
"Rancangan anda bagus sekali, saya suka."
"Oh syukurlah, saya senang mendengarnya."
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu, terima kasih atas potongan harganya. Lain kali saya pasti akan memesan di butik anda lagi."
"Saya tunggu loh, Bu."
Dan kedua wanita berbeda usia itu pun bersalaman sambil cium pipi kiri dan pipi kanan kemudian mereka berpisah. Sementara tak jauh dari kedua wanita itu, seorang pria senyum senyum sendiri menatap dua wanita itu hingga keduanya berpisah dan salah satu wanita berjalan ke arah dimana si pria duduk menunggu.
"Kenapa senyum senyum sendiri, Zal?" tanya Miranda begitu sampai di kursi yang Rizal duduki. Dia pun duduk di kursi sebelahnya.
"Non Miran cantik," puji Rizal dengan senyum yang tidak pudar.
"Tumben kamu bisa ngegombal, Zal," cibir Miranda sambil menyesap jus mangga yang sudah berkurang suhu dinginnya.
"Orang jujur dikatain gombal, emang nggak boleh apa aku bilang Non Miran cantik?" ucap Rizal merajuk.
"Astaga! Gitu aja ngambek?" ucap Miranda gemas. "Kalau sepi udah aku cium kamu, Zal."
"Ya langsung ke mobil aja yuk, biar bisa ciuman," ajak Rizal sambil cengengesan.
"Dih." dan mereka pun tergelak bersama. Suasana di caffe itu memang lumayan ramai. Padahal saat itu siang hari dengan udara yang lumayan panas. Mungkin karena letaknya yang strategis jadi tempat ini terlihat banyak pengunjung. Bahkan rata rata pengunjungnya anak anak muda berdasi dan bermobil. Pasti caffe ini memang terkenal. Menu yang ada di caffe ini juga bukan hanya kopi saja. Ada banyak pilihan menu yang tentunya sangat menggoda selera.
"Sepertinya Tomi sudah mencurigai kita deh, Zal," ucap Miranda setelah beberapa saat terdiam.
"Curiga bagaimana?" tanya Rizal agak kaget.
"Tadi pagi kamu dengar kan kita ribut pas sarapan?" Rizal mengangguk. "Itu karena dia curiga kalau kita ada hubungan."
"Loh? Kok bisa?" tanya Rizal agak kaget.
"Ini aneh, Zal. Padahal dia nggak pernah loh kayak gini," balas Miranda. Sedangkan Rizal langsung manggut manggut sembari berpikir.
"Apa mungkin semua ini gara gara Tuan Tomi sangat menginginkan aku?"
"Bisa jadi, dan dia sangat frustasi karena kamu susah didapatkan, Zal. Kalau kamu berminat ya sana sama Tomi."
"Idih! Ogah, enakan Non Miran."
Miranda seketika tergelak melihat ekspresi Rizal yang bergidik dan menggemaskan.
"Gimana? Mau coba nggak? Nanti kalau pas boleh kamu bawa pulang deh," bujuk Rio.
"Paling bekas cewek kamu, ogah pake barang bekas," tolak Belinda dengan nada mencibir.
"Bekas apaan, orang masih baru, entar aku ambil," ucap Rio lalu dia beranjak menuju kamarnya meninggalkan Belinda yang menyeringai nakal.
Tak butuh waktu lama, Rio kembali dengan tangan menenteng godie bag dan menyerahkannya ke tangan Belinda. Wanita itu pun merogoh isinya dan ternyata benar, lingerie warna ungu muda itu masih baru dengan adanya gantungan merk dan harga di bagian pinggangnya.
"Ayo dong coba? Pengin lihat aku, secantik apa kamu pake lingerie," bujuk Rio.
"Malu ih, nakal," ucap Belinda genit.
"Ngapain malu? Kita sekarang teman, kan? Jadi nggak pake acara malu segala, ayo dong," ucap Rio sedikit memaksa.
"Iya, iya, aku pinjam kamar kamu ya buat ganti?"
"Oke, ya udah sana."
Sekarang gantian Belinda yang beranjak menuju kamar Rio sembari menenteng godie bag. Rio pun tersenyum senang. Dan tak lama kemudian, Belinda nampak keluar kamar.
"Wah! Ada bidadari," puji Rio dengan mata berbinar. Bahkan dia melihat Belinda hampir tak berkedip.
"Apaan sih," balas Belinda sambil berlenggok lenggok menuju tempat duduk. Mata Rio terus menatapnya dari atas hingga ke bawah. Naluri lelakinya tentu saja langsung bekerja melihat keindahan di depan matanya.
"Beneran pas kan di tubuh kamu," ucap Rio sambil matanya terus bergerilya ke segala bagian tubuh berpakaian super tipis tersebut.
"Lumayan, warnanya juga cantik. Kamu pinter manjain cewek pasti ya?" tanya Belinda seakan memberi umpan pada Rio.
"Emang kewajiban cowok kan gitu, manjain cewek," jawab Rio sambil meletakan telapak tangannya di paha mulus Belinda.
"Tangan ih, nakal," ucap Belinda genit tapi tetap membiarkan tangan Rio mengusap pahanya.
"Tapi kamu mau kan? Aku nakalin kamu?" goda Rio. Telapak tangannya terus mengusap pelan paha Belinda. Bahkan hingga ke daerah pantat sambil memijatnya.
"Coba aja kalau kamu bisa nakalin aku," tantang Belinda sembari mendekatkan wajahnya di hadapan Rio. Pria itu pun langsung menyeringai.
"Baiklah." Dan Rio langsung menyerang bibir Belinda.
...@@@@@@...