Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Hey Arka I Love You


Tiga hari pasca keberhasilan team investigasi, dalam mencari siapa pelaku yang membuat kerugian di perusahaan. Amanda bersama seluruh staff, meniadakan kerja dihari itu. Semua karyawan tetap datang, namun hanya untuk makan dan minum serta bercengkrama bersama. Sekedar meregangkan otak dari semua ketegangan yang terjadi belakangan ini.


Ada peraturan yang khusus dibuat hari itu. Bahwasannya tak ada seorang pun yang boleh membicarakan perihal perusahaan atau pekerjaan. Jika terdengar maka orang tersebut akan dihukum, untuk membelikan kopi Starbuck. Bagi minimal 5 karyawan yang bekerja di lantai tersebut.


Ada beberapa yang akhirnya keceplosan, tanpa sengaja mereka membicarakan soal pekerjaan. Lalu mereka pun menerima hukuman dan membeli kopi untuk 5 karyawan yang dekat dengan mereka.


Hari itu berlangsung penuh keseruan, Amanda sendiri tak begitu jauh dari meja yang menyediakan makanan. Sampai-sampai ia malu sendiri, karena perutnya seolah tak pernah kenyang.


"Duh, sorry ya gengs. Ini orang hamil laper mulu." ujar Amanda, sambil mengunyah keripik kentang yang ia ambil di meja. Ini sudah kesekian kalinya, sejak acara ini dimulai.


"Emang beneran kembar bu, anaknya?" tanya salah seorang karyawan dari divisi IT. Beberapa orang tampak terkejut, terutama Rani.


"Lo hamil kembar, Man?" tanya Rani setengah berteriak. Amanda tersenyum.


"Ya lo liat aja, mana ada orang hamil 6 bulan udah kayak 8 bulan begini. Karena isinya dua."


"Koq lo nggak ngasih tau gue?" ujar Rani lagi.


"Gue aja baru tau beberapa hari ini. Laki gue noh ngerahasiain, katanya biar gue hamilnya nggak panik."


Rani masih terlolong-bengong menatap Amanda.


"Cewek apa cowok, bu. Apa cewek-cowok?. tanya Intan.


"Belum keliatan, masih malu kali nih anak. Jadi ketutupan kakinya terus."


"Oh gitu."


"Kalau nama, udah disiapin bu?" tanya Deni.


"Hmm udah sih, tapi belum fix banget. Ya masih nyari-nyari lah."


"Kalau cowok semua, kasih aja nama kita bu. Satya sama Deni." ujar Deni lagi.


"Apaan, nama lu berdua kayak nama bapak-bapak." celetuk Pia, membuat yang lainnya seketika tertawa geli.


"Kayak kang cilok yang sering mangkal di kompleks gue tau nggak, mbak Pia. Mang Deni, hahaha." ujar Intan seraya tertawa, membuat wajah Deni menjadi sewot.


"Satya juga ada di deket rumah gue, orang gila." ujar Nur. Seisi kantor makin terbahak-bahak.


Mereka melanjutkan makan, berbincang dan bercanda. Amanda sengaja menyediakan catering hari itu, yang terdiri dari berbagai jenis masakan baik dalam maupun luar negri. Pokoknya suasana hari itu lebih mirip seperti hajatan.


"Mbak."


Nadine menelpon Amanda ketika acara dikantornya telah selesai.


"Apaan, Nad?"


"Keisha balik."


"Oh, udah balik ke Indonesia dia?" tanya Amanda dengan nada sumringah.


Keisha adalah mahasiswi yang dimintai Amanda pendapat pertama kali, saat dirinya baru berencana memiliki anak. Keisha sendiri habis melakukan perjalanan panjang ke negara-negara Eropa demi vlog di YouTube channelnya.


"Iya, udah balik anak ilang. Dia mau ngajak kita nongkrong."


"Mau, mau. Dimana?" tanya Amanda antusias.


"Tapi Arka bakalan marah nggak, kalau kita ajak mbak. Kan mbak istri orang sekarang." ujar Nadine lagi.


"Nggak, nggak bakal marah dia mah. Siapa aja yang ikut?" tanya Amanda lagi.


"Ya paling gue, Viona, Fahri sama Dito."


"Oh ya udah." ujar Amanda kemudian. Sejujurnya ia ingin bertanya, apakah nanti Nadine akan mengajak Nino atau tidak. Namun jika ia mempertanyakan hal tersebut, Amanda takut Nadine jadi curiga.


"Gue jemput atau gimana mbak?" tanya Nadine pada Amanda.


"Terserah, enaknya gimana?. Ini kita mau kemana dulu?"


"Ke kafe baru, namanya Caffe!n. Tempatnya enak mbak."


"Jam berapa?"


"Bentar lagi lah, setengah jam lagi paling."


"Hmm, kebiasaan nih. Kalau ngajak pasti mepet. Biar gue nggak bisa dandan, biar lu pada doang yang cakep." ujar Amanda setengah tertawa.


"Elah, mbak Amanda kagak usah dandan juga udah cakep. Lah gue sama Viona kalau kagak dandan, burik anjay."


Amanda tertawa lepas kali ini.


