
Pagi itu, Amanda meminta pulang ke penthouse. Karena banyak sekali hal yang tertinggal disana dan mesti ia urus. Meski khawatir Amman akan menemukannya, namun Amanda tak memiliki pilihan lain.
Sesampainya di penthouse, ia langsung pergi mandi. Karena tadi tak sempat mandi dirumah sang mertua.
"Man, ada yang nelpon terus tuh di handphone kamu." ujar Arka, ketika Amanda baru selesai mengeringkan rambutnya.
"Siapa?" tanya Amanda kemudian.
"Nggak tau, nggak ada namanya." jawab Arka.
"Tuh nelpon lagi tuh."
Amanda pun mengangkat telpon tersebut.
"Hai, girl."
Sebuah suara terdengar diseberang sana, Amanda mengenali suara tersebut.
"Rachel."
Rachel tertawa, dengan nada yang membuat Amanda begitu muak.
"Masih ingat kamu rupanya sama mama."
"You're not my mother." jawab Amanda hingga mengundang perhatian Arka.
"Oh, ternyata masih galak seperti dulu kamu ya. Pantes nggak laku-laku."
Amanda menarik nafas penuh emosi. Andai saja Rachel ada didepan matanya, pasti sudah ia pukul wajah wanita itu.
"Sebentar lagi akan ada kejadian besar, kalau kamu tidak segera menghadap kepada papa dan juga mama. Jadi persiapkan diri kamu, Amanda sayang."
"Tidak ada seorang pun yang bisa mengatur saya, camkan itu!"
Amanda menutup telponnya, namun Rachel lagi-lagi menelpon. Amanda mematikan handphone tersebut dan meletakkannya didalam lemari, ia pun lalu mengambil handphone lain.
"Ka, ini nomor aku yang baru."
Amanda meraih ponsel Arka yang tergeletak di atas meja, lalu mengetik nomornya disana.
"Loh hp yang tadi?"
"Itu nggak akan aktif sampai waktu yang telah ditentukan."
"Tadi itu, siapa?" tanya Arka.
"Nenek sihir yang menikah sama papa aku."
"Maksudnya, ibu tiri kamu?"
"Dia bukan ibu, tapi kuntilanak." ujar Amanda ketus..
Arka menarik nafas dan tak melanjutkan lagi pertanyaannya, sebab itu hanya akan menyulut emosi Amanda lebih lanjut.
Sementara dirumahnya, Intan sudah memantapkan hati untuk mengadukan segala perkara yang ia ketahui pada Amanda. Ia mulai mengirimkan foto-foto dan juga video bukti-bukti, mengenai hal mencurigakan tentang Rani.
Ia mengirimkan semua itu ke nomor handphone Amanda, namun sayang handphone tersebut adalah handphone yang kini disimpan Amanda didalam lemari. Sampai ketika Amanda tiba di kantor, ia tak memberikan reaksi apa-apa. Bahkan seolah acuh tak acuh.
Intan bingung, mengapa reaksi Amanda demikian. Apakah Amanda sengaja diam dan berpura-pura tidak tahu, lalu ia akan memergoki Rani dengan sendirinya.
"Ah, mungkin bu Amanda lagi nyusun strategi." ujar Intan dalam hati, ia pun lanjut bekerja.
***
Sementara di sebuah hotel pagi itu, Amman yang baru saja menyelesaikan proses pembuahan lanjutan, tersenyum dimuka Vera. Begitupula dengan Vera, ia juga tersenyum lalu membisikkan sesuatu di telinga Amman.
"I'm pregnant." ujarnya kemudian.
Amman terkejut mendengar pernyataan tersebut.
"Really?" ujarnya sumringah.
"Ya, aku sudah ke dokter. Hasilnya positif." ujar Vera.
Amman tersenyum lalu mencium kening wanita itu.
"I'm so happy." ujarnya kemudian.
Keduanya lalu kembali tersenyum satu sama lain.
***
Hari itu Arka mulai mengumpulkan berkas-berkas yang diperlukan. Semalaman ia berdiskusi dengan Amanda ketika mereka masih berada dirumah ibunya. Bahwa mereka harus segera mendaftarkan pernikahan secara resmi.
"Kasian anak-anak, kalau nggak diresmikan secara hukum."
Begitulah perkataan ibu Arka kepada Arka dan juga Amanda malam itu. Kemudian mereka berdua pun menjelaskan, jika mereka memang tengah berencana untuk mendaftarkan pernikahan mereka agar sah di mata hukum.
Tadinya mau menunggu sampai lahiran, tapi ibu Arka mengatakan bahwa mungkin prosesnya tidak bisa instan. Maka lebih baik diurus dari jauh-jauh hari.
Dan hari ini Arka mulai bergerak. Ia tidak mau terlalu lama menunda-nunda, karena sebentar lagi bayi mereka akan segara lahir.
