Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Perekrutan


Rani masih terpaku di tempatnya berdiri, sementara mobil yang membawa Amanda telah berlalu. Ia benar-benar geram dengan saudaranya itu.


Kenapa Amanda belum juga menderita. Kenapa setelah sekian lama, ia masih terlihat baik-baik saja. Harusnya yang menerima karma kebejatan ayahnya itu adalah Amanda, bukan dirinya.


"Ow, ada yang dendam rupanya."


Seorang gadis menyapa Rani, Rani tak mengenal gadis tersebut.


"Siapa kamu?" tanya Rani kemudian.


"Maureen." jawab gadis itu lalu tersenyum.


"Ada perlu apa kamu sama saya?"


"Mmm, tadinya sih nggak ada. Saya cuma lagi berada disekitar sini. Tapi sekarang jadi ada, karena tadi saya melihat anda berbicara pada Amanda. Tapi wajah anda tidak ramah terhadap perempuan itu."


"Jangan bertele-tele."


"Ok, saya mantan pacarnya Arka. Lebih tepatnya yang bubar gara-gara kehadiran Amanda."


Rani menatap Maureen.


"Saya hanya menawarkan sedikit kerjasama, anda ingin Amanda menderita kan?"


Rani hendak berlalu dan tak mau menggubris Maureen, karena ia sendiri tidak mengenal gadis itu.


"Sebuah rencana itu akan lebih baik jika dijalani bersama team." ujar Maureen kemudian.


Rani pun kembali menoleh, agaknya ucapan Maureen barusan benar-benar mengena dihatinya. Mauren kini mendekat.


"Gimana?" tanyanya lalu tersenyum.


***


Rachel mendapat informasi, mengenai siapa keluarga Arka. Segera saja ia mendatangi tempat yang diduga adalah rumah tempat dimana Arka berasal.


Rachel mengamati dari jauh, sambil berdiri dengan membawa tas tangan serta mengenakan kacamata hitam andalannya.


"Ow, jadi disini rupanya si miskin itu berasal. Perkampungan miskin." ujarnya kemudian.


"Apa lu kata?"


Bu Mawar yang tak berada jauh darinya kini bertanya. Penuh kesal bu Mawar menatap wanita itu.


"Maaf anda siapa ya?" tanya Rachel dengan nada risih.


"Anda siapa, anda siapa. Eh, nggak usah sok kaya lu. Ngapain lu ngatain kampung ini miskin, sekaya apa lu?"


"Kenapa, jeng?"


Teman-teman bu Mawar mendadak berkumpul.


"Ini loh bu-ibu, ngatain kampung kita miskin."


"Dih, sekaya apa lo?"


"Ngapain lo masuk sini."


Para ibu-ibu barbar anggota geng bu Mawar, kini mendorong bahu Rachel bergantian. Membuat wanita itu menjadi semakin risih dan jijik.


"Jangan sentuh saya, kalian nggak selevel sama saya. Jijik, ih."


"Eh yang ada, yang najis itu elu. Kita yang jijik sama lu." ujar Bu Mawar lagi.


Mereka terus menerus mendorong bahu Rachel. Rachel terus menghindar, namun kemudian tanpa sengaja ia melihat ke arah ibu Arka yang menuju kemari. Rachel terkejut dan mencoba mengingat, kala dimana ia bertemu ibu Arka.


"Jangan pegang saya, jijik."


Rachel kemudian berlalu setelah melirik sekilas ke arah ibu Arka.


"Ada apa sih, bu Mawar, bu Dini dan kalian semua?" tanya ibu Arka.


"Itu bu, itu perempuan ngatain kampung kita miskin."


Ibu Arka menengok ke arah Rachel. Ia mengingat-ingat sesuatu, seakan pernah melihat wanita itu sebelumnya. Rachel masuk ke mobil, ia kini tahu siapa Arka.


Ia pun tersenyum sinis, baginya orang-prang seperti Arka dan keluarganya. Adalah orang-orang tidak berharga yang sangat mudah untuk disingkirkan. Tak akan ada yang akan mengusut lebih dalam, jika terjadi hal buruk pada mereka.


Sementara di penthouse, siang itu. Usai memasak bersama Rianti dan juga Lastri, Amanda pun makan bersama. Sementara Anita menyusul setelahnya, karena masih memberikan susu pada Azka.


Usai makan, Amanda membiarkan saja ketiga perempuan itu berbuat sesukanya. Apakah mereka ingin tidur siang atau nonton drakor, yang penting para bayi sudah terlelap. Amanda sendiri kembali berkutat dengan tugas kantornya.


"Tok, tok, tok." terdengar suara ketukan pintu. Amanda yang berada dikamar tak begitu mendengarnya.


"Siapa, Las?" tanya Anita pada Lastri.


"Tau, security kali." ujar Lastri kemudian. Lastri pun beranjak dan membuka pintu.


"Cekrek."


Seorang lelaki secara serta merta masuk ke sana.


"Pak mau kemana?" tanya Lastri panik.


"Mbak Amandaaaa."


Rianti berteriak memanggil saudara iparnya. Amanda kemudian keluar dari dalam kamar secara serta merta.


"Ada apa?" tanya nya panik.


Amanda buru-buru ke kamar anaknya, tampak Amman sudah berada disana sambil menggendong Afka.


