
"Papa sadar nggak sih pa. Kalau kami ini sudah mau 7 bulan, dikit lagi?"
Amanda menggendong si kembar ke arah Arka, di malam berikutnya.
"Sadar dong, papa. Kalau dua gembul ini udah gede."
Arka menciumi anak-anaknya dengan gemas.
"Eheeee."
Mereka tertawa-tawa karena merasa geli, dengan ciuman serta gelitikan Arka di perut mereka.
"Abubububu."
"Eheeee."
"Abubububu."
"Kyaaaa."
Arka meraih kedua anaknya, lalu membawa mereka ke dalam pangkuan. Tampak Azka dan Afka mengenyot jari sambil mengoceh sesekali.
"Ka, kayaknya kita harus mempercepat resepsi pernikahan deh. Mumpung mereka masih lucu kalau diajak foto. Kan gemes gimana gitu, kalau foto nikahan kita ada mereka." ujar Amanda.
"Hmm, selesaikan sidang skripsi aku dulu ya. Biar bahagianya full pas pesta, nggak kepikiran ini itu. Kalau udah sidang, udah dinyatakan berhasil kan enak. Sisanya tinggal nunggu wisuda doang, seenggaknya aku udah nggak ada lagi beban."
"Okelah kalau begitu."
Amanda dan Arka lalu bercengkrama dengan kedua anak mereka, hingga bayi-bayi itu pun akhirnya tertidur. Amanda lalu pergi mencuci muka di wastafel kamar mandi, karena ia merasa produksi minyak diwajahnya agak berlebih dan menimbulkan perasaan yang mengganggu. Tiba-tiba Arka muncul dan memeluk wanita itu dari belakang.
"Sayang."
"Hmmh."
"Bikin dedek, yuk!" ujarnya sambil meletakkan jari jemari di perut Amanda dan membuat gerakan memutar-mutar.
Nafasnya yang hangat terasa berhembus ditelinga wanita itu. Amanda memejamkan matanya dengan kepala yang menengadah ke atas.
"Hmmh."
Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Amanda, tak ada sedikitpun penolakan disana. Perlahan tangan Arka pun mulai bermain, di seluruh wilayah.
"Arka." ujar Amanda kemudian
Wanita itu menolehkan kepala, lalu mereka pun berciuman. Sementara tangan Arka semakin aktif.
Malam mulai beranjak, sedang cinta mengurung mereka didalam kenikmatan yang tiada tara. Irama-irama penyatuan terdengar di segala penjuru kamar, dibumbui oleh erangan yang keluar dari bibir masing-masing.
Lalu keduanya pun terhempas, setelah cukup lama permainan itu berlangsung. Arka tersenyum lalu mencium pipi istrinya. Sementara Amanda tampak mengatur nafas, sambil merasakan sisa denyut yang terjadi dibawah sana.
"Ka."
"Hmm?"
"Kita nggak ada anniversary-anniversary-an?" tanya Amanda. Ia kini menoleh ke arah suaminya itu, dengan nafas yang mulai teratur.
"Ntar kita anniversary tiap bulan aja, biar kayak bocil."
Amanda tertawa.
"Udah dikit lagi kan waktunya. Ntar aku posting di insta story, sampe kayak jahitan butik."
Kali ini Arka yang tertawa.
"Titik-titik." ujarnya kemudian.
"Oh ya, Ka. Ibu ada nanyain kamu tadi, katanya kamu nggak bales chat ibu. Terus telpon juga nggak diangkat."
"Orang tadi aku lagi sama daddy."
"Kamu udah ngomong belum sih sama ibu, soal daddy?"
Arka menghela nafas lalu menggelengkan kepala.
"Belum." ujarnya kemudian.
"Kamu harus udah pikirin hal itu, Ka. Jangan lama-lama. Harus jujur sama ibu, soal kamu yang udah tau tentang daddy. Bahkan kalian sekarang terhubung."
"Ibu pasti marah, Man."
"Iya, ibu pasti akan marah. Pasti akan kecewa sama kamu. Tapi mendingan mana, ibu marah dan kecewa sekarang atau nanti?"
Kali ini Arka terdiam.
"Kalau ibu taunya sekarang dari kamu, terus dia marah. Siapa tau minggu depan, atau katakanlah satu, dua bulan ke depan. Mungkin marahnya akan reda dengan sendirinya."
Amanda menoleh pada suaminya itu.
"Tapi kalau misalkan kamu diemin berlarut-larut, misalkan ibu tau sendiri pada akhirnya. Kemarahan dia bisa lebih besar loh, Ka."
"Iya sih." ujar Arka kemudian.
"Kamu sendiri, kapan mau jenguk papa kamu?"
"Koq malah ngebahas dia sih?"
Nada bicara Amanda terdengar sedikit marah.
"Aku nanya, bukan nyindir." Arka menjelaskan.
