Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Bersama Si Kembar (Bonus Chapter)


"Eheeee."


"Hoayaaa."


"Mana ya Azka?"


Arka pura-pura tidak melihat keberadaan anaknya, yang saat ini tengah bersembunyi di salah satu ruangan. Sesekali kepala bayi itu terlihat seolah mengintip ke arah Arka.


"Eheeee."


"Oh disini rupanya." ujar Arka.


Azka berbalik arah dan menghindari ayahnya.


"Sini kamu!" ujar Arka lagi..


"Eheeee."


Bayi itu merayap dengan mode ngebut, meski akhirnya tertangkap juga oleh Arka.


"Hmm, dapat. Akhirnya dapat kamu hoayaaa."


Terlihat Azka memberontak namun tertawa-tawa.


"Eheee."


"Ngapain ayo?"


Amanda berbicara pada Afka yang mengintip dari balik pintu. Anak itu menilik ke arah Amanda yang tengah membersihkan lantai kamar mandi.


"Eheeee." Afka bersembunyi, lalu kembali mengintip.


Tak lama kemudian Amanda pun selesai, ia mencuci tangan lalu keluar dari kamar mandi tersebut dan menggendong Afka.


Ia membawa bayi itu keluar dari kamar, ketempat dimana Arka tengah menggendong Azka. Sambil melihat pemandangan gedung-gedung sekitar.


Amanda pun mendekat ke arah sana. Ia dan Arka sama-sama berdiri di dekat kaca dan membiarkan kedua anak mereka melihat ke sekitar.


Azka dan Afka diam, seperti takjub atau mungkin merasa aneh. Apalagi tak lama setelah itu, terlihat helikopter yang melintas di sebuah sisi. Mereka berdua melongo untuk waktu yang cukup lama.


"Liat apa barusan?" tanya Arka pada anak-anaknya.


Kedua anak itu diam, namun mata mereka terus menatap ke langit.


"Belum pernah liat, Ka." ujar Amanda.


"Iya, masih aneh di mata mereka." timpal Arka.


"Abis ini kalian makan ya." Amanda kembali berujar.


"Iya kan udah siang, mama. Kami belum makan siang." ujar Arka.


"Ya udah deh, mama siapin dulu ya."


Amanda menyerahkan Afka pada pada ayahnya. Beruntung ia mempunyai suami yang pergi ke gym hampir setiap hari, sehingga menggendong dua bayi bukanlah masalah yang besar bagi Arka. Mengingat kadang ia angkat beban jauh melebihi berat kedua anaknya itu.


"Sama papa dulu ya." ujar Amanda.


"Hoayaaa."


Wanita itupun menyiapkan makanan, berupa bubur pumpkin atau labu kuning. Karena kemarin-kemarin anak-anaknya sudah memakan bubur beras merah, kacang hijau, campuran nasi dan sayuran serta daging.


Hari ini adalah giliran labu kuning. Lagi pula dari semua yang pernah dimakan, labu kuning ini yang menjadi favorit mereka berdua.


Amanda menyiapkan dua buah kursi khusus bayi, yang membuat mereka tak bisa kabur kemana-mana. Amanda dan Arka mendudukkan kedua bayi itu disana dan sama-sama menyuapi mereka.


"Aaa'k, aaaam."


Kedua anak itu makan dengan lahap, Amanda dan Arka terlihat begitu bahagia. Tak ada hal yang lebih menyenangkan, selain melihat anak-anak tumbuh sehat.


"Bzrzrzrzr."


Azka mendadak menyemburkan bubur dari dalam mulutnya, ketika bubur tersebut sudah sedikit lagi habis. Semburan itu mengenai wajah Arka, sehingga membuat ia dan Amanda kaget.


"Dek, nggak boleh gitu sama papa. Kalau udah nggak mau jangan gitu, tutup aja mulutnya jangan terima makanan."


Amanda menasehati Azka sambil menahan tawa, lantaran melihat wajah Arka yang terkena semburan. Arka mengambil tissue sambil menahan tawanya pula.


"Nih si Azka, bener-bener dah." ujar Arka kini tak lagi bisa menahan tawanya.


"Afka doang yang nggak ya, nak?" Amanda memuji.


Namun detik berikutnya pujian itu tak lagi berlaku. Pasalnya tangan mungil Afka masuk ke dalam mangkuk berisi bubur dan memindahkan isinya ke tangan Amanda.


"Hmm, sama aja." Amanda menggerutu, sementara Arka menertawakannya.


"Eheeee." Afka tertawa dengan wajah tanpa dosa.


Kejahilan Amanda pun keluar, ia mencolek bubur tersebut dengan jari telunjuk. Lalu mengoleskan ke wajah masing-masing anak kembarnya. Kedua bayi itu terdiam, karena merasakan lengket di wajah mereka.


"Eheeee." ujar Arka dan Amanda dengan tatapan nakal.


Amanda bersandar di sudut kiri bersama Afka, sedang Arka bersandar di sudut kanan bersama Azka. Mereka berada dalam kehangatan dan keintiman sebuah keluarga.


"Bentar lagi setahun ini, Ka." ujar Amanda seraya mengusap kepala anaknya. Sementara para bayi fokus pada bebek-bebek kuning yang mengapung di sekitar.


"Iya, udah nggak sabar aku main sama mereka di luar rumah." ujar Arka seraya tersenyum.


"Aku juga udah nggak sabar, nganter mereka ke sekolah. Ngajarin mereka ini itu." timpal Amanda.


Ia dan Arka kini saling berpegangan tangan, sementara tangan yang satu lagi tetap memegang para bayi.


"Makasih ya, Ka. Kamu selalu ada dan bantu aku merawat mereka."


Arka tersenyum.


