
Pria mana yang hatinya tidak berdebar saat dia sedang tidak memakai kaos, tiba tiba ada wanita cantik memakai baju tidur tipis melingkarkan tangannya di pinggang sang pria. Itulah yang dirasakan pria kampung yang menjadi supir saat ini. Pria kampung bernama Rizal dipeluk dari samping saat dirinya sedang dilema dan si majikan wanita dengan enaknya melingkarkan tangannya. Bukannya tenang, justru hati Rizal semakin kacau. Meski dalam sisi hatinya yang lain, dia sangat senang diperlakukan seperti ini.
Sebagai laki laki, mungkin Rizal pernah mengkhayal dipeluk wanita dari belakang. Bermesraan dan sebagainya. Namun dia tidak menyangka kalau hal itu terjadi. Dan yang lebih mengejutkan, yang memeluk adalah wanita cantik majikannya.
Sedangkan di hati Miranda, dia merasa senang melihat wajah panik Rizal. Dimatanya saat ini, wajah gugup Rizal sangat menggemaskan. Miranda bahkan dapat mencium bau keringat laki laki dari tubuh Rizal. Bau yang menenangkan dan menggoda, yang tidak pernah dia rasakan.
Miranda juga sangat tidak terima saat Rizal bercerita, Tomi kembali menawarinya pekerjaan. Miranda sungguh tak habis pikir, kenapa Tomi begitu gigihnya ingin mengelabui supirnya? Miranda sungguh tidak terima dengan sikap Tomi. Jelas saja Miranda tidak terima mendengar supir pribadinya di usik. Miranda merasa, dia yang mencari Rizal menjadi supirnya bukan Tomi. Jadi Miranda benar benar harus melindungi Tomi.
"Non," panggil Rizal agak gugup. Kepalanya sedikit menoleh menatap majikan cantiknya.
"Hum," balas Miranda sembari mengulas senyum manisnya.
"Jangan begini, Non," ucap Rizal sembari bola matanya menatap ke arah lain karena terlalu gugup.
"Kenapa? Kamu nggak suka dipeluk wanita?" tanya Miranda berniat meledeknya. Dia memasang wajah cemberut agar Rizal merasa tak enak padahal hatinya tertawa riang.
"Bukan begitu, Non," balas Rizal makin gugup.
"Terus?" cerca Miranda.
"Aku takut, Tuan Tomi salah paham, Entar kita dikira ada hubungan gimana?" balas Rizal pelan. Jelas sekali dia merasa grogi.
"Oh, kamu takut Tuan Tomi marah dan kamu nggak dikasih pekerjaan gitu?" ucap Miranda pura pura merajuk dan sukses membuat Rizal semakin serba salah.
"Bukan begitu, Non Miranda," ucap Rizal gemas. Bahkan di akhir kalimat dia menekankan kata katanya.
"Terus?" cerca Miranda lagi. Dia begitu senang mengerjai supirnya pagi ini. Wajah grogi Rizal membuat Miranda ingin mencubit pipinya.
"Saya takut Tuan Tomi salah paham, Non. Nanti kita dikira sedang berselingkuh gimana? Aku yang nggak enak. Aku nggak mau Non Miranda dapat masalah," balas Rizal lumayan panjang. Lagi lagi Miranda hanya mengulas senyum tanpa berniat melepaskan tangannya.
"Oh, jadi kalau nggak di rumah, aku bebas peluk kamu ya?" Dan untuk kesekian kalinya, Rizal bingung mau jawab apa. Pertanyaan Miranda sungguh membuat hati Rizal kalang kabut.
"Ya udah deh, sekarang aku mau mandi terus sarapan dan kita berangkat. Kamu juga siap siap ya?" Rizal mengangguk. Miranda baru melepas pelukannya dan beranjak pergi meninggalkan Rizal yang terpana melihat dirinya dari belakang.
Di dalam kamarnya, Miranda benar benar merasa puas sekali menggoda supir tampannya. Dia memang sengaja melakukan itu agar Rizal tergoda. Tujuan Miranda memang satu yaitu ingin mendapat kebahagiaan batin yang dia tidak dapat dari suaminya. Miranda duduk di depan meja riasnya sambil memegang bungkusan obat perangsang.
"Tinggal mencari waktu yang tepat agar bisa berduaan dengan Rizal dan memberikan obat ini. Kapan kira kira yah?" gumam Miranda sambil memandangi bungkusan obat.
Waktu terus bergerak maju. Terlihat kini Miranda susah siap siap berangkat ke butiqnya. Begitu juga dengan Rizal, dia sudah menunggu Miranda di depan rumah dan duduk di dalam mobil. Tak berapa lama, Miranda pun keluar menuju mobilnya.
"Non Miranda nggak duduk di belakang?" tanya Rizal saat melihat Majikannya lebih memilih duduk di sebelahnya.
"Nggak lah, Zal." balas Miranda. "Udah ayok berangkat."
Rizal pun mengangguk. Dia segera menyalakan mesin mobilnya. Dan beberapa saat kemudian, mobil melaju meninggalkan kediamannya.
Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan yang berarti diantara keduanya. Mereka terdiam dengan pikiran berkelana entah kemana hingga mereka sampai di depan butiq pertama.
Miranda membuka tas dan mengambil ponsel terus menyodorkannya kepada Rizal. "Nih buat kamu?"
"Buat aku, Non?" tanya Rizal sembari menerima ponsel tersebut.
"Bekas sih, daripada nggak di pakai, masih bagus itu."
"Duh, Non. Jadi ..."
"Udah, nggak usah mikir nggak enak. Aku turun dulu."
"Makasih, Non."
Miranda segera keluar mobil meninggalkan Rizal yang sedang memegangi ponsel yang harga bekasnya masih lumayan mahal. Betapa kagetnya Rizal saat dia menyalakan ponselnya terdapat foto Miranda di layar utama.
"Astag! Non Miran?"
...@@@@@...