Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Lagi-lagi Rani


"Hoaaaaaa."


"Hakhaaaa."


Bayi-bayi bersuara dalam gendongan neneknya dan juga Rianti. Persediaan Asi sudah hampir habis, untung saja ada tetangga yang berniat mendonorkan ASI nya. Jika memang nanti ASI yang sempat ditinggalkan Amanda sebelum kecelakaan telah habis.


"Hoaaaaaa, akkaaaaahoaaa."


"Kangen mama sama papa ya?" ujar Rianti seraya mengelus kepala keponakannya itu. Ia kini tengah menggendong Azka, sementara tantenya menggendong Afka.


Sudah 5 hari berlalu, namun Arka dan Amanda belum juga menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Meski dokter sempat menyatakan kondisi mereka sudah stabil, namun sempat ada dua kali mereka drop. Hingga harus kembali mendapatkan perawatan intensif.


"Afka sama Azka doain papa mama, ya sayang. Semoga papa-mama cepet sembuh." Ibu Arka berujar dengan tangis yang tertahan, dadanya kini menjadi sesak.


"Hoaaaaaa."


"Iya sayang, cepet sembuh papa, mama. Afka sama Azka kangen."


"Awawaiawa."


"Iya, sayang."


Ibu Arka mencium cucunya sambil menyeka air mata. Sementara di rumah sakit, tiba-tiba saja Rani masuk ke ruangan tempat dimana Arka dan juga Amanda dirawat. Ia mengatakan jika dirinya adalah kerabat pasien, hingga ia pun diizinkan untuk menengok. Saat itu Rio sedang pergi entah kemana.


Dari pintu ruangan tersebut, Rani menatap Amanda dengan hati yang begitu bahagia. Ia kemudian melangkah mendekati saudaranya yang tengah terbaring itu.


"Gimana, Man?. Gimana rasanya berada dekat dengan kematian?" Rani berkata dengan nada ala dialog sinetron yang sering ia tonton.


"Gue bisa aja bunuh lo sekarang. Tinggal gue cabut alat bantu yang menopang kehidupan lo ini dan lo mati. Suami lo juga bisa, tapi agak sayang sih. Mendingan laki lo buat gue, hahaha."


Wajah Rani berubah, dari yang tadinya tertawa terbahak menjadi diam penuh dendam.


"Tadinya gue pengen lo berdua mati, tapi setelah gue pikir lagi. Arka itu ganteng juga, sayang kalau dibuat mati. Mending dia sama gue, dan dari alam kematian lo bisa lihat. Betapa nanti gue akan bahagia hidup sama Arka, setelah kematian lo."


Rani pun tertawa dengan penuh kemenangan. Sepertinya jiwa perempuan itu memang benar-benar sudah terganggu.


"Sayang sih, di ruangan ini ada CCTV. Kalau nggak ada, udah gue mampusin lo. Jijik tau nggak gue sama lo, sok baik, sok cantik, sok pinter, sok paling sukses, sok segalanya. Padahal lo itu biasa aja, tau nggak?"


Rani menggenggam rambut Amanda lalu menjambaknya dengan kuat, hingga kepala wanita itu terkulai kesamping. Tak lama setelah itu, ada rombongan perawat dan dokter yang memeriksa kamar depan. Dan sudah dipastikan mereka pun akan menyambangi tempat dimana Amanda dan Arka kini berada. Rani pun buru-buru meninggalkan tempat itu, sebelum dicurigai lebih lanjut.


Beberapa saat kemudian, tak lama setelah Rani pergi. Rio pun tiba dan masuk ke dalam ruangan tersebut.


***


Disisi lain, Ryan dan orang-orangnya mulai menemukan titik terang. Adalah hal kecil baginya untuk bisa mengungkap perkara ini. Sebab ia banyak memiliki hubungan dengan orang-orang hebat di bidangnya, terutama yang menangani tindak kejahatan seperti ini.


"Ryan, bukti sudah menjurus kesana. Apakah bisa kita serahkan pada pihak yang berwajib?"


Seseorang yang ia sewa berkata pada Ryan.


"Ok." ujar Ryan kemudian.


"Jangan sampai dia melarikan diri."


"Jangan lupa cari tau juga, apa ada orang lain dibalik semua ini. Itu harus diusut sampai tuntas, kalau tidak dia pasti akan mencelakai Arka dan juga Amanda lagi."


"Baik, serahkan pada saya dan team."


