
"Heran gue, koq tadi bisa ada benda-benda aneh dan tidak senonoh ya. Di dalam kolam pemancingan gini?." Rio bertanya pada Arka ketika mereka telah selesai makan.
Mereka kini kembali ke tempat memancing, namun tidak lagi melakukan aktivitas yang sama. Mereka tengah merokok, sedang ketiga orang tua itu masih ngopi dan ngobrol di saung depan.
"Ya liat dulu dong area pemancingan ini, modelnya kayak danau begini. Kalau yang area depan sana kan, emang kolam buatan. Yang ini mah, lo liat aja noh." Arka menunjuk ke suatu arah.
"Luas sampe ke deket pemukiman warga gitu. Wajar aja ada benda aneh, kelakuan warga kita aja suka buang sampah sembarangan. Kawasan sebelah sono juga nggak dipagar."
"Tapi disini disebar bibit juga?. Apa ikan alami danau ini?" tanya Rio.
"Adalah pasti mereka menyebar bibit, tapi nggak sebanyak yang didepan. Kalau didepan kan sengaja buat dijual. Kalau area sini mah, khusus buat kesenangan aja."
"Kata lo ada uler sanca nggak sih disini?" tanya Rio lagi.
"Coba aja lo masuk, ke hamparan enceng gondok yang di sono. Kalau lo di belit, berarti ada uler nya."
"Ya gue mampus dong, Bambang. Kalau di belit sama uler."
Arka tertawa, lalu kembali menghisap rokoknya.
"Lo nggak deg-degan gitu, Ka?" Lagi-lagi Rio bertanya pada Arka.
"Soal apa?" Arka balik bertanya.
"Noh bokap lo dua-duanya deketan gitu."
"Makanya gue kesini, takut keceplosan. Sampe bokap tiri gue tau, itu bokap kandung gue. Sedih dia pasti." ujar Arka.
"Bapak gue dong, yang deg degan. Kan dia tau kalau lo udah tau soal daddy. Terus dia mesti pura-pura didepan bapak tiri lo, pura-pura nggak tau soal rahasia itu."
Arka tertawa.
"Makanya gue menghindar dari tadi, biar bapak lo aja yang menanggung beban. Lagian gue juga ada nggak enak sama daddy."
"Soal apa?" tanya Rio.
"Jadi kan dia ada nanya sama gue, suka mancing apa nggak."
"Kapan?"
"Semalem."
"Dia nelpon?"
"Kagak, WA."
"Terus?" tanya Rio.
"Ya kalau dibilang suka apa nggak kan, emang gue nggak terlalu suka mancing. Ya gue bilang aja nggak. Eh, taunya ketemu disini."
"Elu, lagian. Aturan lo tanya dulu, kenapa emangnya dad. Gitu."
"Ya gue juga nanya itu, tapi setelah gue ngomong kalau gue nggak suka."
"Terus dia ngeles kan?" tanya Rio lagi.
"Iya, baru nyadar sekarang gue kalau dia ngeles. Dia cuma bilang mau ngasih peralatan pancing."
"Lain kali, apa-apa itu. Lo tanya dulu kenapa, baru lo jawab. Kayak gini kan kasian juga daddy lo, ambyar tuh dia pasti." ujar Rio setengah tertawa, namun Arka malah terkekeh sambil memukul bahu sahabatnya itu.
"Lucu kali ya, daddy jadi sobat ambyar."
Rio menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Anak geblek lo emang, Ka." ujarnya lagi.
Arka kian terkekeh.
"Lo mendingan jujur deh, Ka. Biar nggak ada canggung-canggung kayak gini lagi."
Arka menghela nafas, lalu membuang pandangannya ke arah pemancingan.
"Gue belum siap sama huru-hara nya, Ri. Lo kan tau, emak gue kalau udah marah. Nggak akan mau denger penjelasan apapun. Gue juga nggak tau reaksi bapak gue bakalan kayak apa. Gue tuh lagi males ribut, pengen tenang aja."
"Emak lo juga bakalan lebih ribut lagi, kalau dia tau sendiri. Bapak lo juga bakalan terluka."
"Pokoknya nanti lah, gue bakal cari waktu yang tepat."
Mereka pun lanjut berbincang.
"Hey, pulang yuk."
Ayah Rio berkata, ketika telah beberapa saat berlalu. Rio dan Arka pun menoleh, tampak ayah tiri Arka dan juga Ryan turut mendekat.
"Mau pulang sekarang, pa?" tanya Arka pada ayah tirinya.
"Iya, udah sore juga."
Ayah tirinya itu berjalan bersama Rio dan ayahnya didepan, sementara Arka dan Ryan masih membereskan sedikit peralatan. Arka bersiap menyusul, namun Ryan menghentikan langkah pemuda itu.
