
"Eugghh."
Terdengar suara lenguhan terdengar dari salah satu kamar hotel bintang dua. Sepertinya orang itu baru tersadar dari tidur panjangnya karene kelelahan setelah seharian melewati masalah yang cukup berat.
Orang itu mulai mengercapkan matanya. Saat mata itu hendak dibuka, tiba tiba dirinya merasa merasakan sesautu yang tidak asing. Perlahan matanya membuka dan dia melempar pandangannya ke arah perutnya.
Terlihat disana, seseorang dengan rambut panjang tergerai dan kepala yang naik turun. Orang itu hanya geleng geleng kepala kemudian tersenyum. Kedua telapak tangannya dia taruh di belakang kepala buat bantal. Matanya kembali terpejam, menikmati pelayanan wanita yang sedang melahap isi celananya.
"Non Karin,"
"Hum."
"Enak?"
"Kalau nggak enak, aku nggak doyan, Bal."
"Itu kotor banget pasti loh, Non. Dari kemarin aku mandi pagi doang. Apa nggak jijik?"
"Tapi kok aku doyan? Lagian aku lapar, nungguin kamu nggak bangun bangun, ya udah, aku makan isi celanamu dulu, buat ganjal perut."
"Astaga!"
Namun disaat Iqbal sedang asyik asyiknya menikmati perlakuan anak majikannya, Karin justru berhenti dan merangkak lalu tengkurap di atas tubuh Iqbal.
"Kenapa berhenti?" tanya Iqbal dengan mata terbuka.
"Lanjut entar lah, capek," jawab Karin enteng.
"Astaga! Orang lagi enak enaknya juga. malah berhenti," protes Iqbal tapi Karin tidak peduli. Dia malah tersenyum. Iqbal pun mengusap kepala wanita yang sedang terbaring di bahunya.
"Ini aku kerjanya gimana ya, Non?" tanya Iqbal. Matanya menerawang menatap langit langit kamar.
"Gimana apanya?"
"Ya aku kan udah dipecat sama Nyonya Amanda, tapi Tuan Martin malah ngasih uang banyak agar aku bisa jagain Non Karin. Aku jadi bingung."
"Mungkin maksud Papi, agar kamu menikahi aku, Bal. Secara Papi kan sudah tahu kalau aku tidur sama kamu."
Iqbal menghembus kasar nafasnya. Masih ingat sekali dalam pikirannya tentang kejadian di Villa semalam. Entah dapat ide darimana, Karin malah pura pura mengancam bunuh diri dan mengatakan kesemuanya kalau dia menyerahkan tubuhnya pada Iqbal. Padahal harusnya semalam, Karin yang menjadi korban kejahilan kedua kakaknya. Di dalam kamar saja Karin sama Iqbal tidak melakukan hubungan badan. Mereka hanya bersandiwara atas suruhan Karin.
"Non."
"Hum."
"Hahaha ... nggak tahu, terlintas aja gitu. Belinda sama Aleta aja bisa bikin drama, masa aku nggak bisa."
"Tapi kan nggak perlu pake ngancam bunuh diri, Non? Gila aja, aku udah ketakutan setengah mati eh malah drama," gerutu Iqbal bersungut sungut.
Karin semakin terkekeh, dia mengangkat kepalanya dan memandangi wajah Iqbal yang cemberut. Di ciumnya pipi Iqbal dengan penuh perasaan. Kemudian kembali dia menatap wajah Iqbal dan mata mereka saling beradu.
"Tapi dengan cara itu, mereka jadi tahu kalau aku pernah tidur dengan kamu. Biar orang tua aku mikir, terutama Mami. Masih mau egois apa enggak? Semalam mendengar pengakuan Belinda, aku sadar, Bal. Belinda dan Aleta kurang perhatian dari Mami sama Papi. Kita terpisah disaat masih sama sama butuh kasih sayang orang tua. Aku tahu, mereka berdua sudah sangat jahat sama aku. Tapi aku berpikir mereka hanya butuh perhatian dan kasih sayang Mami. Bukan pengekangan dan pemaksaan kehendak. Kami memang harus nurut sama orang tua, tapi kita juga punya keinginan kan, Bal?"
"Iya sih, Non. Aku semalam juga kaget mendengar alasan Belinda. Aku sendiri sebagai anak laki laki kadang merasa iri jika dibeda bedakan dengan kakak perempuanku, apa lagi kalian."
"Ya begitulah, Bal. Makanya aku semalam minta maaf sama mereka. Selama ini memang Mami sama Papi yang nggak pernah ada disaat Aleta dan Belinda membutuhkan mereka. Maka itu, menurutku wajar mereka mencari kesenangan diluar sana. Meski mereka bersama oma dan opa, tapi mereka juga butuh orang tua."
"Berat juga hidup mereka ya? Makanya mereka melampiaskan kekecewaan dan amarahnya sama kamu ya, Non."
"Ya begitulah."
Setelah ngobrol lumayan panjang, mereka berdua yang sedang salinh pandang, langsung berlanjut menempelkan bibir dan saling berpagut sejenak.
"Kita sebaiknya mandi yuk, terus pulang ke kos. Mungkin mobil Bapak kost sudah ditunggu."
"Kan ada mobil kita disana? Emang kuncinya nggak kamu kasih."
"Ya udah aku kasih sih."
"Ya udah berarti aman. ngapain buru buru pulang? Lagian dari semalam lubangku bedenyut mulu, kamu nggak ada niat buat ngasih jatah?"
"Astaga! Emang udah berapa lama punyaku nggak masuk?"
"Hampir satu minggu."
"Hahaha ... lama juga ... ya udah sini, cium aku terus kita main satu ronde."
"Oke."
Dan bibir mereka kembali saling nempel sebagai tanda awal permainan dimulai.
...@@@@@...