
Gimana, Pih? Karin ketemu?"
"Ketemu, Mih. Sedang dibujuk Iqbal dia."
"Apa Papih yakin dia mau pulang?"
"Kita berharap aja Iqbal bisa membujuknya, Mih."
"Kalau dia nggak mau pulang gimana?"
"Kita pikirkan nanti, Mih."
Dan dua orang tua itu terdiam memikirkan putri ketiga mereka yang kecewa atas sikap orang tuanya. Mereka tidak pernah menyangka anak bungsunya yang tidak pernah jauh dari mereka, kini nekad meninggalkan rumah karena sudah lelah menghadapi sikap orang tuanya sendiri.
Sementara di kamar lain di rumah yang sama, dua anak perempuan mereka juga nampak sedang berdiskusi mengenai kepergian adik mereka.
"Sampai kapan tu anak akan pergi? Paling bentar lagi pulang, anak manja gitu, disuruh tukeran supir aja, pake kabur segala," gerutu Belinda kesal.
"Nggak apa apa dong kalau kabur, bukankah itu bagus buat kita," balas Aleta.
"Bagus gimana, Let?" tanya Belinda tak mengerti.
"Nggak ada Karin, Berarti Iqbal akan sering di rumah, kan? Kesempatan kita buat bersaing mendapatkan Iqbal juga terbuka lebar," ucap Aleta tanmpak riang. Belinda mencerna ucapan sang adik dan sejenak kemudian senyum lebarnya terkembang.
"Ah, benar. Kenapa aku nggak kepikiran sampai situ," balas Belinda sumringah.
"Ya udah, sekarang kita harus benar benar memanfaatkan keadaan," ucap Aleta.
"Baiklah, aku pastikan, aku duluan yang akan tidur dengan Iqbal," ucap Belinda.
"Cih! Terlalu yakin kamu, Bel," decih Aleta.
Dan di hari yang sama, tapi di tempat yang berbeda. Tepatnya di dalam sebuah apartemen, sepasang pria dan wanita muda, sedang berbaring dan saling berhadapan tanpa busana menempel ditubuhnya. Dua insan yang sama sama baru pertama kali merasakan kenikmtan dunia itu, kini sedang saling tatap menyalurkan segenap rasa.
Dialah Iqbal dan Karin. Anak majikan dan supirnya sedang menikmati suasana berdua setelah mendapat pengalaman yang tidak akan pernah mereka lupakan, sekalipun mereka kelak tidak berjodoh.
"Kamu bahagia, Bal?" tanya Karin yang sedari tadi begitu lekat memandangi Iqbal dan mengusap berkali kali pipi pemuda itu dengan lembut.
"Bahagia banget, aku masih nggak nyangka bisa mendapat kenikmatan secepat ini, makasih ya, Non," balas Iqbal dengan mata yang sangat berbinar.
"Kamu sudah merasakan nikmatnya, jadi seandainya Belinda dan Aleta ngajak, apa kamu mau?"
"Tergantung keadaan kalau gitu, Non," balas Iqbal sambil perpindah posisi menghadap ke langit langit kamar.
"Tergantung gimana?"
"Kalau keadaanku terjebak dan terdesak, ya mau tidak mau aku akan melakukannya dengan mereka, Non. Kemarin malam, kalau nggak ada Aleta, mungkin aku sudah melakukannya dengan Belinda. Biar bagaimana pun, aku tetap laki laki yang bisa tergoda jika terus terusan disuguhi godaan wanita secantik mereka," jawab Iqbal jujur. Karin tersenyum mendengarnya dan dia menggeser kepalanya ke atas dada Iqbal.
"Tergantung keadaan, Bal."
"Kok tergantung keadaan?"
"Ya iyalah. Kalau kamu emang terjebak ya aku ngertiin, tapi kalau kamu yang minta seperti kamu minta sama aku, aku bakalan murka sama kamu," terang Karin setengah kesal. Iqbal terkekeh mendengarnya. Seenggaknya seandainya itu terjadi, Iqbal tidak akan merasa bersalah banget sama Karin jika dia main dengan kedua kakaknya juga.
"Ya Non Karin pulang ya?" bujuknya.
"Nggak mau," tolak Karin.
"Loh kok nggak mau? Apa temen Non Karin nggak keberatan? Non Karin tinggal disini dalam waktu yang lama?"
"Aku akan cari kost, Bal. Nanti setelah ujian selesai."
"Lah? Kok ngekos? Kalau Non Karin ngekos nanti kerjaanku gimana? Aku kan kerja buat jagain Non Karin? Nanti aku malah di pecat."
"Kan ada Belinda dan Aleta, dan itu juga keinginan Papih agar kamu jadi supir mereka, ya mending aku yang ngalah kan, Bal. Aku lelah, Bal hidup disana."
"Kalau aku yang jadi supir mereka, yang ada aku akan terus dipaksa main sama mereka, gimana?"
"Ya nggak apa apa, kan kamu dipaksa."
"Tahu ah, Non."
Karin mengulas senyum, dia bangkit dan tengkurap di atas tubuh Iqbal.
"Kenapa? Kok cemberut?"
"Tahu, ah. Aku tuh penginnya main sama Non Karin terus, Non Karin itu yang utama, masa aku tega, sudah mendapat mahkota dari Non Karin eh malah maainnya sering sama mereka."
"Yakin mau main sama aku terus?"
"Iya lah, nggak percaya?"
"Ya udah ayok kita sekarang main lagi?"
"Beneran?" tanya Iqbal dengan wajah sumringah. Dan Karin mengangguk sambil tersenyum.
"Oke!"
Dan ronde keduapun di mulai.
...@@@@...