TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 36 (Jamal)


Sepeninggal Sandra dari ruangannya, Gustavo baru merasa seperti terlepas dari sesuatu yang menghimpitnya. Dia sungguh dibuat tak percaya, hanya karena anak muda yang belum mapan, Sandra rela merongrong dirinya agar memecat supir yang baru dua hari bekerja untuknya. Padahal menurut anaknya dan pembantu di rumah, Jamal bekerja dengan sangat baik, dan tak ada alasan khusus untuk memecatnya.


Yang membuat Gustavo semakin pening adalah ancaman yang selalu Sandra lakukan. Meski tampak acuh, sejatinya ancaman Sandra bukan main, main. Dia bisa saja kehilangan rasa percayanya Selin kepadanya jika Selin tahu apa yang Gustavo sembunyikan selama ini.


Berbeda dengan pemikiran Sandra. Sejak melihat betapa tampannya sang supir pribadi Selin, hati Sandra bergetar. Bahkan saat bersama Rio, tak dipungkiri kalau pikiran Sandra saat itu memang sedang memikirkan kharisma yang dimiliki supir baru Selin itu.


Maka itu, dengan tak tahu malu, Sandra kembali ke kantor Gustavo dan menuntut agar supir baru Selin di pecat. Sandra berharap setelah supir itu keluar dari rumah Gustavo, dia akan merekrutnya menjadi supir pribadinya. Itulah yang ada di bayangan Sandra. Tapi lagi lagi dia hanya mendapat pengusiran dari Gustavo.


Tapi sepertinya Sandra tidak akan menyerah begitu saja. Dengan sangat yakin, dia akan mendapatkan supir tampan milik anaknya.


"Tuan kenapa? Pusing?" tanya seorang wanita yang bebas keluar masuk keruangan Gustavo.


Gustavo yang sedang terpejam seketika membuka matanya. Di seberang meja, sang sekretaris tersenyum manis kepadanya.


"Biasalah, Win." keluh Gustavo.


Sekretaris yang akrab di sapa Winda itu bergerak berjalan mengitari meja dan berhenti tepat di belakang kursi kebesaran atasnya. Kedua tangannya terangkat dan mendarat di pundak Gustavo dan tangan itu mulai memberi pijitan lembut hingga Gustavo merasa nyaman.


"Kamu memang paling tahu apa yang membuatku nyaman, Win," ucap Gustavo. Dia sangat menikmati pijatan wanita itu.


"Tentu dong, Tuan. Sesuai dengan uang yang saya terima." ucap Winda pelan namun terdengar menggoda.


Gustavo pun tergelak pelan. Dia tahu benar maksud perkataan sang sekretaris. Dia berbuat seperti ini pasti karena dia butuh uang.


"Kamu ini, paling pintar kalau ada maunya," ucap Gustavo. "Apa pintunya sudah kamu kunci?"


"Bagus.Ya udah, kamu duduk sini dong?" dengan senang hati Winda pun berpindah posisi dan mendaratkan tubuhnya di pangkuan Gustavo. Awalnya cuma saling lempar senyum, lama kelamaan wajah mereka mendekat dan permainan mereka diawali dengan perang bibir.


Di tempat lain, setelah puas berbelanja, Jamal dan Selin berpisah menuju kamarnya masing masing. Jamal tidak menyangka akan mendapatkan majikan sebaik ini. Padahal dia kerja belum lama, namun perlakuan nona majikannya membuat Jamal senang dan tak enak hati.


Kata Mbok Sum saat tadi melihat Jamal pulang dengan menenteng hasil belanja, Non Selin dan Tuan Gustavo memang baik jika menyangkut soal uang. Tapi soal kesalahan, mereka akan susah memaafkannya. Seperti contoh kesalahan yang Nyonya Sandra lakukan.


Sambil berbaring, Jamal melihat godie bag yang tergeletak di lantai. Di raihnya godie bag tersebut dan dikeluarkan semua isinya. Kemeja, kaos, celana panjang, celana pendek dan underwear. Jamal mengulum senyum saat menatap underwear itu. Bisa bisanya dengan jujur dia menginginkan barang yang berfungsi sebagai penutup aset pribadinya. Bahkan Selin juga yang memilih semua underwear tersebut.


Ketika di kampung, Jamal memang jarang memakai benda itu. Entah dapat teori darimana, katanya kalau jarang memakai benda ketat itu maka aset pribadinya akan tumbuh lebih besar. Makanya Jamal hanya memiliki tiga helai segitiga bermuda dan dibawanya ke tempat kerja.


Di lain kamar, Selin juga sedang berbaring melepas lelah. Pikirannya menerawang ke kejadian yang baru saja dia alami. Entah dapat ide darimana, dia ingin merubah penampilan supirnya. Dan setelah di ubah, nyatanya Jamal terlihat berbeda dari sebelumnya. Ketampanan Jamal mencuat dan itu sukses menggetarkan hati Selin.


Pikiran Selin pun berselancar kemana mana dengan membayangkan keindahan tubuh Jamal yang terlihat sempurna di tambah wajah tampan yang memukau, sungguh pikiran nakal yang ada dalam diri Selin meronta.


Semakin lama, khayalan Selin tentang Jamal pun semakin liar. Kedua tangan Selin bergerak pelan menyusuri tubuh sendiri hingga menyentuh sesuatu yang tersembunyi.


Nafas Selin sudah menderu dengan membayangkan Jamal yang semakin liar. Tangannya melepas pengait celana yang dipakai dan dilepasnya celana itu. Kakinya membentang dan jari jarinya menelusup masuk ke dalanm segitiga bermuda warna putih dan bermain sendiri di sana.


Mulutnya mulai meracau dan meronta, memanggil nama Jamal dengan rintihan kenikmatan.


"Jamal, akh! Jamal!"


...@@@@@...