah."


"Jangan, biar aku aja. Kamu disini, istirahat."


"Kamu kan lagi hamil."


"Sejak kapan orang hamil nggak boleh turun kebawah, aku aja masih kekantor koq." ujar Amanda sewot.


"Iya udah sana, marah mulu."


"Abis kamu ngeselin. Aku tau kamu mau gebukin Rio kan dibawah, karena dia ngasih tau aku soal ini."


"Nggak."


Rio menahan tawa disudut sana.


"Udah, deh." Amanda kemudian berjalan dan diikuti oleh Rio.


"Bye, bro. Gue diselamatkan Tuhan, biar nggak lo gebuk." ujar Rio dengan nada meledek yang menyebalkan. Membuat Arka ingin rasanya mensleding kepala sahabatnya itu.


"Makasih ya, Ri. Udah ngasih tau gue soal ini." ujar Amanda, ketika mereka sudah berada di dalam lift.


"Iya sama-sama, Man. Gue tau si Arka pasti sebel sama gue, tapi ya ini satu-satunya cara gue supaya dia nggak sembarangan bertindak lagi. Tadi tuh nyaris banget, tau nggak. Sampe sekarang gue masih lemes inget itu. Kalau nggak diginiin, Arka tuh tambeng. Apalagi dia sekarang lagi bucin-bucinnya banget sama lo. Segala bakal dia lakukan buat lo, nah jangan sampe yang dia lakukan itu salah. Atau bahkan membahayakan keselamatannya dia."


"Iya, gue ngerti. Makasih ya sekali lagi, ini juga karena gue terlalu teledor waktu itu. Gue kemana-mana itu nggak hati-hati. Gue nggak tau kalau kasus itu menyulut kemarahan Arka, dan bikin dia jadi pengen tau siapa pelakunya."


"Iya pokoknya lain kali lo juga ati-ati, Arka juga bakalan gue ingetin terus koq." ujar Rio lagi.


Mereka kini tiba di lobi.


"Lo dianter pak Darwis ya, Ri."


"Nggak usah, Man. Gue naik ojol aja." ujar Rio kemudian.


"Sekalian aja, pak Darwis mau pulang koq. Dia selalu bawa mobil gue kalau pulang kerumahnya."


"Ngerepotin, Man."


"Kagak, udah. Udah gue chat koq pak Darwis nya. Nah tuh dia tuh." Amanda menunjuk mobilnya yang kini berhenti di depan lobi.


"Ya udah gue balik yak."


"Thank you ya, Ri."


"Sip, kabarin gue kalau ada apa-apa." ujar Rio kemudian.


"Iya."


Rio pun masuk kedalam mobil Amanda yang dikemudikan oleh pak Darwis. Tak lama kemudian, mobil tersebut pun mulai merayap.


Amanda kembali ke atas, ketempat dimana kini Arka masih terdengar membersihkan diri di kamar mandi. Amanda kemudian membereskan barang Arka yang masih berserakan.


Ia lalu menyiapkan makan malam untuk suaminya itu. Tak lama Arka pun keluar dari kamar mandi, Amanda langsung menghampirinya.


"Obatin dulu, Ka. Itu udah kena air loh tadi."


Arka mengangguk, lalu duduk di pinggiran tempat tidur. Amanda kini membuka kotak P3K yang telah ia ambil sebelumnya didepan. Ia mulai mengobati lebam-lebam yang ada di pelipis dan sudut bibir suaminya itu.


"Man."


"Hmm, apa?" Amanda masih judes seperti tadi, Arka kini tertawa melihatnya.


"Apa yang kamu ketawain?" tanya Amanda ketus, namun lucu di mata Arka.


"Kamu lah." jawab Arka.


"Emang aku grup lawak."


Arka makin tertawa.


"Awas ya kamu kayak gitu lagi. Aku khawatir seharian ini, tanpa aku tau apa yang bikin aku khawatir."


"Iya, aku minta maaf ya."


"Aku maafin, tapi hukumannya masih harus kamu jalanin. Besok kamu nggak boleh kemana-mana, istirahat dirumah sampe kondisi kamu mendingan. Dan kalaupun udah mendingan, jangan pernah bertindak gegabah lagi. Kita nggak tau siapa orang yang tengah kita hadapi saat ini. Kita jangan bergerak sendiri-sendiri, Ka. Inget aku, inget anak. Itu aja."


Arka mengangguk, ua lalu memeluk Amanda dan menciumi perutnya.


"Maafin aku." ujarnya kemudian.