
"Lebih baik kamu besok tidak usah kerja lagi. Saya pecat kamu," ucap Amanda sembari menatap tajam Iqbal. Semua nampak terkejut.
"Mami!" bentak Martin. "Mami benar benar nggak belajar dari kesalahan, ya? Mami sadar apa yang Mami ucapkan?"
"Sadar! Sadar sekali. Dia harusnya menjaga Karin, bukan malah menuruti kemauannya. Harusnya dia menolak dan menyadarkan Karin, bukan malah pasrah saat Karin menyerahkan tubuhnya," bela Amanda dengan suara yang begitu tajam.
"Bukannya Mami tadi lihat keadaannya? Atau Mami memang lebih suka Karin memilih bunuh diri?"
"Tapi seharusnya dia ..."
"Sudahlah Pi. Sudah. Mami memang nggak pernah peduli sama anak anaknya," potong Belinda.
"Jaga mulut kamu, Belinda!" hardik Amanda. "Aku ini ..."
"Iya, aku ingat, Mami, wanita yang melahirkan aku, aku ingat Mi. Sampai mati pun aku ingat."
Amanda terbungkam. Anak anak kini menyerangnya. Matanya tajam menatap anak pertamanya. Entah dirinya yang salah mendidik atau memang pengaruh kehidupan dari luar negeri. Kedua putrinya saman sekali tidak terlihat menaruh hormat kepadanya.
Bukannya Belinda dan Aleta tidak menaruh hormat pada kedua orang tuanya. Tapi rasa kecewa yang mereka pendam selama ini membuat ikatan batin antara ibu dan anak terasa hambar dan memudar.
Disaat suasana terlihat tegang, salah satu pintu kamar terbuka dan Karin keluar kamar tanpa ekspresi, melangkah mendakati Iqbal yang masih berlutut.
"Karin," panggil Martin dan Amanda hampir bersamaan. Mereka hendak mendekat tapi Karin memberi tanda dengan telapak tangannya agar mereka jangan mendekat.
"Kamu kenapa berlutut seperti itu, Bal? Ayo kita pulang, bukankah kamu sudah dipecat?" ucap Karin tenang. Dia menyodorkan tangannya kepada Iqbal.
"Karin, kenapa kamu seperti itu, sayang?" ucap Amanda kembali terisak.
"Aku heran sama Mami. Aku yang menyerahkan tubuhku sendiri pada Iqbal, Mami malah memecatnya. Apa Mami berharap Iqbal nggak menyelamatkanku dan membiarkan dua pria itu menikmati tubuhku secara bergantian?" tanya Karin dengan menunjuk ke arah Rio dan Candra.
Amanda tersentak, mulutnya kembali dibuat terbungkam. Dia tidak menyangka, saat ini semua anaknya kompak menyalahkan sikap dirinya.
"Pergilah, Nak. Tenangkan diri kamu, maafin Papi," ucap Martin. Meski dia juga sangat kecewa tapi tidak ingin masalah semakin runyam.
"Papi!" pekik Amanda menatap tak percaya dengan sikap suaminya.
"Makasih Pi. Maafin Karin juga, karena mengecewakan Papi," ucap Karin dengan deraian airmata. "Ayo, Bal, kita pergi."
Iqbal pun bangkit. "Maafkan saya, Tuan Martin."
"Pergilah, jaga putri saya," titah Martin.
"Baik, permisi," Iqbal menyambut tangan Karin, kemudian keduanya melangkah menuju pintu utama dan pergi dari Villa itu.
"Rio, Candra, lebih baik kalian istirahat sana di kamar itu," perintah Belinda.
"Mami sama Papi juga istirahat, nanti sakit," ucap Aleta.
"Kalian dulu aja sana istirahat," jawab Martin. Aleta dan Belinda naik kelantai dua menuju kamar mereka. Sementara Martin dan Amanda terdiam berdua diruangan itu.
"Kenapa anak anak malah menentang kita Pi? Kenapa? Apa salah kita pada mereka?" rintih Amanda dalam isaknya.
"Salah kita? Salah kita adalah karena kita nggak sadar, kalau sikap dan keputusan kita, sangat menyakiti mereka," jawab Martin terdengar getir.
"Tapi kita melakukan itu semua buat kebaikan mereka Pi. Salahnya dimana?"
"Tapi nyatanya sikap kita tidak terlihat baik dimata mereka. Bahkan sejak kecil, Belinda dan Aleta sudah sangat kecewa karena sikap kita. Bukankah Mami tadi dengar sendiri? Dan Karin juga, sampai nekat dia masuk kamar karena kecewa dengan keputusan Mami."
Lagi lagi Amanda terbungkam. Dia tidak mampu membela diri lagi. Hanya isak tangis yang keluar dari mulutnya. Martin pun terdiam dan dia mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu.
Ting.
"Ponsel kamu bunyi, Bal," ucap Karin. Kini keduanya berada di dalam mobil. Awalnya mereka mau pulang. Berhubung jarak yang ditempuh masih jauh dan waktu sudah sangat malam, mereka memutuskan mencari hotel buat istirahat.
Iqbal lantas merogoh saku dan mengeluarkan ponselnya. Mata Iqbal membelalak saat melihat pesan yang masuk sampai Karin ikut penasaran.
"Kenapa? Siapa yang mengirimi pesan?"
"Tuan Martin, dia abis kirim uang seratus juta ke rekeningku."
"Loh? Buat apa?"
"Nih baca sendiri."
Karin menerima ponsel Iqbal dan membaca pesan sang ayah.
"Apa Papi merestui hubungan kita?" tanya Karin dengan mata berbinar.
"Nggak tahu, mungkin saja," jawab Iqbal sedikit bingung. Sedangkan Karin masih senyum senyum dengan menatap layar ponsel Iqbal. Dia tidak menyangka, Papinya akan bersikap seperti itu.
"Bal."
"Hum."
"Bagaimana kalau uang ini kita gunakan untuk menikah?"
"Hah!"
...@@@@@...