TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 99 (Jamal)


Entah apa nama yang pantas disematkan untuk hubungan Jamal dan Selin. Bukan sepasang kekasih, bukan sepasang suami istri atau mungkin hanya pelampiasan saja. Entah apapun bentuk hubungan mereka, selama ada ketulusan dan kenyamanan mungkin itu lebih baik. Daripada ada hubungan tapi berakhir dengan saling menyakiti seperti yang terjadi dengan kedua orang tua Selin.


Seperti Selin. Sejak hubungannya kandas karena perselingkuhan sang kekasih dengan mamahnya cukup membuat dia trauma begitu dalam ditambah kenyataan yang begitu sangat menyakitkan yang dia dengar membuat dia kehilangan kepercayaan tentang sebuah kesetiaan. Dan kini meski dia salah, tapi dia membutuhkan sosok yang bisa membuatnya tenang dan tidak merasa sendirian hingga dia menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan sang supir yang setia menemani harinya dalam keadaan apapun beberapa waktu ini.


Selin sadar, menyerahkan dirinya untuk Jamal itu salah dan bisa saja nanti terjadi masalah. Namun, bolehkah dia bersikap egois kali ini? Apa hanya Papah, Mamah dan Rio yang bisa seenaknya bersikap egois? Dan dia ingin egois agar Jamal selalu bersamanya demi sebuah ketenangan dan kenyamanan yang sudah tidak Selin temukan dalam diri orang tuanya.


Setelah usai ronde ke tiga, Jamal terlelap. Namun Selin masih terjaga. Di pandanginya wajah tampan dengan mata terpejam pria di sebelahnya. Terlihat damai dan menggemaskan hingga Selin beberapa kali mencium pipi Jamal. Tubuh tanpa busana Jamal pun tak luput dari perhatian mata Selin. Betapa Selin mengagumi tubuh atletis anak kampung tersebut. Dada dan perutnya sungguh membentuk dengan sempurna.


Setelah puas memandangi tubuh Jamal, Selin bangkit dan mengambil ponselnya. Dia kembali melakukan pemesanan makanan lewat aplikasi. Setelah itu, dia beranjak ke kamar mandi. Ingin berendam membersihkan sisa keringat akibat permainan panasnya dengan Jamal.


Beberapa saat kemudian kala Selin sedang menikmati berendamnya, dia dikejutkan dengan suara Jamal yang tiba-tiba nongol dari pintu kamar Mandi.


"Mandi kok nggak ngajak-ngajak sih, Non?" rajuk Jamal dengan muka cemberut dan rambut acak acakan. Jamal menghampiri Selin dengan tubuh polosnya.


"Kamu kan lagi tidur nyenyak? Nggak mungkin aku tega membangunkannya," balas Selin sembari mengulas senyum.


"Aku pikir Non Selin pergi ninggalin aku, aku bangun, kaget tadi karena Non Selin tidak ada di sebelahku," balas Jamal yang langsung masuk dan ikut berendam di belakang Selin. Dengan senang hati, Selin pun bersandar di dada sang supir.


"Enak ya, Non mandi berendam seperti ini," ungkap Jamal bebarapa saat kemudian.


"Enaknya karena berendam apa karena ada aku?" tanya Selin sambil menggosok tangan Jamal.


"Dua-duanya enak, Non," balas Jamal sambil cengengesan.


"Mal, gosokin punggung aku ya? Nanti gantian," perintah Selin sambil menyerahkan benda seperti kain khusus.


"Siap!" Jamal pun melaksanakan perintah Selin dengan senang hati.


Untuk sesaat keheningan melanda mereka. Entah apa yang sedang mereka pikirkan, tapi keduanya terlihat sangat menikmati perlakuan satu sama lain.


"Non, seandainya nanti kita pulang? Kita masih bisa main ginian lagi nggak, Non?" tanya Jamal beberapa saat setelah mereka terdiam.


"Ya masih, kita mainnya disini saja, lagian aku nggak akan pulang," jawab Selin pelan sambil menyandarkan punggungnya ke dada Jamal dan dengan terpaksa acara menggosok punggung berhenti.


"Masa nggak pulang? Kasian Papa loh sendirian di rumah," ucap Jamal masih berusaaha membujuk.


Jamal pun menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Dipeluknya tubuh Selin agar tenang.


"Tapi menghindar juga tidak akan menyelesaikan masalah, Non. Apapun masalah Non Selin dan Tuan Gustavo, mending dibicarakan baik-baik," saran Jamal pelan, takut Selin tiba-tiba marah.


"Ngomong emang mudah, Jamal. Tapi buat yang menjalani pasti sulit. Ibu kamu gimana kabarnya?" tanya Selin mengalihkan pembicaraan.


"Kata adikku sih udah mendingan, Makasih ya Non, uangnya. Nanti kalau aku gajian. Aku cicil deh."


"Nggak usah. Jangan terlalu dipikirkan."


Jamal kembali mengeratkan pelukannya dan Selin semakin senang karena merasa nyaman.


"Menyenangkan nggak sih, Mal, punya adik?" tanya Selin saat tiba-tiba dia mengingat kata Sandra kalau Gustavo punya anak lain. Meski dari wanita lain, berarti Selin punya adik.


"Ya seneng, Non. Walaupun kadang adikku itu selalu bikin emosi tapi tetap dia adalah saudaraku," balas Jamal sembari mengenang sang adik yang sekarang sudah duduk dibangku SMP. Dia ingin adiknya berpendidikan tinggi, tidak seperti dirinya.


Sementara Selin hanya manggut-manggut sembari menahan kekecewaan karena memingat punya adik tapi hasil dari perselingkuhan seperti dirinya yang lahir sebagai anak selingkuhan.


Dan saat keduanya masih asyik berendam, mereka dikagetkan dengan bel berbunyi.


"Sepertinya ada tamu, apa Non pesan makanan lagi?"


"Iya, tapi aku minta dikirim nanti menjelang petang,"


"Lah terus siapa sekarang yang datang?"


Jangan-jangan Papa?"


"Waduh."


...@@@@@...