"Mau apa papa kesini?" ujar Amanda kemudian. Hampir saja jantungnya berhenti.


Lastri, Anita dan Rianti baru mengetahui jika itu adalah ayahnya Amanda. Seperti diketahui, hanya beberapa maid lama saja yang mengetahui sosok Amman. Karena setelah menikah lagi, Amman lebih banyak menghabiskan waktunya di luar negri. Sedang Rianti memang tak mengetahuinya sama sekali.


"Yang ini mirip sekali dengan kamu."


Amman tersenyum penuh maksud,Amanda sendiri sangat khawatir jika ayahnya ingin mencelakai anaknya itu.


"Kenapa papa bisa naik?"


"Kenapa?. Masih untung papa masuk lewat pintu itu, bukan lewat lift pribadi kamu. Papa bisa aja melakukannya kalau papa mau. I have this acces card."


Amanda memperhatikan akses card yang dimiliki ayahnya.


"Dari mana papa dapat itu?"


"Ini milik suami kamu, yang teledor meninggalkannya di kantor. Beberapa waktu yang lalu."


Amanda mengerutkan kening, ia ingat beberapa waktu lalu Arka sempat kehilangan akses card yang ia pegang.


"Oh ya, mungkin kamu belum tau. Arka itu brand ambassador di perusahaan kita."


"It's yours." ujar Amanda.


"Well, kalau kamu nggak mau jadi pewaris ya udah. Toh ada kedua anak ini, sebagai cadangan. Ya meskipun agak tidak pantas, mengingat siapa ayah mereka."


"Mereka anak saya, dan mewarisi apa yang saat ini menjadi milik saya."


"Sampai kapan kita akan bermusuhan seperti ini Amanda?"


"Sampai papa minta maaf di makam mama."


Suara Amanda mulai terisak.


Amman meletakan kembali cucunya ke dalam box bayi.


"Apa yang terjadi with your mom, it's not my fault. Salah dia sendiri, kenapa masih mau bertahan dengan papa. I don't really love her, dari sejak pertama kami dijodohkan dan menikah."


"Kenapa papa pukul dia?"


"Karena dia memaksa papa untuk berubah seperti yang dia minta. Dia mau papa menjadi sesuai keinginannya and I can't.


"Kenapa nggak papa ceraikan aja waktu itu."


"Dia yang nggak mau."


Amman menatap tajam ke wajah Amanda. Amanda kini menangis mengingat ibunya.


"Jangan pikir semua ini salah papa, Amanda. Papa mungkin bejat dimata kamu, tapi papa selalu menginginkan yang terbaik untuk kamu. Saat kamu baru mendirikan perusahaan itu, kamu pernah menemui seseorang untuk meminta bantuan. Dia menolak, kamu datang lagi dan dia menolak lagi. Lalu sampai saat terakhir kali kamu datang, dia menerima. Kamu pikir itu karena siapa?"


Amanda menatap ayahnya.


Saat kamu didemo para karyawan di awal-awal berdirinya perusahaan itu, saat kebijakan perusahaan kamu keliru dan berdampak buruk pada mereka. Lalu tiba-tiba pada esok harinya, mereka diam dan tidak lagi protes. Kamu pikir siapa yang membantu membereskan masalah itu?. Tanya sama jajaran petinggi di perusahaan kamu. Siapa orang yang selalu siap sedia memberikan pinjaman, ketika perusahaan baru kalian terancam bangkrut. Beberapa perusahaan yang menjadi investor di tempat kamu, adalah anak dari perusahaan papa."


"Saya nggak pernah minta bantuan."


"Tapi kamu sudah menerimanya."


Amman menatap puterinya itu.


"Ini saatnya kamu balas budi."


"Kenapa?"


"Karena perusahaan papa sudah berjasa pada perusahaan kamu."


"Saya tidak pernah meminta bantuan, saya hanya korban yang papa jebak untuk berhutang budi."


"Berpisah dengan Arka, berikan bayi-bayi itu padanya. Dan berikan mereka uang. Suatu saat kalau anak-anak ini terlihat memiliki potensi, baru kita ambil. Itupun untuk cadangan."


"Papa nggak punya hak mengatur saya."


"Ow tentu ada, papa adalah orang tua kamu. Dan papa merasa belum pernah menikahkan kamu."


Air mata Amanda kembali mengalir.


"Kembalikan anak-anak ini kepada ayahnya, menikahlah lagi dengan orang pilihan papa. Dan lahirkan anak-anak yang berkualitas."


"Saya tidak akan pernah mau, saya punya hidup saya sendiri. Pergi dari sini atau saya panggil security."


Amman tersenyum tipis lalu pergi meninggalkan tempat itu. Kedua bayinya tiba-tiba menangis kencang, seakan mendengar dan paham jika mereka telah dihina dan ditolak. Amanda menangis, Rianti memeluknya. Sementara Anita dan Lastri menggendong si kembar.


***


Rachel tiba di depan kantor, namun ia dicegat oleh Rani dan juga seorang gadis.


"Rani?"


"Ya." Rani jumawa.


"Ini?"


"Saya Maureen." Maureen mengulurkan tangan lalu menjelaskan siapa dirinya. Sebuah percakapan yang lebih mirip perekrutan pun akhirnya terjadi.