"Ya udah gimana nih, gue jalan sekarang apa?. Soalnya macet juga kan jam segini."


"Ya udah deh mbak, kesana aja langsung. Reservasi atas nama gue."


Sore itu jalanan macet, namun Amanda jadi memiliki waktu untuk sedikit berdandan di mobil. Karena belakangan pipinya sudah terlihat semakin chubby, pasca kenaikan berat badan secara signifikan akibat kehamilan kembar yang dialaminya.


Amanda memberikan sedikit shading di wajahnya agar terlihat lebih tirus, meskipun itu tak begitu memberi dampak yang besar.


Ia tiba di kafe yang dimaksud oleh Nadine. Ternyata Nadine, Keisha, Dito serta Fahri sudah ada disana. Amanda menyapa semuanya dan memeluk Keisha, karena ia sudah lama sekali tak bertemu dengan salah satu mahasiswinya itu.


"Bolos terus." ujar Amanda kemudian. Keisha tertawa, lalu memperhatikan perut Amanda.


"Udah jadi mbak?" tanya Keisha. Ia memang telah diberitahu oleh teman-temannya mengenai kehamilan Amanda. Namun tetap saja ia merasa surprise dan bahagia, ketika melihat itu secara langsung.


"Udah, nih. Dua lagi."


"Hah?" Keisha dan yang lainnya terlonjak kaget. Karena Amanda pun belum cerita pada Nadine dan yang lainnya mengenai hal itu.


"Ke, kembar?" ujar mereka serentak.


"Iya, dua ternyata. Tadinya dipikir satu, eh pas periksa lagi isinya dua."


"Wah, selamet ya mbak." ujar mereka semua dengan mimik wajah yang bahagia. Mereka benar-benar seperti menerima kejutan.


Mereka lalu duduk dan berbincang. Menanyakan bagaimana perjalanan Keisha selama beberapa waktu belakangan ini. Keisha pun dengan antusias, menceritakan mengenai serunya perjalanan yang ia lakukan. Mulai dari tempat-tempat bersejarah, wisata hingga kuliner yang ia makan, semuanya ia ceritakan hari itu.


"Ngumpul duit, yuk. Traveling juga." ujar Viona kemudian.


"Iya kayaknya seru, ya." ujar Nadine menambahi.


"Backpacker an aja, hemat biayanya. Ntar gue rinciin semua di YouTube gue. Jangan lupa nonton dan subscribe." ujar Keisha.


"Kuy lah, nabung." ujar Dito


"Iya, gue juga mau." timpal Fahri


Obrolan berlanjut, mereka lalu memesan makanan. Amanda sendiri sangat ingin memakan es krim. Inilah kesempatan baginya, karena tidak ada Arka yang menghalangi.


Nadine dan yang lainnya mengingatkan. Tapi Amanda mengatakan, jika dirinya baru kali ini memakan es krim. Melihat Amanda yang penuh harap, mereka pun tak tega dan akhirnya mengizinkan.


Mereka lalu memesan makanan, tak lama setelah itu pesanan datang. Seiring dengan suara penyanyi kafe yang mulai terdengar. Penyanyi perempuan itu, membawakan lagu dari salah seorang diva pop Indonesia.


Amanda mulai makan dan sesekali ikut bernyanyi. Perlahan lampu kafe pun mulai dipadamkan dan diganti dengan lampu yang lebih redup.


Satu lagu selesai, tak lama berselang musik pun kembali mengalun.


Hidupku tanpa cintamu


Bagai malam tanpa bintang


Seketika saja Amanda menoleh ke arah sumber suara itu.


"Arka?"


Cintaku tanpa sambutmu


Bagai panas tanpa hujan


Amanda berdiri dari duduknya, sambil terus menatap ke depan. Tempat dimana Keenan Arka Adrian suaminya, tengah bernyanyi sambil memainkan sebuah gitar.


Jiwaku berbisik lirih


Kuharus milikimu


"Ganteng banget." ujar Keisha. Namun kakinya diinjak oleh Nadine.


"Aw." Keisha meringis, Nadine menunjuk Amanda yang masih terpaku.


"Suaminya." ujar Nadine pelan.


Keisha terkejut dengan mulut yang menganga.


Aku bisa membuatmu


jatuh cinta kepadaku


Meski kau tak cinta


Kepadaku


Jantung Amanda berdegup kencang, ia tidak tahu jika Arka bekerja ditempat ini juga. Seketika ia teringat ucapan Arka beberapa waktu yang lalu.


"Man, kalau mau apa-apa ngomong aja. Aku punya uang koq, nggak usah khawatir. Pokoknya cukup selama kamu nggak minta Ferarri baru."


Amanda pun tersenyum penuh haru mengingat semua itu. Sementara Arka terus bernyanyi, sampai kemudian matanya tertuju pada Amanda. Arka terkejut, ia tidak tau jika Amanda juga ada ditempat itu.


Karena ia sudah dikontrak ditempat tersebut, maka ia pun harus profesional. Meski jantungnya berdegup kencang. Ia terus bernyanyi sambil melihat ke arah Amanda. Amanda lalu tersenyum kepadanya dan kembali duduk. Arka pun balas tersenyum dan kembali bernyanyi dengan penuh semangat.