"Ka, maaf ya aku nggak bisa ikut." ujar Amanda ditelpon.
"Iya sayang, nggak apa-apa. Kan aku kepala keluarganya, jadi aku yang bertanggung jawab." seloroh Arka.
Amanda tersenyum.
"Selamat berjuang ya, kepala keluargaku. Urusan pernikahan itu lumayan ribet loh." tukasnya.
"Nggak apa-apa ribet, kan demi kamu sama si Pagi-Petang."
Amanda kembali tersenyum.
"Aku sayang kamu, Ka." ujarnya.
"Aku juga sayang kamu, Amanda. Kamu lagi sibuk nggak?" tanya Arka.
"Nggak juga."
"Mau liat anak-anak." ujar Arka lagi.
Amanda pun menghidupkan kamera hingga mereka kini video call. Amanda menunjukkan perutnya, sambil sesekali ia beri usapan lembut disana.
"Eh bergerak."
Amanda tertawa, begitupula dengan Arka. Pasalnya perutnya kini menjadi condong kesamping.
"Tau ya, lagi video call sama papa?" ujar Amanda pada bayi-bayinya.
"Tau dong, kan anak pinter papa ya dek?" ujar Arka kemudian.
"Iya nih anak pinter papa." ujar Amanda lagi.
"Oh ya, Man. Ntar malem kita dekor kamar mereka ya. Aku udah orderin box bayi, furniture, dan lain-lain." ucap Arka.
"Oh, ya?. Kapan kamu ordernya, Ka?"
"Tadi, mungkin udah sampe barang-barangnya. Aku titip pak Darwis, katanya mau langsung dinaikin ke atas sama sekuriti."
"Habis berapa duit, Ka?. Pasti banyak ya, uang kamu yang kepake."
"Nggak apa-apa, Man. Kan aku bapaknya, wajar dong keluar duit buat mereka."
"Tapi kan kamu juga banyak keperluan, Ka. Cobalah apa-apa itu barengan sama aku, jangan kamu sendiri. Kan awalnya aku juga yang mau punya anak, koq malah kamu sendiri yang beban."
"Man, aku nggak pernah ngerasa di bebanin ya. Itu anak aku, aku yang hamilin kamu. Jadi biarin aku yang tanggung jawab."
"Nanti aku enakin, ntar malem."
"Kalau itu udah pasti mau, mau banget malah. Tapi ini kita lagi membicarakan hal lain."
"Udah, udah. Pokoknya selama aku ada rejeki, aku yang keluar duit. Kalau aku lagi miskin, baru pinjem duit kamu." ujar Arka.
"Janji ya, Ka?"
"Iya, tapi suaminya jangan di sumpahin miskin juga." ujar Arka seraya tertawa,
Amanda pun ikut terkekeh.
"Iya, aku doain rejeki kamu berlimpah."
"Aamiin." ujar Arka.
"Udah ya, Ka. Aku kerja dulu."
"Ya udah, jangan kecapean!"
"Iya."
Tak lama mereka pun menyudahi percakapan tersebut. Arka kembali pada urusannya, begitu pula dengan Amanda.
Malam harinya sesuai janji, sepulang kerja dan sehabis makan malam. Ia dan Arka mulai membersihkan kamar yang akan menjadi kamar anak mereka kelak. Mereka mulai mendekorasi ruangan tersebut, sesuai desain yang telah mereka sepakati bersama.
Untuk warna sendiri, tak banyak yang mereka ganti. Karena agar ruangan tersebut senada dengan warna ruangan lainnya. Amanda memasang beberapa stiker dinding di satu atau dua spot, sementara Arka sibuk merangkai box bayi mereka yang berwarna hitam menggemaskan.
Saat setelah menyapu ruangan, mereka menempatkan box tersebut pada sisi yang telah disepakati. Kemudian mereka membentangkan karpet bulu kecil berwarna putih. Ada kursi untuk menyusui yang diletakkan di sebuah sudut.
Kemudian ada lemari yang kini sudah terisi beberapa perlengkapan seperti baju, sepatu, topi dan lain sebagainya. Ada juga boneka-boneka kecil berbentuk gajah, kuda dan lain-lain yang mereka letakkan di satu titik. Hingga membuat kamar itu terlihat sangat aesthethic.
"Gimana, kamu suka?" tanya Arka pada Amanda.
"Suka banget, Ka. Gemes." jawab Amanda seraya memperhatikan hasil kerja mereka.
Arka lalu merangkul istrinya.
"Foto yuk, sebelum mereka lahir." ajak Arka kemudian.
"Ayo!" jawab Amanda.
Arka mengambil ring light dan meletakkan handphonenya di holder. Mereka pun mulai berpose, dengan latar belakang kamar anak mereka.
"Cheers."
"Cekrek."