"I trust you." ujar Ryan.


Orang tersebut pun pamit pada Ryan dan meninggalkan ruangan kerja laki-laki itu. Ryan ingin beranjak, namun kemudian ia teringat pada Amman. Ia ingin mengganggu sedikit, teman lamanya itu, maka ia pun menelpon Amman.


"Hai, old friend." ujar Ryan dengan nada menyebalkan.


"Ada apa lagi?" tanya Amman dengan nada kesal.


"Bagaimana produk yang satu itu, sukses?"


Amman diam, ia tahu jika ini semacam sindiran kepada produknya yang gagal laku di pasaran. Perusahaan Ryan sengaja membuat produk yang sama, dengan fungsi yang sama pula. Tetapi harga mereka lebih rendah.


"I cuma mau mengingatkan you, Amman. My Old Old Friend, you cuma punya waktu satu bulan lebih dikit. Setelah itu perusahaan saya akan tutup mata dan tidak akan menerima penawaran kerjasama apapun lagi, dengan perusahaan you."


"Saya sibuk." ujar Amman lalu menutup telpon. Ryan tertawa sejenak, paling tidak ia punya sedikit hiburan. Di sela-sela kekhawatirannya terhadap kondisi Arka dan juga Amanda.


Usai puas mengerjai temannya itu, Ryan pun keluar dari dalam ruangan untuk mengecek kinerja karyawannya.


***


Kantor manajemen peace production, dihari ke enam pasca kecelakaan yang menimpa Arka dan juga Amanda.


Jeremy dan Philip serta mbak Arni, mereka semua sudah menjenguk Arka maupun istrinya. Beberapa rekan sesama artis termasuk Robert, mereka semua pun telah turut mendatangi serta mendoakan kesembuhan bagi Arka dan juga istrinya tersebut.


Namun hanya satu dari mereka yang tak ikut datang kesana, yakni Doni. Diketahui jika Doni memiliki masalah, yang tak diketahui oleh manajemen maupun rekan sesama artis. Yakni ia pernah ingin memperkosa Amanda, semasa wanita itu hamil tua. Hanya mbak Arni dan Bianca saja yang mengetahui hal tersebut.


Mbak Arni pun tak mengatakannya pada Jeremy maupun Philip, karena ia rasa itu tak begitu perlu. Toh Doni juga sudah dibalas perlakuannya oleh Arka maupun Rio. Mbak Arni sendiri tak ingin mematikan rejeki Doni, karena baik Arka maupun Rio pun tak ada yang mengadu pada pihak manajemen.


Namun kedatangan Doni ke kantor manajemen kali ini, benar-benar membuat Robert maupun mbak Arni mengelus dada. Pasalnya Doni terkesan sangat menginginkan pekerjaan Arka.


Ada beberapa project yang akan segera digarap, para klien tersebut sebelumnya menginginkan Arka untuk bekerjasama dengan mereka. Namun tiba-tiba Doni masuk menemui klien tanpa sepengetahuan mbak Arni, Philip maupun Jeremy. Ia mengatakan jika Arka tengah koma dan tak mungkin ada harapan lagi untuk sembuh.


Para klien pun akhirnya meminta Doni untuk bekerjasama dengan mereka. Hal ini pertama kali di ketahui oleh Robert, Robert lah yang akhirnya mengadu pada mbak Arni soal kelakuan Doni.


Doni mendapatkan kontrak dengan mereka, namun mbak Arni menjadi kesal padanya. Sebab Doni tak meminta izin dulu pada dirinya. Sedang ia adalah staff talent disitu, yang mengurus segala kerjasama maupun keperluan talent-talent yang tergabung disana.


"Songong nih, Doni. Lama-lama emang ngeselin tau, dia. Udalah gue diem aja didepan pak Jeremy sama Philip, soal dia yang waktu itu mau memperkosa istrinya Arka. Sekarang dia ngelangkahin gue." gerutu mbak Arni.


"Doni tuh jangan dikasih hati, mbak." ujar Robert kemudian.


"Jahat anak itu." lanjutnya lagi.


"Nggak lagi deh, gue mau ngurusin. Bodo amat, songong lama-lama. Baru terkenal sedikit-sedikit udah songong, gimana jadi artis papan atas." lanjutnya lagi.


Tak lama Doni pun terlihat melintas didekat mereka, sambil berbicara pada klien. Mbak Arni pun menatapnya dengan penuh kekesalan.