
Sejak konten horor pertama dibuat, Rio semakin menjadi-jadi. Meski sempat peralatannya tertinggal pada insiden malam itu, ia tetap tak ada kapoknya membuat konten di tempat angker.
Malam ini saja, setelah beberapa hari berlalu. Ia mengajak Arka, Nino, dan Ansel untuk menyambangi rusun yang di gunakan dalam pembuatan film horor, yang baru saja tayang di bioskop.
Rusun tersebut merupakan proyek mangkrak dari sebuah pengembang, yang gagal mendapatkan investor lebih banyak.
Meski baru beberapa tahun terbengkalai, namun rusun tersebut benar-benar terlihat menyeramkan. Dari tampilan, suasana sekitar, udara yang terasa, semuanya mendukung.
"Lo dapat aja lagi tempat beginian."
Arka berkata seraya menilik ke sekitar. Mereka kini tengah menaiki tangga guna menuju ke lantai berikutnya.
"Namanya juga Rio. Apapun demi konten, pasti dia lakukan." ujar Ansel.
"Eh, gue masih depan mata lo semua ya Bambang. Berani-beraninya gosipin gue depan mata." Rio berseloroh, sementara Arka, Nino, dan Ansel kini tertawa-tawa.
"Habisnya elu, ngonten ke tempat beginian mulu." ujar Nino.
"Biar banyak viewers, Nin. Tau sendiri konten gue yang sebelumnya meledak dan meraih banyak subscriber. Di negara kita kita kalau nggak jualan kesedihan, ya jualan kepercayaan sama hantu-hantuan. Pasti laris manis." ujar Rio.
"Iya sih, liat aja konten-konten yang katanya membantu sesama. Pasti pada laku." ujar Arka.
"Apalagi kepercayaan sama hantu-hantuan." ujarnya lagi.
"Konten makan-makan juga laku." Ansel menimpali.
"Nah iya, gue mau juga tuh bikin konten mukbang." ujar Rio.
"Kenapa nggak langsung bikin aja. Lebih enak makan ketimbang ke tempat beginian." tukas Arka.
Mereka terus melangkah dan tiba di lantai berikutnya. Lantai tersebut lebih menyeramkan dari lantai sebelumnya. Selain itu juga tempat tersebut sangat berdebu dan minim cahaya.
"Kan gue udah bilang, karena lagi viral konten horor, ya udah tekunin yang itu dulu." ucap Rio.
"Pletak!"
Terdengar suara benda seperti jatuh dari suatu arah. Sontak Arka, Rio, Nino dan Ansel pun terkejut. Mereka semua lalu menoleh ke arah sumber suara itu.
"Apaan tadi?" tanya Ansel seraya terus memperhatikan. Sebab mereka tak menemukan apa-apa. Sepertinya benda itu jatuh di tengah kegelapan yang tak terlihat oleh mata mereka.
"Biasa potongan kayu." ujar Rio.
"Iya kalau potongan kayu, kalau misalkan itu potongan kelapa?" tanya Ansel.
Ia memplesetkan kata kepala menjadi kelapa, karena takut bicara sembarangan.
"Nih bule horornya lokal banget dah." ujar Rio.
"Dari dulu Ansel emang tertarik sama-sama film horor lokal Asia." tukas Nino.
"Pletak."
Suara itu terdengar lagi. Arka mengarahkan senter ke titik yang gelap, tempat dimana suara itu tadi terdengar. Terlihat seekor tikus berlarian menjauh dari arah sana. Mereka semua bernafas lega, ternyata apa yang mereka pikirkan bukanlah seperti itu.
Mereka sudah mengira jika itu adalah hantu. Namun ternyata hanya seekor hewan pengerat yang memiliki ekor panjang.
"Gimana nih, mau hidupkan kameranya sekarang nggak?" tanya Arka.
"Ya udah, kita mulai penelusuran dari sini aja." ucap Rio.
Nino dan Ansel teringat saat mereka masih di high school dulu. Mereka juga senang mencari-cari entitas disekitar. Sampai kemudian mereka mengalami sebuah peristiwa yang menakutkan. Kemudian mereka kapok dan tak melanjutkannya lagi.
"Nih udah siap."
Arka berujar pada Rio ketika seluruh peralatan sudah rampung.
"Oke kita mulai." ucap Rio.
Ia memperhatikan sekitar.
"Kayaknya enak di pojok sana deh."
Ia menunjuk sebuah spot yang terlihat menyeramkan.
"Tapi dibawahnya banyak kayu-kayu gitu." ujar Ansel
"Ngeri paku sama ular aja sih gue." lanjutnya lagi.
"Emang ada ular yang bisa naik?" tanya Nino heran.
"Kali aja itu ular berkaki atau bisa terbang."
Ansel mengemukakan teori yang membuat semua orang ingin menjitak kepalanya.
"Mending ruangan lain aja, Ri." tukas Arka.
"Bener kata Ansel, takutnya paku." imbuh pemuda itu.
"Ya udh deh." jawab Rio.
Maka mereka pun menyidak sekitar dan mencari kira-kira dimana spot yang paling aman, untuk mulai mengambil video.
Setelah dapat, mereka langsung melakukan proses syuting. Seperti biasa video tersebut diawali dengan penjelasan mengenai tempat. Termasuk kisah-kisah yang menyertai dibelakangnya.
Ada yang asli, namun ada juga yang ditambah-tambahi oleh Rio agar terkesan dramatis serta kian menakutkan.
Mereka melakukan penelusuran di sekitar tempat itu. Sesekali Rio berkata jika dirinya merinding, padahal belum tentu kenyataannya seperti itu. Tetapi karena ia merupakan seorang aktor, maka berakting bukanlah hal yang sulit baginya.
Acara kemudian dilanjutkan dengan uji nyali. Seperti biasa pula Rio bertindak di belakang layar, sementara teman-temannya menjadi korban.
Satu persatu dari mereka diminta tinggal bersama lilin dan kamera infra red. Kemudian mereka diminta menjelaskan apa saja yang terjadi dan enegi apa saja yang mereka rasakan.
Mereka pun berakting mengenai hal tersebut. Arka terlihat cukup meyakinkan, sementara Ansel benar-benar takut. Hanya Nino yah stay cool sampai akhir sesi.
Setelah video selesai dibuat mereka merokok sebentar, kemudian berakhir di warung tenda yang menjual sate. Mereka makan sambil membicarakan konten-konten selanjutnya.
Di tempat itu Rio melihat ada seorang food vlogger yang tengah membuat video. Ia pikir tak buruk apabila kelak ia membuat konten yang sama.
Mereka pulang ketika hari telah larut. Sesampainya dirumah, Amanda meminta Arka untuk mandi terlebih dahulu sebelum menyentuh anak-anak.
"Takutnya nanti ada setan yang nempel, Ka." ujar Amanda pada suaminya tersebut. Maka Arka ini kemudian mandi. Usai mandi barulah ia mendekati si kembar. Kebetulan si kembar bangun tengah malam karena lapar.
Usai bermain sejenak bersama Arka, mereka kembali tertidur. Arka yang lelah pun akhirnya turut memejamkan mata. Ia bahkan terlelap terlebih dahulu ketimbang Amanda.
Amanda masih menyelesaikan beberapa tugas, kemudian ia pun menyusul sang suami untuk tidur.