"Ih lucu." ujar Amanda saat melihat hasil foto yang mereka ambil. Keduanya lalu tertawa-tawa.
Malam beranjak naik, Arka meminta Amanda mengenakan long dress dengan belahan tinggi sepaha. Long dress berwarna merah menyala itu baru saja dibelikan Arka tadi sore.
Sesaat setelah ia pulang dari mengurus pendaftaran pernikahan.
Karena dress lama Amanda sudah mustahil untuk terpakai, mengingat perutnya yang sudah bertambah besar.
Ia menyuruh istrinya berdandan, sedang dirinya kini mengenakan suit berwarna hitam. Ia menutup mata istrinya ketika selesai berdandan, lalu membawanya ke sebuah ruangan.
Ketika mata Amanda terbuka, ruangan tersebut sudah dipenuhi dengan bunga. Ada kursi dan meja, yang diatasnya terletak dua buah piring berisi dessert dan juga minuman.
Amanda bahagia dengan kejutan kecil ini, namun yang lebih membuatnya terkejut lagi adalah, di ruangan itu terdapat sebuah piano kecil.
"Arka menggeser kursi tersebut hingga istrinya bisa duduk."
"Ka, kapan kamu bikin ini semua?" tanya Amanda heran.
"Tadi sayang, ini kan nggak sulit. Beli bunga doang, terus diatur aja dikit." jawab Arka.
"Piano ini?"
"Tadi barengan furniture-nya si kembar."
Amanda tersenyum, mereka lalu mengambil minuman.
"Cheers."
Suara gelas beradu, Arka meminum wine sedang Amanda meminum jus buah. Tak lama mereka pun menikmati dessert yang tersedia.
"Untung udah makan malam tadi." ujar Amanda.
"Kalau nggak kurang nih pasti." lanjutnya kemudian.
Arka tertawa.
"Ka."
"Hmm?"
"Kamu makin ganteng, deh?"
Arka tersedak, lalu minum dan tersenyum sangat tipis. Ia berusaha bersikap sangat cool dihadapan istrinya malam itu.
Tak lama setelahnya, Arka bermain piano untuk Amanda. Sementara Amanda berdiri di sisi suaminya sambil menyandarkan tangan pada piano. Ia berpose layaknya seorang model profesional, dengan satu kakinya terlihat hingga paha.
Cahaya redup memuram menambah kesan hangat malam itu. Arka menghidupkan lagu, ia mengajak istrinya itu untuk berdansa meski terhalang perut besar.
Sejak menikah, mereka belum pernah melakukan hal tersebut. Waktu beranjak, ciuman demi ciuman mewarnai kedekatan mereka. Hingga kemudian keduanya menyerah pada kehendak dan gairah.
Arka membalikkan tubuh istirnya hingga menghadap kaca. Di sibaknya gaun yang dikenakan wanita itu, lalu ia membuka resleting yang menutupi area miliknya.
Dalam sekejap erangan Amanda sudah terdengar. Matanya sesekali terpejam dan terbuka sesuai dengan irama yang diberikan oleh Arka.
Untuk beberapa saat Arka melakukannya secara perlahan, lalu ia menambah kecepatan dan makin lama makin cepat. Membuat Amanda terlonjak-lonjak dan meneriakkan nama suaminya.
"Arka."
"Arka."
"Hmmm, iya Man. Kamu suka ini kan?"
"Hmmm?"
"I love you, Arka. Hmmh."
"I love you too."
Arka terus membuat istrinya terhentak-hentak, hingga sesuatu yang hangat akhirnya mengalir dibawah sana. Keduanya pun terhempas di ruangan itu.
"Ka, aku makin cinta sama kamu." ujar Amanda yang kini berada dalam pelukan suaminya.
"Aku juga, Man. Sebentar lagi pernikahan kita bakalan sah dimata hukum, aku udah nggak sabar untuk jadi suami kamu secara resmi. Aku takut, Man."
"Takut kenapa, Ka?" tanya Amanda bingung.
"Takut ada orang yang mau memisahkan kita."
"Kenapa kamu mikirnya kayak gitu?. Soal Nino?" Lagi-lagi Amanda bertanya.
"Bukan Nino, aku nggak tau kenapa tiba-tiba aja aku ngerasa gitu. Kayak ada orang yang bakal memisahkan kita."
Amanda tersenyum lalu mencium bibir suaminya tersebut.
"Itu cuma ketakutan kamu aja, sayang. Aku nggak ada hubungan lain selain sama kamu, aku nggak akan ninggalin kamu. Mau ninggalin gimana coba?. Udah bunting begini, dua lagi."
Amanda berkata sambil tertawa, begitupula dengan Arka. Laki-laki itu kian mempererat pelukannya. Dan mereka pun tertidur di ruangan itu, di atas sebuah karpet bulu yang bertabur bunga.