"Arka."
"Lain kali, jangan bohong sama daddy. Kalau memang tidak mau menemani, ya sudah. Kalau memang sudah ada janji, ya bilang saja."
Lagi-lagi Arka menghela nafas.
"Lain kali, daddy to the point aja. Kalau memang minta temenin, ya ngomong. Arka nggak bohong, soal Arka yang nggak suka memancing. Tapi karena papa minta temenin, ya Arka temenin. Daddy nggak minta temenin kan?. Cuma nanya Arka suka mancing apa nggak."
Kali ini Ryan yang menghela nafas.
"Ok." ujarnya kemudian.
Mereka pun berjalan menuju ke halaman parkir. Usai berpamitan dan saling melambaikan tangan, mereka masuk ke dalam mobil masing-masing.
Arka kini tengah memasang seat belt, sementara Ryan dan Rio telah berjalan terlebih dahulu.
"Tadi, daddy kamu ngomong apa?"
Ayah tiri Arka mengungkapkan pertanyaan yang membuat Arka seketika tersentak.
"Ma, maksud papa?" tanya nya dengan nada yang gemetaran. Ayah tirinya menghela nafas.
"Ka, papa tau dia ayah kamu. Muka kalian mirip."
Arka menatap ayahnya itu dengan jantung yang seakan hendak berhenti.
"Papa juga tau, kalau kamu tau dia ayah kamu."
Arka seperti kehilangan tenaganya untuk bergerak.
"Beberapa kali kamu keceplosan, dia juga, papa nya Rio juga. Walau kalian pada akhirnya ngeles, papa tau semua itu."
"Pa." Arka menarik nafas, tubuhnya kini makin gemetaran.
"A, Arka. Arka.." Ia tak bisa melanjutkan kata-katanya, namun sang ayah tiri justru tersenyum padanya.
"Papa nggak ada masalah soal itu." ujarnya kemudian.
"Papa nggak marah?" tanya Arka dengan nada yang penuh keraguan.
Sedari kecil, ia memang selalu takut apabila ia membuat ayahnya itu marah. Bukan karena ayahnya menyeramkan, namun Arka tak ingin membuat pria itu sakit hati lantaran sikapnya.
"Dia itu ayah kandung kamu. Seberapapun kamu mencoba berbohong, ituu nggak akan merubah kenyataan. Jadi ya sudah, jalani saja hidup ini apa adanya. Kamu mau bersikap baik terhadap dia, silahkan. Mau lebih banyak menghabiskan waktu dengan dia, papa juga nggak ada melarang."
Arka tertunduk dalam.
"Maafin Arka, pa." ujarnya kemudian. Hatinya kini benar-benar tidak nyaman.
"Udah, kita pulang." ujar ayahnya masih tersenyum. Namun Arka tak berhenti, ia terus saja menundukkan kepala.
"Ka, hei."
Arka masih tertunduk.
"Arka masih anak papa kan?" tanya Arka lagi.
"Sampai kapanpun, kamu tetap anak papa."
Arka mengangkat kepala dan menatap ayah tirinya itu. Tak lama setelah itu mereka pun saling berpelukan.
"Maafin Arka, pa." ujarnya sekali lagi.
"Papa sayang Arka."
Sementara di jalan, Ryan selalu teringat pada peristiwa yang terjadi hampir seharian ini. Dimana ia melihat, bagaimana dekatnya Arka dengan laki-laki yang telah mengasuhnya dari kecil tersebut.
Jujur, Ryan sangat iri melihat Arka sebegitu perhatiannya kepada laki-laki itu. Namun kembali lagi, Ryan tak bisa marah atas semuanya.
Karena selama ini, laki-laki itulah yang menafkahi dan membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang. Dan harusnya ia berterima kasih untuk itu, bukan malah berkecil hati seperti ini.
Ryan dan Arka sama-sama mengemudi, namun di jalan dan jalur yang berbeda. Perasaan mereka sama-sama bercampur aduk saat ini. Mereka terus menyusuri jalan demi jalan, sampai kemudian...
"Arka." Tiba-tiba Amanda menelpon dengan suara yang terisak.
"Amanda kamu kenapa?" tanya Arka panik. Ayah tirinya yang ada disebelah pun mendadak ikut panik.
"Ka."
"Anak-anak kenapa?"
"Bukan anak-anak, tapi Nino."
"Nino kenapa?" Arka bertambah panik.
"Dia jatuh di kamar mandi rumah sakit, Ka. Luka nya robek lagi dan sekarang dia kritis."
"Apaaaa?"
Seketika langit pun kelabu, Arka kini mengemudi dengan tubuh yang gamang dan pikiran yang kacau balau.