"Kan aku bapak mereka, aku juga harus bertanggungjawab terhadap tumbuh kembang mereka. Kalau punya anak punya anak doang, tapi nggak mau bantu ngurus ya. Jangan punya anak."


Amanda tertawa.


"Iya, kadang aku heran di sosmed. Tiap kali aku posting keseruan, keriwehan ngurus mereka. Selalu aja ada netijen yang komen. "Katanya CEO kaya, koq nggak ada pembantu. Masih ngurus bayi sendiri."


Kali ini Arka yang tertawa.


"Mungkin mereka terlalu lelah sama pekerjaan rumah mereka. Ngurus anak dan lain-lain, jadi berkhayal punya pembantu yang bisa di perintah-perintah buat mengambil alih pekerjaan mereka." ujar Arka.


"Bisa jadi sih." ujar Amanda seraya masih tertawa.


"Mungkin mereka pikir, kalau punya pembantu itu. Bisa langsung lepas segala tanggung jawab dan kerepotan dalam mengurus anak. Bisa santai, main hape, mantengin lambe turah, terus mengomentari postingan orang. Sementara anak sama pembantu."


"Ya tipikal orang kita lah. Padahal namanya pembantu itu ya artinya "Yang membantu." Bukan yang mengambil alih semua pekerjaan."


"Makanya, aku sih bisa aja kasih perintah sama Anita, Lastri dan lain-lain untuk ngurus dua bocil ini. Hari-hari sibuk juga, ini anak dua dijagain sama mereka. Tapi ya nggak mesti full seharian juga. Mereka ini butuh orang tuanya, butuh berinteraksi dan lain-lain."


"Karena kan anak-anak kita, ya harusnya kita yang lebih banyak waktu buat mengurus mereka. Yang mereka butuh itu orang tua, bukan orang lain." timpal Arka.


Tiba-tiba mereka mendapati sebuah pemandangan.


"Ngomong-ngomong koq pada redup." ujar Arka melihat mata kedua anaknya yang mulai sayu.


"Anget Ka airnya. Pada ngantuk jadinya." jawab Amanda.


Keduanya pun beranjak dan berjalan ke tempat penggantian baju bayi, yang masih berada didalam kamar mandi tersebut.


Mereka meletakkan Azka dan Afka di atas handuk, lalu keduanya pun mengenakan handuk terlebih dahulu. Sebelum akhirnya mengurus para bayi dan memakaikan mereka baju.


Usai anak-anak tersebut rapi, mereka digendong dan di bawa ke kamar. Amanda menyiapkan ASI di botol lalu memberikan pada kedua anak itu.


Tak lama si kembar pun kian meredup, seiring dengan berkurangnya ASI didalam botol. Usai memastikan keduanya terlelap, Arka dan Amanda kembali ke kamar mandi. Arka kembali masuk ke dalam bathtub dan kini giliran Amanda mengurus suaminya itu.


***


Amanda memijat kepala dan bahu Arka. Sambil mengganti air hangat yang sebelumya sudah dibuang melalui saluran pembuangan. Air tersebut mengalir dari keran, menutupi tubuh Arka sedikit demi sedikit.


Amanda terus memberikan pijatan pada sang suami, sentuhan demi sentuhan tangan wanita itu. Telah membangkitkan sesuatu yang semula tertidur.


Arka menjadi gemas dan menarik istrinya itu ke dalam pelukan. Kini Amanda berada di pangkuan Arka, perlahan tangan Arka mulai mengelus perut istrinya itu sambil menatap dan sesekali mencium bibirnya.


Nafas Amanda memburu, ia menangkup bibir suaminya itu dan menciumnya dengan penuh gairah. Sementara tangan Arka sudah berada di antara kedua kaki Amanda.


Naik turun memberikan usapan-usapan yang amat sangat. Keduanya mulai belingsatan, karena tangan Amanda pun turut bergerak menyentuh bagian-bagian dari tubuh suaminya.


Tangan Arka berpindah ke atas, lalu meremas salah satu bagian favoritnya. Sementara bagian lain ia kecup dan ia hisap dengan sangat.


"Ah, Arkaaa."


Amanda semakin menggila. Ketika pemanasan dirasa cukup, Arka pun mulai membenamkan cintanya di relung kehangatan milik Amanda.


Tatapan matanya tak terlepas dari sang istri, ketika bagian tubuhnya itu melesak masuk.


Hati keduanya dipenuhi gejolak dan cinta yang begitu besar. Pada detik berikutnya, hanya ada erangan dan racauan yang terdengar. Berpadu dengan bunyi kecipak air didalam bathtub. Air tersebut tumpah-tumpah dan membasahi lantai sekitar.


Arka mengerang dan meracau di sela-sela hentakan yang ia berikan pada Amanda. Sementara Amanda hanya bisa mengerang sambil menyebut nama suaminya itu.


Beberapa saat berlalu,


"Aaaaakh."


Sebuah teriakan panjang, menandai berakhirnya aktivitas penuh kenikmatan tersebut. Arka dan Amanda berpelukan dalam suasana yang begitu emosional. Entah mengapa hubungan kali ini, membuat keduanya sama-sama ingin menangis.


"Jangan tinggalin aku, Amanda." Arka memeluk istrinya itu seolah takut apa yang ia pikirkan akan terjadi.


"Justru aku yang nggak mau kamu tinggalin, Ka. Aku nggak mau semua yang kita lewati ini, dinikmati perempuan lain. Aku nggak rela."


Arka tersenyum lalu mengecup bibir istrinya itu.


"Aku suami kamu Amanda, dan akan selalu seperti itu. Aku janji nggak akan memberikan diri aku ke perempuan lain, karena aku juga nggak mau kamu melakukan hal yang sama. Kamu milik aku." ujar Arka.


Kedua insan itupun saling berpelukan dengan erat.