Amanda yang tadinya sedikit emosi itu pun, mendadak mereda.
"Ntar deh, Ka. Aku pikirin lagi. Pokoknya kalau nggak lusa, ya besoknya lagi."
"Kalau besok?" tanya Arka.
"Besok tuh aku ada meeting dari pagi, nggak tau selesai jam berapa."
"Tapi janji ya, jangan nggak jenguk papa kamu."
"Iya." Amanda berujar lalu tersenyum.
"Aku nggak mau, ntar aku tua, sakit. Nggak dijenguk sama anak-anak." ujar Arka lagi.
Amanda tertawa kecil, lalu mendaratkan ciuman di pipi suaminya itu.
"Mandi yuk." ajak Amanda.
"Ayok, abis itu masakin mie instan ya." ujar Arka.
"Ok."
Amanda dan Arka lalu beranjak menuju kamar mandi.
***
Esok harinya, Amanda melaksanakan rapat dari pagi, sedang Arka menyambangi kantor manajemen Peace Production. Sebab Pak Jeremy ingin membicarakan project baru dengannya.
Sementara disebuah ruangan, Ryan menatap laman berita online mengenai apa yang menimpa Amman.
"Di Keroyok Di Depan Rumah, Bos Sebuah Perusahaan Alami Luka Serius."
Begitulah bunyi headline news yang ia lihat. Ia pun telah membaca berita online tersebut hingga kebawah, dan mengetahui siapa korbannya.
Ryan mungkin tak menyukai sebagian sifat Amman. Namun biar bagaimanapun juga, Amman adalah teman lamanya. Banyak hal yang pernah mereka lalui bersama di masa muda dahulu, terutama di saat awal-awal merintis bisnis.
Amman selalu mendukung ide-ide yang dikemukakan oleh Ryan. Dan membesarkan hati Ryan, apabila Ryan merasa ragu ditengah jalan. Selain itu diluar perbuatannya yang menyeramkan, Amman memiliki selera humor yang tinggi.
Setidaknya dulu mereka sering tertawa bersama, meski telah berlalu puluhan tahun lamannya. Dan Amman kini telah berubah menjadi pribadi yang dingin serta serakah.
"Pak, mobilnya udah siap."
Seorang sekretaris berkata pada Ryan.
"Eh, sorry." ujar Ryan lalu beranjak.
Ia harusnya sudah ada dibawah sejak beberapa menit lalu. Namun ia malah menghabiskan waktunya untuk membaca berita dan juga mengingat masa lalu.
Ryan berlarian ke bawah, ketempat dimana supirnya telah menunggu. Ia lalu masuk ke dalam mobil, tampak sudah ada Ansel disana. Mobil itu pun mulai merayap.
"Dad, aku dengar ayahnya Nino."
"Ansel, please. Nino itu anak daddy, saudara kamu."
Ansel menghela nafas.
"Sampai kapanpun, Nino itu anak daddy dan saudara aku, dad. Tapi dia berhak tau siapa ayah dan ibunya."
Ryan memasang wajah yang tak suka. Ia masih begitu egois, untuk membiarkan Nino tau siapa orang tua kandungnya. Ryan tidak mau kasih sayang anaknya itu terbagi.
"Orang tua Nino itu sudah tua-tua, dad. Mumpung mereka masih hidup, belum jadi hantu."
Mendadak Ryan tersedak karena menahan tawa. Namun pria itu memalingkan wajah ke sisi jalan, ia tak ingin Ansel melihat reaksinya.
Sementara supir mereka tertawa lepas, Ansel memang kurang begitu lancar menggunakan bahasa. Sehingga banyak kosa kata yang menurutnya biasa, tetapi malah lucu di telinga orang lain yang mendengar.
***
Waktu beranjak naik, Amanda istirahat untuk mendapatkan makan siang. Ia makan di dalam ruangan, sambil menyalakan televisi.
"Penyidikan terhadap pelaku penyerangan bos di sebuah perusahaan, kini berlanjut. Selengkapnya dalam lintas berita."
Sebuah berita mengenai penyerangan terhadap Amman, kini sudah masuk ke media televisi. Amanda memperhatikan sejenak lalu,
"Tuuuut."
Ia mematikan televisi tersebut. Karena tak ingin banyak tahu ataupun ambil pusing mengenai hal itu, ia tak peduli sama sekali. Amanda melanjutkan makan, namun kemudian ia terpikir akan janjinya pada Arka.
"Tapi janji ya, jangan nggak jenguk papa kamu."
Kata-kata Arka itu terlintas dibenaknya.
"Hhhh."
Amanda menghela nafas, jujur ia begitu enggan melihat keadaan ayahnya. Karena itu tak akan merubah apapun. Ayahnya bukan tipikal orang yang mudah sadar dan gampang berubah. Namun apa daya Amanda telah berjanji pada Arka, dan janji tersebut haruslah ia penuhi.