
"Belinda! Aleta! Ngapain kalian ada di sini?" seru Karin. Orang yang disebut namanya sontak menoleh ketika mereka fokus bermain ponsel.
"Hai, Rin," sapa Aleta. Kedua perempuan itu tersenyum lebar menyambut kedatangan adiknya. Tapi tidak dengan Karin, dia memasang wajah sebal sekaligus rasa curiga kepada dua kakaknya. Demi menghormati pemilik kost, Karin terpaksa mau menemui mereka.
"Ada apa?" tanya Karin langsung ke intinya begitu dia duduk di hadapan Aleta dan Belinda. Sementara yang punya kost, sudah masuk ke dalam rumah pribadinya.
"Sorry kalau kedatangan kami ganggu waktu kamu. Kami kesini hanya mau minta maaf, Rin," ucap Belinda santai.
Karin sontak mengerutkan keningnya dan memicingkan mata. "Minta maaf?" tanya Karin penuh rasa curiga. Wajar jika Karin menaruh curiga kepada dua kakaknya. Soalnya kemarin saja meraka minta maaf, tapi dibalik permintaan maaf itu ada niat terselubung.
"Iya," tegas Aleta. "Kita tahu, kamu pasti ragu untuk mempercayainya. Kita maklum kok."
"Wajar kan kalau aku ragu setelah apa yang kalian lakukan," balas Karin dengan sedikit emosi.
"Yaya, kita tahu," ucap Belinda. "Makanya kami kesini mau minta maaf yang beneran minta maaf. Gara gara rasa iri kami, kamu jadi menderita selama beberapa bulan ini. Kami menyesal. Kami pikir kamu beda dari kami. Mami sama Papi sangat menyayangi kamu tanpa ada beban dan kekangan. Tapi nyatanya kami salah. Kamu juga tertekan dengan sikap orang tua kita. Kami pikir mereka benar benar nggak adil, tapi nyatanya, kita sama sama dikekang. Malah sepertinya, kamu yang terkekang lebih lama daripada kami."
"Bener, Rin. Kita nggak nyangka sama sekali kalau kamu tertekan dengan orang tua kita, terutama dengan sikap Mami. Mungkin kalau kita nggak melakukan sandiwara kemarin, kita selamanya bakalan membenci kamu," sambung Aleta.
Karin menghirup udara dalam dalam dan perlahan menghembuskannya. Matanya menatap lekat kedua kakaknya. Entah kenapa Karin merasa kali ini keduanya terlihat jujur. Tidak ada kebohongan yang terlintas dari mata Aleta dan Belinda.
"Kami juga mungkin akan nekat pergi, Rin," ucap Belinda.
"Hah! Pergi kemana?" tanya Karin terkejut.
"Tinggal sama Oma lagi. Meskipun hidup kita disana kebablasan, tapi disana kita banyak teman. Kita tidak terkekang. Bahkan kamu pasti tahu kan? Kita disana juga merintis usaha. Seenggaknya kalau kita banyak koneksi, kita tidak susah untuk berkembang."
"Terus nanti yang nerusin perusahaan Papi siapa? Terus, perjodohan kalian, jadi nggak sih?"
"Nggak tahu, padahal kita sudah beberapa bulan disini, tapi nggak ada kabar. Lagian, perjodohan itu juga paling berhubungan dengan bisnis. Pasti itu tujuan orang tua kita. Sukanya ngatur hidup kita, tanpa mau tahu perasaan kita. Nggak dilawan, nyiksa hati. Dilawan, takut jadi anak durhaka. Bingung nggak sih?"
Senyum Karin tersungging, begitu juga Aleta dan Belinda. Tanpa terasa, Karin sudah memaafkan kedua kakaknya. Meski kata maaf belum terucap, tapi dilihat dari obrolannya, rasa benci Karin kepada dua kakaknya perlahan memudar.
"Kamu kok kemarin bisa kepikiran gitu sih? Bisa nekat banget satu kamar dengan Iqbal?" tanya Belinda.
"Ya seperti yang kalian lihat kan? Sikap Mami gimana? Aku juga spontan aja ada ide seperti itu."
"Hahaha ... gila kamu, tapi keren sih. Kamu mau melawan Mami. Tapi kayaknya, kalian akan terus berjuang deh, Rin."
"Berjuang bagaimana?"
"Kamu tahu lah Mami gimana orangnya. Sepertinya dia nggak setuju jika kamu dengan Iqbal."
"Apa kamu serius? Mau sama Iqbal?" tanya Aleta.
"Ya seriuslah, lagian aku sudah terlanjur tidur sama dia."
"Terus kalau Mami tetap nggak setuju?"
"Ya itu urusan Mami. Entahlah, aku sendiri jug bingung dengan jalan pikiran Mami. Selalu beralasan untuk kebaikan."
"Bener! Hahaha ..."
Suara tawa menggema dari mulut ketiganya. Tanpa terasa hubungan mereka semakin menghangat selayaknya sahabat. Mungkin saat seperti inilah yang mereka rindukan. Ngobrol bertiga tanpa ada masalah diantara mereka.
"Oh iya, Iqbal mana? Kok nggak ikut ke sini?" tanya Belinda.
"Di kamarnya, kenapa?"
"Nggak. Cuma pengin minta maaf aja."
Karin ber'oh' ria. Tiba tiba terlintas ide. "Mau ketemu Iqbal? Tapi ada syaratnya?"
"Syarat? Syarat apaan? Ada ada aja kamu."
"Mau nggak? Katanya mau minta maaf?"
"Baiklah, apa syaratnya?"
Karin sontak memberi tahu syarat yang dia ajukan. Belinda dan Aleta langsung terkejut mendengarnya.
"Kamu gila!" pelik Belinda.
"Hahaha ... anggap aja aku gila, gimana?"
Aleta dan Belinda menatap tajam Karin kemudian mereka saling tatap sejenak, seperti mencari kesepakatan dan kembali menatap Karin.
"Baiklah, aku mau."
"Sipp!"
...@@@@@@...